{"id":3042,"date":"2019-07-29T02:57:48","date_gmt":"2019-07-28T19:57:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3042"},"modified":"2024-07-09T17:25:23","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:23","slug":"pembuktian-seorang-tun-irang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/pembuktian-seorang-tun-irang\/","title":{"rendered":"Pembuktian Seorang Tun Irang"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cHAI,\nRaja Bugis! Jikalau sungguh Tuan hamba berani, tutuplah aib beta anak-beranak,\nadik-beradik! Maka, apabila tertutup aib beta semua, maka&nbsp; relalah beta menjadi hamba Raja Bugis. Jika\nhendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun relalah beta,\u201d (Liamsi 2019,\niii) dikutip dari <em>Tuhfat al-Nafis<\/em>\n(Ahmad &amp; Haji dalam Matheson (<em>Ed.<\/em>),\n1982).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat-kalimat menggelegar itu mengalir\nlancar dan mantap dari ucapan Tun Irang. Ucapan sarat makna itu ditujukannya\nkepada putra-putra Raja Bugis (Upu-Upu Lima Bersaudara: Daeng Parani, Daeng\nManambun, Daeng Marewa, Daeng Celak, dan Daeng Kumasi). Karena situasinya\nmemang luar biasa, Tun Irang, putri tertua Allahyarham Tun Abdul Jalil itu,\nmenyampaikan permintaan sekaligus cabaran (tantangan)-nya kepada Daeng Parani\nadik-beradik, yang sedang duduk di selasar (serambi) seraya putri itu melakukan\natraksi menyelak bidai (tirai dari bambu) dan melepak subang di telinganya dari\nrumah ibu (ruang tengah). Peristiwa itu terjadi di Istana Sayap Kesultanan\nRiau-Johor, Ulu Riau, Pulau Bintan, tempat Tun Irang adik-beradik ditawan pada tengah\nmalam awal 1721. <\/p>\n\n\n\n<p>Novel <em>Selak\nBidai Lepak Subang Tun Irang<\/em> merupakan karya terbaru (2019, terbitan Tare\nBooks, Jakarta) karya Datuk Seri H. Rida K Liamsi, M.B.A. Selain sebagai\nwartawan senior dan budayawan terkemuka Melayu, beliau secara nasional juga\ndikenal sebagai penyair dan novelis yang handal. Rida-lah yang menjadi\npenggagas diperingatinya <em>Hari Puisi\nIndonesia<\/em>. Umumnya novel-novel Rida K Liamsi memang berlatar sejarah.\nDemikian juga novel terbarunya ini, diangkat dari kisah nyata dalam perjalanan\nKesultanan Johor-Riau-Pahang-Terengganu, yang di dalamnya termasuk Singapura\natau Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang setelah Terengganu mendirikan kerajaan\nsendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Novel itu diluncurkan pada Rabu, 17 Juli\n2019, di Ruang Studio&nbsp; Perpustakaan Raja\nMuhammad Yusuf al-Ahmadi, Provinsi Kepulauan Riau, Jalan Basuki Rahmat 1,\nTanjungpinang. Sempena peluncurannya, novel itu juga dibahas oleh Abdul Malik,\nSiti Rohana (antropolog), dan Aswandi Syahri (sejarawan), yang dipandu oleh\nsastrawan muda Fatih Muftih dan dihadiri para tokoh masyarakat, pejabat, guru,\nmahasiswa, dan pelajar Kota Tanjungpinang. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Novel yang mengangkat ketokohan Tun\nIrang (Tengku Tengah) ibni Sultan Abdul Jalil Riayat Syah ini terdiri atas\nprolog, tujuh bab, dan epilog. Karya ini dikemas dalam bentuk surat-surat dari tokoh\n<em>aku<\/em> yang ditujukan kepada perempuan\nyang disapanya <em>Mur<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prolog\nmemperkenalkan tokoh-tokoh perempuan yang pernah mewarnai Kesultanan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang: Tun Irang (Tengku Tengah), Engku Puteri Raja Hamidah,\ndan Tengku Embung Fatimah. Tun Irang dengan <em>selak\nbidai dan lepak subang <\/em>di telinganya berhasil menaklukkan hati Upu-Upu\nBugis Luwuk. Kemudian, bersama abangnya, Tengku Sulaiman dan Tun Abbas, mereka berjaya\nmengambil kembali tahta dari Raja Kecik, orang yang merebut kerajaan itu dari\nSultan Abdul Jalil Riayat Syah melalui kudeta berdarah. Mereka memindahkan\npusat pemerintahan dari Johor Lama di Semenanjung Melaka ke Ulu Riau di Pulau\nBintan. Kesultanan Riau-Johor merupakan penerus Kerajaan Johor, penerus Melaka,\npenerus imperium Melayu Besar yang sudah berdiri sejak 1160 di Pulau Bintan\n(Liamsi 2019, 3\u20144).<\/p>\n\n\n\n<p>Bab 1 berkisah tentang peristiwa ini. Pada\n1718 Sultan Abdul Jalil Riayat Syah digulingkan oleh Raja Kecik yang mengaku\nsebagai putra Sultan Mahmud Syah II (Marhum Mangkat Dijulang). Sultan Mahmud\nSyah II adalah Sultan Johor-Riau-Pahang-Terengganu yang mangkat dibunuh oleh\nMegat Seri Rama karena Baginda menghukum istri Laksemana Johor itu dengan\nmembelah perut Dang Anum yang makan seulas nangka milik sultan. Ketika itu Dang\nAnum sedang hamil sulung. Sultan Mahmud tak memiliki keturunan sehingga Tun Abdul\nJalil yang ketika itu menjadi Bendahara ditabalkan menjadi Sultan. Setelah 20\ntahun Sultan Abdul Jalil berkuasa, Raja Kecik menyerang Johor dengan bantuan\nOrang-Orang Selat dari Singapura.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kalah perang dan sebagai hasil\nrekonsiliasi, Tun Abdul Jalil diturunkan kembali ke jabatan awalnya sebagai Bendahara\ndan Raja Kecik dilantik menjadi Sultan. Selain itu, Raja Kecik meminta Tun\nIrang, putri tertua Tun Abdul Jalil, menjadi istrinya. Pertunangan itu, kemudian,\ndibatalkan secara sepihak oleh Raja Kecik karena dia melihat dan jatuh hati\npula kepada Tengku Kamariah, adik kandung Tun Irang. Raja Kecik akhirnya menikah\ndengan Tengku Kamariah. Sebelum itu, dia telah menaklukkan Adipati Mata Kucing,\npenguasa Palembang, dan menikahi putrinya. Tun Irang berasa marwahnya sebagai\nperempuan telah diinjak-injak oleh orang yang mengaku putra Sultan Mahmud Syah\nII, yang padahal mangkat tak meninggalkan keturunan. <\/p>\n\n\n\n<p>Tun Abdul Jalil sekeluarga tak rela\nbertuankan Raja Kecik. Mereka melarikan diri ke Pahang, termasuk membawa Tengku\nKamariah. Malangnya, dalam perjalanan mereka dihadang oleh pasukan Raja Kecik\nyang dipimpin oleh Nakhoda Sekam. Setelah selesai shalat subuh, Tun Abdul Jalil\ndan anaknya Tun Nara Wangsa dibunuh oleh Nakhoda Sekam atas perintah Raja Kecik\ndi Kuala Pahang (Malaysia, sekarang). Tun Irang yang terbangun tak lama setelah\nperistiwa naas itu mengamuk dan menebas sesiapa pun yang berada di sekitar\njenazah ayahnya dengan menggunakan sundang (pedang panjang) ayahnya. Kapal yang\nmembawa keluarga Tun Abdul Jalil mandi darah pada subuh yang pilu itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekian lama mengamuk, putri yang mahir\nbersilat itu pun pingsan karena didera oleh kesedihan dan dendam yang membara. Dengan\ntangan terikat, Tun Irang bersaudara yang masih hidup dibawa ke Ulu Riau di\nPulau Bintan (kawasan Kota Tanjungpinang, sekarang) yang menjadi pusat\nKesultanan Riau-Johor-Pahang-Terengganu kala itu. Mereka ditawan di Istana\nSayap dengan penjagaan yang superketat. Perlakuan yang mereka terima itulah\nyang memicu dendam Tun Irang terhadap Raja Kecik. Disaksikan subuh pilu Kuala\nPahang yang berdarah, di hadapan jenazah ayahanda dan saudara kandungnya Tun\nNara Wangsa yang sangat dicintainya, Tun Irang bersumpah, Raja Kecik akan\nmenerima padah (akibat buruk) karena perbuatannya itu!<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bab 2 dikisahkan beberapa bulan\nsetelah pembunuhan itu, sekitar awal 1721, berlangsung pertemuan rahasia antara\nputra-putri Marhum Kuala Pahang dan Upu-Upu Bugis Lima Bersaudara di selasar\nIstana Sayap milik Raja Kecik di Ulu Riau. Di tempat itulah Tun Irang menantang\nDaeng Parani adik-beradik dengan ucapannya yang menggetarkan sukma sesiapa pun\nlelaki sejati yang mendengarnya. Semangat para putra bangsawan Bugis itu pun bergelora\ndibuatnya sehingga tak kuasa mereka menolak daya magis ucapan Tun Irang, yang\nbahkan memang jelita pula.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengembaraan para bangsawan Bugis Luwuk\nketurunan La Madussalat terjadi setelah berakhirnya Perang Makassar 1669. Kedatangan\nDaeng Rilaka dan anak-anaknya yang lima orang itu serta para pengikutnya dari\nLuwuk melalui Laut Natuna sehingga mereka sampai ke Semenanjung Melayu, negeri\nharapan yang memang menjadi tujuan perantauan mereka. Sebetulnya, untuk menyerang\nJohor, Raja Kecik terlebih dahulu minta bantuan Upu-Upu Bugis Lima Bersaudara. Putra-putra\nRaja Bugis itu bersetuju. Alih-alih, Raja Kecik mengingkari perjanjiannya\nkarena dia telah mendapatkan bantuan Orang-Orang Selat di Singapura. Upu-Upu\nBugis Lima Bersaudara marah karena mereka dikhianati oleh Raja Kecik. Buku\nbertemu ruas, Tun Irang adik-beradik dan putra-putra Raja Bugis Luwuk memiliki\ndendam yang sama, sama-sama berasa dikhianati oleh Raja Kecik, sehingga mereka\nberkoalisi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bab 3 berkisah tentang peperangan antara\npasukan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayat Syah yang dibantu oleh pasukan Upu-Upu\nLima Bersaudara melawan pasukan Raja Kecik. Setelah melalui peperangan yang\nagak lama, pasukan koalisi Melayu-Bugis itu berhasil mengalahkan pasukan Raja\nKecik. Sesuai dengan kesepakatan politik dalam pertemuan rahasia di Istana\nSayap, Tengku Sulaiman (kakanda Tun Irang) dipilih menjadi Sultan Riau-Johor-Pahang,\nTun Abbas (kakanda Tun Irang juga) menjadi Bendahara. Daeng Marewa (putra\nketiga Raja Bugis) terpilih sebagai Yang Dipertuan Muda, jabatan satu tingkat\ndi bawah Sultan. <\/p>\n\n\n\n<p>Bersamaan dengan itu, dimulailah\npersemendaan Melayu-Bugis di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dengan\npernikahan di antara putra-putri bangsawan itu. Tun Irang menikah dengan Daeng\nParani, Tun Cik Ayu dengan Daeng Marewa, Tengku Mandak dengan Daeng Celak, dan\nlain-lain. Setelah para pembesar itu ditabalkan, diikrarkanlah Sumpah Setia\nBugis-Melayu, yang diucapkan oleh Yang Dipertuan Muda I Riau-Johor Daeng Marewa\ndi hadapan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Isi sumpah setia itu mereka akan\nsenantiasa bersama dalam suka dan duka, saling menolong, dan tak dapat lagi\ndipisahkan sejak hari itu. Mereka dan keturunan merekalah yang akan menjaga\nmarwah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, tak satu pihak pun boleh\nberkhianat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bab 4 dikisahkan sekitar 1723 Daeng\nParani bersama istrinya Tun Irang beserta Daeng Manambun dan Daeng Kumasi pergi\nke Selangor. Daeng Parani, yang paling berhak atas jabatan Yang Dipertuan Muda\nI Riau-Johor karena beliau putra tertua, justeru menolak jabatan itu, yang\ndiserahkannya kepada adiknya Daeng Marewa. Beliau lebih memilih menjadi\npemimpin perang membantu putra tua Sultan Kedah, Muhammad Jiwa, yang berperang\nmelawan adiknya sendiri, Raja Nambang. Dalam perang itu, tahap pertama\ndimenangi oleh Daeng Parani dan Muhammad Jiwa. Akan tetapi, Raja Nambang yang\nkalah, kemudian minta bantuan kepada Raja Kecik. Daeng Parani gugur dalam\npertempuran kedua terkena tembakan Raja Kecik dan pasukannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepedihan semakin dirasakan oleh Tun Irang\nkarena kali ini beliau kehilangan suami, apatah lagi ketika itu beliau sedang\nmengandung anak pertama hasil pernikahan dengan Daeng Parani. Tun Irang kembali\ndidera oleh luka sejarah karena perbuatan orang yang sama, Raja Kecik. Tun\nIrang melahirkan putrinya yang diberi nama Raja Maimunah, yang diperkirakan\nlahir pada 1723, di tengah berkecamuknya Perang Kedah. Putri Daeng Parani dan\nTun Irang itu merupakan keturunan Bugis-Melayu pertama menggunakan gelar\nbangsawan Raja. Sesuai dengan perjanjian mereka, anak-cucu bangsawan\npersemendaan Melayu-Bugis itu tak lagi menggunakan gelar bangsawan Tengku\n(Melayu) atau Daeng (Bugis), tetapi Raja (Melayu-Bugis).<\/p>\n\n\n\n<p>Bab 5, 6, dan 7 menceritakan perjalanan\nsejarah yang dijalani oleh anak-cucu Tun Irang. Pemerintahan Kesultanan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang mengalami pasang-surut di tangan generasi penerus itu\nsampailah kedatangan penjajah Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Epilog novel ini ditutup dengan <em>akhir bahagia<\/em>. \u201cAnak-cucu Tun Irang\u2014tentu\nbersama Daeng Parani\u2014dan Tun Abbas (kakanda Tun Irang) berhasil mengubah\nwilayah ini menjadi beberapa kerajaan baru: Kerajaan Johor, Kerajaan Pahang,\ndan lebih dulu Kerajaan Terengganu yang selalu menjadi benteng Melayu.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Jika tak membaca buku ini, tak sesiapa pun\nakan memperhitungkan bahwa Tun Irang (Tengku Tengah) itulah sebenarnya tokoh\nutama pembuat sejarah di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, juga Terengganu,\nbahkan Selangor. Pasalnya, beliau hanyalah putri tertua Bendahara Johor, Tun\nAbdul Jalil, yang kemudian ayahandanya itu menjadi Sultan Johor-Riau\n(1699\u20141718). Beliau bukanlah permaisuri Sultan atau istri Raja Muda, yang\nmembuat keputusan politik. Beliau hanyalah istri Daeng Parani, saudara tertua\ndari Upu-Upu Lima Bersaudara, yang lebih memilih menjadi panglima perang\ndaripada menjadi pejabat teras kerajaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Novel ini menunjukkan kejelian dan\nketelitian yang luar biasa seorang Rida K Liamsi dalam membaca peristiwa\nsejarah. Alhasil, setelah membaca novel sejarah ini, tak terbantahkan bahwa Tun\nIrang-lah yang menjadi penentu hitam-putihnya Kesultanan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang selama tak kurang dari 190 tahun (1722\u20141912).<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan sebetulnya, novel ini juga secara\nsorot balik merujuk kepada kerajaan-kerajaan sebelumnya, terutama Kerajaan\nMelaka, tetapi juga Kerajaan Bintan yang berdiri pertama di Pulau Bintan.\nAlhasil, karya ini menyajikan peristiwa-peristiwa bersejarah sejak Kerajaan\nBintan, Kerajaan Melaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan daerah\ntakluknya, Kerajaan Siak Sri Inderapura, Kesultanan Riau-Lingga, bahkan sampai\nke Kesultanan Johor, Kesultanan Pahang, dan Kesultanan Terengganu dan Selangor yang\nbaru di Semenanjung Malaysia sekarang. Dengan masa awalnya sejak Kerajaan\nBintan (1160), rentang waktu yang diliputi oleh novel ini tak kurang dari 750\ntahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Tokohnya pula, dengan hanya memilah\ntokoh-tokoh penting saja pada setiap periode kerajaan-kerajaan itu, sangat\nbanyak. Bersama peristiwa yang beraneka ragam yang dialami para tokohnya yang\nbanyak itu, penceritaan memang harus dilakukan dengan menggunakan alur\nmaju-mundur (alur campuran). Apatah lagi, ketika novel ini memang hendak\n\u201cmembuktikan\u201d bahwa Tun Irang-lah <em>Sang\nPembuat Sejarah<\/em> itu. Artinya, ketokohannya mesti dikaitkan dengan semua\ntempat (kerajaan), semua peristiwa, dan semua waktu (sejak 1718\u2014sekarang). <\/p>\n\n\n\n<p>Penyerasian peristiwa, pelaku, dan waktu\nyang panjang itu memerlukan pengalaman, ketelitian, dan kecerdasan literasi\nyang luar biasa. Kemampuan dan kemahiran seperti itu memang hanya sanggup ditunjukkan\noleh orang yang setiap waktu tak pernah lepas dari atau tunak dalam tradisi\nliterasi (membaca dan menulis secara kritis dan bertimbal balik).<\/p>\n\n\n\n<p>Novel ini berisi maklumat dan fakta\nsejarah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Terengganu yang paling lengkap\ndengan peristiwa, pelaku, dan waktunya. Untuk itu, penulisnya harus merujuk\npelbagai sumber untuk menjelaskan tokoh-tokohnya: Tun Irang, Tun Abdul Jalil, Tengku\nSulaiman, Raja Kecik, dan lain-lain. Kesemuanya itu bukanlah pekerjaan yang\nmudah, apatah lagi maklumat dan faktanya memang bercanggah. Bahkan, beberapa\ntokoh yang walaupun rujukannya telah diupayakan dipersilangkan sedemikian rupa\ndan secermat mungkin, &nbsp;tetap juga masih\nmenimbulkan pertanyaan, kalau tak mau disebut kecurigaan, terhadap asal-usul\ndan susur-galurnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesiapa pun yang hendak mengetahui dan\nmemahami sejarah panjang kerajaan dan orang Melayu di rantau ini serta persemendaannya\ndengan keturunan Bugis memang patut membaca novel sejarah ini. Ianya lebih\nmustahak lagi bagi orang Melayu yang menjadi pewaris dan ahli waris sah sejarah\ndan budaya Melayu di kawasan Kerajaan Bintan, Melaka, Riau-Lingga-Johor-Pahang,\ndan Riau-Lingga. Tentu, termasuk orang Melayu di Kerajaan Johor, Pahang,\nTerengganu, Selangor, dan Kedah (di Malaysia sekarang). Dengan begitu, generasi\npenerus ini lebih memahami jati diri mereka, keunggulan dan kelemahan diri\nmereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan novel ini, Rida K Liamsi telah\nberhasil meyakinkan pembacanya bahwa atraksi \u201cs\u00e9lak bidai l\u00e9pak subang\u201d [<em>e<\/em> dibaca seperti pada kata <em>tengok<\/em>, HAM] dan kalimat lirih lagi mencabar\ndi hadapan Upu-Upu Lima Bersaudara itulah, yang menentukan perjalanan sejarah\nKesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang tak kurang dari 190 tahun. Beliau telah\nmengotakan (melaksanakan) kata-katanya di hadapan jenazah ayahandanya di Kuala\nPahang di subuh berdarah yang pilu pada 1720. Pada 1895 Temenggung Abu Bakar ditabalkan\nmenjadi Sultan Johor yang baru. Baginda adalah keturunan Tun Irang melalui anaknya\nRaja Maimunah, melalui cucunya Tun Husin alias Daeng Ibrahim.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat \u201cKerajaan Riau-Johor-Pahang\ndimulai oleh Dinasti Tun Abdul Jalil, ditutup oleh dinasti Daeng Celak,\u201d pada\nakhir novel seyogianya dimaknai sebagai cabaran selanjutnya, bukan padah! Bagi\nsaya pula, dengan eksisnya Kerajaan Johor, Pahang, Terengganu, dan Selangor\nyang baru, Tun Irang telah berjaya membuktikan bahwa ayahandanya, Sultan Abdul\nJalil Riayat Syah, adalah sah keturunan Bukit Siguntang Mahameru.<\/p>\n\n\n\n<p>Jati diri Baginda yang sejak 1699\ndiragukan oleh sebagian rakyatnya, sehingga membuat terpecah-belahnya\nKesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Terengganu, puncaknya terkorbannya Sang\nSultan pada 1720 di Kuala Pahang, ternyata salah. Bahkan, Sultan Abdul Jalil melalui\nanak-cucunya telah menyumbangkan tiga pahlawan nasional bagi Republik\nIndonesia: Sultan Mahmud Riayat Syah, Raja Haji Fisabilillah, dan Raja Ali\nHaji. Perjuangan mereka pun ada hubungannya dengan saudara-saudara mereka di\nMalaysia dan Singapura sekarang. Jumlah itu akan bertambah pada tahun-tahun\nmendatang. <\/p>\n\n\n\n<p>Amat mustahil seseorang yang jati dirinya\ntak jelas boleh menghasilkan keturunan yang berprestasi luar biasa bagi bangsa\ndan negara. Kesemuanya itu hendaklah menjadi tauldan bagi kita yang hidup pada\nhari ini. Janganlah mudah dipecah-belah. Daulat Tuanku! Dan, tahniah Datuk Seri\nH. Rida K Liamsi.***&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cHAI, Raja Bugis! Jikalau sungguh Tuan hamba berani, tutuplah aib beta anak-beranak, adik-beradik! Maka, apabila tertutup aib beta semua, maka&nbsp; relalah beta menjadi hamba Raja Bugis. Jika hendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun relalah beta,\u201d (Liamsi 2019, iii) dikutip dari Tuhfat al-Nafis (Ahmad &amp; Haji dalam Matheson (Ed.), 1982). &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat-kalimat menggelegar itu mengalir&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":3043,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[32,4,10,347],"tags":[],"class_list":["post-3042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-melayu-hari-ini","category-minda","category-sastra-melayu","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":4,"label":"Minda"},{"value":10,"label":"Sastra"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-juli-tunirang.jpg?fit=1024%2C608&ssl=1",1024,608,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":10,"name":"Sastra","slug":"sastra-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":60,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":60,"category_description":"","cat_name":"Sastra","category_nicename":"sastra-melayu","category_parent":0},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-juli-tunirang.jpg?fit=1145%2C680&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-N4","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3042"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3042\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3044,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3042\/revisions\/3044"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3043"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}