{"id":3173,"date":"2019-09-20T03:05:32","date_gmt":"2019-09-19T20:05:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3173"},"modified":"2024-07-09T17:25:19","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:19","slug":"kepada-allah-kita-saksikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/09\/kepada-allah-kita-saksikan\/","title":{"rendered":"Kepada Allah Kita Saksikan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap\">INI kisah patriotisme orang berdua beranak, paman dan keponakannya. Sang Paman adalah Raja Haji, Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777\u20141784) dan Sang Keponakan adalah Sultan Mahmud Riayat Syah, Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761\u20141812). <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam silsilah kerabat kedua-dua pembesar Kesultanan Melayu itu, Raja Haji\u2014walaupun jabatannya setingkat lebih rendah\u2014adalah paman Sultan Mahmud Riayat Syah karena ibunda Baginda Sultan adalah saudara kandung Baginda Yang Dipertuan Muda. <\/p>\n\n\n\n<p>Jelaslah bahwa Raja Haji pun lebih tua usianya daripada Sultan Mahmud Riayat Syah. Akan tetapi, sesuai dengan Sumpah Setia yang telah diasaskan para pendahulu mereka, Raja Haji\u2014walaupun secara kerabat dan kalender lebih tua\u2014tetaplah dengan jabatannya sebagai Yang Dipertuan Muda karena Baginda sejatinya keturunan Yang Dipertuan Muda. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya, kendatipun lebih muda\u2014secara kerabat dan kalender\u2014Tengku Mahmud menjabat Sultan karena Baginda keturunan Yang Dipertuan Besar dari pihak ayahandanya. Itukah yang membuat mereka istimewa? Ternyata tidak! Bakti dan pengorbananlah yang membuat orang bangsawan itu boleh dibilangkan nama.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada 6 Januari 1784 bangsawan berdua itu telah mempermalukan Belanda. Mereka menang telak dalam Perang Riau I di perairan Tanjungpinang. Yang bertindak sebagai panglima perang dari kesultanan adalah Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda Raja Haji ibni Opu Daeng Celak. <\/p>\n\n\n\n<p>Akibatnya, pasukan Belanda yang masih hidup harus melarikan diri ke markas mereka di Melaka, tentu dengan mengalami kerugian materi akibat perang yang tak sedikit, termasuk meledaknya kapal mereka Malaka\u2019s Welvaren. Perang Riau I merupakan kemenangan besar pertama Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang terhadap musuhnya pasukan Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak lama setelah Perang Riau I berakhir, kedua pemimpin Melayu itu dan para pembesar kerajaan bermusyawarah. Putuslah mufakat mereka dalam musyawarah itu. Belanda harus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Untuk itu, tahap awalnya bangsa penjajah itu harus diusir dari Tanah Melayu. Dengan demikian, Melaka yang dijadikan basis pertahanan Belanda di Semenanjung harus direbut kembali. <\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman mampu mengalahkan Belanda di Tanjungpinang, yang pasukan musuhnya juga datang dari Melaka, memberikan semangat lebih kepada Sultan dan Yang Dipertuan Muda. Maka, Juni 1784 dimulailah penyerangan terhadap Belanda dengan satu matlamat: Melaka harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi, milik sah bangsa Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Beberapa daerah pinggiran Melaka,\ndalam perang lanjutan itu, telah dikuasai pasukan Duli Yang Mulia Raja Haji,\nyang memimpin perang itu. Duli Yang Mahamulia Sultan Mahmud Riayat Syah, sesuai\ndengan kesepakatan orang berdua beranak, untuk sementara bertahan di Muar (bagian\nKerajaan Negeri Johor, Malaysia, sekarang). Akan tetapi, ketika perang mulai\nberkecamuk di Teluk Ketapang, Melaka, Sang Keponakan khawatir akan keselamatan\nSang Paman dalam perang itu. Lalu, <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> melanjutkan kisahnya.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKemudian tiada berapa antaranya maka Sultan Mahmud pun datanglah ke Teluk Ketapang itu mendapatkan paduka ayahanda Raja Haji. Maka sembah Raja Haji kepada paduka anakda baginda itu Sultan Mahmud, \u2018Baik silakan paduka anakda balik ke Muar. Nanti ayahanda di dalam Muar, tiada usahlah masuk, biarlah ayahanda saja kerana barangkali dikehendaki <em>Allah taala<\/em> ayahanda sampai janji di dalam perang dahulu <em>Allah wa baadu al-rasul<\/em>. Kemudian paduka anakdalah ayahanda harap memeliharakan ahli-ahli ayahanda serta memelihara pacal-pacal itu anak-anak Bugis. <\/p>\n\n\n\n<p>Adapun ayahanda suka serta rela kerana dosa ayahanda selama-lama ini. Maka ayahanda harapkan diampuni <em>Allah taala<\/em> dengan sebab kematian perang ini.\u2019 Syahadan apabila baginda Sultan Mahmud mendengar perkataan paduka ayahanda itu, maka baginda pun menangislah terlalu sangat. Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun menangis juga\u2026,\u201d (Ahmad &amp; Haji dalam Matheson (<em>Ed.<\/em>), 1982).<\/p>\n\n\n\n<p>Walau dengan berat hati karena tak tega\nmeninggalkan Mamanda Raja Haji, Sultan Mahmud Riayat Syah harus kembali ke Muar\nuntuk mempersiapkan pertahanan di sana. Dalam pada itu, Raja Haji melanjutkan\nperang terhadap Belanda di Teluk Ketapang. Diringkaskan kisahnya, dengan takdir\nAllah dan sesuai benar dengan firasat Baginda, Duli Yang Mulia Raja Haji\ntertembak oleh musuh dalam peperangan itu dan Baginda serta sebagian tentaranya\ngugur secara perkasa sebagai syuhada pada 18 Juni 1784 untuk membela bangsa dan\nnegaranya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdiam diri sajakah Duli Yang Mahamulia\nSeri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah atas musibah yang menimpa mamanda\nBaginda? Jawabnya, tentu saja tidak. Pantang Melayu menghindari musuh! Nanti,\npada Mei 1787 Sultan Melayu yang paling cerdas dan visioner itu tampil langsung\nmemimpin pasukan untuk mempertahankan marwah bangsanya sekaligus menuntut bela\natas kemangkatan mamandanya dalam Perang Riau II. Dalam perang itu, Belanda\nkembali merasakan dahsyatnya amuk dan aruk Melayu. Kisahnya panjang sehingga\nharus dipadakan sampai di sini dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sedotan perjuangan para pemimpin Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di atas, pertanyaan utama yang muncul adalah mengapakah para wira sejati tak pernah gentar berlawan dengan musuh ketika marwah bangsa dan negaranya tercabar walaupun nyawa sebagai tagannya? Jawabnya, mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa perjuangan membela bangsa dan negera diridai oleh Allah. Dengan kata lain, perjuangan suci itu tak lain tak bukan adalah berjuang di jalan Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika demikian putus kajinya, Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em> dalam <em>Tsamarat al-Muhimah<\/em> melalui syair nasihat bait 16 (Haji dalam Malik (<em>Ed.<\/em>), 2013) mewasiatkan nilai kebenarannya.<\/p>\n\n\n<h4 style=\"padding-left: 40px;\">Jika benar yang kita hukumkan<br>Di belakang jangan kita hiraukan<br>U(m)pat dan puji kita biarkan<br>Kepada Allah kita saksikan<\/h4>\n\n\n<p>Itulah kalimat khatam kajinya.\nJika yang diperjuangkan memang kebenaran sejati karena sesuai dengan pedoman\nAllah, pemimpin terbilang tak perlu ragu. Perjuangan membela bangsa dan negara\ndengan niat yang suci\u2014apa pun bentuk dan cabarannya\u2014wajib dilaksanakan. Hasil\ndan akibatnya kesemuanya harus dipulangkan kepada Allah. Ternyata, perjuangan suci\nitu memang dibenarkan oleh Allah sesuai dengan petunjuk-Nya. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sesungguhnya,\norang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan\nRasul-Nya. Maka, mereka tak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan\nharta dan jiwa mereka di jalan Allah. Merekalah orang yang sebenar-benarnya\nbenar,&#8221; (Q.S. Al-Hujurat, 15).<\/p>\n\n\n\n<p>Keyakinan itulah yang\nmemotivasi para pemimpin sekaligus wira sejati untuk berbuat bakti. Mereka tak\npernah mempersoalkan perkara hidup ataupun mati asal sesuai dengan ketentuan\nIlahi. Membela bangsa dan negara dengan sepenuh hati tak boleh ditawar-tawar\nkarena telah menjadi harga mati. Bukankah setelah hidup setiap manusia pasti juga\nmati. Akan berbedalah maknanya mati biasa dengan mati berbuat bakti. Bukan\nhanya atau sekadar menurut pandangan manusia, bahkan memang telah disuratkan\noleh <em>Allahi Rabbi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Atas dasar itulah, <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Kesebelas, bait 1 (Haji, 1847) mengingatkan manusia, lebih-lebih pemimpin, untuk bersungguh-sungguh berbakti kepada negara dan bangsa. Pasalnya, bakti yang tulus itu sangat mustahak bagi kelangsungan bangsa sehingga dikenang orang sepanjang masa. Pemimpin seperti itulah yang dipandang mulia dalam arti yang sesungguhnya. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><em>Hendaklah berjasa, <br>Kepada yang sebangsa<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p>Bakti\ndan perjuangan di jalan Allah itu pun ditegaskan oleh Rasulullah SAW akan kebenaran\nnilainya. Itulah sebabnya, pemimpin sejati tak pernah ragu melaksanakan\npengabdiannya. Pasalnya, mereka yakin akan kebenarannya sehingga perjuangan\nmereka pasti mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah\nSAW bersabda, \u201cPokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya\nadalah <em>jihad fi sabilillah<\/em>,\u201d (H.R.\nAhmad, At-Tirmidzi, \u2018Abdurrazzaq, dan Ibnu Majah).<\/p>\n\n\n\n<p>Jelaslah\nalasannya mengapa setelah mangkat Baginda Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang dipanggil dengan nama Raja Haji <em>Fisabilillah<\/em>. Penambahan nama Baginda bukanlah dibuat-buat,\nmelainkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang dibuktikan oleh\npengorbanan Baginda Yang Dipertuan Muda yang gagah perkasa itu dalam membela\nbangsa dan negara. Bahkan, ketika berperang melawan Belanda di Melaka, Baginda\nmemang telah meniatkannya untuk berjuang di jalan Allah (lihat nukilan <em>Tuhfat al-Nafis <\/em>di atas). <\/p>\n\n\n\n<p>Para wira dan pemimpin yang berjuang di jalan Allah tak mencintai dunia atau tak tertipu oleh godaan dunia. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia hanya tempat laluan sementara, yang di dalamnya manusia diamanahkan untuk menunaikan bakti. Perkara itu terekam dalam <em>Syair Sinar Gemala Mestika Alam<\/em>, bait 89 (Haji, 1893 dalam Malik &amp; Junus, 2000).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-uagb-advanced-heading\" id=\"uagb-adv-heading-0086431b-bbca-4133-8483-130bef36fbd5\"><h4 class=\"uagb-heading-text\">  Sebab berperang ugama yang mulbih<br>Nabi Muhammad lisanul fasih<br>Hatinya suci sangatlah bersih<br>Akan dunia tiada ia kasih <\/h4><div class=\"uagb-separator-wrap\"><div class=\"uagb-separator\"><\/div><\/div><p class=\"uagb-desc-text\"> <em>Syair Sinar Gemala Mestika Alam<\/em>, bait 89 <\/p><\/div>\n\n\n\n<p>Rasulullah\nSAW merupakan tauladan pemimpin yang agung dan tiada bandingannya. Bagindalah\nyang disuratkan dalam bait syair di atas untuk diikuti oleh para pemimpin kelas\nutama. Baginda tak pernah silau oleh gemerlapnya tipuan dan racun dunia. Oleh\nsebab itu, orang-orang yang mengikuti Baginda akan menyandang kualitas budi kepemimpinan\nyang sempurna. Memang begitulah sesungguhnya pedoman sekaligus amaran dari\nAllah <em>Azza wa Jalla<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBarang siapa menghendaki kehidupan dunia dan\nperhiasannya, nescaya Kami&nbsp; berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka\ndi dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tak akan dirugikan. Itulah\norang-orang yang tak memperoleh&nbsp; balasan di akhirat, kecuali neraka. Dan,\nlenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah\napa yang telah mereka kerjakan,\u201d\n(Q.S. H\u00fbd, 15\u201416).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sangat benarlah jadinya ketika <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Pertama, bait 5\u20146 (Haji, 1847) menuturkan tunjuk ajarnya. Pasalnya, dibandingkan akhirat, kuantitas dan kualitas dunia tak ada apa-apanya. Oleh sebab itu, sangat tak bijak jika dunia dijadikan tempat untuk berbuat sesuatu yang tiada berguna. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Barang siapa mengenal dunia<br>Tahulah ia barang yang terpedaya<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Barang siapa mengenal akhirat<br>Tahulah ia dunia mudarat<\/h4>\n\n\n\n<p>Tunjuk\najar dalam <em>Gurindam Dua Belas<\/em> di atas\nsesuai benar dengan pedoman yang diberikan oleh Ras\u00fblull\u00e2h SAW. Baginda Rasul\nbersabda, \u201cDemi All\u00e2h, tidaklah dunia\ndibandingkan akhirat, melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan\njarinya\u2014Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya\u2014ke laut. Lalu,\nlihatlah apa yang dibawa jarinya itu,\u201d (H.R. Muslim dan\nIbnu Hibban).<\/p>\n\n\n\n<p>Kebaikan dan kebahagiaan dunia ini kiranya hanya\nseujung telunjuk jika dibandingkan dengan keelokan dan kesempurnaan akhirat.\nOleh sebab itu, orang-orang yang dianugerahi amanah sebagai pemimpin di dunia\nhendaklah berjuang sesuai dengan petunjuk Allah agar di akhirat yang abadi kelak\ntak jatuh melarat. <\/p>\n\n\n\n<p>Cintailah dunia secara benar dengan berbuat bakti\nkepada negeri dan rakyat. Tentulah dengan niat dan perilaku sebagai pemimpin\nyang amanat lagi terhormat. Bersamaan dengan itu, tak perlu bercontoh kepada\npemimpin yang khianat. Hanya dengan begitu kerja-kerja kepemimpinan beroleh\nberkat. Jika tidak\u2014percaya atau tidak\u2014azab Allah terlalu dekat.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>INI kisah patriotisme orang berdua beranak, paman dan keponakannya. Sang Paman adalah Raja Haji, Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777\u20141784) dan Sang Keponakan adalah Sultan Mahmud Riayat Syah, Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761\u20141812). Dalam silsilah kerabat kedua-dua pembesar Kesultanan Melayu itu, Raja Haji\u2014walaupun jabatannya setingkat lebih rendah\u2014adalah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2611,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-3173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/AM-perang-riau.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/AM-perang-riau.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Pb","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3173"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4765,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3173\/revisions\/4765"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2611"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}