{"id":3281,"date":"2019-11-18T16:22:25","date_gmt":"2019-11-18T09:22:25","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3281"},"modified":"2024-07-09T17:25:16","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:16","slug":"tradisi-transformasi-dan-revitalisasi-pantun-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/11\/tradisi-transformasi-dan-revitalisasi-pantun-nusantara\/","title":{"rendered":"Tradisi, Transformasi, dan Revitalisasi Pantun Nusantara"},"content":{"rendered":"\n<h4 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\"><strong>Oleh : Mu\u2019jizah<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pantun salah satu khazanah sastra Melayu yang\ndikenal di Asia Tenggara; Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura,\ndan Thailand. Karya budaya ini bukti kesenangan orang Melayu dalam penggunaan\nbahasa yang indah dengan kata-kata yang terselubung dan sugestif. Kreativitas dalam berpantun memperlihatkan\nkecerdasan orang Melayu dalam berbahasa. Pantun ini digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengungkapkan perasaan dan pemikiran masyarakatnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia pantun tersebar di berbagai\nwilayah sesuai dengan ketersebaran suku Melayu, seperti di Sumatra: Kepulauan\nRiau, Riau daratan, Bengkalis,\nJawa: Betawi, dan di Kalimantan: Banjarmasin, Pontianak, Sambas, dan Sintang,\nSulawesi: Manado, Buton, dan wilayah lainnya seperti Ambon, Ternate, Tidore, bahkan sampai di Papua. Suku Melayu di Maluku menyebut pantun dengan <em>pantong<\/em>. Beberapa\nsuku di Indonesia, selain Melayu, juga memilikinya, seperti Bugis-Makassar\nmempunyai <em>elong,<\/em> Jawa dan Sunda memiliki <em>parikan<\/em>, Bali mempunyai <em>paparikan<\/em>, Batak mempunyai <em>u<\/em><em>mpasa<\/em>. Menurut\nLiawYock Fang (1994 dikutip dari Prampolini, 1951) tradisi pantun juga dikenal\ndi Eropa, seperti Spanyol dengan <em>copla<\/em>, Prancis dengan <em>pantoum<\/em>,\ndan Italia dengan <em>ritornello-<\/em>nya. Di Cina sejenis pantun disebut <em>syi\ncing<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada awalnya pantun merupakan sastra lisan dan digunakan dalam berbagai ranah kehidupan. Dalam laman <em>Yang Indah itu bahasa<\/em>, Tenas Effendy mencipta <em>Sejuta Pantun Melayu<\/em>. Katanya \u201c<em>Di mana orang berkampung, di sana pantun bersambung. Di mana ada nikah kahwin di sana pantun dijalin. Di mana orang berunding di sana pantun bergandeng. Di mana orang bermuafakat di sana pantun diangkat. Di mana ada adat dibilang, di sana pantun diulang. Di mana adat di bahas di sana pantun dilepas<\/em>\u201d. Hal itu menandakan bahwa pantun merupakan tradisi yang kuat yang menjadi bagian dalam kehidupan. Ketika masyarakat mengenal sistem tulis, pantun direkam dalam tulisan dan membaginya atas bait: dua larik pertama sampiran dan dua larik berikutnya isi. &nbsp;Pantun dalam tradisi tulis pertama kali digunakan dalam <em>Sejarah Melayu<\/em> (Shellabear, 1928). <\/p>\n\n\n\n<p>Telur itik dari Senggora<br> pandan terletak dilangkahi<br> darahnya titik di Singapura<br> badannya terhantar di Langkawi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sastra\nklasik terdapat satu naskah berjudul &#8220;<strong>Perhimpunan\nPantun-Pantun Melayu<\/strong><strong>\u201d\n(Ml.370 dari W.276),<\/strong><strong> <\/strong>Koleksi\nPerpustakaan Nasional). Balai Pustaka pernah juga menerbitkan buku <em>Pantun Melay<\/em>u (1978). Pantun juga\nterdapat dalam hikayat dan syair yang sering selipkan di antara cerita, seperti\n<em>Hikayat Nakhoda Asyik<\/em> &nbsp;dan <em>Hikayat\nMerpati Mas dan Merpati Perak. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi pantun\nkini termarjinalisasikan, daya hidupnya\nmenurun dan cenderung terancam. Oleh sebab itu, berbagai upaya dilakukan untuk\nmeningkatkan daya hidupnya, di antaranya melalui pencatatan dan pendaftaran.\nPencatatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional dalam kategori\ntradisi dan ekspresi lisan oleh Dirjenbud. Meskipun banyak suku yang memiliki\npantun, tetapi sampai 2018 hanya tiga daerah yang mencatat dan menetapkan pantun sebagai warisan\nbudaya daerahnya, yakni (1) Pantun Betawi (warisan bersama, 2013 dengan No.\nPenetapan: 201300023), (2) Pantun Melayu (Kepri, 2014 dengan No. Penetapan:\n201400111), (3) Pantun Atui (Riau, 2018 dengan No, Penetapan 201800645). Sadar\nakan kekayaan budaya ini, Indonesia sudah mengajukan pantun sebagai Warisan\nBudaya Tak Benda &nbsp;ke UNESCO (warisan\nbudaya bersama dengan Malaysia) pada tahun 2018. Ajuan tersebut masih dalam proses\nperbaikan dan semoga tahun ini bisa\nditetapkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam rangka pengajuan tersebut, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) membuat Bunga Rampai Pantun yang ditulis oleh berbagai pakar pantun dari Asia Tenggara dan Belanda. Jika UNESCO telah menetapkan pantun sebagai warisan tak benda dari Indonesia dan Malaysia, Indonesia dan Malaysia sebagai negara pengusul sekaligus pemilik budaya tersebut, wajib mengembangkan, memelihara, dan merevitalisasi pantun. Hal itu dilakukan agar pantun hidup kembali dalam tradisinya sehingga daya hidup pantun dapat meningkat kembali.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pantun sebagai Sebuah Tradisi <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pantun berasal dari akar kata <em>tun<\/em>, yang\nbermakna &#8216;baris&#8217; atau &#8216;deret\u2018. Asal kata \u201cpantun\u201d dalam masyarakat &nbsp;Melayu-Minangkabau, diartikan sebagai \u2018<em>panuntun<\/em>\u2019\n(penuntun) oleh masyarakat Riau disebut sebagai <em>tunjuk ajar <\/em>yang\nberkaitan dengan etika. Dalam pantun\nditemukan ditemukan\nkehalusan budi,\nsopan santun,\ndan kebaikan orang Melayu, di antaranya untuk sabar, penuh\nhormat kepada orang lain, rendah hati, dan tulus. Di dalam masyarakat Melayu, pantun\nmemiliki peran sosial yang penting sebagai alat komunikasi\ndalam kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai\nkarya sastra, pantun\nmempunyai nilai estetika,\netika, dan logika yang\nmencerminkan kehidupan masyarakatnya. Estetika pantun sangat dirasakan jika dipertunjukan, misalnya dalam\nsebuah ritual adat atau pementasan\nyang lainnya. &nbsp;Di dalam alunan pantun terdapat musikalitas\/melodi (struktur&nbsp;dan bunyi)\nyang dinyanyikan dengan <em>ritme<\/em>\ntertentu yang membentuk rentak, seperti&nbsp;<em>beat&nbsp;<\/em>dalam\nmusik. Perangkat pementasan pantun diperindah\noleh &nbsp;kostum, gerak, dan akting serta mimik para pemantunnya. Keindahan ritme\ntersebut diterjemahkan atau diinterpretasi ke\ndalam pantun tertulis menjadi bait, larik,\ndan rima. <\/p>\n\n\n\n<p>Pantun tertulis terdiri atas satu bait atau lebih. Setiap bait terdiri atas empat larik dengan pola bunyi akhir a-b\na-b kadang-kadang ada pantun dari suatu daerah\nberima &nbsp;a-a a-a (seperti syair). Larik pertama dan larik kedua merupakan sampiran, larik ketiga dan keempat merupakan isi (gagasan dan tanggapan yang hendak\ndinyatakan). Antara keduanya kadang memiliki kaitan arti dan kesejajaran bunyi. Tiap larik umumnya berisi empat kata dan\nmasing-masing 8 sampai 12 suku kata.<\/p>\n\n\n\n<p>Seuntai pantun tersebut memiliki keteraturan bunyinya, semua kata terkait berpasangan oleh pengulangan bunyi kata. Kata 1&#8211;9 dan 7&#8211;15 berpasangan ulangan kata lengkap: 2&#8211;10, 3&#8211;11, 4&#8211;12, 5&#8211;13, 6&#8211;14 berpasangan rima; dan 8&#8211;16 berpasangan rima dan asonansi. Dengan uraian itu, jelas sekali bahwa pantun memiliki kesamaan bunyi larik-lariknya (berpasangan). Wilkinson (1907, hlm. 53) pasangan-pasangan ini dianggap sebagai struktur pantun. Pembahasan itu diuraikan dengan rincian sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"\"><tbody><tr><td>\n  1\n  <\/td><td>\n  2\n  <\/td><td>\n  3\n  <\/td><td>\n  4\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  jika\n  <\/td><td>\n  Dilurut\n  <\/td><td>\n  Pecah\n  <\/td><td>\n  batangnya\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  5\n  <\/td><td>\n  6\n  <\/td><td>\n  7\n  <\/td><td>\n  8\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  disambar\n  <\/td><td>\n  Ayam\n  <\/td><td>\n  Dengan\n  <\/td><td>\n  bijinya\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  9\n  <\/td><td>\n  10\n  <\/td><td>\n  11\n  <\/td><td>\n  12 \n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  jika\n  <\/td><td>\n  Diturut\n  <\/td><td>\n  Susah\n  <\/td><td>\n  datangnya\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  13\n  <\/td><td>\n  14\n  <\/td><td>\n  15\n  <\/td><td>\n  16\n  <\/td><\/tr><tr><td>\n  menampar\n  <\/td><td>\n  Alam\n  <\/td><td>\n  Dengan\n  <\/td><td>\n  isinya\n  <\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Sampiran umumnya berupa lukisan alam dan sering berupa citraan dan simbolik. Citraan ini dipakai untuk membangun puitika yang berkaitan dengan hal-hal yang indah dan memiliki arti tertentu\ndalam kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam\npantun biasanya tergambar semua unsur kehidupan,\nseperti tanah, rumah, kebun,\nladang, sawah, sungai, laut, gunung, hutan, pepohonan, buah-buahan, binatang,\nburung, ikan dan hal-hal yang ada dalam kehidupan keseharian. Nilai etika\natau nilai moral\nbiasanya berkaitan dengan adat\nistiadat\/kebiasaan &nbsp;kearifan\nlokal, pemikiran, kepercayaan\ndan perasaan, termasuk cinta (Tuhan, nabi, sesama manusia, dan cinta kasih lelaki dan wanita). Pesan ini dimasukkan pada bagian sampiran. Nilai-nilai sangat\nterbuka luas diberikan\npada bagian ini. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bagian akhir <em>Kitab Bustanul Katibin<\/em> karya Raja Ali Haji diuraikan tentang pantun yang baik dan pantun yang cacad. \u201c<em>Bermula adapun pantun yaitu seperti tembangan sya\u2019ir ju\u00adga. Ada juga yang bagus saja\u2018nya ada juga yang [ca]cat di\u00adrasa dikit. Akan tetapi tidak ketara jika dibaca(k)nya dan jika disuratkan ketara juga. Adapun yang kurang sedikit bagusnya inilah misalnya yang tiada berbetulan saja\u2018nya pada pasangannya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>rumah bertangku di hulu <br> atapnya bata siak tenggiling <br> syaithan siapa datang mengaru <br> nasi ditana\u2019 serasa lilin<\/p>\n\n\n\n<p>Secara filosofis, pantun Melayu menjunjung tinggi berbagai nilai dalam kehidupan: keseimbangan, harmoni, dan fleksibilitas dalam interaksi hubungan manusia dan alam. Dalam hubungannya dengan alam, ia mencari harmoni, dan dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki hak dan caranya sendiri. Oleh karena itu, hubungan yang harmonis antara keduanya hanya dapat dicapai jika Pantun digunakan untuk mengekspresikan alam dan untuk belajar dari gerakan alam dan perilaku, seperti yang digarisbawahi dalam pepatah adat &#8220;alam terkembang menjadi guru&#8221;. Berikut beberapa contoh bentuk pantun di Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p>Apa guna pasang pelita,<br>\nkalau tidak ada sumbunya?<br>\napa guna bermain mata,<br>\nkalau tidak ada sungguhnya? (Melayu)<br>\nBeli pepaye beratnya ditimbang<br>\nbelinye di pasar Kramat Jati<br>\nroti buaye sebagai lambang<br>\nselalu setie sehidup semati (Melayu Betawi)<br>\n    \u2026. <br>\nRoti buaye jumlahnye due<br>\nade laki ade perempuan<br>\nselalu setie sampe tue<br>\ntak tergode jande dan perawan <\/p>\n\n\n\n<p>Kaluak paku kacang belimbing <br>\ntampuruang lenggang-lenggangkan <br>\nanak dipangku kemanakan dibimbing <br>\nurang kampuang dipatenggangkan. (Pantun Minangkabau)<\/p>\n\n\n\n<p>Cubadak ambiak kagulai <br>\ntalatak di tengah padang <br>\napo nan titah dipegawai <br>\nditiliek dalam undang-undang<\/p>\n\n\n\n<p>Sai sarion ma i antong di bonana,<br>\nJala ranggason ma antong di punsuna<br>\nSai unang ma antong idaonna rupa ni arta<br>\nMolo dilatehon arta ni so umboto sala (UmpasaPantun Batak) <\/p>\n\n\n\n<p>Wong luwe ora kongang ngadeg <br>\nWis suwe ora mangan gudheg <br>\nwani mbanting oleh dedeg <br>\nayo mancing golek dheleg <br>\nsaben dina sangu rantangan <br>\nisine rantang katon methuthuk <br>\nAku pancen bubar mangan <br>\nning ora mangan gethuk  (Parikan\/Jawa)<\/p>\n\n\n\n<p>Tuttumpaja riajapi<br>\nBulupi tasi&#8217;ede<br>\nKuaddampeng soro<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah bintang kejora di barat<br> Laut menjadi gunung<br> Baru aku menarik diri (Elong Bugis)<\/p>\n\n\n\n<p>Kuatnya tradisi pantun pada masa lalu dibuktikan\ndengan banyaknya pakar yang membahas pantun, terutama pada awal abad ke-19. Branstetter,\nseorang sarjana berkebangsaan Swiss membahas asal usul pantun. Pakar lainnya\nPijnappel (1883), C.A. Van Ophuijsen (1904) , Wilkinson (1907), Overbeck\n(1914), Hoesein Djajadiningrat (1933), Winstrdet (1958),&nbsp; Braginsky, (1998), dan Teuku Iskandar (1999).\nPara pakar ini membas aneka persoalan berkaitan dengan pantun, di antaranya\nhubungan antara sampiran dan isi serta keindahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Masa kejayaan pantun tampaknya mulai terputus saat\nini karena sikap masyarakat telah berubah sesuai dengan perkembangan zaman, masyarakat\nglobal banyak mengalihkan perhatian dari tradisi ke sesuatu yang modern. Di\nsisi lain generasi tua, para pemantun, tidak mengajarkan lagi kepada\nanak-anaknya, ranah tempat tradisi pantun hidup juga sudah banyak yang hilang.\nKondisi ini membuat pantun semakin lemah posisinya dan mulai terancam. <\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi ini semoga segera disadari masyarakat pemiliknya. Untuk itu, beberapa pakar dan komunitas mengumpulkan pantun dan menginventarisasinya. Salah satu kumpulan pantun yang dapat dirujuk adalah <em>Kurik Kundi<\/em> <em>Saga Me<\/em>rah, <em>Kumpulan Pantun Melayu<\/em>, dan beberapa laman dalam dunia digital mulai melestarikan pantun dalam bentuk inventarisasi pantun. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jejak Pantun dan Transformasinya dalam Sastra Indonesia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perjalanan sejarahnya, pantun di Indonesia mengalami masa pasang surut. Pasang dan populer pada masanya lalu surut pada masa kini. Tradisi pantun termarginalisasikan, ditinggal oleh masyarakat dan para penerusnya. Hanya ada beberapa pemantun yang masih setia mengawal kekayaan budaya ini, seperti Mumammad Ali di Kepri, Albatawi, di Betawi. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita melihat jejak pantun dalam karya sastra, khususnya puisi, sedikit sekali sastrawan Indonesia yang meneruskan tradisi pantun dalam karyanya. Beberapa sastrawan yang yang melanjutkan ini dalam tradisi bersastranya, antara lain Hartojo Andangdjaja, Soebagio Sastrowardojo, dan Sitor Situmorang. Jejak pantun dalam sajak Hartojo Andangdjaja pada puisinya yang berjudul \u201cPantun Memori\u201d.  Perhatikan bait dan larik sajak tersebut berikut ini. <\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-code\"><code>       Pantun Memori\n       .....Buat nisan ibunda<\/code><\/pre>\n\n\n\n<p>Kembang kutabur dalam ziarah<br>\nkembang cintaku salamku yang ramah<br>\nBegitu kau berkubur dan kita pun berpisah<br>\ndekat padamu merangkul nenek marhumah<\/p>\n\n\n\n<p>Bayang-bayang sepi dan hati menunduk di sini<br>\ndan jauh di seberang kali ada orang mengaji<br>\nBegitu kau pergi aku mengangguk mengerti:<br>\nmati ialah janji, sudah terpahat dalam diri<\/p>\n\n\n\n<p>Burung pun pulang ke sarangnya karena senja tiba<br> ada cahaya yang meredup kembali menyala di pokok kemboja<br> Begitu kau rela demi usia yang tua<br> terlalu tua buat hidup yang selalu meremaja<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun dalam sajak tersebut bernada pantun, tetapi, tidak seutuhnya lagi pantun. Rima puisi itu adalah aa-aa, seperti syair. Dalam bait 1, bait 2, dan bait 3 terdapat layaknya sampiran dan isi. Sampiran pun masih menggunakan benda-benda alam. Namun, jumlah kata tidak lagi tetap dalam 1 larik empat kata, tetapi ada kebebasan dalam jumlah kata. Masih terlihat hubungan makna antara sampiran dan isi, misalnya antara ziarah dan berkubur. Sajak Hartojo Andangdjaja lainnya berjudul \u201c1964\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>1964<br>\nDi manakah akan kuselamatkan kini<br>\nsuaraku yang lembut bernama puisi<br>\nketika, seperti Brecht pernah berkata:<br>\nbicara tentang pohon pun hampir suatu dosa<\/p>\n\n\n\n<p>di manakah akan kuselamatkan kini<br>\nsuaraku yang sayup bernama puisi<br>\nketika, seperti kini kita derita:<br>\nbicara tentang kebenaran adalah dosa<\/p>\n\n\n\n<p>maka aku pun tahu kini<br>\nkenapa Voltaire dibenci<br>\ntinggal ia di Ferney, di bumi Swiss<br>\njauh dari Perancis<\/p>\n\n\n\n<p>maka aku pun mengerti<br> kenapa Pasternak sepi sendiri<br> dan Mayakowsky<br> akhirnya bunuh diri<\/p>\n\n\n\n<p>Rima dalam sajak tersebut adalah ab-ab. Jumlah kata sudah tidak beraturan dalam larik, ada yang 5, 4, 3, bahkan 2. Jejak sampiran dan isi masih ditemukan, hanya sampiran tidak lagi bermain dengan kosa kata bernuansa alam. Dalam sajak ini ditemukan paralelisme antara bait 1 dan 2 dan pada tiap larik dalam bait-bait tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Jejak pantun juga ditemukan dalam sajak Sitor Situmorang dalam sajaknya yang berjudul \u201cSurat Kertas Hijau\u201d. Dalam sajak ini dua bait pertama masih terdiri atas 4 larik, tetapi pada bait ketiga bait itu sudah  terdiri atas 6 larik. Rima dalam bait pertama bersajak itu ab-ab dan pada bait kedia rimanya aa-aa. Dalam jumlah kata juga sudah terdapat kebebasan, kata dalam larik-larik tidak lagi empat kata, melainkan 5, 4, dan 3 kata.<\/p>\n\n\n\n<p>Surat Kertas Hijau <\/p>\n\n\n\n<p>Segala kedaraannya tersaji hijau muda<br>\nMelayang di lembaran surat musim bunga<br>\nBerita dari jauh <br>\nSebelum kapal angkat sauh <\/p>\n\n\n\n<p>Segala kemontokan menonjol di kata-kata <br>\nMenepis dalam kelakar sonder dusta <br>\nHarum anak dara <br>\nMengimbau dari seberang benua <br>\nMari, Dik, tak lama hidup ini <br>\nSemusim dan semusim lagi <br>\nBurung pun berpulangan. <br>\nMari, Dik, kekal bisa semua ini <br>\nPeluk goreskan di tempat ini Sebelum kapal dirapatkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Di samping kedua penyair tersebut terdapat juga penyair Sitor Situmorang yang dalam sajaknya masih terlihat bentuk pantun. Sajak dalam satu bait itu berbunyi seperti berikut. <\/p>\n\n\n\n<p>Batu tandus di kebun anggur <br>\npasir teduh di bawah nyiur <br>\nabang lenyap hatiku hancur <br>\nmengejar bayang di salju gugur <\/p>\n\n\n\n<p>Pola pantun ditemukan juga dalam salah satu sajak Chairil Anwar yang berjudul \u201cDerai Cemara\u201d. Dalam sajak ini pada bait pertama rimanya aa-aa dan pada bait ke tiga rimanya ab-ab, dan pada bait ketiga ab-ab juga. Kata dalam tiap larik ada yang empat dan lima. Permainan bunyi masih sangat terasa dalam sajak ini. <\/p>\n\n\n\n<p> <\/p>\n\n\n\n<p>Derai-Derai Cemara<\/p>\n\n\n\n<p>Cemara menderai sampai jauh<br>\nTerasa hari akan jadi malam<br>\nAda beberapa dahan ditingkap merapuh<br>\nDipukul angin yang terpendam<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sekarang orangnya bisa tahan<br>\nSudah berapa waktu bukan kanak lagi<br>\nTapi dulu memang ada satu bahan<br>\nYang bukan dasar perhitungan kini<\/p>\n\n\n\n<p>Hidup hanya menunda kekalahan<br> Tambah terasing dari cinta sekolah rendah<br> Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan<br> Sebelum pada akhirnya kita menyerah<\/p>\n\n\n\n<p> Penyair masa kini yang masih menerapkan pantun dalam karyanya di antaranya H. Iberamsyah Barbary dari Banjarmasin, Zahrudin Ali Al Batawi, Taslim dari Rokan dan Abdul Kadir Ibrahim (Akib) dari Kepulauan Riau. Perhatikan sajak dari penyair Iberamsyah Barbary dan Akib berikut ini.  <\/p>\n\n\n\n<p>Pancasila<br>\nKesatria menaiki kuda jantan<br>\nBangsawan bersama rembuk cedekia<br>\nPancasila ideologi kesatuan<br>\nBerkedaulatan negara Republik Indonesia<br>\nKesatria bersumpah siaga setia<br>\nLuar dalam dijaga ketat<br>\nPancasila falsafah negara Indonesia<br>\nDasar Hukum negara berdaulat<\/p>\n\n\n\n<p> Akib dalam kumpulan dikunyahkan&nbsp; Rindu: Sergam Puisi Cinta. Milaz Grafika, 2019. Tanjung Pinang&nbsp; Abdul Kadir Ibrahim. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejati<br> Kalau berlayar sampai ke laut<br> Kalau berkayuh sampai ke Pulau<br> Kalau hajat jangan diugut<br> Kalau kerja usahakan dilampau\/\/<br> \/\/bukan angin daun mendesah<br> Bukan rindu terbayang gelinjang<br> Bukan menang karena bersalah<br> Bukan hidup merasa seorang\/\/<br> \/\/lupa diri bersebab iri<br> Lupa teman bersebab dengki<br> Lupa anak bini tersebab mimpi<br> Lupa nasib bersebab keji\/\/<br> \/\/berpuas diri karena janji<br> Lega hati karena budi<br> Berbuat bakti karena mati<br> Diulang lagi senapas rabbi<br> Tanjungpinang 9 Agustus 2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain pantun bertransformasi dalam sajak modern, pantun juga bertransformasi dalam bentuk lagu, terutama lagu dangdutnya Rhoma Irama. Penyanyi yang banyak memasukkan pantun dalam lagu-lagunya adalah Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih, seperti lagu pantun cinta berikut ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak bunga di taman Cuma <br>\nsatu kupetik<br>\nbanyak anak perawan Cuma<br>\nadik yang cantik<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak buah semangka dibawa<br>\ndalam sampan<br>\nbanyak anak jejaka cuma <br>\nabang yang tampan<\/p>\n\n\n\n<p>Berjuta bintang di langit<br>\nsatu yang bercahaya<br>\nberjuta gadis yang cantik<br>\nadiklah yang kucinta<\/p>\n\n\n\n<p>Pandai Abang merayu, hatiku rasa malu<br>\nrumah atapnya tinggi Terbuat dari bambu<br>\ncuma Adik kupilih dan yang<br>\nselalu kurindu<\/p>\n\n\n\n<p>Gunung puncaknya tinggi<br> tertutup oleh salju<br> memang Abang kupilih dan<br> yang selalu kurindu<\/p>\n\n\n\n<p> Pada masa kini, pantun juga bertransformasi ke dalam ranah yang lebih populer, seperti pantun yang muncul dalam acara TV untuk pembukaan Opera Van Jawa, <em>Faceboke<\/em>r, dan acara musik &#8220;Dahsyat&#8221;. Dalam ranah ini pantun sering digunakan untuk bercanda.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Revitalisasi Pantun sebagai sebuah Tradisi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pantun sebagai salah satu khazanah sastra di Indonesia patut dikembangkan sesuai dengan berbagai peraturan yang ada. Pengembangan yang dimaksud dalam hal ini adalah dibina dan dilindungi dengan berbagai cara, seperti penelitian, peningkatan jumlah pantun, penerjemahan, dan publikasinya. Sementara pembinaan berkaitan dengan peningkatan kreativitas dan apresiasi masyarakat, pelatihan, dan pelindungan berkaitan dengan pendataan, pendaftaran, konservasi, serta revitalisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Revitalisasi berupa pemberdayaan\nkembali pantun. Upaya ini untuk membangkitkan kembali apresiasi dan daya hidup\npantun dalam tradisi masyarakatnya. Cara yang dilakukan berupa pengajaran, baik\nformal maupun informal, serta nonformal. Pantun perlu diajarkan kembali kepada\nmasyarakat masa kini, terutama\ngenerasi muda. Pengajaran pantun dapat\nmenarik jika diajarkan oleh pemantun, para orang tua, kepala adat, dan\nmaestronya yang mahir berpantun. Perlu dipikirkan cara transmisi yang sesuai\ndengan generasi kaum muda saat ini untuk menyenanginya. <\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan lain yang sangat perlu\ndilakukan adalah inventarisasi, dokumentasi, pendaftaran pantun sebagai aset\nbudaya. Kegiatan ini akan memancing memori masyarakat yang\nhampir melupakannya. Cara ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian pantun. Pencatatan pantun\nakan meningkatkan kesadaran dalam konservasi alam dan lingkungan seperti yang banyak terdapat dalam sampiran yang merujuk pada unsur-unsur lingkungan alam. Pantun\ndapat diucapkan oleh siapa saja tergantung pada\nranahnya dan &nbsp;dapat digunakan kapan saja dalam kehidupan\nmanusia. <\/p>\n\n\n\n<p>Secara lokal\ndan nasional, pantun akan meningkatkan kebanggaan dan martabat para pemiliknya. Secara regional pantun dapat dijadikan perekat dalam meningkatkan\nkerja sama, terutama\nantara negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura,\nBrunei Darussalam dan Thailand yang berkewajiban melestarikan\nwarisan budaya ini bersama-sama. Secara global, pantun akan\nmenarik perhatian dunia jika dilestarikan\ndan dimodifikasi serta\ndiaktualisasikan sesuai dengan perkembangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dokumentasi atas kekayaan pantun harus segera dilakukan. Pangkalan data dengan sistem digital (melalui laman) harus dikreasi. Siapa saja yang pandai berpantun dapat mnegisi laman ini dengan pantun-pantunnya. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran akan penting pantun sebagai kekayaan budaya di kalangan masyarakat. Data ini akan membuka wawasan dunia &nbsp;akan kekayaan pantun dan memberikan promosi sebagai warisan budaya takbenda terutama di negara serumpun Melayu. Dengan begitu, status pantun dapat &nbsp;memberinya prestise dan &nbsp;memperkuat rasa bangga, kasih sayang, dan penghargaan, khususnya orang Melayu terhadap Pantun. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pantun\npada awalnya merupakan tradisi lisan. Tradisi ini berkembang ketika masyarakat Melayu\nmengenal sistem tulisan. Pantun dalam bentuk tulisan terekam dalam naskah atau sastra klasik. Pantun\ndigunakan oleh masyarakat\nMelayu dalam berbagai ranah kehidupan. Pada\nkenyataannya bukan hanya orang Melayu yang memiliki khazanah pantun, beberapa\nsuku juga mempunyai bentuk ini, seperti Sunda dan Jawa, Bugis-Makassar, dan\nBatak. Pantun\nsaat ini sudah termarjinalkan dan daya hidupnya menurun. Untuk itu berbagai upaya perlu dilakukan untuk\nmemelihara kekayaan budaya ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pantun sama halnya karya sastra yang lain memiliki estetika. Estetika pantun sangat khas. Selain unsur keindahan pantun juga dijadikan penuntun dan tunjuk ajar yang\nmemberikan manfaat\nbagi kehidupan masyarakat, berupa ajaran etika dan moral. Pantun\nsampai saat ini dilestraikan dengan berbagai cara, baik melalui pencatatan, pendaftaran, dokumentasi. Pantun juga harus direvitalisasi dan\ndiaktualisasikan agar pantun tetap hidup dan berkembang sehingga daya\nhidupnya dapat meningkat. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Mu\u2019jizah Pendahuluan Pantun salah satu khazanah sastra Melayu yang dikenal di Asia Tenggara; Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Karya budaya ini bukti kesenangan orang Melayu dalam penggunaan bahasa yang indah dengan kata-kata yang terselubung dan sugestif. Kreativitas dalam berpantun memperlihatkan kecerdasan orang Melayu dalam berbahasa. Pantun ini digunakan sebagai alat komunikasi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3281","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sastra-melayu"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":10,"label":"Sastra"}]},"featured_image_src_large":false,"author_info":{"display_name":"Redaksi jantungmelayu","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/redaksi\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":10,"name":"Sastra","slug":"sastra-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":60,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":60,"category_description":"","cat_name":"Sastra","category_nicename":"sastra-melayu","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-QV","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3281"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3297,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3281\/revisions\/3297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}