{"id":3358,"date":"2020-01-07T05:56:45","date_gmt":"2020-01-06T22:56:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3358"},"modified":"2024-07-09T17:25:14","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:14","slug":"jemala-mendirikan-hak-dengan-seksama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2020\/01\/jemala-mendirikan-hak-dengan-seksama\/","title":{"rendered":"Jemala Mendirikan Hak dengan Seksama"},"content":{"rendered":"\n<p>TANPA\nmaklumat perang walau sepatah kata pun, Kerajaan Hindustan menyerang Negeri\nBarbari. Dari berita yang diketahui kemudian, matlamat penceroboh yang datang\ntiada lain untuk merebut negeri yang makmur itu dengan dalih pembalasan dendam\nyang terpendam lama sekali. Masalahnya, nafsu dan dendam itu tak berlandaskan\npemikiran yang bestari. Takkanlah boleh penjahat kehidupan dan kemanusiaan\nhendak dilindungi. Adat dan hukum mana pun tak membenarkan orang seperti itu\ndipuja-puji hanya karena dia dekat dengan pemimpin negeri. Tempat terbaiknya sememangnyalah\nbui.<\/p>\n\n\n\n<p>Gemparlah seisi Kerajaan Barbari.\nPasalnya, selain tiba-tiba, jumlah pasukan musuh yang datang tiada terperi.\nDalam suasana kacau-bilau dan kalang-kabut, untunglah, kepemimpinan Sultan\nAbdul Muluk yang karismatik ternyata mampu menenangkan rakyat seisi negeri.\nHulubalang dan laskar tak sedikit pun berasa takut dan gundah di hati. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak hanya terbatas pada pemimpin\nutamanya. Dalam suasana yang amat genting,&nbsp;\nberdatanganlah para pemimpin rakyat dari segala ceruk dan rantau\nmenghadap Sultan Barbari. Mereka minta izin kepada pemimpin utama itu untuk\nikut berperang demi mempertahankan tanah tumpah darah mereka agar tak dikuasai\nmusuh yang angkuh dan sangat bernafsu menaklukkan negeri nan elok itu. Untuk\nitu, mereka rela dan ikhlas walaupun harus mati demi membela marwah bangsa dan\nnegara, pun demi kebanggaan anak-cucu kelak sebagai bangsa yang merdeka. Dengan\nbegitu, mereka dapat hidup setaraf dengan bangsa mana pun di dunia ini.\nPadahal, kewajiban mempertahankan negara dari serangan musuh, terutama,\nterletak pada para hulubalang dan tentara, bukan menjadi kewajiban rakyat\nbiasa.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alangkah suka-citanya Sultan Abdul\nMuluk karena seluruh rakyatnya bersatu padu hendak membela negeri. Tak seorang\npun di antara mereka yang berbeda pendapat, apatah lagi sampai berkhianat\nmenjadi kaki tangan musuh. Jadilah perang dengan Kerajaan Hindustan itu&nbsp; melibatkan semua lapisan bangsa Barbari:\nmulai dari sultan, sebagai panglima perang tertinggi, para menteri, hulubalang,\nlaskar (tentara), sampai kepada rakyat sekaliannya. Kecuali, orang tua-tua yang\ntelah uzur dan kanak-kanak. <\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun tak terlibat secara fisik dalam\nperang itu, para lansia dan kanak-kanak masih melibatkan diri dengan\nberdoa.&nbsp; Dalam isak tangisnya,\nkanak-kanak\u2014generasi penerus Kerajaan Barbari\u2014berdoa kepada Allah agar angkara\nmurka segera dilenyapkan dari negeri mereka. Bersamaan dengan itu, semoga para\npenjahat, perusuh, dan atau penceroboh yang datang ke negeri mereka segera\nmendapat hukuman setimpal dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Walaupun begitu, ada permintaan dari seorang bawahannya yang agak merunsingkan pikiran Sultan Barbari. Dalam <em>Syair Abdul Muluk<\/em>, bait 612 (Haji, 1846), Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em> menuturkan permohonan yang mengundang perdebatan antara Sang Sultan dan si pemohon.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Berdatang sembah suaranya merdu<br>     Mohonkan ampun di bawah cerpu<br>     Jikalau ada izin duli tuanku<br>     Patik mengeluari musuhnya itu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Permohonan itu berasal dari Wazir Suka, seorang menteri Kerajaan Barbari yang masih muda usianya. Sepatutnya, walaupun berjabatan menteri, karena masih sangat belia, dia tak boleh ikut berperang. Dengan pertimbangan itu, Sultan Abdul Muluk tak mengizinkan Wazir Suka berperang. Akan tetapi, menteri muda itu tetap kokoh dengan pendiriannya. Setelah perdebatan, inilah yang kemudian terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Terlalu suka wazir yang muda<br>     Sujud di kaki duli baginda<br>     Bersalaman dengan menteri yang ada<br>     Sekalian mendoakan di dalam dada<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya,\nSultan Barbari tak mampu membendung azam dan tekad Wazir Suka yang telah\nmewakafkan dirinya untuk mempertahankan bangsa dan negaranya. Menteri belia itu\ntetap pada pendiriannya untuk berjuang bersama Sang Sultan, para pembesar lain,\ndan rakyat sekaliannya. Rasa haru dan bangga Sultan Abdul Muluk tak dapat\ndisembunyikannya karena mendapati pengorbanan yang tulus semua bawahan dan\nseluruh rakyat pada detik-detik yang menentukan kelangsungan tanah air mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Bawahan dan rakyat begitu pula. Mereka\nberbahagia dapat berjuang bersama pemimpin yang sangat mereka banggakan lagi\nberwibawa. Demi marwah bangsa dan negara, manusia yang sadar akan harga dirinya\nmemang tak pernah berhitung soal hidup atau mati, yang pasti akan dihadapi\njuga. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di samping keadaannya cukup\nmendesak, Sultan Barbari tak dapat melarang rakyatnya ikut berperang. Pasalnya,\nmemang hak mereka untuk mempertahankan negeri yang mereka cintai. Sama halnya\ndengan hak rakyatnya untuk hidup sejahtera dan bahagia yang selama ini\ndinikmati sebelum musuh datang dari luar negeri. Sebagai pemimpin, Abdul Muluk\nmenganggap dirinya wajib memperjuangkannya sekuat dapat dan memberikan hak\nbawahan dan rakyat sekalian. Baginya, itulah alasan dirinya diperlukan sebagai\npemimpin negeri. Dia tak rela kepemimpinannya, justeru, menjadi penghambat\nbawahan dan rakyat untuk memperoleh hak-hak sah mereka dengan alasan yang\ndibuat-buat dan tiada terpuji.&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Bersabit dengan hak-hak bawahan dan\nrakyat, Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em>\ndalam karya beliau <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>\nmenegaskan kewajiban pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Di antara\nkewajiban itu mesti diungkapkan dalam bentuk janji suci pemimpin yang harus\ndiucapkan di hadapan rakyat dan tak boleh dikhianati.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSeboleh-bolehnya bahwa kami [baca: <em>pemimpin<\/em>, HAM] menyampaikan hajat kamu [baca: bawahan dan atau rakyat, HAM] yang diharuskan di dalamnya pada syariat dan pada adat yang boleh sekuasa kami menyampaikannya pada pekerjaan yang layak dan yang patut kepada kamu, <em>intaha<\/em>,\u201d (Haji dalam Malik <em>(Ed.)<\/em>, 2013). <\/p>\n\n\n\n<p>Atas dasar itulah, pemimpin tak dibenarkan\nmenahan hak-hak bawahan dan rakyatnya. Jika tertahannya hak-hak bawahan dan\nrakyat itu disengaja, dibuat-buat, dan atau terkandung maksud jahat, jelaslah\nbahwa pemimpinnya tak layak memimpin sesebuah negeri karena keberadaannya,\njusteru, menghalangi bawahan dan rakyat untuk maju dan berbakti secara optimal\nkepada bangsa dan negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Gagasan dan pemikiran tentang pemenuhan\nhak-hak bawahan dan rakyat dalam kepemimpinan, sejatinya tak berasal dari\npemikiran manusia. Ianya telah termaktub dalam firman Allah, antara lain, dalam\nsalah satu hadits qudsi yang dinukilkan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari\nAbu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, \u201cAllah <em>Ta\u2019ala <\/em>berfirman, ada tiga jenis\n(manusia) yang Aku akan menjadi musuhnya pada Hari Kiamat kelak: laki-laki yang\nmemberi (berjanji) atas nama-Ku, kemudian dia berkhianat; laki-laki yang\nmenjual orang merdeka, lalu dia memakan uang hasil penjualannya; dan laki-laki\nyang mempekerjakan manusia, yang memenuhi (melaksanakan) pekerjaannya, tetapi dia\ntak memberikan upahnya,\u201d (H.R. Bukhari).<\/p>\n\n\n\n<p>Kamu\nmenjadi musuh Allah! Itulah ancaman Tuhan terhadap para pemimpin\u2014sesiapa pun\ndia, pada peringkat apa pun dia memimpin, dan di mana pun dia berada\u2014yang tak\nmemenuhi hak-hak bawahan dan rakyatnya. Oleh sebab itu, di dunia apatah lagi di\nakhirat dia akan menerima padah (akibat buruk dari perbuatannya). Tak ada satu\nmakhluk pun yang menjadi musuh Allah dapat lepas dari bala dan azab yang akan\ndibalaskan kepadanya, sama ada dahulu ataupun sekarang. <\/p>\n\n\n\n<p>Bukankah Fir\u2019aun terkenal dalam sejarah?\nDia menganggap dirinya sebagai pemimpin paling perkasa di dunia sehingga tak\nsesiapa pun berani menyanggah. Karena mengingkari Allah, di dunia saja dia\ntelah menerima padah. Dari pedoman yang ada, dapat dipastikan bahwa di akhirat\nkelak pun bala dan balasan yang lebih dahsyat lagi mengerikan telah disediakan\nbaginya oleh Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasanya, Fir\u2019aun hidup dan berkuasa tak\nberlama-lama bangat. Dalam rentang waktu yang pendek itu pun dia telah menerima\nhukuman yang pedihnya teramat sangat. Malang lagi baginya, di akhirat kelak,\nwaktu telah distel dan dikunci sedemikian rupa tanpa menunjukkan angka\npenamat.&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan kenyataan itu, kearifan yang disuratkan oleh syair nasihat dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, bait 23 (Haji dalam Malik <em>(Ed.)<\/em>, 2013), boleh dijadikan bahan pengingat. Lebih-lebih, bagi pemimpin yang berhendakkan namanya dikenang dan diingat karena memberi manfaat kepada rakyat. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendaklah anakanda jagakan nama<br> Mendirikan hak dengan seksama<br> Pekerjaan bid\u2019ah jangan diterima<br> Walaupun kecil seperti hama<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun kecil dan tak seberapa nilainya\nbagi orang besar-besar, hak-hak bawahan dan rakyat mestilah mereka terima. Tak\nada alasan sekecil apa pun bagi para pemimpin untuk menahannya. Seperti halnya\nhama, kebiasaan menunda hak-hak bawahan dan rakyat akan menjadi penyakit yang\nmengunggis hati, yang pada gilirannya akan merusakkan sendi-sendi kepemimpinan.\nVirus itulah yang akan menyebarkan penyakit syahwat kekuasaan sehingga akhirnya\ntak dapat lagi dikendalikan. Alhasil, ianya suatu ketika akan menjadi senjata\nmakan tuan. Betapa tidak, petunjuknya memang ada sebagai rujukan. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Rasulullah SAW bersabda, \u201cMenahan\nhak orang lain atau (menunda) penunaian kewajiban (terhadap orang lain, bagi\nyang mampu) termasuk kejahatan,\u201d<\/em><em> <\/em>(H.R. Bukhari dan\nMuslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Amanat Rasulullah SAW itulah seyogianya diperhatikan.\nSetiap kejahatan ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya, tetapi entah\nbagaimana kemudian ianya berbelok dan berbalik menikam si pemanah itu sendiri\ntanpa dapat dihindari. Panah itu tak seperti senjata yang digunakan oleh rakyat\nBarbari, yang melesat cepat dan tepat ke jantung musuh-musuh yang\nmengharubirukan negeri. Pasalnya, selain jenis panahnya berbeda, niat, azam,\ndan perilaku pemanahnya juga bertolak belakang. Yang pertama hendak mematikan\nperadaban yang luhur dan suci, sedangkan yang kedua hendak membela tamadun yang\nterala itu dari sebarang angkara murka yang datang menerpa. Punca segala\nmalapetaka manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kearifan mendirikan hak dengan seksama\nberasaskan nilai keadilan. Hal itu bermakna orang-orang, terutama pemimpin,\nyang memberikan hak orang lain\u2014bagi bawahan dan rakyat oleh\npemimpin\u2014menunjukkan dirinya menjunjung tinggi nilai keadilan. Orang dengan\nkarakter terpuji itu tak pernah sampai hati melalaikan dan atau menahan hak\norang lain yang memang harus diberikan. Dia mampu berlaku arif seperti itu\nkarena mendapat anugerah istimewa dari Tuhan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berhubung dengan perkara itu, <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Kedua Belas, bait 3 (Haji, 1847), memberikan penjelasan yang tentulah sangat menarik bagi sesipa saja yang berjuang memajukan peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hukum adil atas rakyat<br> Tanda raja beroleh inayat<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Itulah\nsisi menariknya. Pemimpin yang adil\u2014dengan antara lain memberikan hak bawahan\ndan rakyat\u2014menandakan (menjadi indeks) bahwa dirinya beroleh inayat atau\npertolongan. Yang dimaksudkan tentu dan pasti pertolongan dari Yang Maha\nPenolong, yakni Allah. Dengan pertolongan Tuhan, kerja-kerja kepemimpinan pasti\nmenuai kejayaan. Oleh sebab itu, karakter memberikan hak bawahan dan rakyat\nmengindikasikan pemimpinnya berkelas dan terbilang.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebaliknya pula, pemimpin yang\nenggan dan atau menahan hak bawahan dan atau rakyat menunjukkan jati dirinya\nyang tak memenuhi syarat kepemimpinan. Jika diserahi tanggung jawab\nkepemimpinan, orang-orang seperti itu tak hanya mengecewakan orang-orang yang\ndipimpinnya, tetapi juga mencelakakan dirinya sendiri. Bahkan, sanksi yang\ndijanjikan kepadanya dari Allah sangat berat dan sungguh mengerikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah SAW bersabda, \u201cTiada seorang\nhamba pun yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati\n(dan) pada hari kematiannya (dia) dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya,\nkecuali Allah haramkan surga baginya,\u201d (H.R. Muttafaqun \u2018alaihi).<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah padah yang akan diterima. Dengan\nmelalaikan hak-hak bawahan dan rakyat, pemimpin telah mengkhianati amanah\nistimewa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Pasalnya, dengan sikap dan\nperilaku negatifnya itu, dia telah membuat orang lain menderita dan sengsara.\nOleh sebab itu, neraka memang tempat yang cocok dan pas bangat bagi pemimpin\nyang tak amanah dan berkarakter jelek itu. Karena peringatan itu bersumber dari\nRasulullah SAW, tak disangsikan lagi kepastian sanksi yang akan\nditerimanya.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Rakyat yang hak-haknya terpenuhi nescaya\nakan sejahtera dan bahagia. Oleh sebab itu, bangsa mana pun di dunia ini\nmendambakannya. Tak heranlah mereka senantiasa berharap dan berjuang untuk\nmemiliki pemimpin yang dapat diharap dan sanggup membuat mereka bangga.\nPemimpin yang mampu memperjuangkan dan mewujudkannya tak diragukan lagi\nmemiliki karakter mulia. <em>Intaha.<\/em>***&nbsp; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TANPA maklumat perang walau sepatah kata pun, Kerajaan Hindustan menyerang Negeri Barbari. Dari berita yang diketahui kemudian, matlamat penceroboh yang datang tiada lain untuk merebut negeri yang makmur itu dengan dalih pembalasan dendam yang terpendam lama sekali. Masalahnya, nafsu dan dendam itu tak berlandaskan pemikiran yang bestari. Takkanlah boleh penjahat kehidupan dan kemanusiaan hendak dilindungi&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2749,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[347],"tags":[],"class_list":["post-3358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Sa","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3358"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3359,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358\/revisions\/3359"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}