{"id":3545,"date":"2020-06-22T09:42:11","date_gmt":"2020-06-22T02:42:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3545"},"modified":"2024-07-09T17:25:09","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:09","slug":"riouw-raad-1947-1950","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/06\/riouw-raad-1947-1950\/","title":{"rendered":"Riouw Raad   (1947-1950)"},"content":{"rendered":"\n<p>Kembalinya pemerintahan Hindia Belanda ke Tanjungpinang pada tahun 1946&nbsp; semakin memperkuat tuntutan masyarakat Kepulauan Riau untuk mendapatkan hak pemerintahan sendiri (<em>zelfbestuur<\/em>), dan sekaligus menjadi bagian yang tak telepaskan dari berbagai reaksi yang muncul selepas berita roklamasi kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta sampai ke Tanjungpinang pada 21 Agustus 1945.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai jawaban terhadap tuntutan itu, maka pada akhir tahun 1946, pemerintah Belanda di Tanjungpinang memutuskan membentuk semacam dewan atau badan penasehat (<em>Advies-Raad<\/em>) pada setiap <em>Onderafdeeling <\/em>dalam wilayah pemeromtahan <em>Residentie van Riouw <\/em>yang berdiri kembali setelah kekalahan pemerintahan Balatentara Jepang. Badan atau dewan penasehat inilah yang kemudian berkembang menjadi <em>Riouw Raad<\/em> <em>Sementara<\/em> (Dewan Riau Sementara) pada tahun itu juga.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Riouw Raad<\/em> <em>Sementara <\/em>ini adalah \u201csebuah panitia persiapan\u201d yang diberi tugas untuk mempersiapkan segala sesuatunya dalam rangka pelaksanaan pemerintahan otonomi terbatas di <em>Residentie Riouw<\/em>. Dengan katan lain, <em>Riouw Raad<\/em> <em>Sementara <\/em>adalah sebuah lembaga hasil kompromi <em>win-win solution<\/em> ketika benturan&nbsp; politik antara masyarakat Kepulauan Riau dan pemenrintah Hindia Belanda tampil dalam corak yang berbeda setelah proklamasi 17 Agustus 1945.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Setelah<em> Riouw Raad Sementara<\/em> (RRS) berhasil membuat <em>Undang-Undang Dasar Daerah Riouw<\/em> sebagai pedoman pemerintahan otonomi terbatas dan peraturan \u201cpemilihan umum\u201d untuk daerah <em>Residentie van Riouw<\/em> (<em><a href=\"http:\/\/asa2.pica.nl\/DB=1\/SET=4\/TTL=1\/CLK?IKT=4&amp;TRM=Kiesverordening\">Kiesverordening<\/a> <a href=\"http:\/\/asa2.pica.nl\/DB=1\/SET=4\/TTL=1\/CLK?IKT=4&amp;TRM=Riouw\">Riouw<\/a><\/em>), maka RSS dibubarkan pada tahun 1947.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai gantinya, dibentuklah &nbsp;<em>Riouw Raad<\/em> (Dewan <em>Riouw<\/em>) yang anggotanya berasal perwakilan setiap <em>Onderafdeeling<\/em> hasil \u2018pemilihan umum\u2019 di <em>Residentie Riouw<\/em>. Anggota <em>Riouw Raad<\/em> yang definitif itu dilantik pada tanggal 4 Agustus 1947, dan diamanakan dengan tugas serta tanggungjawab menjalankan pemerintahan daerah otonomi terbatas di <em>Residentie van Riouw <\/em>di Tanjungpinang. Dalam upacara pelantikan itu hadir juga <em>Algemene Regering Commissaries<\/em> (Komisaris Pemerintahan Umum) pemerintah Hindia Belanda untuk wilayah Kalimantan dan Timur Besar.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Riouw Raad<\/em> berkedudukan di Tanjungpinang. Lembaga ini menempati sebuah gedung megah yang terletak di lereng Bukit Tanjungpinang: Sebuah bangunan modern dengan gaya arsitektur <em>Art Deco<\/em> yang dibangun pada tahun 1930 (pada tahun 1955 gedung ini dipilih menjadi kantor dan studio RRI Tanjungpinang yang tertama).<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai sebuah dewan pemerintahan daerah dalam wilayah pemerontahan Belanda di <em>Residentie van Riouw<\/em>, keanggotaan dalam <em>Riouw Raad<\/em> antara lain terdiri dari wakil masyarakat Melayu tempatan, pejabat- pejabat&nbsp; Belanda di Tanjungpinang, dan orang-orang Tionghoa yang pada waktu itu turut mewarnai panggung politik di Tanjungpinang, ibu kota <em>Residentie van Riouw<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai ketua <em>Riouw Raad<\/em> pertama terpilih Muhammad Apan, anak <em>watan<\/em> Pulau Penyengat yang kelak menjadi bupati Kepulauan Riau&nbsp; pertama. Selanjutnya, pada tahun 1949 hingga tahun 1950 ketua <em>Riouw Raad<\/em> dipercayakan kepada Muchtar Husin anak Kampung Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjalankan fungsinya sebagai pemegang kendali pemerintahan otonomi terbatas di <em>Residentie van Riouw<\/em>, maka berdasarkan <em>besluit<\/em> (surat keputusan) <em>Resident Riouw<\/em> Dr. J. van Waardenburg&nbsp; No. 201\/32 tanggal 15 Juli 1948, diserahkanlah delapan kantor dan urusan pemerintahan daerah sebagai bagian dari wewenang <em>Riouw Raad<\/em>, yakni:&nbsp; Pemerintahan umum (Pamong-Praja); Urusan&nbsp; <em>Dienst Volk Gezondheid <\/em>(Dinas Kesehatan Rakyat); <em>Openbare Werken <\/em>(Urusan Pekerjaan Umum); <em>Boschwezen<\/em> (Kehutanan); <em>Onderwijs en Opvoeding<\/em> (Urusan Pengajaran dan Pendidikan); <em>Tjatuan<\/em> Urusan Distributie; Jawatan Penerangan Daerah; dan Urusan Keungan daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, sembilan bidang lainnya yang mencakupi, urusan <em>Post Telefoon dan Telegraff<\/em> (PTT), <em>Kadaster <\/em>Pendaftaran Tanah, Pengadilan Negeri, <em>Justitie<\/em> dan <em>Gevangeniswezen<\/em> (Kehakiman dan urusan penjara), <em>Pandhuisdienst<\/em> (urusan pegadaian), Perlayaran, Imigrasi, Polisi, dan Kantor Pajak, tetap menjadi wewenang <em>Resident van Riouw <\/em>sebagai perpanjangan tangan pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belandadi Tanjungpinang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika tejadi penyerahan kedaulatan dan pemerintahan wilayah Hindia Belanda dari pemerintah Hindia Belanda kepada <em>Republik Indonesia Serikat<\/em> (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949, maka untuk wilayah Kepuluan Riau, pemerintah pusat RIS mendelegasikannya kepada Muchtar Husin selaku ketua&nbsp; <em>Riouw Raad<\/em> yang bertindak mewakili pemerintah <em>Republik Indonesia Serikat<\/em> dan sekaligus menjadi pimpinan sementra atas seluruh kendali pemerintahan di Kepulauan Riau ketika itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Fungsi dan peranan&nbsp; <em>Riouw Raad<\/em> ini mulai goyah ketika gencarnya tekanan dan desakan pemuda-pemuda Tanjungpinang yang tergabung dalam <em>Panitia 17<\/em>: sebuah lembaga adhoc yang dipimpin oleh <em>Zamachhsjari <\/em>serta angota-anggota <em>Gerakan Pemuda Indonesia<\/em> (GEPINDO) pimpinan Muhammad Jacob Hasibuan yang dengan menuntut pembubaran <em>Riouw Raad<\/em> bikinan Belanda dan mendesak penggabungan daerah Kepulauan Riau ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia pada awal tahun 1950.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, dua hari menjelang digelarnya <em>Rapat Raksasa<\/em> dan demontrasi besar-besaran pemuda Tanjungpinang yang tergabung dalam <em>Panitia 17, <\/em>seluruh anggota <em>Riouw Raad<\/em> menggelar rapat kilat yang memutuskan untuk membubarkan diri pada tanggal 18 Maret 1950.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, seluruh anggota <em>Riouw Raad<\/em> bersama pemuda-pemuda progresif yang tergabung dalam <em>Panitia 17<\/em> mendesak pemerintah <em>Republik Indisnesia Serikat<\/em> (RIS) menggabungkan seluruh daerah Kepulauan Riau ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kembalinya pemerintahan Hindia Belanda ke Tanjungpinang pada tahun 1946&nbsp; semakin memperkuat tuntutan masyarakat Kepulauan Riau untuk mendapatkan hak pemerintahan sendiri (zelfbestuur), dan sekaligus menjadi bagian yang tak telepaskan dari berbagai reaksi yang muncul selepas berita roklamasi kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta sampai ke Tanjungpinang pada 21 Agustus 1945. Sebagai jawaban terhadap tuntutan itu, maka pada&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3548,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-3545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/1a_.jpg?fit=626%2C730&ssl=1",626,730,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/1a_.jpg?fit=626%2C730&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Vb","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3545"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3545\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3549,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3545\/revisions\/3549"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}