Mukhlis Paeni: Tenas Efendy, “Penutur Madah Sepanjang Zaman”
Kata “Tari Melayu” pertama kali disebut pada awal penceritaan Epos I La Galigo ini adalah tarian yang amat sakral yang sengaja disuguhkan untuk menyongsong lahirnya Putra Mahkota Kerajaan, Penguasa Bumi.
Dalam penceritaan legenda / epos Bugis I La Galigo yang berjumlah 12 jilid ditemukan berbagai kata Melayu dalam penceritaan.
Jika sebuah Pesta besar diadakan dan dihadiri oleh Raja-raja dan para Bangsawan, dan Tamu yang sangat terhormat itu duduk berhadap-hadapan di atas Appe Melayu (Tikar Melayu) mereka juga saling memberi hadiah berupa cinderamata yang dikemas dalam sebuah bakul/peti yang disebut Bodo Melayu juga disebut Bodo Malaka, isinya adalah Tennung Melayu (Kain Tenunan Melayu) juga Lipa Melayu ( Sarung Melayu)
Hampir semua pesta besar dan acara – acara agung disemarakkan dengan Persembahan Sere Melayu, Tari Melayu, yang diiringi oleh Sara Melayu (musik Melayu) selain itu orang-orang Bugis-Makassar pun sangat menghargai “Danggang Melayu” (Saudagar / Pedagang Melayu) karena dari merekalah, orang-orang Bugis memperoleh barang-barang berharga itu.
Kedua, Dalam dimensi sejarah yang sumber-sumbernya berasal dari abad ke 16. Dalam naskah Lontara Gowa yang disebut Lontara bilang, catatan harian Raja-raja Gowa, disebutkan bahwa pada masa kekuasaan Raja Gowa ke X (I Manriwagau DaEng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga (1546-1565), 35 tahun setelah jatuhnya Malaka tahun 1511, datanglah serombongan orang Melayu yang diketuai oleh Nakhoda Bonang, menghadap Raja Gowa untuk meminta tempat dan agar mereka diberi izin untuk tinggal dan menetap di Gowa (Makassar).
Ketika Raja Gowa bertanya siapakah yang engkau maksud dengan kaummu, Orang-orang Melayu yang engkau mintakan tempat itu?
Nakhoda Bonang menjawab bahwa yang Ia maksud dengan kaumnya (orang-orang Melayu itu) adalah mereka semua yang memakai sarung yakni orang yang berasal dari Pahang, Johor, Campa, Patani dan Minangkabau.
Nakhoda Bonang mempersembahkan hadiah berupa:
Sepucuk Kamaleti (bedil)
80 Junjungan belo
Sekayu Sekelat
Sekayu Beludru
Setengah Kodi Cundai
Dan orang-orang Melayu itu diberi tempat pemukiman yang sangat istimewa di sekitar Benteng Somba Opu. Benteng Ibu kota Kerajaan Makassar yang disebut Kampung Mangalle Kana dan Ketua Kampung orang-orang Melayu (I Manggambari Kare Manggaweang I DaEng Ri Manggalle Kana), diangkat menjadi Syah Bandar Kerajaan, peristiwa ini sangat penting sebagai awal masuknya orang Melayu dalam Birokrasi Kerajaan Makassar (Bugis-Makassar). 176 tahun sebelum orang Bugis-Makassar masuk dalam dinamika politik Melayu, selepas Sumpah Setia Bugis-Melayu 1722, antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I dengan Bugis Opu Lima Bersaudara. Yang peristiwa ini erat hubungannya dengan berdirinya kerajaan Siak tahun 1723 yang berpusat di Buantan.( Ahmad Dahlan, Phd,201 )
Hadirin majelis yang amat terpelajar, sejak diangkatnya I Daeng Ri Mangalle Kana (I Kare Manggaweang ) menjadi Syah Bandar Kerajaan Gowa Pertama, maka sejak itu (1546-1565) secara turun-temurun orang-orang Melayu menduduki jabatan Syah Bandar dan juru tulis Istana, salah seorang Juru tulis Kerajaan Gowa yang amat terkenal adalah Intje Amin. Tokoh ini sangat penting dalam penulisan sejarah kemudian karena Ia melihat langsung pertempuran sengit antara Kerajaan Gowa (Makassar) melawan VOC di tahun 1666-69 dan menuliskan dalam bentuk syair yang dikenal dengan nama “Syair Perang Makassar”
Sejak abad ke-16, Orang Melayu sudah masuk ke dalam lingkup kehidupan Orang Bugis-Makassar tidak hanya dalam birokrasi kerajaan tapi juga dalam tatanan kehidupan kelas/strata yang amat terhormat dalam strata tubaji (Orang Baik-baik, orang terhormat) Mereka menduduki berbagai jabatan dalam birokrasi kerajaan sebagai Syah Bandar, Juru tulis, Ulama, Pejabat Keagamaan (Kadhi) maupun dalam Bidang Ketentaraan, dengan status yang amat terhormat yang dimiliki oleh Orang-orang Melayu di Negeri Bugis-Makassar, menyebabkan Orang Melayu terhormat dibolehkan secara adat menikah dengan wanita Bangsawan Bugis demikian juga sebaliknya dengan format kesetaraan hingga sangat banyak Raja-Raja dan Bangsawan Bugis-Makassar berdarah Melayu, misalnya:
- I Pappe DaEng Masiki, Karaeng Pangkajenne (1857)
- I Wewang DaEng Pasampa KaraengLau (1855)
- Pallawa Rukka Dg Malawa Karaeng Mandalle (1861)
- Ratna Kencana, Colliq PujiE Datu Tanete Arung Pacana.( 1835 )
Ketiganya (nomor1-3) adalah Karaeng Penguasa Wilayah Adat di Afdeling Noorder – Distrikten di Utara Makassar; Mereka adalah Putera dari La Mattotorang Page I Ali Abdul Wahab Daeng Mamangung.
