Tuah Rasa di Balik Kata: Gastronomi Melayu dalam Pantun Warisan

Sebagai Ibukota intelektual Riau Lingga, Pulau Penyengat tidak sekadar menyimpan sejarah kejayaan maritim, melainkan turut menjadi rahim bagi kelestarian sastra lisan Melayu. Di pulau bersejarah inilah seorang cendekiawan abad ke-19, Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, menorehkan warisan abadinya. Beliau dikenal sebagai pelopor yang pertama kali menghimpun untaian sastra lisan ke dalam sebuah antologi bertajuk Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu. Lewat karyanya, kearifan masyarakat pesisir terekam utuh, seperti yang tercermin dalam salah satu bait pantun himpunannya yang sarat makna:

Sarang penyengat di atas kota,
Kait-kait di batang temu;
Hendaklah ingat semuanya kita,
Baik bertandang kepada ilmu.

Pantun, bagi masyarakat Melayu Nusantara, bukan sebatas alat komunikasi atau pelipur lara, melainkan sebuah wadah intelektual dan pengucapan dengan fungsi sosial dan psikologis yang efektif. Namun, dalam mengapresiasi bait-bait ini, bagian pembayang pantun sering kali diabaikan dan hanya dianggap hadir sebagai ‘penyedap’ rima semata. Padahal, jika dikupas lebih dalam, pembayang pantun menyembunyikan kekayaan ilmu pengetahuan, termasuk khazanah gastronomi masyarakat Melayu beserta resep dan petuahnya.

Melalui sebuah diskursus akademik yang disumbangkan oleh Khalila Ilia Ismail dan Mohd Faizal Musa dari Universiti Kebangsaan Malaysia dalam makalahnya yang bertajuk “Makanan Dalam Pembayang Pantun Melayu: Satu Wacana Dari Perspektif Gastronomi” , terungkap bahwa dunia makanan memainkan peranan sentral dan menjadi latar kehidupan dalam wacana pantun Nusantara. Berdasarkan analisis terhadap ribuan bait dalam kumpulan pantun Kurik Kundi Merah Saga , pemaparan narasi gastronomi dalam pembayang pantun dapat dihimpun ke dalam sebuah daftar referensi yang terbagi atas tiga kategori utama:

1. Makanan dan Peranannya

Lebih dari sekadar pengisi perut yang menopang kelangsungan hidup , makanan dalam masyarakat Melayu difungsikan sebagai medium pengobatan fisik maupun sarana penyembuhan mistis.

  • Pengobatan Fisik: Pengetahuan perubatan Melayu terekam apik dalam pantun yang menyarankan penggunaan getah inggu (ferula asafoetida):

    Duduk di dapur membakar inggu,
    Hendak mengubat sawan budak;
    Sawah berlumpur lagi kutunggu,
    Inikan pula padi dah masak.

    Membakar getah inggu di dapur merupakan kearifan lokal yang dipraktikkan untuk mengobati penyakit sawan pada anak-anak.
  • Pengobatan Magis: Dalam aspek gaib, pembayang pantun merekam penggunaan minuman serbat dalam ritual perubatan:

    Di dalam mangkuk tuang serbat,
    Bubuh di atas dulang suasa;
    Beberapa dukun datang mengubat,
    Mustahil kan hilang penyakit cinta.

    Minuman serbat yang dituangkan dan diletakkan di atas dulang suasa memiliki kaitan erat dengan magis pengobatan Melayu, seperti yang sering muncul sebagai elemen dalam ritual penyembuhan tradisional Main Teri.

2. Makanan dan Resep

Melalui ruang pembayang yang begitu terbatas, orang Melayu menonjolkan kepintaran kuliner mereka dalam menyisipkan resep hidangan secara turun-temurun.

  • Paduan Lauk-Pauk: Ciri khas masakan Melayu terekam jelas dalam resep perpaduan makanan laut dan hasil bumi:

    Beli ketam di luar kota,
    Masak sedikit campur rebung;
    Mabuk pitam awal bercinta,
    Penyakit lain dapat ditanggung.

    Terdapat resep perpaduan antara kepiting (ketam nipah) yang dimasak bersama sayuran rebung bambu. Penggunaan rebung ini diyakini berfungsi untuk semakin memaniskan daging kepiting, sebagaimana sajian Ketam Nipah Masak Lemak Rebung.
  • Manisan Penenang Jiwa: Untuk hidangan pencuci mulut atau manisan, pantun menghadirkan resep penggabungan buah:

    Buah kesebak terasa manis,
    Mari dicampur biji selasih;
    Bercerai emak tidak menangis,
    Inikan pula bercerai kasih.

    Resep ini menggabungkan buah kesebak (pisang kaki/kesemek) yang manis dengan biji selasih. Kombinasi ini bukan hanya bukti kepiawaian meracik rasa, tetapi juga difungsikan sebagai comfort food (makanan penenang).

3. Makanan dan Penyajian

Kategori ini merangkum teknik kuliner asli masyarakat Melayu, mulai dari memproses bahan mentah, metode pengawetan, hingga menyajikannya sebagai santapan.

  • Teknik Memasak: Pantun menyimpan petuah khusus dalam mengolah Hidangan laut:

    Anak udang jangan digoreng,
    Kalau digoreng hilang lemaknya;
    Anak orang jangan dibiring,
    Kalau dibiring marah emaknya.

    Bait di atas mengingatkan agar anak udang tidak dimasak dengan cara digoreng supaya rasa manis dan lemak alaminya tidak hilang.
  • Metode Pemeraman (Fermentasi): Dunia gastronomi Melayu sangat akrab dengan teknik pemeraman:

    Buah macang buah kuini,
    Masak sebiji dalam daun;
    Mengapa begini hatiku ini,
    Habis bulan berhanti tahun.

    Pantun ini merekam cara mematangkan buah macang dan kuini dengan cara membalutnya di dalam daun (seperti penggunaan daun tepus) hingga buah tersebut masak dan siap dimakan.
  • Sajian Lalapan (Ulam): Pembayang pantun turut merekam tradisi mengonsumsi lalapan segar:

    Buah putat kukata ulam,
    Bukanlah ulam kulari pulang;
    Adinda pucat kukata demam,
    Bukannya demam di hati yang pulang.

    Melalui bait ini, ditegaskan bahwa hanya buah putat muda yang diakui lezat untuk dijadikan ulam, karena buah putat yang sudah matang mengandung sabut dan kurang sedap dimakan.

Menjadikan ulasan di atas sebagai refleksi, hidangan orang Melayu membuktikan bahwa kuliner Nusantara merupakan bentuk fusion cuisine—sebuah inovasi hidangan yang menyerap pergaulan budaya serantau serta ragam hasil laut dan rempah.

Seni dalam gastronomi Melayu rupanya tidak terletak pada cara presentasinya yang bergaya nouvelle cuisine atau estetika hidangan semata. Sebaliknya, layaknya dedikasi para leluhur yang merajut realitas sosial ke dalam kata-kata, masakan Melayu memiliki elemen modernist cuisine di mana makanan difungsikan sebagai sebuah wahana dialog antara penikmatnya dengan realitas alam sekitarnya, pusaran magis mistis, sains, hingga persinggungan dengan alam akhirattas alam, pusaran magis mistis, hingga persinggungan dengan alam akhirat.

Referensi Pustaka:

MAKANAN DALAM PEMBAYANG PANTUN MELAYU: SATU WACANA DARI PERSPEKTIF GASTRONOMI
Oleh KHALILA ILIA ISMAIL dan Mohd Faizal Musa.

Artikel Serupa