{"id":3135,"date":"2019-08-18T02:58:40","date_gmt":"2019-08-17T19:58:40","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3135"},"modified":"2024-07-09T17:25:20","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:20","slug":"hendaklah-anakanda-mengaji-selalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/08\/hendaklah-anakanda-mengaji-selalu\/","title":{"rendered":"Hendaklah Anakanda Mengaji Selalu"},"content":{"rendered":"\n<p>ARKIAN\npada suatu hari Sultan Duri (nama samaran Siti Rafiah, istri Sultan Abdul\nMuluk), penguasa Kerajaan Barham, berkunjung ke istana Jamaluddin, mantan\nSultan Barham. Setelah keduanya bertemu, Sultan Duri menyampaikan maksud\nkedatangannya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cKakanda, maksud kedatangan adinda\nini untuk meminta pertimbangan dan nasihat Kakanda,\u201d kata Sultan Duri seraya\nmemandang abang iparnya yang bijaksana itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cPertimbangan dan nasihat apakah\ngerangan yang Adinda perlukan?\u201d tanya Jamaluddin agak heran.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cAdinda bermaksud hendak membebaskan\nKerajaan Barbari dari penjajahan Kerajaan Hindustan. Adinda hendak menyerang\nnegeri penjajah itu. Hanya dengan cara itu Negeri Barbari, para pemimpinnya\nyang ditawan dan disiksa di dipenjara, serta rakyat sekaliannya dapat bebas\ndari tekanan Kerajaan Hindustan. Bagaimanakah bicara Kakanda?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cKalau memang itu keputusan Adinda, tak\nmungkin Kakanda melarangnya,\u201d jawab Jamaluddin walau hatinya agak khawatir, \u201cniat\nAdinda Sultan sangat mulia hendak menolong kerajaan sahabat dan jiran kita.\nKakanda pun bersedia membantu semampu-mampunya kakanda. Mungkin ini memang\nhidayah dari Allah kepada Adinda dan semoga inayah-Nya juga akan menyertai.\nWalaupun, kakanda sangat maklum Negeri Hindustan itu kerajaan besar, tak\nsedikit negeri takluknya, dan tentaranya banyak pula. Salangkan Kerajaan\nBarbari yang masyhur dapat dikalahkannya. Tetapi, mungkin memang Allah telah\nmenakdirkan Adinda harus membebaskan Negeri Barbari dari pendudukan Kerajaan\nHindustan. Marilah kita bersama-sama berdoa semoga niat baik dan perjuangan\nAdinda dikabulkan Allah,\u201d panjang-lebar Jamaluddin memberikan pertimbangannya\nkepada adik iparnya yang perkasa dan sangat dibanggakannya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Selanjutnya, Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em> meneruskan kisahnya di dalam <em>Syair Abdul<\/em> <em>Muluk<\/em>, bait 1.257.<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Di dalam kata kakanda demikian<\/em><br \/><em>Apa-apa juga perintah Tuan<\/em><br \/><em>Kakanda menurut juga sekalian<\/em><br \/><em>Sekali-kali tidak kakanda bantahkan<\/em><\/p>\n\n\n<p>Walaupun\nKerajaan Hindustan adalah negeri besar, kuat, dan banyak negeri taklukannya,\nJamaluddin tak menghalangi Sultan Duri untuk memeranginya. Padahal,&nbsp; dia agak khawatir penerus tahta Kerajaan\nBarham dan adik iparnya itu akan mengalami kekalahan. Kesemuanya itu dia\nikhlaskan karena motivasi Sultan Duri untuk membantu negeri dan rakyat yang\ntertindas oleh bangsa lain. Memang, hanya setakat itu saja yang diketahui oleh\nJamaluddin sekeluarga tentang latar belakang adik iparnya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Dalam pada itu, Siti Rafiah (jati diri\nsebenarnya Sultan Duri, yang belum diketahui oleh Jamaluddin sekeluarga) berasa\nwajib memerangi Kerajaan Hindustan karena negerinya (Kerajaan Barbari) telah\ndiserang secara biadab dan kemudian dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Bersamaan\ndengan itu, suaminya (Sultan Abdul Muluk), para menteri, dan hulubalang yang\nmasih hidup dipenjara disertai siksaan fisik setiap hari. Sejak melarikan diri\ndari istana Kerajaan Barbari, memang motivasi utama Siti Rafiah adalah\nmemerdekakan kembali negerinya setelah dia berhasil menghimpun kekuatan di luar\nnegeri. Sekarang dia berasa kekuatan yang dimilikinya telah memadai dan sudah\nsaatnya sumpah setianya kepada negerinya ditunaikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di atas semua pertimbangan duniawi\nitu, ajaran Allah-lah yang menjadi motivasi utamanya untuk menunaikan bakti.\nDalam hal ini, dia wajib mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agamanya\nsekaligus mengikuti petunjuk Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cDan, perangilah di jalan Allah orang-orang yang\nmemerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu\nmelampaui batas,\u201d(Q.S.\nAl-Baqarah, 190).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Siti\nRafiah berasa berkewajiban menegakkan ajaran agamanya sesuai dengan firman\nAllah di atas. Bersamaan dengan itu, dia hanya mau menjadi pemimpin yang\nmengikuti petunjuk Allah. Memang, pemimpin kelas utama senantiasa mendasarkan\ndarmabaktinya pada kesetiaan terhadap ajaran agamanya sekaligus menaati\nperintah Tuhannya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sikap\ndan pilihan kepemimpinan yang diambil oleh Siti Rafiah, walaupun konsekuensinya\nmungkin saja dia syahid di medan juang, ternyata termaktub di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>. Pedomannya\nseyogianya memang diterapkan oleh para pemimpin yang berkelas wira sejati. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201cBermula\nmakna raja itu jika dikata raja itu dengan makna <em>khalifah<\/em> yaitu Khalifah Rasulullah <em>Shalallahu Alaihi wa Sallam<\/em> pada mendirikan Islam dan menghukumkan\nakan segala hamba Allah dengan hukuman Quran dan hadits dan ijma,\u201d (Haji dalam\nMalik (<em>Ed<\/em>.), 2013).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seperti itulah sikap dan watak\nkepemimpinan yang dipilih oleh Sultan Duri. Dia sedikit pun tak rela jika\nkepemimpinannya menyimpang dari ajaran Al-Quran, hadits, dan ijma ulama.\nPasalnya, dia yakin seyakin-yakinnya bahwa nilai-nilai itulah yang menjadi\npedoman kebenaran kepemimpinan yang sebenarnya karena berasal dari Allah dan\nRasul pilihan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Siti Rafiah tak rela bangsanya dipimpin oleh pemimpin yang mabuk kuasa seperti Sultan Syihabuddin dari Negeri Hindustan. Watak, sikap, dan perilakunya yang menjajah negeri orang tak boleh dibiarkan. Syair nasihat di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, bait 67 (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013) menggambarkan watak pemimpin yang serakah dan mabuk kuasa itu. <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Setengah yang kurang akal dan bahasa<\/em><br \/><em>Tingkah dan laku bagai raksasa<\/em><br \/><em>Syarak dan adat kurang periksa<\/em><br \/><em>Seperti harimau mengejar rusa<\/em><\/p>\n\n\n<p>Di dalam <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Pertama, bait 1, pemimpin kelas rendah itu digolongkan sebagai pemimpin yang tiada boleh dibilangkan nama. Dengan kata lain, namanya tak mendapat tempat dalam senarai pemimpin yang patut dikenang karena ketauladanan kepemimpinan. Pasalnya, dia enggan dan memang sengaja melanggar ketentuan agama dalam penyelenggaraan pemerintahannya.<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Barang siapa tiada mengenal agama<\/em><br \/><em>Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama<\/em><\/p>\n\n\n<p><strong>Padahal,\nbangsa-bangsa yang beradab dan bertamadun tinggi mendambakan pemimpinnya\nmenerapkan nilai-nilai religius sebagai dasar utama kepemimpinan. Pemimpin\nseperti itu tergolong yang menolong agama Allah, yang pada gilirannya Allah pun\nakan menganugerahkan-Nya inayah sehingga negeri yang dipimpinnya terhindar dari\nmalapetaka dan marabahaya.<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cWahai,\norang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan\nmenolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,\u201d (Q.S. Muhammad, 7).<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Firman\nAllah di atas merupakan janji-Nya kepada orang-orang yang beriman. Tentu, diharapkan\njuga kepada para pemimpin. Bahkan, Allah menegaskan lagi jaminan-Nya jika para\npemimpin bersedia menegakkan nilai-nilai ajaran agama-Nya dalam kepemimpinan.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDan,\npenuhilah janjimu kepada-Ku, nescaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu,\u201d (Q.S.\nAl-Baqarah, 40).<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tak akan pernah ada negeri yang tertimpa bala jika pemimpin dan rakyatnya memenuhi janji mereka kepada Allah. Jika sebaliknya yang terjadi, bermakna tinggal menunggu giliran dan waktu untuk menerima padah (akibat yang buruk). Kesemuanya memang telah menjadi janji manusia kepada Allah sehingga Dia Yang Mahakuasa yang segala kekuasaan dan kekuatan sesungguhnya di dalam genggaman-Nya tinggal mengeksekusinya saja: baik atau buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari\nAbu Darda\u2019 r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, \u201cSesungguhnya,\norang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu\ndimohonkan (kepada Allah SWT) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk\nyang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan,\u201d (H.R. Abu Dawud,\nat-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).<\/p>\n\n\n\n<p>Kenyataan\nitulah yang sungguh-sungguh diyakini oleh Siti Rafiah walaupun dia perempuan\nyang terpaksa menyamar menjadi laki-laki, selama dalam pelarian. Dia berjuang\nberdasarkan nilai-nilai agung yang memang diajarkan oleh Allah, tempat dia\nmemohon segala pertolongan. Dengan begitu, hatinya telah mantap dan tiada\nkeraguan sedikit jua untuk menghadapi Kerajaan Hindustan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kesemuanya\nitu ditempatkannya sebagai kewajiban, yang tak sekadar untuk membela negerinya\nyang tertawan. Akan tetapi, lebih-lebih tugas itu menjadi tanggung jawab utamanya\nsebagai pemimpin kepada Tuhan. Niatnya telah terpasang sehingga tak perlu ragu\nwalaupun jiwanya harus terkorban. Hidup hina menjadi bangsa jajahan harus\ndilawan dengan bersandarkan sepenuhnya kepada petunjuk dan inayah Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi\nSultan Duri, dia tak rela menjadi pemimpin yang dibinasakan oleh Allah karena\nkesombongan diri. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa keberhasilannya menghimpun\nkekuatan untuk memerdekakan negerinya semata-mata karena ridha Ilahi. Dia tak\nhendak menjadi pemimpin yang mengundang bala seperti yang dinukilkan oleh <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em> berikut ini. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaka, dilakukan oleh Allah Taala adat hal\nmereka itu memerintahkan segala hamba Allah yang am, tiada hirau mereka itu\nakan raja-raja dan orang kaya-kaya dan orang yang gagah berani. Maka, barang\nsiapa daripada raja atau orang kaya-kaya atau orang yang gagah berani\nmengerintangi dan melawan takabur atas segala anbia dan aulianya dan ulama\nal-amilin, maka datanglah murka Allah Taala atas mereka itu. Ada kalanya dengan\ntunai atau dengan bertangguh seperti kebanyakan hikayat yang dahulu-dahulu,\nbeberapa kaum dibinasakan oleh Allah Taala\u2026.\u201d (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013).<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah kualitas kepemimpinan Sultan Duri\natau Siti Rafiah. Dia adalah tipe pemimpin yang secara ikhlas tunduk dan patuh\nterhadap perintah dan petunjuk Allah. Dengan begitu, dia berharap\nkepemimpinannya akan senantiasa beroleh berkah.<\/p>\n\n\n\n<p>Para pemimpin kelas utama seperti Siti Rafiah memang sangat meyakini nilai-nilai kebenaran syair nasihat di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, bait 67 (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013). Nilai-nilai itu senantiasa dijadikannya sebagai suluh sehingga negerinya tak perlu hancur dan lagi luluh. <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Hendaklah anakanda mengaji selalu<\/em><br \/><em>Dari yang lain lebihkan dulu<\/em><br \/><em>Had syarak jangan dilalu<\/em><br \/><em>Tidaklah anakanda beroleh malu<\/em><\/p>\n\n\n<p>Bukankah <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Pertama, bait 3, juga telah menjamin akan kepemimpinan yang bersandarkan petunjuk Allah? Oleh sebab itu, jika itu menjadi pilihan nilai kepemimpinan, tak ada alasan untuk berhati gundah. Pasalnya, dia akan terhindar dari sikap dan perbuatan kepemimpinan yang mengundang padah.<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Barang siapa mengenal Allah<\/em><br \/><em>Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah<\/em><\/p>\n\n\n<p>Bagi rakyat, pemimpin seperti itu memang sangat\ndidambakan karena dia telah mewakafkan dirinya untuk menjadi penolong. Pada\ngilirannya, pemimpin berkelas utama seperti itulah yang harus disokong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan, orang-orang yang beriman, lelaki dan\nperempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang\nlain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar,\nmendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan\nRasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa\nlagi Mahabijaksana,\u201d (Q.S.\nAt-Taubah, 71).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memang\nistimewa pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya sejalan dengan penegakan\nnilai-nilai agama Allah. Dia terjamin karena tak pernah berani melawan petunjuk\nAllah. Lagi pula, jika matlamat kejayaan sejati yang hendak dicapai, cara\nsatu-satunya yang harus dilakukan adalah taat-setia kepada Allah. Dari situlah\nmengalirnya segala berkah dan faedah. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata\nbahwa Rasulullah SAW bersabda, <em>\u201cBarang siapa yang taat kepadaku berarti dia\ntelah taat kepada Allah dan barang siapa yang durhaka terhadapku, maka dia\ntelah durhaka terhadap Allah,\u201d (H.R. <\/em>Bukhari dan Muslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, Siti Rafiah atau Sultan\nDuri\u2014dengan strategi dan taktik yang luar biasa hebatnya\u2014berjaya mengalahkan\nKerajaan Hindustan, yang konon negeri besar dan kuat yang tak mungkin kalah. Dia\nmampu memerdekakan negerinya, membebaskan para pemimpin negerinya, dan\nmembahagiakan rakyatnya karena dapat hidup di alam merdeka kembali seperti\ndahulu, sebelum kedatangan bangsa penjajah. <\/p>\n\n\n\n<p>Banggakah perempuan jelita, yang bertahun-tahun\nmemendam kesedihannya karena harus menyamarkan diri menjadi lelaki perkasa, itu\ndengan semua capaian gemilangnya yang telah teserlah? Matlamatnya telah\ntercapai melalui perjuangan yang tak mengenal lelah. Sebagai manusia, mungkin\ndia berbangga, atau lebih tepatnya berbahagia, atas segala hasil jerih payah.\nAkan tetapi, di atas kesemuanya itu dia semakin tunduk terhadap Allah. Begitulah\nanggunnya watak dan sikap kepemimpinan seorang Siti Rafiah. <\/p>\n\n\n\n<p>Di bawah kepemimpinan terbilang seperti itulah\nsetiap negeri akan beroleh berkah. Bukan pemimpin yang tampilan depannya\nterlihat elok tanpa sebarang noktah, tetapi di belakang ternyata berpaling\ntadah. Itulah pemimpin yang tak mampu mengaji pedoman Allah.*** <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ARKIAN pada suatu hari Sultan Duri (nama samaran Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk), penguasa Kerajaan Barham, berkunjung ke istana Jamaluddin, mantan Sultan Barham. Setelah keduanya bertemu, Sultan Duri menyampaikan maksud kedatangannya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cKakanda, maksud kedatangan adinda ini untuk meminta pertimbangan dan nasihat Kakanda,\u201d kata Sultan Duri seraya memandang abang iparnya yang bijaksana itu. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2749,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[32,4,347],"tags":[],"class_list":["post-3135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-melayu-hari-ini","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Oz","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3135"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3135\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3136,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3135\/revisions\/3136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}