{"id":3734,"date":"2020-09-07T10:02:48","date_gmt":"2020-09-07T03:02:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3734"},"modified":"2024-07-09T17:24:55","modified_gmt":"2024-07-09T10:24:55","slug":"datuk-kaya-mepar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/09\/datuk-kaya-mepar\/","title":{"rendered":"Datuk Kaya Mepar"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dalam Pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong><em>Kepala Segala Rakyat<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum kedatangan Sultan Mahmud Riayatsyah, seluruh Pulau Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, menurut C. Van Angelbeek.<em>Korte Schet van Het Eiland Lingga en Deszelf Bewoners <\/em>(Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya)<em>,<\/em> berada dibawah mewenang seorang kepala atau pemimpin dengan gelar Orang Kaya atau Datuk Kaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada zaman Sultan Mahmud Ri\u2019ayatsyah dan sultan-sultan penggantinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah laporan lain yang berjudul <em>Korte Geschiedenis Riouw en Lingga <\/em>(Sejarah Singkat Riau dan Lingga) tahun 1846 yang disusun oleh A. L. Weddik, Komisaris Inspeksi untuk wilayah Borneo dan Lingga mencatat pula bahwa pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Muzafarsyah, ada pula seorag yang bergelar <em>Orang Kaya Temenggung <\/em>di Pulau Memar, seorang laki-laki bertubuh tinggi (Temenggung Jamaludin?) yang juga menjabat sebega kepala bagi semua rakyat Pulau Mepar dan rakyat di pulau-pulau lainnya di sekitar Pulau Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti halnya Yang Dipertuan Muda Riau, Datuk Kaya Mepar dapat mengangkat kepala-kepala rakyat bagi sebuah puak atau kampung (seperti <em>Batin, Jenang, Juru<\/em>, dan sejenisnya) yang yang takluk dibawah pemerintahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut A.L. Weddik, <em>Orang Kaya Temenggung<\/em>, yang merupakan ayah Encik Montel ini memiliki banyak pengaruh. Setelah ia wafat, kedudukannya sebagai pemimpin yang berkedudukan di Pulau Mepar dilanjutkan oleh anak yang bergelar <em>Orang Kaya Montel<\/em> atau <em>Orang Kaya Mepar<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Resident van Riouw, D.L. Baumgardt, sebagaimana dimuat dalam laporan kunjungannya ke Pulau Mepar yang berjudul <em>Aantekeningan gehouden gedurende eene reis van Riouw naar de Eiland Lingga, Colombo, Mepar, Singkip en naar het Rijk van Indragiri (1850),Orang Kaya Montel<\/em> di Pulau Mepar berkuasa seperti ayahnya. Ia bertanggung jawab atas semua rakyat yang berada dibawah takluk Sultan Lingga yang terdiri dari 4.500 orang Melayu, 200 orang Bugis, dan 300 orang Cina. Sedangkan di tempat tinggalnya di Pulau Mepar, terdapat 500 hingga 600 orang penduduk. Di Pulau Mepar, ia mempunyai sebuah rumah yang sangat bagus.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Datuk Kaya Montel<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan <em>Kampung Ladi<\/em> di Pulau Penyengat dan asal-usul nama kampung itu erat kaitannya dengan orang<em> Soekoe Ladi<\/em> (bagian dari orang suku laut yang sangat beragam puak dan kelompoknya) dan juga erat pula hubungannya dengan istana diraja di Pulau Penyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah catatan lama menyebutkan bahwa orang-orang <em>Soekoe Ladi<\/em> ini didatangkan khusus ke Pulau Penyengat oleh Orang Kaya Mepar atau Datuk Kaya Mepar dari Lingga sejak zaman <em>Datuk Kaya Montel<\/em> (yang wafat di Pulau Penyengat dan kemudian jenazahnya dibawah ke Pulau Mepar dan dimakamkan disana). Di Pulau Penyengat mereka dibuatkan kampung di kawasan yang dinamakan sesuai dengan dengan nama puak mereka: <em>Kampung Ladi. <\/em>Letaknya berhampiran kawasan balai adat sekarang. Mereka berada dibawah kendali <em>Datuk Kaya Mepar<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kaitannya dengan Orang Kaya atau Datuk Kaya Mepar tersebut, hingga kini penduduk Pulau Penyengat masih mencatat adanya makam salah seorang Datuk Kaya Mepar atau Orang Kaya Mepar yang bernama Datuk Kaya Awang bin Montel. Seperti ayahnya, ia meninggal di Pulau Penyengat. Lokasi makamnya terletak pada sebuah kompleks makam tua yang berada persis di belakang <em>Balai Adat Indera Perkasa, <\/em>di Pulau Penyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam struktur masyarakat Kerajaan Riau-Lingga,<em>Oerang Soeko Ladi<\/em> atau <em>Rakjat Soekoe Ladi<\/em> ini digolongkan kedalam apa yang disebut oleh Muhammad Apan, dalam laporan penelitiannya yang berjudul <em>Berita District van Bintan<\/em> (1934), sebagai <em>rakjat kaoem enam soekoe<\/em> dan <em>Sokoe Asing<\/em>. Dalam kolompok ini termasuklah di dalamnya, <em>Orang<\/em><em>Galang<\/em>, Orang <em>Mantang<\/em>, Orang <em>Kelong-Mapor<\/em>, Orang <em>Buluh Pianan<\/em> (Perih-Sebong Kecil-Tembeling), <em>Orang <\/em><em>Posek<\/em>, Rakyat Soekoe Asing (Suku Tambus di Pelangke), dan <em>Rakjat Soekoe Ai Jong<\/em> di Selat Bintan.<\/p>\n\n\n\n<p>Masing-masing kelompok <em>rakjat enam soekoe<\/em> dan <em>soekoe asing<\/em> ini dipimpin oleh<em>Batin<\/em> dan <em>Juru<\/em> yang berada dibawah kendali seorang Datuk Indraguru di Pulau Penyengat. Menurut Muhammad Apan, setelah wafatnya <em>Orang Kayar Mepar<\/em>yag bernama Awang, maka <em>Oerang Soekoe Ladi<\/em> atau <em>Rakjat Soekoe Ladi<\/em> di Pulau Penyengat berada dibawah kendali <em>Datuk Indraguru<\/em> terakhir pada fase-fase akhir Kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat, yang ketika itu dijabat oleh Encik Taib.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti telah disebutkan sebelumnya, keberadaan <em>Kampung Ladi<\/em> dan orang-orang <em>Soekoe Ladi<\/em> di Pulau Penyengat erat kaitanya dengan istana raja itu. Dan bukan kebetulan pula bila letak Kampung Ladi di Pulau Penyengat, baik kampung Ladi \u2018yang pertama\u2019 atau \u2018yang kedua\u2019, berhampiran dengan kompleks istana \u2018awal\u2019 di kawasan yang bernama <em>Kota Rentang <\/em>dan kompleks istana \u2018terakhir\u2019 (Istana Keraton) yang letaknya berhampiran <em>KampungKampung Baharu<\/em>. Sama seperti <em>Kampung Ladi<\/em>,&nbsp; kedua kompleks istana itu terletak di belahan Selatan Pulau Penyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Letak dua <em>Kampung Ladi<\/em> yang berhampiran dengan dua kompeks istana raja di Pulau Penyengat tersebut erat kaitannya dengan tugas dan fungsi orang <em>Sokoe Ladi<\/em> atau <em>Rakjat SoekoeLadi <\/em>dalam istana dan pemeritahan kerajaan pada masa lalu. Bersama <em>Orang<\/em><em>Soekoe Galang, Orang Gelam, Orang Sekanak, Orang Sugi, Orang Kelong, Orang Terong, Orang Moro, <\/em>dan<em>Orang Tambus<\/em>, merekalah yang bertanggung jawab sebagai pendayung perahu perang kerajaan dalam masa peperangan: mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa pemukiman mereka berada di pinggir laut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam arsip-arsip Belanda dan kerjaan Riau-Lingga, disebutkan bahwa kaum laki-laki orang <em>Soekoe Ladi<\/em> juga mempunyai tugas mengurus dan membawa tompak kebesaran (<em>cogan<\/em>) kerajaan. Mereka juga yang mengurus persenjataan dan berkawal.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, kaum laki-laki <em>Oerang Soekoe Ladi<\/em> juga bertanggung jawab terhadap persediaan kayu untuk keperluan pembanguan dan pemeliharaa bangunan istana raja, atau untuk keperluan kegiatan lain yang membutuhkan kayu cukup banyak: seperti ketika dilakukan pesta atau kenduri besar di istana.<\/p>\n\n\n\n<p>Tugas dan fungsi orang <em>Soekoe Ladi<\/em> di istana tidak hanya diperankan oleh kaum laki-lakinya saja. Di stana raja, kaum perempuann <em>OerangSoekoe Ladi<\/em> juga harus bertugas menjadi penjaga sebuah bilik dimana tempat tidur diraja terletak.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka juga bertugas menjaga <em>halaman pelaminan<\/em> ketika istiadat pernikahan diraja berlangsung. Mereka memegang alat-alat kebesaran diraja dalam perarakan kebesaran diraja, atau duduk dengan lilin di tangan dalam sebuah istiadat diraja di istana<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Ahli al-Mahkamah<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Selain mengurus dan menjadi kepala bagi seluruh rakjat yang berada dibawah takluk Sultan di Linga dan kawasaan sekitarnya, ternyata <em>Datuk Kaya Mepar<\/em> juga menjadi anggota <em>Ahli al-Mahkamah<\/em> Kerajaan di Daik-Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai ilustrasi, Datuk Kaya Awang bin Montel adalah anggota A<em>hli al-Mahkamah Kecil<\/em> di Lingga setelah Sultan Abdulrahman mindahkan istana dan kedudukan Sultan ke Pulau Penyengat pada tahun 1900. Datuk Kaya Awang kerap terlibat dalam pengambilan putusan hukum dalam satu perdakwaan yang diputuskan oleh <em>Mahkamah Kecil<\/em> di Dau-Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada 23 Jumadil Awal 1323 H (1905 M) umpamanya, Datuk Kaya Awang bin Montel terlibat dalam penyusunan hadil prmeriksaan dan menimbang perdakwaan seorang Cina bernama Go-Ping-Ki yang berniagadi Kampung Cina, Daik, dengan seorang Melayu bernama Amat bin Sulaiman yang juga tinggal di Kampung Cina, Daik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tugas pemerintahan dalam ini dijalankan oleh Datuk Kaya Awang bin Montel bersam-sama dengan Raja Abdulrahman bin Raja Abdulah yang menjabat sebagai <em>Wakil Kerajaan<\/em> (Wakil Sultan) di Lingga, Datuk Lasamana Muhammad Yusuf, dan Letnan Keling Abdulrahman bin Muhammad.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam Pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga Kepala Segala Rakyat Sebelum kedatangan Sultan Mahmud Riayatsyah, seluruh Pulau Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, menurut C. Van Angelbeek.Korte Schet van Het Eiland Lingga en Deszelf Bewoners (Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya), berada dibawah mewenang seorang kepala atau pemimpin dengan gelar Orang Kaya atau Datuk Kaya. Hal ini terus berlanjut&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[],"class_list":["post-3734","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/1_.jpg?fit=1024%2C376&ssl=1",1024,376,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/1_.jpg?fit=1361%2C500&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Ye","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3734","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3734"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3734\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3737,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3734\/revisions\/3737"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3734"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3734"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3734"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}