{"id":3188,"date":"2019-09-30T10:42:11","date_gmt":"2019-09-30T03:42:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3188"},"modified":"2024-07-09T17:25:19","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:19","slug":"kota-kubu-dan-benteng-dalam-kebudayaan-melayu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/09\/kota-kubu-dan-benteng-dalam-kebudayaan-melayu\/","title":{"rendered":"Kota, Kubu, dan Benteng dalam Kebudayaan Melayu"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>DALAM<\/strong> historiografi<em> <\/em>tradisional\nMelayu seperti <em>Sullalatus Salatin<\/em>\n(Sejarah Melayu) karya Tun Sri Lanang, <em>Hikayat\nSiak<\/em> yang dirawikan oleh Tengku Said, dan <em>Tuhfat Al-Nafis<\/em> karya Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad, terdapat\ncukup banyak narasi serah perihal <em>kota <\/em>yang\ndibedakan dari <em>negeri<\/em>, benteng, dan\nkubu, dalam kebudayaan Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bagian-bagian yang mengisahkan tentang Raja Syulan di Benua Keling, Tun Sri Lanang (<em>Sulalatus Salatin<\/em>, 1200:17) umpamanya, menggambarkan sebuah <em>kota<\/em> di negeri\u00a0 bernama <em>Lenggui<\/em> atau <em>Gelanggui <\/em>(yang artinya perbendaharaan permata) sebagai berikut: \u201c\u2026<em>dahulu kala negeri itu negeri besar, kotanya batu hitam ladai\u2026tujuh depa tebalnya, tingginya sembilan depa<\/em>\u2026 <em>pintunya daripada emas melela\u2026bermula peri luas kota itu\u00a0 tujuh buah gunung di dalamnya<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu pula dalam <em>Hikayat Siak<\/em> (1992:271), ada dikisahkan tentang Sultan Negeri Kayung di Kalimatan Barat yang berundur dan membangun negeri di Hulu Sungai Sikudana (Sukadana) setelah ditaklukkan Tengku Akil yang menggelar dirinya Sultan Abdul Jalil syah: \u201c\u2026<em>Dan Sultan pun mengalih ke dalam sungai Sikudana, kepada tempat sekarang ini dan membuat istana dan kota. Dan kepada empat penjuru kota <\/em>[itu]<em>, ditaruh meriam<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian pula halnya dengan pembukaan Pulau Penyengat sebagai sebuah negeri tempat kediaman Engku Puteri Raja Hamidah oleh Sultan Johor, Sultan Mahmud Ri\u2019ayatsyah pada tahun 1803, juga dimulai dengan pembangunan sebuah kota dan kelengkapannya sebagaimana dicatat Raja Ali Haji dan Ayahnya dalam <em>Tuhfat al-Nafi<\/em>s (1997:218) sebagai berikut: \u201c\u2026<em>Maka apabila sudah cuci <\/em>[bersih]<em> Pulau Penyengat itu ditebas, maka baginda <\/em>[Sultan Mamhmud]<em> pun berbuatlah istana dengan kota paritnya, dengan masjid balairungnya<\/em>\u2026\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bagian yang lain, dalam <em>Tuhfat al-Nafis <\/em>(1997:166)<em>, <\/em>digambarkan pula betapa indah dan megahnya <em>kota<\/em> dan istana Raja Haji di Negeri Riau, yakni sebuah kompleks istana yang kini dikenal sebagai \u2018<em>Kota Pirin<\/em>g\u2019: \u201c\u2026<em>Syahdan, apabila tiba ke Riau, maka Yang Dipertuan Muda <\/em>[Raja Haji]<em> pun membuat istana\u2026serta dengan kotanya yang indah-indah, yang bertatah dengan pinggan dan piring sangatlah indah perbuatannya<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Beberara kutipan di atas, menunjukkan adanya beda dan perbedaan antara <em>kota <\/em>dan negeri, yang juga berbeda maknanya dengan istilah <em>kota,<\/em> yang dipadankan dengan <em>city,<\/em> dalam pengertian kita pada masa kini. Lantas apa sesungguhnya yang disebut <em>kota<\/em> dan \u201cvariannya\u201d dalam kebudayaan Melayu?<\/p>\n\n\n\n<p>Perkataan <em>kota<\/em>, asalnya adalah bahasa Sansekerta, yang telah terserap kedalam bahasa Melayu. R.J. Wilkinson dalam <em>Malay-English Dictionary<\/em> (<em>romanised edition<\/em>, 1959:618) menjelaskan bahwa makna pertama yang terkandung dalam kosa kata ini adalah: <em>benteng<\/em>, <em>kubu<\/em>, [<em>Fortified place; Stronghold<\/em>], sebuah tempat yang dibentengi atau sebuah kawasan perbentengan yang lebih permanen dari sebuah <em>kubu<\/em> yang sifatnya hanya temporer. <\/p>\n\n\n\n<p>Selengkapnya, Wilkinson menjelaskan sebagai berikut: \u201c<em>A fortification more permanent than stockade\n(kubu) or breastworks (benteng) that are cobstructed only for the needs of\ncampaign; a fortified town or fortress e. The Malacca fort<\/em>\u201d [Sebuah\nperbentengan yang lebih permanen dibanding tembok pertahanan (<em>kubu<\/em>) atau <em>breastworks <\/em>(benteng) yang dibangun secara darurat dengan batu atau\ntanah, dan hanya hanya berfungsi untuk keperluan menahan sebuah tindakan\nmiliter; sebuah benteng atau kota yang dibentengi, contohnya, adalah benteng kota\nMalaka.]&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp; Penjelasan Wilkinson sejalan\ndengan defenisi yang dikemukakan oleh oleh M. Monier-William dalam <em>A Sansktrit-English Dictionary<\/em> (1964).\nMenurut Monier-William, istilah <em>kota<\/em>\natau <em>kotta<\/em> adalah kosa adalah bahasa dalam\nbahasa <em>Sansekerta <\/em>yang artinya adalah benteng (\u201c<em>the fort<\/em>\u201d). Begitu pula istilah \u201c<em>kottara<\/em>\u201d yang akar katanya adalah <em>kota<\/em>, juga menunjuk kepada makna \u201c<em>benteng<\/em>\u201d atau \u201c<em>fort<\/em>\u201d, atau kota yang diperbentengi, \u201c<em>portified town<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai sebuah kosa kata serapan, dalam penggunaannya, perkataan <em>kota<\/em> dalam Bahasa Melayu mengandungi beberapa pengertian dan makna yang sangat bergantung kepada konteks kultural dan historisnya. Dalam kebudayaan Melayu, <em>Kota<\/em> biasanya dipersandingkan dengan <em>kubu<\/em> yang memagari pusat pemerintahan, yaitu istana raja. Namun demikian, jika dilihat dari segi bentuk, fungsi, lokasi, dan materi untuk membangunnya, maka akan terlihat sebuah perbedaan antara <em>kota<\/em> dan <em>kubu<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Seperti telah dikemukan sebelumnya, dalam historiografi tradisonal Melayu, <em>kota<\/em> sering dikaitkan dengan istana raja-raja. Apabila seorang raja membuka sebuah negeri yang baru, maka sang raja memerintahkan rakyatnya mendirikan istana yang ber-<em>kota<\/em>. Dengan kata lain, sebuah istana raja itu haruslah terletak dalam sebuah kawasan berpagar, atau diperbentengi, seperti dalam kasus pembangunan istana sebuah di Pulau Penyengat untuk kediaman Engku Puteri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud Ria\u2019ayatsyah. Begitu juga dengan <em>Kota Piring<\/em>, yaitu kompleks istana Raja Haji di Pulau Biram Dewa yang yang pagar tembok istananya, atau <em>kota<\/em>-nya, berhiaskan pinggan porselin Cina. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain dibangun menggunakan\nsusunan batu atau campuran batu dan pasir yang direkatkan menjadi tembok, <em>kota<\/em> sebagai pagar atau benteng istana\nraja Melayu dapat pula terbuat dari kayu sasak, nibung, buluh, atau berupa\ngundungan tanah yang ditata sedemikian rupa. <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena fungsi ganda yang dimilikinya, sebuah <em>kota<\/em> atau benteng pelindung dalam kaitannya dengan istana raja-raja Melayu memiliki sejumlah kelengkapan pendukung dalam fungsinya sebegai pelindung kediaman raja atau <em>Kota Raja<\/em> yang juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Demikianlah, selain istana raja, lazimnya, di dalam lingkungan sebuah <em>kota, <\/em>dalam kebudayaan Melayu, terdapat <em>balairung<\/em>, rumah ibadah, sudut sarang meriam (<em>bastion<\/em>), mempunyai tempat menyimpan senjata dan lain sebagainya. Oleh karena fungsi gandanya itu, sebuah kota mempunyai pintu gerbang, yang membedakannya dengan <em>kubu<\/em> dan <em>benteng<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya, <em>Kubu<\/em> atau <em>Benteng<\/em>, berbeda pula dengan <em>kota<\/em>. Sebuah <em>kubu<\/em> atau benteng<em>,<\/em> biasanya adalah kelengkapan pertahanan yang dibuat dari tanah yang ditambak, atau pancang-pancang kayu yang rapat, yang disebut \u2018pagar sasak\u2019, yaitu pagar kayu balok yang melingkari sebuah kawasan pertahanan. Namun demikian, seperti halnya <em>kota, <\/em>sebuah <em>kubu<\/em> juga mempunyai pengawal bersenjata yang selalu menjaganya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai sebuah pusat pertahanan, sebuah <em>kubu<\/em> atau benteng berbeda dari <em>kota <\/em>raja. Di dalam <em>kubu<\/em> tidak perlu ada rumah kediaman keluarga diraja, tidak ada balairung dan istana seperti terdapat dalam sebuah <em>kota <\/em>raja. Oleh karena itu, seperti telah ditunjukkan oleh Abdul Halim Nasir (1990), istilah <em>kota<\/em> dan <em>kubu<\/em> tidaklah dengan serta merta dapat menentukan suatu kompleks bangunan disebut <em>kota<\/em> di satu pihak, dan <em>kubu<\/em> di pihak lain, karena segala sesuatunya harus lah dilihat konteksnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Adakalanya,\nsebuah pusat pertahanan, benteng atau <em>kubu<\/em>\njuga disebut <em>kota<\/em> dalam pengertian\nkelengkapan pertahanan negeri. Dalam kasus ini, <em>Kota Karang<\/em> sebuahbenteng\ndi Pulau Bulang; sebuah perahu diperbentengi yang disebut <em>Kota Berjalan<\/em> yang pernah dipakai pada masa Sultan Sulaiman di\nNegeri Riau; dan <em>Kota Kara, <\/em>yakni\nbenteng pertahanan Sultan Mahmudsyah Melaka ketika menghadapi rempuhan serangan\nPortugis di Pulau Bintan pada abad ke-16, adalah <em>kota <\/em>dalam pengertian <em>kubu<\/em>\natau benteng pertahanan.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DALAM historiografi tradisional Melayu seperti Sullalatus Salatin (Sejarah Melayu) karya Tun Sri Lanang, Hikayat Siak yang dirawikan oleh Tengku Said, dan Tuhfat Al-Nafis karya Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad, terdapat cukup banyak narasi serah perihal kota yang dibedakan dari negeri, benteng, dan kubu, dalam kebudayaan Melayu. Pada bagian-bagian yang mengisahkan tentang Raja Syulan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3189,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-3188","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Ilustrasi-Aswandi-Hal.-12.jpg?fit=1024%2C705&ssl=1",1024,705,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Ilustrasi-Aswandi-Hal.-12.jpg?fit=1162%2C800&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Pq","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3188","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3188"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3188\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3190,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3188\/revisions\/3190"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3189"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}