{"id":3034,"date":"2019-07-22T09:39:15","date_gmt":"2019-07-22T02:39:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3034"},"modified":"2024-07-09T17:25:23","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:23","slug":"baju-kamus-dan-sikap-raja-ali-haji-terhadap-rempuhan-kolonialisme-pada-abad-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/baju-kamus-dan-sikap-raja-ali-haji-terhadap-rempuhan-kolonialisme-pada-abad-19\/","title":{"rendered":"Baju, Kamus, dan Sikap Raja Ali Haji  Terhadap Rempuhan Kolonialisme Pada Abad 19"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201c\u2026 <em>Adapun sekarang ini, yakni waktu masa aku\nmengarang kitab <\/em>[Pengetahun\nBahasa]<em> ini, maka tiada lah aku\nlihat lagi pakaian orang Melayu seperti pakaian adat istiadat lama. Bercampur\nbaur dengan kaidah pakaian orang Inggris, dan Holanda <\/em>[Belanda]<em>, dan Cina<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Baris-baris\nkalimat pumbuka ruang <em>Kutubkhanah<\/em> minggu ini adalah bagian dari\npenjelasan panjang Raja Ali Haji tentang lema, kata, atau frasa <em>baju<\/em> dalam kamusnya yang sangat\nterkenal, <em>Kitab Pengetahuan Bahasa<\/em>.\nKitab kamus dengan sub-judul <em>Kamus Logat\nMelayu Johor, Pahang, Riau dan Lingga<\/em> tersebut diterbitkan oleh <em>Mathba\u2019ah al-Ahmadiah<\/em> Singapura secara\nberpenggal-penggal antara tahun 1926 hingga 1929.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Manuskrip kamus itu mulai dikerjakan\nRaja Ali Haji di Pulau Penyengat pada tahun 1858. Namun, intensitas\npengerjaannya semakin bergairah ketika Raja Ali Haji sedang sibuk-sibuknya mengumpulkan\nsegala <em>bahasa<\/em> (kosakata) dalam bahasa\nMelayu, dan menuliskan makna-maknanya sempena membantu Hermaan von de Wall yang\nsedang menyusun kamus Bahasa Melayu-Bahasa Belanda di Tanjungpinang antara\nakhir tahun 1867 hingga awal-awal tahun 1870.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seperti telah ditunjukkan oleh Raja\nAli Haji dalam surat-suratnya kepada Von de Wall (Jan van der Putten: 2007),\npada satu sisi, \u2018persahabatan intelektualnya\u2019 dengan <em>tallvorser<\/em> (pegawai bahasa) Belanda berdarah Jerman itu adalah\nsalah satu \u2018pemicu\u2019 bagi model penjelasan setiap lema atau \u2018kata kepala\u2019 dalam <em>Kitab Pengetahuan Bahasa <\/em>yang dihasilkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut Raja Ali Haji, model\npenjelasan secara <em>mufrad<\/em> (penjelasan\nyang singkat dan sederhana, yang lazim digunakan Von de Wall dalam kamusnya)\ntidak sesuai untuk untuk orang Melayu, dan kamus Bahasa Melayu yang ditujukan\nuntuk orang Melayu yang sedang disusunnya. Dalam sepucuk surat kepada Von de\nWall bertarikh 12 Maret 1872, Raja Ali Haji menjelaskan bagaimana konsep kamus bahasa\nMelayu yang sedang disusunnya:<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201c<em>Bermula<\/em> <em>adapun kamus yang hendak diperbuat itu, yaitu bukannya seperti kamus yang\nseperti paduka sahabat kita itu. Hanyalah yang kita hendak perbuat, bahasa\nMelayu yang tertentu, bahasa pada pihak Johor dan Riau Lingga jua. Akan tetapi\ndibanyakan bertambah di dalam qissah2, cerita2, yang meumpamakan dengan kalimah\nyang mufrad, supaya menyukakan hati orang muda2 mutalaahnya, serta syair2\nMelayu yang sedikit2<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Konsep Raja Ali Haji tentang kamus bahasa\nMelayu, yang bertolak belakang dengan kamus Bahasa Melayu-Belanda garapan Von\nde Wall yang sedang ia bantu pengerjaannya dalam waktu yang bersamaan,\nsesungguhnya dapat dilihat sebagai bentuk \u2018perlawanan intelektual\u2019 dalam arti\nyang sesungguhnya dan sekaligus perlawanan terhadap politik bahasa pemerintah kolonial\nBelanda dalam bentuk yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Raja Ali Haji tak bergeming ketika\nsadar bahwa model penjelasan <em>muffasar<\/em>\n(model penjelasan yang panjang lebar dengan memanfaatkan berbagai media\nseperti: syair dan cerita) yang ditawarkankannya untuk kamus yang disusun oleh\nVon de Wall tak mendapat tanggapan. Dalam sepucuk surat bertarikh 1 September\n1870, Raja Ali Haji dengan tegas mengatakan, \u201c\u2026<em>Adapaun makna mufassar <\/em>[akan dimuat]<em> pada kamus yang dicadangkan khas pada orang-orang Melayu jua adanya<\/em>\u201d:\ndan ternyata hal ini lah yang kemudian memungkinkan kamusnya tampil sebagai\nkamus ensiklopedis eka-bahasa pertama dalam sejarah leksikografi Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kendati demikian, di sisi lain, persahabatan\ndan hubungan intelektual antara Raja Ali Haji dan Von de Wall sesungguhnya\nbagaikan \u2018seligi tajam bertimbal\u2019 di mata Resident Riouw, Eliza Netscher,\nketika itu. Dengan kata lain, persahabatan erat yang-menurut istilah Raja Ali\nHaji- berkekalan antara keduanya bukanlah refleksi hubungan Raja Ali Haji\ndengan pemerintah kolonial Belanda di Kerajaan Riau Lingga. Sikap Resident\nRiouw ini erat kaitannya pengaruh Raja Ali Haji yang sangat besar terhadap\nYamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf, yang dianggap sebagai ancaman yang berbahaya\ndi mata Resident Eliza Netscher. Dalam <em>Politiek\nVerslag<\/em> (Laporan Politik) tahun 1869, Resident Netscher juga meyakinkan\natasannya di Batavia, bahwa Raja Ali Haji \u201cterlalu alim dan membenci orang\nEropa\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Betapa pun derasnya arus politik\nkolonial dalam hubungan persahabatan dan hubungan intelektual antara Raja Ali\nHaji dan Von de Wall, ianya tak menjejaskan identitas Raja Ali Haji Haji\nsebagai orang Melayu di negeri yang sedang dijajah. Ia sadar akan rempuhan\npengaruh kolonial Belanda, serta pengaruh Inggris dan budaya lainnya yang\nsedang mengalir deras ke dalam kehidupan masyarakatnya ketika itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sikap Raja Ali Haji terhadap\npengaruh kolonial dan anasir-anasir luar dalam kehidupan orang Melayu tergambar\njelas dalam <em>Kitab Pengetahuan Behasa<\/em>,\nterutama ketika ia menjelaskan lema atau frasa <em>baju<\/em> secara <em>mufassar<\/em>\n(secara panjang lebar). Penjelasan <em>mufassar\n<\/em>itu, sekali lagi, seperti \u2018seligi tajam bertimbal\u2019: sebuah autokritik dan\nsekaligus perlawanan terhadap dampak rempuhan kolonialisme yang telah\nmenjejaskan cara orang Melayu berbusana, dan berdampak terhadap sikap dan gaya\nhidup.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah menjelaskan makna <em>baju<\/em> dalam konteks makna kamusnya, Raja\nAli Haji menjelaskan bagaimana bentuk baju atau busana seorang laki-laki Melayu\nsebagaimana adat lazimnya. Namun, busana orang Melayu itu telah berubah secara\ndahsyat ketika ia menyusun <em>Kitab\nPengetahuan Bahasa<\/em>. Saya yakin Raja Ali Haji sadar bahwa arus perubahan itu\ntak dapat dibendung, namun, ia punya sikap: \u201c<em>Syahdan, pada penglihatan mataku sangat lah tampan orang-orang Melayu\nmemakai cara Melayu yang dahulu-dahulu, tiada bengis rupanya<\/em>\u2026\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nRaja Ali Haji, perubahan-perubahan dalam busana laki-laki Melayu ketika itu\ntidak hanya telah merubah gaya hidup dan sikap, tapi juga dapat merusakkan\nadat-istiadat dan menjejaskan jati diri orang Melayu. \u201c\u2026<em>Maka, segala yang tersebut itu, semata-mata merusakkan adat-istiadat bangsa\ndirinya. Maka pikiranku, pekerjaan demikian kurang manisnya. Jadi tiada lah\nberbeda lagi bangsa Melayu dengan bangsa Inggris, dan Holanda, dan Cina<\/em>\u2026\u201d Lebih\nparah lagi, perubahan busana yang dipakai seorang laki-laki Melayu ketika itu\ntelah merusak bahasa yang ia jaga sedemikian rupa. \u201c\u2026<em>Dan tutur kata pun berubah pula. Sungguh pun <\/em>[ber]<em>bahasa Melayu, dibuatnya kacau-kacau Holanda\natau Inggris pula<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lebih jauh tentang <em>baju<\/em> orang Melayu dengan penjelasan <em>mufassar<\/em>\nyang kontekstual dalam kamus Raja Ali Haji, saya sertakan secara utuh di bawah\nini. Dialihaksarakan dari huruf jawi ke huruf rumi berdasarkan edisi cetak\n(huruf timah) kamus Kitab Pengetahuan Bahasa yang diterbitkan oleh <em>Mathba\u2019ah al-Ahmadiah<\/em> Singapura, tahun\n1927.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baju dan\nMufassarnya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Baju.\nYaitu masyhur dipakai orang menutup badannya, serta jadi perhiasan. Akan\ntetapi, banyak macamnya, dan masing-masing kesukaan orangnya, dan masing-masing\nbangsanya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Adapun\npakaian orang [laki-laki] Melayu daripada dahulu, sehelai seluar [celana]\ndipakai di dalam, kemudian baharulah memakai kain Bugis kah atau sutera.\nLabuhnya [tergelantung] hingga lepas lutut, kira-kira sepelempap [selebar\ntelapak tangan]. Kemudian baharu lah memakai ikat pinggang, terkadang diluar\nkain, terkadang di dalam kain.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kemudian\nbaharu lah memakai baju, belah dada namanya, atau baju kurung. Kemudian\ndisisipkan keris, sebelah kiri, kepalanya keluar tiada meniarap, dan sapu\ntangan, bertanjak. Adapun seluarnya terkadang seluar ketat berkancing kakinya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Syahdan,\npada penglihatan mataku sangat lah tampan orang-orang Melayu memakai cara\nMelayu yang dahulu-dahulu, tiada bengis rupanya. Adapun sekarang ini, yakni\nwaktu masa aku mengarang kitab ini, maka tiada lah aku lihat lagi pakaian orang\nMelayu seperti pakaian adat istiadat lama. Bercampur baur dengan kaidah pakaian\norang Inggris, dan Holanda <\/em>[Belanda]<em>, dan Cina.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ada\nyang seluar pentolan namanya. Konon tiada lah memakai tali seluar lagi. Dan ada\nyang memakai baju bersusun-susun <\/em>[berlapis-lapis]<strong><em>. <\/em><\/strong><em>Ada yang memakai sarung\nkaki <\/em>[kaus kaki].<em> Ada yang berkasut <\/em>[beralas kaki] <em>sepatu seperti\npakaian orang putih. Dan terkadang jika malam tiada kenal akan orang Melayu\nmelainkan sapu tangan <\/em>[ikat kepala] <em>yang tinggal lagi. Itupun sudah pula\nsabur <\/em>[bercampu baur sehinga tak dapat dibedakan]<em> dengan topi Holanda <\/em>[Belanda]<em>,\nsebab sapu tangan itu dikanjinya keras, maka diikatnya dibentuk seolah-olah\ntopi jua.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dan\ntutur katapun berubah pula. Sungguhpun <\/em>[ber]<em>bahasa\nMelayu, dibuatnya kacau-kacau Holanda atau Inggris pula. Dan, ada yang setengah\nberkata-kata menyebut kata itu, bilang. Seperti katanya, dia bilang atau saya\nbilang. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dan\nsudah pula bahasa Melayu itu diubah pula peraturannya, seperti, pasti\ndikatakannya mesti. Dan jika berkata: \u201cNanti saya beritahu\u201d, dikata pula:\n\u201cNanti saya kasi tahu\u201d. Dan jika bertanya: \u201cIni berapa harga?\u201d, dikata, \u201cIni barang\nberapa punya harga?\u201d Dan banyak lagi lain-lain daripada itu, bahasa yang\ndikacau-kacaukan. Dan kelakuan, begitu pula. Seperti makan rokok daun tembakau\nyang besarnya <\/em>[mengusap cerutu]<em>, sambil bersirar-siar pergi\ndatang [<\/em>berjalan hilir mudik].<em> Jika berdua, disama-samakan langkah\nkakinya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Maka,\nsegala yang tersebut itu, semata-mata merusakkan adat-istiadat bangsa dirinya.\nMaka pikiran ku, pekerjaan demikian kurang manisnya. Jadi tiada lah berbeda lagi\nbangsa Melayu dengan bangsa Inggris, dan Holanda, dan Cina.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Sementalahnya\npula <\/em>[apalagi]<em>,\nyang makan-makan gaji <\/em>[bekerja]<em> dengan mereka itu, dan sekampung dengan\nmereka itu. Terkadang berjalan dengan seluar bulat <\/em>[celana panjang]<em>\nserta baju sahaja. Hanya lah sapu tangan <\/em>[ikat kepala]<em> di kepala sahaja\nyang tinggal lagi, tiada lah manis.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dan\nsekali-kali, dipandang seperti orang gila, atau seperti kanak-kanak. Kerana\norang Melayu berjalan berseluar bulat itu, tiada sekali-kali adatnya.\nBersalahan <\/em>[berbeda, berlainan dengan orang]<em> Inggris dan\nHolanda [Belanda] kerana pakaian mereka itu memang, adanya<\/em>\u201d.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201c\u2026 Adapun sekarang ini, yakni waktu masa aku mengarang kitab [Pengetahun Bahasa] ini, maka tiada lah aku lihat lagi pakaian orang Melayu seperti pakaian adat istiadat lama. Bercampur baur dengan kaidah pakaian orang Inggris, dan Holanda [Belanda], dan Cina\u2026\u201d Baris-baris kalimat pumbuka ruang Kutubkhanah minggu ini adalah bagian dari penjelasan panjang Raja Ali Haji tentang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":3035,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-3034","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/1_-3.jpg?fit=525%2C1024&ssl=1",525,1024,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/1_-3.jpg?fit=1539%2C3000&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-MW","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3034"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3034\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3036,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3034\/revisions\/3036"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}