{"id":3362,"date":"2020-01-09T00:50:00","date_gmt":"2020-01-08T17:50:00","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3362"},"modified":"2024-07-09T17:25:14","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:14","slug":"hendaklah-jauhkan-pekerjaan-mungkir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/01\/hendaklah-jauhkan-pekerjaan-mungkir\/","title":{"rendered":"Hendaklah Jauhkan Pekerjaan Mungkir"},"content":{"rendered":"\n<p>JANUARI\nhari yang ke-6, 1784, pasukan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menang telak\ndalam Perang Riau I melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dan sekitarnya.\nWalaupun begitu, Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang\nDipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah tak puas hanya sampai di situ. Belanda\nharus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Demikianlah azam kuat lagi hebat kedua\npemimpin besar Melayu itu. Lalu, dikejar merekalah Belanda sampai ke markas penceroboh\nitu di Melaka (bagian Malaysia sekarang).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pertempuran di Melaka pun\nberlangsung berbulan-bulan. Sebagian besar wilayah Melaka telah dikuasai oleh\npasukan koalisi Melayu yang terus berdatangan. Sampailah pada hari itu, Juni 1784,\n18 hari bulan. Pertempuran besar terjadi di Teluk Ketapang setelah Belanda\nberhasil mendatangkan bala bantuan. Mereka menyerbu kubu Baginda Raja Haji\nFisabilillah, yang dikisahkan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji <em>rahimahullah <\/em>dalam <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> dengan narasi yang sungguh berkesan.&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c\u2026 Maka Yang Dipertuan Muda pun bertitah\nmenyuruh amuk. Maka Arung Lenga pun memacu kudanya padahal ia tengah sakit pak\nipa. Maka keluarlah ia menempuh baris Holanda itu maka lalulah ia mengamuk.\nMaka matilah ia dan kudanya pun mati juga dan Holanda banyak juga mati\ndibunuhnya. Maka dimasukkannyalah kubu Yang Dipertuan Muda oleh segala orang\nbesar-besar Holanda itu serta dengan serdadunya. Maka mengamuklah Dahing\nSaliking dan Panglima To Lesang serta Haji Ahmad maka ketiganya menyerbukan\ndiri kepada baris Holanda yang berlapis-lapis itu. Maka seketika ia mengamuk\nmaka matilah ia pun syahid fi sabil Allah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan\nbeberapa lagi orang yang baik syahid itu dengan tiada membuang belakang\u2026,\u201d\n(Ahmad &amp; Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan takdir Allah, beberapa prajurit dan\npanglima perang Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang syahid dalam peperangan\nbesar itu. Tersebutlah Arung Lenga, Dahing Saliking, Panglima To Lesang, dan\nHaji Ahmad yang gugur dalam perang melawan Belanda di Teluk Ketapang itu. Dan,\npemimpin besar perang itu, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang,\nRaja Haji Fisanilillah, pun menjadi salah satu syuhada dalam pertempuran yang\nhampir dimenanginya itu. Mereka gugur sebagai patriot sejati tanpa sedikit pun\nmembuang belakang, tentu tanpa cacat dan cela sebagai pembela bangsa dan\nnegara.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapakah tokoh-tokoh yang dicacat oleh <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> itu rela berkorban jiwa\ndan raga mereka? Padahal, kalau mereka menyerahkan diri, dan selanjutnya negeri,\nkepada penjajah Belanda, tentulah mereka tak sampai dihukum mati. Jawabnya\ntiada lain, pantang bagi patriot dan pemimpin sejati untuk bertekuk lutut\nkepada penjajah. Di dalam diri mereka telah tertanam begitu kuat dan kokoh sikap\ndan perilaku setia kepada bangsa dan negara. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan sikap dan perilaku mulia itulah,\nmereka berperang membela bangsa dan negara walau harus gugur di medan juang.\nBagi mereka, lebih baik mati mulia daripada hidup menderita dan menanggung aib di\nbawah cengkeraman penjajah. Pasalnya, tanggung jawab membela dan mempertahankan\nbangsa dan negara memang telah diamanahkan kepada mereka dan mereka pun &nbsp;dengan ikhlas menerimanya. Dengan demikian,\nsetia membela bangsa dan negara memang menjadi karakter pemimpin terbilang.\nDengan karakter itu, mereka tak rela negeri dan rakyat terjejas karena lemahnya\nkarakter pemimpinnya.&nbsp; &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah <\/em>ditegaskan juga tentang mustahaknya sikap setia kepada bangsa dan negara, terutama bagi para pemimpin. Pasalnya, pemimpinlah seyogianya berada di posisi paling depan dalam tugas suci membela negara dan bangsa. Jika pemimpin telah menunaikan kewajiban itu dengan benar, rakyat pasti akan mengikutinya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Kalau roboh kota Melaka<br>Papan di Jawa kami dirikan<br>Kalau sungguh bagai dikata<br>Nyawa dan badan kami serahkan<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p>\u201cMaka barang siapa yang masuk di dalam\npekerjaan kerajaan \u2026, hendaklah ia satu jalan dan satu pekerjaan pada yang\nsama-sama di dalam pekerjaan itu, pada segala hukuman yang sudah sah pada\nsyariat yang mulia, yang sudah disebutkan hikmat oleh raja atau haibnya, maka\njangan siapa keluar dan ingkar daripada yang demikian itu adanya, <em>intaha<\/em>,\u201d (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013).<\/p>\n\n\n\n<p>Nukilan di atas menegaskan bahwa para pemimpin tak boleh ingkar dan atau berkhianat kepada bangsa dan negeranya. Sekali tugas kepemimpinan diterima, ianya harus dilaksanakan dengan kesetiaan yang sesungguhnya. Amanat itu ditekankan lagi dalam syair nasihat yang termaktub dalam karya yang sama, <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, bait 18 (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013). Kenyataan itu membuktikan bahwa karakter setia kepada bangsa dan negara sangat mustahak adanya dalam diri setiap pemimpin sehingga negara dan bangsa menjadi kuat. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Hendaklah periksa adabnya wazir<br>Di dalam kitab sudah terukir<br>Hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir<br>Supaya jangan jadi gelincir<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p>Berdasarkan\nbait syair di atas, dapatlah disimpulkan bahwa sikap dan perilaku pemimpin yang\nberkhianat kepada bangsa dan negaranya tergolong tercela. Karakter negatif itu,\napa pun alasannya, menunjukkan bahwa seseorang pemimpin telah menyimpang dari\nnilai-nilai mulia kepemimpinan. Jika tanda-tanda pengkhiatan telah terlihat\npada sikap dan perilaku pemimpin, tindakan pencegahannya sudah sepatutnya segera\ndilakukan. Jika tidak, bangsa dan negara akan tergadai sehingga cita-cita mulia\nkehidupan berbangsa dan bernegara tak akan tercapai. &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sesungguhnya,\npedoman sekaligus peringatan bagi pemimpin untuk senantiasa terus meningkatkan\nkesetiaan kepada bangsa dan negara memang telah diberikan oleh Allah. Oleh\nsebab itu, dapat dipastikan sesiapa pun yang mengingkarinya akan mendapatkan\npadah, yang berat dan ringannya terpulanglah kepada Allah sebagai Sang Pemberi\nAmanah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan,\n(ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu, (yaitu) kamu tak akan menumpahkan\ndarahmu (membunuh orang) dan kamu tak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa)\ndari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya), sedangkan\nkamu mempersaksikannya,\u201d (Q.S. Al-Baqarah, 84).<\/p>\n\n\n\n<p>Atas dasar itulah, <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Kedelapan, bait 1 (Haji, 1847), mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam memilih pemimpin. Dalam hal ini, carilah yang setia, bukan yang khianat.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Barang siapa khianat akan dirinya<br>Apa lagi kepada lainnya<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p>Berdasarkan kearifan yang dikemukakan\ndalam bait <em>Gurindam Dua Belas<\/em> di\natas, tak terlalu sulit untuk mengesan orang yang berpotensi berkhianat jika\ntelah menjadi pemimpin. Dalam hal ini, dia pun cenderung berkhianat kepada\ndirinya sendiri dalam takaran manusia yang bersikap dan berperilaku terpuji.\nJika orang-orang dengan ciri-ciri tak terpuji itu dijadikan pemimpin, padahal\nmengurusi diri sendiri saja dia tak beres, akan terjadilah apa yang dibidalkan\noleh orang tua-tua, \u201cSudah retak mencari belah.\u201d&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>Syair\nAbdul Muluk<\/em> (Haji, 1846), bait 800 dan 802, dikemukakan juga tauladan\npemimpin yang sangat setia kepada bangsa dan negaranya. Dengan keunggulan sikap\ndan perilakunya itu, dia rela melakukan apa saja demi kembalinya marwah bangsa\ndan negaranya dari upaya pihak tertentu yang mencabarnya. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Ia pun mengambil pedang suaminya<br> Yang tinggal di tempat peraduannya<br> Keluarlah ia dari jendelanya<br> Berjalan tu dengan air matanya<br> \u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026<br> Menyamarlah ia sambil berjalan<br> Seorang pun tiada yang menegurkan<br> Sudahlah yang demikian<br> Lepaslah ia ke dalam hutan<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p>Tokoh pemimpin yang boleh dibanggakan itu\nbernama Siti Rafiah, seorang perempuan. Dia adalah istri Sultan Abdul Muluk\ndari Negeri Barbari. Ketika negerinya diserang oleh Kerajaan Hindustan dan\nsuaminya ditawan oleh musuh, Siti Rafiah melarikan diri dari istana. Tekadnya\nsudah bulat bahwa dia tak akan pernah bertuankan penjajah, apa pun tantangan yang\nharus dihadapinya. Pelariannya berhasil dengan masuk hutan keluar hutan untuk\nmenghindari kejaran musuh.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Dalam pelarian itulah dia mengatur strategi.\nPertama, dari seorang putri yang berparas jelita, diubahnya diri dengan\npenampilan laki-laki. Kedua, dihimpunnya kekuatan dengan membentuk koalisi\nbersama pemimpin negeri-negeri yang dijumpai dalam pelarian dan pengembaraannya\nseraya menolong kerajaan-kerajaan itu sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Ketiga,\ndalam perjuangan itu tak dipedulikannya segala penderitaan yang dialami, berat\ndan ringan semuanya dihadapi. Keempat, setelah kekuatan yang diperlukan\ndiperkirakannya memadai, diserangnyalah Kerajaan Hindustan yang menjajah\nnegerinya sehingga musuh itu pun menjadi jera dan ngeri. Alhasil, sebagai\npemimpin yang setia, Siti Rafiah menampilkan keunggulan dirinya karena dia\nsangat yakin akan pedoman dan ajaran yang diberikan oleh Baginda Nabi. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari\nArfajah, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, \u201cJika ada orang yang datang kepada kalian, ketika\nkalian telah bersepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin\nmerusak atau memecah persatuan kalian, maka perangilah dia,\u201d (H.R.\nMuslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Bangsa\nsesuatu negara sesungguhnya himpunan dari manusia yang bersepakat untuk bersatu\npadu dalam suka dan duka untuk mencapai cita-cita mulia menjadi bangsa yang\nmulia, sejahtera, dan bahagia. Mereka berniat, berazam, dan berjuang dengan\nupaya-upaya yang bermartabat untuk dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain\ndalam kedudukan yang setara. Tak ada hak pihak mana pun untuk membubarkan\npersatuan mereka dengan alasan apa pun apatah lagi sampai menimbulkan angkara\nmurka. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika\ncabaran atau tantangan datang juga untuk memecah belah persatuan mereka, adalah\nkewajiban mereka memerangi pihak mana pun yang hendak melenyapkan mereka\nsebagai bangsa. Oleh sebab itu, setiap negeri memerlukan pemimpin yang\npatriotik lagi setia kepada bangsa dan negara. Dengan begitu, generasi demi\ngenerasi boleh berbangga menjadi bangsa yang keberadaannya diperhitungkan di peringkat\ndunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Bangsa\ndan generasi manakah yang tak akan berbangga jika pernah dipimpin oleh\npemimpin, bahkan perempuan, sehebat Siti Rafiah? Siasat dan strateginya yang\nluar biasa telah mengembalikan martabat bangsanya yang sebelumnya sempat\ndirampas oleh kaum penjajah. Semangat yang digelorakannya membuat musuh berhati\ngundah sehingga akhirnya menyerah kalah dengan tampilan mati darah. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasanya,\ntak ada anak bangsa yang tak bahagia pernah memiliki pemimpin berkelas karena\nkesetiaannya kepada rakyat dan tanah air seperti Sultan Mahmud Riayat Syah dan\nRaja Haji Fisabilillah. Berkat perjuangan mereka, tentu dengan inayah Allah,\nnegeri ini masih boleh dan dengan hikmatnya dapat menggunakan ikon \u201cNegeri\nBermarwah\u201d. Maka, tetaplah setia dan hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir karena\nitu bermakna berpaling tadah. (Dirgahayu Kota Tanjungpinang: 6 Januari 1784\u20146\nJanuari 2020).*** <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JANUARI hari yang ke-6, 1784, pasukan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menang telak dalam Perang Riau I melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dan sekitarnya. Walaupun begitu, Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah tak puas hanya sampai di situ. Belanda harus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Demikianlah azam kuat lagi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2749,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-3362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Se","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3362"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3362\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3363,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3362\/revisions\/3363"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}