Mukhlis Paeni: Tenas Efendy, “Penutur Madah Sepanjang Zaman”

/
Dr. Mukhlis PaEni (Foto: Dok. LAMR)

Dan La Mattotorang Page I Ali Abdul Wahab Daeng Mamangung adalah putera pasangan bangsawan  Bugis La Mauraga Datu Mario Ri Wawo dengan seorang perempuan keturunan Melayu-Makassar bernama Putri Johar Manikam, anak perempuan Ince Ali Abdullah, Datuk Pabean Syah Bandar Makassar. Mereka adalah orangtua Ratna Kencana Colli Pujie Datu Tanete.

La Mauraga sendiri adalah Kakek ketiga Karaeng berdarah Melayu itu ia adalah Putra dari La Mappasunra Arung Lamuru dan We Penangngareng Arung Pao-Pao (Tanete), ia adalah putri We Tenri Leleang Pajung / Datu (Raja) Luwu, dan masih banyak lagi hingga dapat dikatakan bahwa umumnya masyarakat bangsawan Bugis-Makassar itu berdarah Melayu; hingga disebut bahwa barulah sempurna Kebangsawanan seorang Bugis-Makassar kalau dalam dirinya mengalir darah Melayu – darah Bugis- Makassar dan darah Bajou.

Darah Bugis-Makassar adalah sumber Keberanian (darah Hero)

Darah Melayu sumber intelektualitas dan keilmuan

Darah Bajou sumber kearifan dan kebijakan.

I La Galigo, Mahakarya sastra Bugis, warisan dunia UNESCO tahun 2011, yang terkenal itu ditulis ulang menjadi naskah setebal 6,000 halaman dengan 225,000 baris, kala itu terdiri atas 12 jilid.  Penulisnya adalah seorang wanita bangsawan Bugis berdarah Melayu bernama Ratna Kencana Colliq PujiE, Arung Pancana Toa, beliau adalah putri La Rumpa Mengga, Datu Mario Riwalo, Matinroe Ri Muttiara Arung Rappang bersama istrinya seorang wanita Melayu, putri Ince Ali Abdullah Dato Pabean Syah bandar Makassar bernama Sitti Johar Manikam. Jadi karya besar dunia  tahun 2011 dar UNESCO sebanyak12 jilid adalah hasil karya seorang bangsawan Bugis berdarah Melayu, Ratna Kencana Colliq PujiE, Tahun 1812 – 1876, era hidup dan berkaryanya sezaman dengan Era Raja Ali Haji tahun 1809-1870 -71-72 ( Opu Dg Cella – Raja Haji – Raja Ahmad – RAH) dan yang menarik ialah bahwa Raja Ali Haji adalah seorang bangsawan Melayu keturunan Bugis , sementara di Makassar, Penulis 12 jilid I La Galigo  adalah Bangsawan Bugis keturunan Melayu, keduanya secara tidak sengaja menggunakan angka 12 sebagai ikon, keduanya adalah simbol intelektualitas Melayu-Bugis ; jadi sesungguhnya Indonesia, Melayu adalah simbol budaya ; simbol intelektualitas. Bukan symbol politik karena itulah warisan TE yang paling berharga adalah madah tentang perlunya seseorang mencari ilmu pengetahuan, Karena ilmu pengetahuan adalah sebuah harta yang tak ternilai harganya dan tak lekang termakan zaman.

TE telah berusaha menjadikan orang Melayu menjadi orang Indonesia yang bermartabat. Tenas Effendy telah menghabiskan usianya di sebuah negara yang kaya budaya tapi nyaris tidak menghargai kebudayaan;

Apa tanda si Kayu kelat buahnya lebat. Pucuknya banyak.

Apalah tanda Melayu beradat, Marwah lekat ilmunya rampai.

Bertuah Parang karena hulunya

Hulu di kepak elok terasa

Bertuah orang  karena Ilmunya

Ilmu diamalkan hidup Sentosa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Komunitas Budaya dan cendekiawan masyarakat terpelajar dan Negara Malaysia pada umumnya memberi penghormatan yang amat tinggi dan kedudukan yang amat terhormat pada TE.

Hal ini tidak terlepas dari sosok pribadi beliau sendiri yang kalau boleh saya sebut sebagai seorang Begawan, seorang Maestro, sebagai seorang Empu, Pujangga, Sastrawan yang tak tertandingi dalam “ Rona Kemelayuan”.

TE adalah sebuah oase yang airnya mengalir hampir tanpa henti-hentinya dan orang-orang pun berdatangan meminum airnya yang jernih melepas dahaga ketidaktahuannya tentang Melayu.  Dipermukaan airnya yang jernih itu, ramai orang berkaca melihat wajahnya sendiri, sambal berkata: Melayu kah Aku?

Pemahaman tentang arti dan makna kata Melayu bagi orang Malaysia sangat berbeda dengan pemahaman tentang arti dan makna kata Melayu bagi orang Indonesia pada umumnya. Bagi orang Malaysia, Melayu adalah sebuah identitas Nasional; Kata Melayu adalah sebuah ikon Politik yang tempatnya berada dalam arus besar kehidupan berbangsa dan bernegara karena itu salah satu syarat untuk disebut warga negara malaysia, Ia harus Melayu ( dua etnis lainnya adalah Cina dan Keling) dan untuk menjadi seorang Melayu, Ia harus memenuhi tiga syarat yakni : Ia berbahasa Melayu yang baik, Ia beradat istiadat Melayu, dan Ia beragama Islam. Karena itu jika syarat ini terpenuhi maka Melayu-lah Ia, dan Ia boleh  menyebut diri sebagai Warganegara Malaysia, karena itulah disebut bahwa Melayu itu mencair, sangat cair.

Artikel Serupa