{"id":3143,"date":"2019-08-19T09:51:42","date_gmt":"2019-08-19T02:51:42","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3143"},"modified":"2024-07-09T17:25:20","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:20","slug":"keinsjafan-rakjat-indonesia-riouw-k-r-i-r","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/08\/keinsjafan-rakjat-indonesia-riouw-k-r-i-r\/","title":{"rendered":"Keinsjafan Rakjat Indonesia Riouw (K.R.I.R)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>(Proklamasi Kemerdekaan dan Reaksi Rakyat Kepulauan Riau\u00a0 1946-1948)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak akhir\ntahun 1945 hingga menjelang tahun 1950, terdapat lebih dari tujuh buah organisasi\natau perkumpulan (<em>vereniging<\/em>) yang\nditubuhkan di Tnjungpinang sempena mengobarkan gelora api revolusi dalam fase\nyang disebut zaman revolusi dan perang kemerdekaan dalam sejerah Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkumpulan-perkumpuan\ntersebut bergerak secara \u201c<em>legal\u201d<\/em> dan \u201c<em>illegal\u201d<\/em> menurut ukuran pemerintah\nBelanda yang kembali berkuasa ketika itu. Mereka tampil mengikuti arus sejarah,\nuntuk mendukung dan mempertahankan prokmalasi kemerdekaan yang telah\ndikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia di Jakarta\npada tanggal 17 Agustus 1945.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Tanjungpinang, perkumpulan-perkumpulan pegerakan itu tampil sebagai bagian dari reaksi kolektif seluruh anak negeri yang\u00a0 dijajah kembali oleh pemerintah kolonial Belenda setelah pemerintahan Bala Tentara\u00a0 Jepang menyerah tanpa syarat. Demikianlah, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, salah satu dari perkumpulan \u00a0pro-Republuk Proklamasi itu diberi nama <em>Keinsjafan Rakjat Indonesia Riouw<\/em> (disingkat, K.R.I.R) dengan logo berbettuk belah ketupa berhiaskan keris bersilang dan matahari memancar.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\narsip nota rahasia (<em>geheim<\/em>&#8211;<em>nota<\/em>) dinas reserse umum (<em>Algemeene Recherse<\/em>) Kejakasaan Agung (<em>Procureur-Generaal<\/em>) Hindia Belanda tahun\n1947, bapak spiritual (<em>de geestelijke\nvader<\/em>) perkumpulan K.R.I.R adalah seorang guru Melayu, anak jati Kepulauan\nRiau, bernama Muhammad Saleh. Ia pernah menjadi wakil delegasi masyarakat <em>Riouw<\/em>\n(nama Kepulauan Riau tempo doeloe) dalam <em>Konferensi\nMalino<\/em> di Sulawesi Selatan, pada 16 hingga 22 Juli 1946. Sedangkan\npenggagas (<em>initiatief-nemer<\/em>) perkumpulan\nK.R.I.R ini adalah seorang Bumi Putera asli Kepuluaan Riau, yaitu mantan Amir\nRadja Mohamad yang kelak mewakili daerah bagian Kepulauan Riau dalam Konfrensi\nMeja Bunda (KMB) di kota De Haag, Negeri Belanda, pada bulan Desember 1949.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh\nkarena itu pula, latar belakang penubuhan K.R.I.R erat sekali hubungannya\ndengan perbahasan-perbahasan yang disampaikan oleh guru Muhammad Saleh dalam <em>Konferensi Malino <\/em>yang intinya adalah\nuntuk menemukan formula baru bagi Kepulauan Riau yang berada dalam \u201cbekas Negara\nHindia Belanda yang hidup kembali\u201d pasca pendudukan Bala Tentara Jepang. Salah\nsatu formula baru itu adalah rencana pembentukan beberapa buah negara bagian\ndan beberapa buah daerah federasi dalam \u201cpemerintahan kolonial Belanda yang\nbaru\u201d. Hasil-hasil <em>Konferensi Malino <\/em>tersebut menjadi bahan pikiran\nMohamaad Saleh sekembalinya ke Tanjungpinang. Ia berfikir, sesuatu harus\ndilakukan dan dibuat untuk menentukan arah perjalanan rakyat Kepulauan Riau (<em>Riouw<\/em>)<em>,<\/em>\ndan merebut peran politik dalam \u201ctatanan dunia yang baru\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah organisasi sebagai motor dan wadah tempat bergerak harus ditubuhkan. Maka lahirlah K.R.I.R di Tanjungpinang pada 10 November 1946. Walaupun bukan berbentuk partai, sangat jelas kemudian, perkumplan ini adalah sebuah perkumpulan politik yang bertujuan untuk melawan kembalinya pejajahan Belanda di Kepulauan Riau setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Pada awal penubuhannya, para penggagas perkumpulan ini melaporkkan kepada pemerintah Belanda di Tanjungpinang bahwasanya tujuan perkumpulan yang mereka tubuhkan itu adalah untuk memajukan dan membangun penduduk Kepulauan (<em>Riouwer<\/em>). Selain itu, juga bertujuan untuk menyiasati kemungkinan menghapuskan masalah sosial-ekonomi dikalangan rakyat Kepulauan Riau (<em>Riouw Bevolking<\/em>) ketika itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun\ndemikian, semua yang dikemukan sebagai dasar dan tujuan penubahannya itu hanyalah\nkamuflase dan taktik belaka. Ada sesuatu yang lebih penting dan besar yang\nmereka sembunyikan. Sebab pada ketika itu, segala sesuatu yang \u201cbabau politik\u201d,\napa lagi yang dimotori oleh semangat anti-kolonial dan mendukung proklamasi\nkemederkaan yang baru saja dukumndangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus\n1945, tidaklah dapat dilakukan scara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n<p>K.R.I.R adalah salah satu dari tiga tipikal \u2018perkumpulan politik\u2019 di Tanjungpinang, yang muncul tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Ketika itu tatanan politik di daerah-daerah bekas Hindia-Belanda, seperti di Tanjungpinang, goyah dan \u201ctak bertuan\u201d setelah berakhirnya zaman pendudukan Jepang. Pada ketika itu, siapa saja yang tersadar dari \u201ctidur lelapnya di alam penjajahan\u201d, mempunyai kesempatan yang sama dalam merebut peluang kekuasaan secara politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkatnya, seperti terungkap dalam surat rahasia yang ditulis sendiri (<em>geheim-eigenhandig<\/em>) oleh <em>Asistent Resident Residency van Riouw,<\/em> J.B. van Schendel kepada Jaksa Agung Hindia Belanda di Batavia tanggal 19 Juli 1947, jelas terlihat perubahan perlahan-lahan tapi pasti (<em>langzaam maar zeker<\/em>) bahwa K.R.I.R telah mengarah kepada sebuah perkumpulan politik, meskipun moderat [<em>deze Vereeniging geworden tot een politieke<\/em> (<em>zij het gematide<\/em>)]. Semua aktifitas \u2018politik\u2019 K.R.I.R diselipkan diantara berbagai kegiatan sosial-ekonomi dan pendidikan yang dilakukan oleh angota-anggotanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Nota rahasia\ndinas reserse umum (<em>dienst der Algemeene\nRecherce<\/em>) Kejaksaaan Agung Hindia Belanda tahun 1947, menjelaskan, \u201c\u2026seperti\nhalnya kelompok gerakan Sultan Riau (<em>Sultanaatsbeweging<\/em>)\nyang didukung oleh zuriat mantan Sultan Riau-Lingga yang terakhir (Sultan\nAbdulrahman Muazamsyah) yang bermastautin di Singapura, Karimun, dan Pulau Penyengat,\npara penggagas K.R.I.R [pada awalnya] bercita-cita membentuk pemerintahan\nsendiri\u2026\u201d dan lepas dari pemerintahan Belanda yang kembali berkuasa setelah\nJepang menyerah kalah pada tahun 1945.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun\ndemikan, kemudian semuanya berubah. Berbeda dari <em>Bandan Kedaulatan Indonesia Riouw<\/em> (BKIR) yang ditubuhkan oleh gabungan\norang-orang bukan anak jati <em>Riouw<\/em> (<em>niet-Riouwer<\/em>)\ndan anak jati <em>Riouw<\/em> (<em>Riouwer<\/em>) yang dipimpin oleh Dr. Ijlas Datuk\nBatuah, maka para anggora K.R.I.R ingin membentuk pemerintahan anak watan <em>Riouw<\/em>\n(anak negeri) di Tanjungpinang yang dimpimpin oleh anak watan sendiri. Namun\ndemikian, bedanya, para anggota K.R.I.R sepakat bahwa cita-cita itu akan\ndiwujutkan tidak dengan keharusan menubuhkan kembali Kesultanan Riau-Lingga (<em>een sultanaat moest emen echter niets hebben<\/em>)\nseperti yang dikehendak kelompok Gerakan Kesultan Riau<em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Karena\nhaluannya yang moderat, maka dalam perjalanan sejarahnya, KRIR perlahan-lahan berkembang\nmenjadi wadah bagi berbagai haluan \u2018politik\u2019, \u2018etnik\u2019, dan \u2018provinsialis\u2019 untuk\nmencapai satu tujuan yang sama. Tak lama setelah penubuhannya, tepatnya pada\nparuh kedua bulan November 1946, pengurus dan pendiri K.R.I.R.&nbsp; telah memasukkan orang-orang Indoneia bukan anak\nwatan Kepulauan Riau (<em>geen Riouwers van\norigine<\/em>), yang kebanyakannya adalah pegawai-pegawai yang berasal dari\nSumatra (Tapanuli dan Minangkabau), Jawa, dan Manado,&nbsp; atau mereka yang lahir di Kepulauan Riau,\nsebagai anggotanya: meskipun ada protes dari kelompok yang bermaksud\nmemnghidupkan kembali kesultanan Riau-Lingga (<em>sultanaatpartij<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Haluan\nyag baru itu tergambar pula dari komposisi pengurus teras (<em>hoofdbestuur<\/em>) K.R.I.R. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang\ndilakukan oleh anggotan perkumpulan itu pada paruh pertama bulan Desember 1946,\ntelah ditetapkan Mohammad Apan (seorang anak jati Pulau Penyengat yang menikah\ndengan seorang perempuan Minangkabau dan juga merangkap sebagai anggota organisasi\n<em>Badan kebangsaan Indonesia Riau<\/em> (BKIR) pimpinan Dr. Iljas Datuk Batuah)\nsebagai ketua (<em>voorzitter<\/em>) K.R.I.R yang\nbaru, menggantikan posisi Radja Mohamad. Hal ini dilakukan karena arti penting Mohammad\nApan sebagai seorang anggota kelompok BKIR yang punya akses terhadap pemimpin-pemimpin\nRepublik hasil Proklamasi yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra, yang berdiri\nbelakangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara\nitu, Guru Mohammad Saleh tetap dipertahankan sebagai wakil ketua (<em>vice-voorzitter<\/em>). Sekretaris pertama\nadalah Moh. Amin, dan seorang <em>commisarissen<\/em>\ndijabat oleh Said Bakri al-Atas yang juga berasal dari kelompok Dr. Iljas Dt.\nBatuah. Selain itu, ada pula &nbsp;seorang\nperempuan bernama Radja Chatijah yang berasal dari kelompok pedukung penubuhan\nkembali kesultanan Riau-Lingga dalam \u201cwadah baru\u201d pemerintahan Hindia Belnda.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Sayap Perempuan K.R.I.R.\n<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Memasuki pertengahan tahun 1947, K.R.I.R melebarkan aktifitasnya dengan membetuk sebuah sayap organisasi perempuan yang diberi nama Perkumpulan Wanita-K.R.I.R pada 15 Oktober 1947, di Tanjungpinang.<\/p>\n\n\n\n<p>Susunan pengurus pertamanya adalah sebagai berikut: Ketua I, Syarifah Fatemah Nur Djamalullael; Ketua II, Zaharah Mahmud; Ketua III, Nyonya Muchtar Husin; Sekretaris, Raja Hatijah (Radja Chatijah); dan Bendahara dijabat oleh Wan Nun.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkumpulan Wanita KRIR ini sejatinya adalah sebuah perkumplan politik pendukung Proklamasi 17 Agustus 1945. Uantuk mengelabui pemerintah Belanda,\u00a0 aktifitasnya disamar-samarkan dengan melakukan kegiatan sosial-ekonomi. Pada mulanya, kegiatan utama sayap perempuan peekumpulan K.R.I.R ini adalah berupa kegiatan belajar menulis dan membaca sempena \u201c<em>Pemberantasan Boeta Hoereof<\/em>\u201d. Kegiatan soasial itu untuk pertama kalinya dilakukan di gedung sekolah lama Muhammadiyah yang terletak di <em>Kamponeg Boekit\u00a0 <\/em>(atau di Jl. Sunaryo) Tanjungpinang,\u00a0 pada 10 Juli 1947.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegitan belajar menulis dan membaca yang diikuti oleh 40 otrang siswa, yang 50% diantaranya berusia 30 tahun itu dipimpin oleh Ratna Samin, bekerjasam dengan Mohammad Apan, Radja Chatijah, Siahaan, dan Guru Mohammad Saleh. Selain di gedung sekolah lama yang lokasinya di kawasan \u00a0<em>Kempoeng Bukit<\/em> itu, kegiatan \u201c<em>Pemberantasan Boeta Hoereof<\/em>\u201d\u00a0 tersebut dilakukan juga dengan cara mengunjungi kampung-kampung di sekitar Tanjungpinang. Mohd. Safri Wok dan istrinya Latifah umpamanya, bertanggung jawab untuk wilayah Kampung Teluk Keriting dan Kampung Skip; saudara Mukiyen, bertugas di Kampung Jawa sekitarnya; sedangkan \u00a0Rukini, istri mendiang Sunaryo, bertugas di <em>Kampoeng Bukit <\/em>sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan pendidikan oleh organisasi perempuan KRIR terus berkembang. Pada 1 April 1948, Wanita-K.R.I.R meresmikan pembukaan sebuah sekolah dalam arti yang sesungguhnya di gedung sekolah Muhammadiyah, tempat pertamakali mereka menggelar kegiatan \u201c<em>Pemberantasan Boeta Hoerof<\/em>\u201d pada 10 Juli 1947.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekolah itu adalah sekolah Taman Kanak-Kanak Wanita-KRIR, dan sekaligus menjadi Sekolah Taman Taman Kanak-Kanak pertama di Kepulauan Riau. Sekolah bersejarah yang lahir dalam gemuruh gelora api revolusi kemerdekaan di Kepulauan Riau tersebut masih berdidiri dan berkhidmat hingga kini sebagai Sekolah Taman Kanak-Kanak Mawar di Tanjunpinang.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Proklamasi Kemerdekaan dan Reaksi Rakyat Kepulauan Riau\u00a0 1946-1948) Sejak akhir tahun 1945 hingga menjelang tahun 1950, terdapat lebih dari tujuh buah organisasi atau perkumpulan (vereniging) yang ditubuhkan di Tnjungpinang sempena mengobarkan gelora api revolusi dalam fase yang disebut zaman revolusi dan perang kemerdekaan dalam sejerah Indonesia. Perkumpulan-perkumpuan tersebut bergerak secara \u201clegal\u201d dan \u201cillegal\u201d menurut ukuran&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3144,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-3143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/1-1-1.jpg?fit=617%2C1024&ssl=1",617,1024,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/1-1-1.jpg?fit=723%2C1200&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-OH","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3143"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3145,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3143\/revisions\/3145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3144"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}