{"id":3418,"date":"2020-02-24T09:04:16","date_gmt":"2020-02-24T02:04:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3418"},"modified":"2024-07-09T17:25:12","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:12","slug":"ketika-sultan-lingga-riau-bersemayam-di-tanjungpinang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/02\/ketika-sultan-lingga-riau-bersemayam-di-tanjungpinang\/","title":{"rendered":"Ketika Sultan Lingga-Riau Bersemayam di Tanjungpinang"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>(Desember 1867- Mei 1868)<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Dalam adat diraja Melayu di kerajaan&nbsp; Lingga-Riau di masa lalu, bila seorang&nbsp; sultan yang sedang memerintah <em>bermastautin<\/em> atau tinggal di suatu\ntempat untuk jangka waktu yang lama atau singkat, maka disebut <em>bersemayam<\/em>. Adapun rumah atau gedung\ntempat ia <em>bersemayam<\/em> itu disebut pula\n<em>istana<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itulah,&nbsp; bukan hanya di Daik dan Penyengat saja, tapi\njuga Tanjungpinang pernah menjadi tempat <em>bersemayam<\/em>\nSultan Lingga-Riau, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ibni Sultan Abdulrahman\nMu\u2019azamsyah yang memerintah antara tahun 1857 hingga 1883.&nbsp; Selama lebih kurang enam bulan lamanya beliau\nbersemayam di Tanjungpinang. Sejak awal Desember 1878 hingga akhir Mei 1867.\nMengapa beliau bersemayam di Tanjungpinang? Dan bagaimana&nbsp; reaksi Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad\nYusuf di Pulau Peyengat ketika itu?<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Setahun setelah Yang Dipertuan Muda Riau\nRaja Muhammad Yusuf berkunjung ke Batavia pada bulan Maret 1866, Sultan\nLingga-Riau, Sulaiman Badrul Alamsyah yang ketika itu <em>bersemayam<\/em> di Daik-Lingga, juga mendapat persetujuan pemerintah\nkolonial Belanda untuk&nbsp; membawa rombongan\nmengunjungi Kota Batavia yang kini bernama Jakarta. Orang Melayu menyebutnya&nbsp; <em>Bandar Betawi Darul Masyhur<\/em>. Dari\nDaik, rombongan diraja itu bertolak ke Pulau Jawa melalui pelabuhan Negeri Riau\nTanjungpinang, dan tiba di Batavia pada 21 Oktober 1867.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih kurang tiga bulan lamanya rombongan\ndiraja Lingga-Riau itu berada di <em>Bandar\nBetawi Darul Masyhur<\/em>. Selain mengadakan pertemuan resmi dengan Gubernur\nJenderal Pieter Meijer, Sultan Sulaiman Barul Alamsyah dan pengiringnya juga\nsempat membuat beberapa sesi foto di studio foto<em> Woobury &amp; Page <\/em>&nbsp;yang terletak\ndi <em>Kawasan Rijswijk<\/em>, dan&nbsp; tentu saja, \u2018<em>makan angin<\/em>\u2019 keliling Kota Batavia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar awal Desember 1868, rombongan\ndiraja itu bertolak kembali ke Negeri Riau Tanjungpinang,&nbsp; dan tiba pada awal Desember 1868. Setelah\ntiba di Tanjungpinang, Yang Dipertuan Besar Lingga-Riau itu tidak langsung\nkembali ke Daik-Lingga, dan tidak juga <em>bersemayam<\/em> di Pulau Penyengat.\nSebaliknya, baginda Sultan memilih Tanjungpinang sebagai tempat <em>bersemayam<\/em> dan beristirahat selama\nkurang lebih enam bulan lamanya. Mengapa?<\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa ini dijelaskan, dengan dukungan\nbahan sumber arsip yang dapat dipertanggungjawabkan, oleh Jan va der Putten\ndalam salah satu bagian kitab khatam kajinya (disertasi) di Universitas Leiden\nyang berjudul <em>His Word Is The Truth Haji\nIbrahim\u2019s letters and other writings<\/em> (2001:199-205).<\/p>\n\n\n\n<p>Laporan politik (<em>politiek verslag<\/em>) <em>Resident\nRiouw<\/em>, E. Netscher tahun 1868 yang dikutip Jan van der Putten, menyebutkan\nbahwa Sultan Lingga-Riau itu, Sulaiman Badrul Alamsyah, lebih suka bergaul\ndengan orang-orang Eropa selama ia <em>bersemayam<\/em>\ndi Tanjungpinang. Menurut pengamatan Netscher, hal ini erat kaitannya dengan hubungan\nantara Sultan di Lingga dan Yamtuan Muda di Pulau Penyengat ketika itu \u201ctak\nseperti yang diharapkan,\u201d: penyebabnya adalah karea adanya intrik politik di\nkalangan pembesar istana Lingga-Riau ketika itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, selama di Tanjungpinang, Sultan\nSulaiman Badrul Alamsyah&nbsp; juga memilih <em>bersemayam<\/em> di salah satu rumah milik\nHermaan von de Wall, seorang sahabat Raja Ali Haji yang ketika itu sedang\nsibuk-sibuknya menyusun kamus Bahasa Melayu-Bahasa Belada. Lokasi rumah itu tak\njauh dari rumah <em>Resident Riouw<\/em>, yaitu\ndi sekitar bangunan Kantor Pos di Jl, Merdeka, Tanjungpinang kini. Selama <em>bersemayam <\/em>di rumah Hermaan von de Wall,\nhanya sekali, yaitu ketika hari raya puasa saja baginda mengunjungi Pulau\nPenyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKetegangan politik\u201d dalam hubungan antara\nSultan Lingga, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dan Yamtuan Muda Riau Raja\nMuhammmad Yusuf di Pulau Penyengat ketika itu tergambar pula dalam sebuah\nmanuskrip <em>peringatan<\/em> yang berisikan\ncatatan harian rombongan Egku Haji dan Datuk Bentara Johor yang diutus khusus\noleh Datuk Temnggung Abu Bakar di Teluk Belanga, Singapura pada bulan April\n1868, sempena bertanya&nbsp; ikhwal \u201c<em>aturan<\/em> [pemerintahan dan sejarah\nkerajaan] <em>Melayu<\/em>\u201d kepada Raja Ali Haji\ndi Pulau Penyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>peringatan<\/em>\natau catatan harian yang kemudian dipublikasikan sebagai <em>Kisah Perlayaran ke Riau<\/em> (M.A. Fauzi Basri 1977: 24-38),&nbsp; Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf&nbsp; \u2018memprotes keras\u2019&nbsp; sikap Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang\nmemilih \u201c\u2026<em>bersemayam\u2026\u201d<\/em> di\nTanjungpinang &nbsp;\u201c\u2026 <em>tiada dengan adat istiadat<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProtes keras\u201d itu diungkapkan oleh Yamtuan\nMuda Raja Muhammad Yusuf&nbsp; ketika utusan\nTemenggung Abu Bakar yang didampingi Raja Ali Haji datang mengadap Yamtuan Muda\nRiau itu di istananya yang terletak bersebelahan Masjid Jamik Pulau Penyengat,\npada 22 April 1868. Pada kesempatan itu, salah seorang anggota utusan\nTemenggung Abu Bakar yang bergelar Ungku Haji bertanya perihal Sultan Sulaiman\nkepada Yamtuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf: \u201c<em>Apakah ia<\/em> (Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah) <em>berangkat <\/em>(datang) <em>ke mari <\/em>(Pulau\nPenyengat)?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf menjawab:\n\u201c<em>tidak, melainkan hari raya sahaja. Kami\npun tiada mengadap ke sana, karena ia bersemayam tiada dengan adat istiadat;\njikalau ia bersemayam di Lingga atau Penyengat, boleh kita semua mengadap.\nMaka, inilah halnya raja kita, kesusahan atas kita akan hal raja demikian,\nkarena duduk di situ dengan tiada apa pekerjaan meninggalkan negeri<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, bukan tanpa alasan Sultan Sulaiman\nBadrul Alamsyah memilih <em>bersemayam<\/em> di\nTanjungpinang, dan tidak langsung kembali ke Daik atau <em>bersemayam<\/em> di\nPulau Penyengat setelah kembali dari perlayaran ke <em>Bandar Betawi Darul Masyhur<\/em>. Hal itu disampaikannya dalam <em>titah<\/em> [kata-katanya]&nbsp;kepada Encik Wan Abdullah\ndan Datuk Bentara Jakfar, dua orang utusan Temenggung Abu Bakar, yang datang\nmengadap ke tempat beliau <em>bersemayam,<\/em>\ndi rumah Hermaan von de Wall di Tanjungpinang, pada hari Minggu,&nbsp; 26 April 1868.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>Kisah\nPerlayaran ke Riau<\/em>, ikhwal Sultan Sulaiman di Tanjungpinang dan&nbsp; alasannya memilih <em>bersemayam<\/em> di Tanjungpinang ketimbang di Pulau Penyengat dijelaskan\nsebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Hari\nyang keenam, iaitu pada hari Ahad 3 Muharam 1285 (12.4.1868)<\/em> \u2026<em>Encik Wan Abdullah dengan Datuk Bentara&nbsp; naik ke Tanjungpinang pergi mengadap Tuanku,\niaitu Sultan Sulaiman di rumah Tuan Von de Wall. Maka apakala sampai keduanya,\nduduklah ia di dalam suatu bilik tempat orang-orang mengadap, adapun Tuanku\nwaktu itu di dalam bilik peraduannya, <\/em>(tengah) <em>menyurat<\/em>, <em>maka disembahkan\noleh Tuan Cik iaitu daripada Syed peranakan Lingga mengatakan paduka anakanda\nEncik Wan Abdullah datang hendak mengadap, maka titahnya suruhlah ia duduk\nsebentar kami lagi hendak menyudahkan surat lagi sedikit<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Ada\nsejurus, belum juga ia keluar. Maka masuklah Encik Wan Abdullah ke dalam bilik\nperaduannya. Maka ia pun berangkat keluar bersemayam di atas kaus <\/em>[sejenis dipan]. <em>Encik Wan Abdullah duduk bersila di atas kursi. Tuan Chik ituvpun di\natas kursi jua<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Adalah\nSultan Sulaiman itu berdaulat tubuhnya dan molek misainya, dan tiada tinggi\nkeadannya, dan berseri mukanya, dan berboceng ulunya <\/em>(rambutnya panjang dan\ndijalin)<em>. Waktu ini ada ia memakai sapu\ntangan dan berbaju berpesak cara Jawa daripada kain khas, berseluar panjang.\nMaka ia bersemayam itu dengan ramah rupanya dan manis pandangan serta\nmenyelang-nyelang akan titahnya dengan tertawa-tawa. Maka lapanglah rasa hati\nyang mengadap dia\u201d<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201c\u2026<em>Maka\nadalah titah<\/em> (Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah), <em>selama kami balik dari Betawi duduklah berhenti di sini supaya\nberistirahat daripada tiada sedap, dan kerana bertukar hawa dengan hawa Betawi.\nMaka sehatlah rasanya selama di sini. Badan gemuk. Hendakpun kami duduk di\nPenyengat, di situ terlalu lindung dan tiada dapat angin. Serta paya <\/em>(danau)<em> di Penyengat itu terlalu busuk. Tambahan, selama kemarau ini pun\nmenjadi kering di Penyengat. Kesusahanlah air. Hanyalah sekali sahaja, raya\nhari kami ke sana<\/em>\u2026\u201d***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Desember 1867- Mei 1868) Dalam adat diraja Melayu di kerajaan&nbsp; Lingga-Riau di masa lalu, bila seorang&nbsp; sultan yang sedang memerintah bermastautin atau tinggal di suatu tempat untuk jangka waktu yang lama atau singkat, maka disebut bersemayam. Adapun rumah atau gedung tempat ia bersemayam itu disebut pula istana. Oleh karena itulah,&nbsp; bukan hanya di Daik dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[],"class_list":["post-3418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/1_Ketika-Sultan-Lingga-Bersemayam-di-Tanjungpinang-1868_revisi.jpg?fit=763%2C972&ssl=1",763,972,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/1_Ketika-Sultan-Lingga-Bersemayam-di-Tanjungpinang-1868_revisi.jpg?fit=763%2C972&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-T8","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3418"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3418\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3420,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3418\/revisions\/3420"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}