{"id":3429,"date":"2020-03-09T10:14:56","date_gmt":"2020-03-09T03:14:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3429"},"modified":"2024-07-09T17:25:12","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:12","slug":"sumpah-setiap-melayu-dan-bugis-1691","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/03\/sumpah-setiap-melayu-dan-bugis-1691\/","title":{"rendered":"Sumpah Setiap Melayu dan Bugis 1691"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>HISTORIOGRAFI\n<\/strong>(penulisan\nsejarah) adalah salah satu\nsumber legitimasi politik kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Atau dengan kata lain, kerajaan pewaris\nkebesaran Melaka tersebut ditegakkan di atas pondasi \u2018legitimasi politik\u2019 yang\ndisokong oleh penulisan sejarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada sebab historis kerajaan itu didirikan.\nDan ada aturan historis-politis paling dasar yang mengatur bagaimana kerajaan\nitu dijalankan. Semuanya terhimpun dalam lima buah manuskrip Melayu yang\ndikenal sebagai <em>Manuskrip<\/em> <em>Sejarah\nRaja-Raja Riau<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><em>K<\/em><em>utubkhanah<\/em> minggu ini akan memperkenalkan salah satu di antaranya. Sebuah manuskrip Riau-Lingga dengan nomor\nkatalog W.62 koleksi <em>Perpustakaan\nNasional Republik Indoensia<\/em> (PNRI) yang diberi judul <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em>: terutama bagian-bagian yang berisikan\nsejarah sumpah setia Bugis dan Melayu di Kerajaan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Tiga Kelompok Manuskrip<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Manuskrip ini sebelumnya adalah\nkoleksi perpustakaan museum <em>Kooninklijk\nBatviaasch Genootschap<\/em> (Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu\nPengetahuan), yang kemudian menjadi<em> Perpustakan <\/em><em>Museum Pusat<\/em>, dan sejak tahun 1980 menjadi koleksi bagian manuskrip\nPerpustakaan Nasional (Perpusnas) di Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Ph. S. van Ronkel dalam <em>Catalogus der Maleische Handschriften in het\nMuseum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen<\/em>\n(Katalog Manuskrip Melayu di Museum Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu\nPengetahuan) yang terbit pada 1909, mencatat ada lima<em> Manuskrip<\/em> <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> yang dalam ejaan\nlama ia sebut <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Lima manuskrip ini dipilah-pilah menjadi <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em><em> <\/em><em>I<\/em><em> <\/em>hingga <em>Sedjarah\nRadja-Radja Riouw<\/em> <em>V<\/em>. Manuskrip\nkelompok pertama adalah <em>Sedjarah\nRadja-Radja Riouw<\/em> <em>I<\/em> yang ditandai\ndengan nomor katalogus W. 194. Ukurannya 31 x 19,5 cm dan ditulis pada 8 muka\nsurat. Menurut van Ronkel, varian manuskrip ini dikenal juga dengan nama: <em>Hikajat Negeri Riouw<\/em>, <em>Silsilah Radja Bugis<\/em>, dan <em>Atoeran Setia Boegis dengan Melajoe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara garis besar, <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> <em>I<\/em>\nberisikan penjelasan tentang seorang yang bergelar <em>Tengkoe Besar<\/em> dan saudaranya yang kemudian mangkat di <em>Boekit Soengej<\/em> <em>Baroe<\/em> (Bukit Sungai Baru).&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Kelompok kedua, adalah manuskrip sejarah <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em><em> <\/em><em>II<\/em> hingga <em>Sedjarah\nRadja-Radja Riouw <\/em>IV yang diberi nomor katalogus W. 62. Secara\nberturut-turut, manuskrip ini terdiri dari 44, 43, dan 40 muka surat, dengan\nukuran 34 x 21 cm, 32 x 20 cm, dan 32 x 19,5 cm.<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi <em>Sedjarah\nRadja-Radja Riouw<\/em> <em>II <\/em>adalah kelanjutan\ndari <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> <em>I<\/em>. Sedangkan <em>M<\/em><em>a<\/em><em>nuskrip <\/em><em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> <em>III,\n<\/em>yang menjadi fokus <em>K<\/em><em>utubkhanah<\/em><em> <\/em>kali ini,\nadalah sebuah sejarah lengkap (<em>eene\ncomplete geschiedenis<\/em>) sumpah setia Melayu dengan Bugis. Adapun <em>Manuskrip\n<\/em><em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> <em>IV<\/em> adalah kelanjutan narasi <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> <em>I<\/em> yang bermula dengan tarikh 1103 H\n(1691 M) dan berahir pada tarikh 1223 H (1808 M).<\/p>\n\n\n\n<p>Kelompok ketiga adalah <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw <\/em>V dengan nomor katalogus W. 197, yang\nditulis pada 6 muka surat berukuran 20,5 x 16,5 cm. Narasi dalam manuskrip ini\nbermula dengan kisah \u201c<em>Raja Bugis\nmengambil Riau ini dengan jalan perang dari tangan Raja Kecil yaitu Minangkabau\nSiak\u201d <\/em>pada 1134 H (1721 M).<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, seluruh <em>Manuskrip<\/em> <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw<\/em> berada dalam\nsimpanan ruang koleksi manuskrip <em>Perpusnas <\/em>di Jakarta. Dalambuku <em>Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara\nKoleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia<\/em> (1998-jilid 4), Manuskrip <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw I<\/em> diberi\nnomor katalogus W. 195 dengan tanda bintang, yang artinya manuskrip itu tidak\nditemukankan lagi, atau \u2018hilang\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Manuskrip <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw II <\/em>hingga <em>IV<\/em> disatukan dalam sebuah manuskrip yang diberi judul <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> setebal 192 dan\ndiberi nomor katalogus W. 62. Kertas manuskrip ini sangat rapuh dan dalam\nkondisi rusak.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan manuskrip <em>Sedjarah Radja-Radja Riouw V<\/em> diubah judulnya manjadi <em>Silsilah Raja Bugis<\/em> atau <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> sebagaimana\ndicantumkan dalamt \u201ckatalog lama\u201d <em>Koleksi Naskah Melayu\nMuseum Pusat Dep. P &amp; K<\/em> yang disusun oleh M.\nAmir Sutaarga dkk (1972).<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Sumpah Setia Melayu dan Bugis<\/em><\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Van Ronkel dalam katatalognya (1909)\nmenyebutkan bahwa manuskrip <em>Sedjarah\nRadja-Radja Riouw<\/em> atau <em>Sejarah\nRaja-Raja Riau<\/em> dengan nomor katalogus W. 62, berisisikan sejarah lengkap\nsumpah setia orang Bugis dengan orang Melayu (<em>een complete geshiedenis van het verbond der Boegineezen met de\nMaleiers<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi sejarahnya diawali dengan peristiwa\ntahun 1103 H (1691 M), ketika Raja Sulaiman menjadi Sultan Johor dan Pahang di\nRiau, bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. <\/p>\n\n\n\n<p>Akhir dari narasi sejarah dalam manuskrip <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> periode ini adalah masa-masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ibni\nSultan Abdulrahmansyah (1857-1883) dan Yang Dipertuan\nMuda Riau Raja Haji Abdullah yang bergelar Sultan \u2018Ala\u2019uddin ibni Marhum Jakfar. Dalam narasi pada\nbagian-bagian akhir manuskrip ini, juga disebutkan bahwa <em>Resident Riouw<\/em>\nyang berkedudukan di Tanjungpinang ketika itu\nadalah Johan Hendrik Tobias.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut van Ronkel, penulis (atau tepatnya)\npenyalin manuskrip ini menyebut nama dirinya adalah Hadji Moehammad Sa\u2019id\nMoewallad Riouw ibn Daeng Mempawah Boegis.<\/p>\n\n\n\n<p>Di antara\nnarasi sejarah sumpah setia antara Bugis dengan Melayu dalam manuskrip ini,\nterdapat salinan sejumlah manuskrip (dokumen-arsip) sumpah setia antara Bugis\ndengan Melayu atau sebaliknya. Tarikhnya dimulai sejak zaman Sultan\nSulaiman Badrul Alamsyah (1691) hingga zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah\nibni Sultan Abdulrahmansyah dan Yantuan Muda Raja Haji Abdullah ibni Raja\nJakfar.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap salinan manuskrip sumpah setia itu,\nditandai dengan salinan inskrip masing-masing <em>cap mohor<\/em> (setempel) Sultan Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan\nMuda. Pada inskripsi yang ditulis dalam lingkaran\nitu, tercantum nama kebesaran masing-masing Sultan Yang Dipertuan Besar dan\nYang Dipertuan Muda Riau yang dilengkapi\ndengan tarikh awal pemerintahannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Salinan dokumen tertua dalam manuskrip <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> yang mengandungi\nrangkaian sumpah setia\nMelayu dan Bugis ini adalah sebuah salinan dokumen tentang penabalan Sultan\nSulaiman Badrul Alamasyah sebagai Sultan Johor dan Pahang di Negeri Riau pada\n1103 Hijriah bersamaan dengan 1691 Miladiah: manuskrip ini merupakan\ndokumen sumpah setia antara Melayu dan Bugis yang pertama di Riau.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka tarikh penabalan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang\ntertera pada salinan dokumen ini berbeda dengan angka tarikh penabalan Sultan\nSulaiman Badrul Alamsyah yang dikenal luas dan dirujuk hingga kini: yakni tahun\n1722 Miladiah. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam manuskrip <em>Sejarah Raja-Raja Riau<\/em> ini, juga\ndijelaskan bahwa penabalan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tahun 1691\ntidak hanya dilakukan oleh Kelana Jaya Putera Daeng Marewah sendiri, tetapi\ndilakukan bersama-sama dengan Daeng Menampuk. <\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah alih aksara bagian\npembukan salinan dokumen sumpah setia Melayu dan Bugis yang pertama, antara\nSultan Sulaiman Barul Alamsyah dengan Raja Bugis di Riau:<\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><em>\u201c<\/em><em>Tarikh sanah 1103 hijrah <\/em>(1691 M) <em>pada tahun ba pada hari Khamis,<\/em><em> maka adalah pada waktu itu Raja Sulaiman ditabalkan oleh Dahing\nMenampuk dan Kelana Jaya Putera.<\/em><em> M<\/em><em>aka bergelar Sultan Sulaiman Badrul\n\u2018Alamsyah diatas tahta kerajaan N<\/em><em>egeri Johor dan Pahang,<\/em><em> dan Tun A\u2019bas menjadi Bendahara Sri Maharaja. Maka adalah perjanjian\nantara Raja Johor dengan Raja Bugis bersumpah setia dan muafaqat yaitu tiada\nberubah sampai kepada anak cucu cicit tiada berubah sampai kepada anak cucu\ncicit tiada mengubahkan setianya. <\/em><\/h5>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><em>Dan adalah antara raja Bugis dengan Raja Johor itu&nbsp; bersaudara selamanya. Dan adalah antara raja\nBugis dengan Raja Johor itu bersaudara. Negeri yang dua\njadi satu. <\/em><\/h5>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><em>Maka&nbsp; barang siapa mungkir dibinasakan Allah sampai\nkepada anak cucu cicitnya. Syahdan kemudian daripada itu, dibalas oleh Sultan\nSulaiman Yang Dipertuan Besar pula akan kebaktiyan Kelana itu. Maka diambil\nakan saudara oleh baginda itu. Maka dijadikan Raja Muda. <\/em><em>Maka bergelar Sultan \u2018Ala-al-din. Maka diserahkan sekalian perintah N<\/em><em>egeri Johor dan Pahang dengan segala daerah\ntakluknya serta dengan takluk rantau negerinya dan dengan rakyat sakai sekalian\nadanya.\u201d<\/em><em>***<\/em><\/h5>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HISTORIOGRAFI (penulisan sejarah) adalah salah satu sumber legitimasi politik kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Atau dengan kata lain, kerajaan pewaris kebesaran Melaka tersebut ditegakkan di atas pondasi \u2018legitimasi politik\u2019 yang disokong oleh penulisan sejarah. Ada sebab historis kerajaan itu didirikan. Dan ada aturan historis-politis paling dasar yang mengatur bagaimana kerajaan itu dijalankan. Semuanya terhimpun dalam lima buah manuskrip&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3430,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-3429","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Prasasti-Sumpah-Setia-Melayu-Bugis-yang-ditandatangani-Wapres-Jusuf-Kalla-ketika-melawat-ke-Daik-Lingga-November-lalu.-F.Fatih_.jpg?fit=668%2C396&ssl=1",668,396,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Prasasti-Sumpah-Setia-Melayu-Bugis-yang-ditandatangani-Wapres-Jusuf-Kalla-ketika-melawat-ke-Daik-Lingga-November-lalu.-F.Fatih_.jpg?fit=668%2C396&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Tj","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3429","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3429"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3429\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3431,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3429\/revisions\/3431"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3430"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}