Sangatlah Menyesal kepada Hati
SETIAP manusia tentulah sangat diharapkan dapat bergaul dengan baik di dalam masyarakatnya. Masyarakat yang ideal merupakan kelompok manusia yang di antara mereka senantiasa tolong-menolong, berbagi suka dan duka, serta saling menjaga. Jika sikap dan perilaku itu dapat diterapkan oleh setiap anggota masyarakat, nescaya terciptalah perhubungan yang harmonis di dalam masyarakat, di mana pun mereka berada. Akan tetapi, kondisi yang ideal itu tak jarang sukar diterka.
Berdasarkan gejala yang tak sempurna itulah Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 44, berpesan agar menusia bersikap teliti dan atau waspada dalam bergaul di tengah masyarakat. Karena apa? Rupanya di antara anggota masyarakat di mana pun tak semuanya dapat berperilaku baik.
Setelah habis dilihat pasti Saudagar mengeluh tiada berhenti Sangatlah menyesal kepada hati Dahulunya tiada dilihati
Bait syair di atas berkisah tentang saudagar Negeri Barbari yang tertipu oleh pedagang dari Negeri Hindustan. Dia percaya begitu saja kepada pedagang Hindustan sehingga semua perkataan pedagang itu dikiranya benar. Ternyata, pedagang Hindustan berniat jahat atau beriktikad tak baik terhadapnya. Akibatnya, saudagar Negeri Barbari yang tertipu itu menyesal karena kurang usul periksa terhadap orang lain. Jelaslah bahwa percaya kepada manusia memang dianjurkan. Akan tetapi, kehati-hatian pun sangat diperlukan.
Kehati-hatian dalam pergaulan dengan sesama manusia pun disinggung di dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Perkara itu terdapat pada Pasal yang Ketujuh, bait 3. Sesiapa yang memperhatikannya dengan seksama, nescaya, terhindarlah dia dari tipu-daya manusia.
Apabila kita kurang siasat Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Kedua-kedua karya di atas mengingatkan manusia agar waspada, berhati-hati, dan teliti dalam pergaulan di tengah masyarakat. Percaya kepada orang lain memang sifat dan perilaku yang terpuji. Akan tetapi, manusia tak boleh terlalu asal percaya saja kepada setiap orang, apatah lagi kalau orangnya belum dikenal benar perangai dan sifatnya. Oleh sebab itu, sifat dan perilaku teliti dalam bergaul dan berhubungan di dalam masyarakat tergolong terpuji.
Memang, dalam pergaulan hidup ini ada dua sifat dasar manusia yang harus diwaspadai, yakni amat zalim dan amat bodoh. Orang-orang yang tak hendak menyadari dan memang tak mau berubah dari sifat negatif itu, walaupun telah ditunjukkan jalan kebaikan, mereka itulah yang harus diwaspadai dalam pergaulan hidup ini. Hati mereka telah tertutup bagi jalan kebaikan. Bahkan, ada di antara mereka yang berbangga diri dengan sifat dan perilaku zalim yang amat bodoh itu.
Siapakah yang menyangka bahwa pedagang Hindustan yang telah diperlakukan dengan sangat baik oleh saudagar Negeri Barbari, bahkan telah dianggap sebagai teman, ternyata sanggup melakukan perbuatan tercela (menipu) terhadap orang yang berbuat baik kepadanya? Rupanya, segala kemungkinan boleh saja terjadi dalam pergaulan hidup ini. Pasalnya, sejatinya manusia bersifat lemah. Malangnya, di antara manusia ada yang tak mau mengakui dan mengubah kelemahan itu.
Dikiranya itulah kehebatan dirinya yang dapat menaklukkan dunia. Padahal, kesemuanya itu adalah kebodohan yang amat nyata. Dan, sering pula terjadi semua kejahatan itu dilakukan demi memuaskan syahwat duniawi yang menjadi misi hidupnya.
Memang ada, bahkan banyak, manusia yang berbuat aniaya dalam pergaulan hidup di dunia ini. Mereka itu pasti akan mendapatkan azab atau hukuman dari Allah. Kalau tak kini, sudah pasti nanti, hukuman Allah dengan azab, yang hanya Dia sajalah yang tahu kadar pedihnya, akan ditimpakan kepada mereka yang merajalela. Oleh sebab itu, manusia seyogianya harus senantiasa waspada dan berhati-hati dalam bergaul dengan sesiapa saja agar terhindar dari tipu muslihat orang lain.
Sikap berhati-hati, teliti, dan waspada dalam pergaulan hidup di tengah masyarakat memang tak dapat diabaikan. Walaupun begitu, menaruh curiga tanpa alasan bukanlah pula bentuk kewaspadaan yang dianjurkan. Pendek kata, berhati-hati, teliti, dan waspada dalam bergaul mesti menjadi bagian dari karakter diri. Dengan demikian, nescaya manusia tak akan mudah dikhianati, bahkan oleh orang telah dianggap teman sendiri.
Berkhianat kepada masyarakat merupakan sifat dan perilaku tercela. Di mana pun di dunia ini tak sesiapa pun yang membenarkannya. Masyarakat yang bertamadun tinggi mengidolakan orang yang jujur, sesiapa pun dia dalam jenjang kehidupan ini.Itulah sebabnya, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) melanjutkan kisahnya. Pada bait 68 syair itu dikisahkan hukuman yang harus diterima oleh manusia yang tak jujur atau berkhianat.
Jikalau demikian kamu nin gerang Bukannya datang hendak berdagang Datang merusak adatnya orang Harus diikat tangan ke belakang
Bait syair di atas menceritakan perihal pedagang Hindustan dihukum oleh Sultan Barbari karena dia tak jujur, curang, atau menipu orang. Menurut adat dan hukum setempat (Negeri Barbari), perbuatan curang dan atau menipu sangat tercela dan pelakunya diancam dengan hukuman yang berat.
Tak ada larangan untuk meraih kejayaan hidup dalam bidang apa pun di dunia ini. Asal, kesemuanya diperoleh dengan jujur, bukan secara curang dan menghalalkan segala cara. Karena kecurangannya, akhirnya pedagang itu dihukum. Hukuman yang diterimanya itu membuktikan bahwa perbuatan menipu, curang, atau berkhianat tergolong tercela. Lebih dari pada itu, sifat dan perilaku curang melenyapkan ketenteraman dan keselesaan hidup di dalam masyarakat.
Pasal Kedelapan, bait 1-2, Gurindam Dua Belas (Haji, 1847) pun mengetengahkan anjuran tentang mustahaknya kejujuran di kalangan masyarakat. Sebelum kepada orang lain, tindak-tanduk seseorang yang menyerlahkan karakternya dapat dilihat pada dirinya sendiri.
Barang siapa khianat dirinya Apa lagi kepada lainnya Kepada dirinya ia aniaya Orang ini jangan engkau percaya
Betapa mustahaknya kejujuran dalam hidup ini. Oleh sebab itu, manusia sukar memercayai orang yang mengkhianati dan menganiayai dirinya sendiri. Kalau kepada dirinya saja dia sanggup berbuat curang, kepada orang lain apatah lagi. Makhluk jenis ini, kalau tak berupaya memperbaiki diri, ke mana pun dia pergi akan dibenci. Manusia berkarakter buruk itu sanggup memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kepada makhluk jenis ini, setiap manusia patutlah berhati-hati.***
