{"id":3025,"date":"2019-07-18T03:07:55","date_gmt":"2019-07-17T20:07:55","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3025"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"seri-gunung-bahasa-melayu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/seri-gunung-bahasa-melayu\/","title":{"rendered":"Seri Gunung Bahasa Melayu"},"content":{"rendered":"\n<p>Selasa,\n9 Juli 2019, saya diundang untuk menjadi panelis dalam Program (Acara) Wacana\nSinar Ilmuwan tajaan bersama Majlis Profesor Negara dan Sinar Harian, Malaysia.\nAcara yang dikemas dalam bentuk <em>talk show<\/em>\nitu dilaksanakan di Dewan Karangkraf, Off Persiaran Selangor, Seksyen 15, Shah\nAlam, Selangor Malaysia. Selain saya dari Indonesia, juga diundang Tan Sri\nProf. Dr. Abdul Latiff Abu Bakar dari Universiti Islam Malaysia dan Prof. Datuk\nDr. Teo Kok Seong dari Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai panelis.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Acara\nitu juga dihadiri oleh Presiden dan Ketua Eksekutif Majlis Profesor Negara\nMalaysia, Prof. Datuk Dr. Raduan Che Rose, Timbalan (Wakil) Presiden Majlis\nProfesor Negara Malaysia, Prof. Dr. Kamaruddin M. Said, para pengurus Majlis\nProfesor Negara, tokoh-tokoh senior dan junior Malaysia, mahasiswa perguruan\ntinggi Malaysia, guru-guru, dan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di\nMalaysia. Program yang disiarkan secara tunda (<em>live delay<\/em>) dengan durasi lebih dari dua jam oleh TV Sinar,\nMalaysia, itu mengangkat topik \u201cBahasa Malaysia-Indonesia sebagai Bahasa\nDunia\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Salah\nsatu perkara yang terungkap dalam perbincangan itu adalah keunggulan bahasa\nMelayu\u2014yang di Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara disebut <em>bahasa Indonesia <\/em>dan di Malaysia disebut\n<em>bahasa Malaysia<\/em>\u2014adalah <em>hati budi<\/em> dan <em>budi pekerti<\/em> yang dikandunginya. Keunggulan itu, bahkan, diakui\noleh para pakar dan peneliti berkebangsaan asing. Itulah sebabnya, bahasa\nMelayu telah dianggap oleh bangsa asing\u2014Barat dan Timur\u2014sebagai bahasa dunia\natau bahasa internasional sejak zaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan\nMelaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Kesultanan Riau-Lingga, dan\nkesultanan-kesultanan lainnya di nusantara. Di dalam tulisan ini hati budi dan\nbudi pekerti bahasa Melayu itu saya sebut <em>seri\ngunung<\/em> karena ianya merupakan keindahan, keelokan, bahkan kecerdasan yang <em>tersirat<\/em> di dalam bahasa Melayu. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hati, budi,\ndan bahasa merupakan tiga serangkai di dalam diri manusia yang tak dapat\ndipisahkan dalam perannya membentuk jati diri seseorang. Hati menjadi tempat\nbernaungnya budi. Dalam pada itu, bahasa pula mencerminkan kualitas hati dan\nkehalusan budi. Hati yang terpelihara akan memancarkan budi yang patut dikenang\nuntuk selanjutnya melahirkan bahasa yang menawan. Persebatian hati, budi, dan\nbahasa yang terbela (terpelihara) membuat jasad\u2014siapa pun yang empunya\u2014rela\ntertawan tanpa perlawanan. Oleh sebab itu, kalau hati diibaratkan kerajaan,\nmaka budi menjadi tahtanya, dan bahasalah yang menjadi mahkotanya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube aligncenter wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<span class=\"embed-youtube\" style=\"text-align:center; display: block;\"><iframe class=\"youtube-player\" width=\"1290\" height=\"726\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/IaVsNDbyuto?version=3&#038;rel=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;fs=1&#038;hl=id-ID&#038;autohide=2&#038;wmode=transparent\" allowfullscreen=\"true\" style=\"border:0;\" sandbox=\"allow-scripts allow-same-origin allow-popups allow-presentation allow-popups-to-escape-sandbox\"><\/iframe><\/span>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p>Itulah\nkeperkasaan orang perseorangan, yang seyogianya dipupuk dan dibina di dalam\ndiri supaya mampu tampil sebagai sosok seorang bangsawan. Itulah kekuatan magis\nsebuah bangsa, yang seharusnya diolah sedemikian rupa untuk menjadi perekat\npersatuan dan kesatuan. Itulah yang sesungguhnya bagi kita menjadi \u201cpakaian\u201d\nyang paling padu, patut, dan padan\u2014yang kalau ada kenyakinan yang kuat untuk\nmembela (memelihara) dan memb\u00e9la (memperjuangkan)-nya\u2014dapat menjadi pakaian\nyang pokta (terelok dan terindah) sehingga menjadi bangsa yang terala (paling\nmulia) di dunia yang sarat persaingan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Raja\nAli Haji <em>rahimahullah<\/em> melalui <em>Gurindam Dua Belas <\/em>(GDB), Pasal yang\nKelima mengingatkan kita tentang kepoktaan dan keteralaan budi bahasa. Pasal\nyang bertutur tentang akhlak atau budi-pekerti dan disepadusepadankan dengan\nmuamalah itu pada bait 1 langsung menyirami sukma, <em>\u201cJika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan\nbahasa.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img data-recalc-dims=\"1\" fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"914\" height=\"565\" data-attachment-id=\"3026\" data-permalink=\"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/seri-gunung-bahasa-melayu\/am-sinar-tv-msia\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?fit=914%2C565&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"914,565\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"AM-Sinar-TV-mSia\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?fit=300%2C185&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?fit=914%2C565&amp;ssl=1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=914%2C565&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-3026\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?w=914&amp;ssl=1 914w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=150%2C93&amp;ssl=1 150w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=300%2C185&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=768%2C475&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=356%2C220&amp;ssl=1 356w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=696%2C430&amp;ssl=1 696w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Sinar-TV-mSia.jpg?resize=679%2C420&amp;ssl=1 679w\" sizes=\"(max-width: 914px) 100vw, 914px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bangsa\nyang dimaksudkan itu taklah semata-mata sebatian orang-orang seasal keturunan,\nseadat-sebudaya, sepengalaman sejarah, dan atau sefaham politik kenegaraan.\nJelaslah bangsa itu juga mencakupi konsep keturunan atau kedudukan yang mulia. Perihal\nbudi pula tiada lain dari unsur batiniah yang berupa sebatian akal dan nurani\nuntuk menjelmakan pikiran, perasaan, sikap, sifat, dan perangai-baik yang\nbersumber dari hati yang terpelihara. Dari situlah teserlahnya bahasa yang\nmemesona, yang tak hanya bernas kandungan isinya, elok cara penuturannya,\ntetapi juga indah budi bicaranya. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bahasa\npopuler, dapat dikatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memelihara\nbudi bahasanya. Lebih daripada itu, suatu bangsa akan mampu menjadi besar dan\nmulia jika bangsa itu menjadikan budi bahasa warisan terala (luhur)-nya sebagai\nkekuatan jati diri bangsanya. Alhasil, jika hendak nama jadi terbilang dan jati\ndiri jadi terjulang, manusia seyogianya memelihara budi bahasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Amanat GDB\nPasal yang Kelima, bait 1, itu mengingatkan kita akan pedoman Ilahi tentang\nmustahaknya memelihara budi bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cAllah tidak menyukai\nperkataan buruk (yang diucapkan) secara terus-terang, kecuali oleh orang yang\ndizalimi. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,\u201d<\/em>(Q.S.<em>An-Nisaa\u2019:148).<\/em>Selanjutnya, Allah juga berfirman,\n\u201cDan, sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur,\u201d (Q.S.\nAl-Qalam:1).<\/p>\n\n\n\n<p>Firman Allah\nyang dinukilkan di atas sangat jelas memberi petunjuk tentang pentingnya\nmanusia memelihara budi bahasa. Amanat yang sama juga dikemukakan oleh Rasulullah\nSAW melalui sabda Baginda. Dari Abu Darda\u2019 r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah\nSAW bersabda, \u201cTak ada sesuatu pun yang melebihi beratnya budi pekerti yang\nbaik dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah\nmembenci orang yang keji dan suka berkata kotor,\u201d (H.R. Tirmidzi).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah\nitu, GDB membicarakan tanda orang yang berbahagia. Inilah GDB Pasal yang\nKelima, bait 2, <em>\u201cJika hendak mengenal\norang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.\u201d<\/em> Untuk memahami\nbait ini, tentulah kita tak boleh bersandar pada ungkapan yang harfiahnya saja.\n<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jika\nkandungan harfiahnya yang diikuti, tentulah seolah-olah orang akan berbahagia\njika dia melakukan kerja (memelihara) yang sia-sia yaitu \u2018sesuatu yang tak\nberguna, tak bermanfaat\u2019. Jelaslah yang dimaksudkan oleh bait ini, justeru\nsebaliknya, orang akan berbahagia jika dia memelihara dirinya agar terhindar\ndari berbuat yang sia-sia atau melakukan pekerjaan yang tak bermanfaat. Dengan\nperkataan lain, jika kita ingin berbahagia, janganlah melakukan pekerjaan yang\ntak berfaedah.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pesan\nbait GDB di atas juga sejalan dengan firman Allah. Dalam hal ini, Allah\nmenuntun manusia supaya menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang\ntak bermanfaat (sia-sia). Inilah di antara firman Ilahi yang dimaksud.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cDan,\norang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada\nberguna,\u201d (Q.S. Al-Mukminuun:3).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perilaku\nyang ditunjukkan membuat orang lain dapat menilai derajat seseorang. Itu\nberarti, bukan pangkat, jabatan, harta, atau hal-hal yang berkaitan dengan\nunsur material lainnya yang menentukan derajat manusia. GDB Pasal yang Kelima,\nbait 3, menegaskan, <em>\u201cJika hendak mengenal\norang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kelakuanlah\nyang menentukan kemuliaan seseorang, suatu puak, suatu kaum, suatu kelompok,\nbahkan suatu bangsa. Perbuatan, perangai, atau tingkah laku itulah yang menjadi\nindikator mulia atau hinanya manusia. Hidup berpunya, tetapi perangai bakhil,\nmisalnya, tak mencerminkan kemuliaan. Pangkat tinggi dan jabatan bagus, tetapi\ntak mau membezakan yang halal dan yang haram, umpamanya, bukan contoh yang\nrepresentatif bagi orang mulia. Paras elok dan potongan ada, tetapi perilaku\nkasar membuat gusar, contohnya, tak perlu dijadikan pujaan atau idaman karena\ntak mencerminkan kelas kemuliaan. Orang yang berkelakuan baiklah yang\nmemperoleh anugerah manusia mulia. Kebiasaan memelihara kelakuan yang baik\nmenjadi tanda bagi kemuliaan diri manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cSesungguhnya,\nAllah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum\nkerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.\nDia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,\u201d (Q.S.\nAn-Nahl:90).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat\ndi atas menerangkan sebagian kelakuan atau perbuatan baik yang dianjurkan oleh\nAllah. Sebaliknya, Dia melarang manusia melakukan perbuatan keji sebagai\nindikator kelakuan yang tak terpuji. Dengan memperhatikan firman Allah itu,\njelaslah bahwa GDB Pasal yang Kelima, bait 3, selaras benar pedoman Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gelar\nakademikkah yang menjadi penentu bahwa pemiliknya orang berilmu? Ternyata,\nbukan. Karena apa? Karena, gelar akademik boleh didapatkan orang dengan\npelbagai cara, sama ada sah ataupun haram. Secara sah, berarti pemiliknya\nmemang tamat dari menuntut ilmu di perguruan tinggi sehingga dia berhak atas\ngelar itu. Sebaliknya secara haram, sekolah tidak, belajar apa lagi, tiba-tiba\nsederetan gelar akademik berjejer di depan dan di belakang namanya. Salangkan\norang yang memang belajar belum tentu berilmu, yang tak belajar apatah lagi?<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pedoman\nuntuk itu diberikan oleh GDB Pasal yang Kelima, bait 4, <em>\u201cJika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah\njemu.\u201d<\/em> Rupanya, tanda orang berilmu itu ialah sepanjang hidupnya dia terus\ndan terus bertanya tentang fenomena kehidupan ini. Selebihnya, dia pun terus\ntanpa henti belajar sepanjang hayat. Orang yang berilmu, begitu kira-kira yang\nditegaskan GDB, adalah orang yang mencintai ilmu pengetahuan, baik ilmu dunia\nmaupun ilmu agama. Dia mendasarkan pikiran, perkataan, dan perbuatannya dari\nilmu yang dimilikinya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Amanat\nbait GDB di atas juga tak berselisih dengan petunjuk Allah tentang pentingnya\nbertanya dan belajar untuk menjadi orang yang berilmu. \u201cKami tiada mengutus\nrasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami\nberi wahyu kepada mereka, Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang\nberilmu jika kamu tiada mengetahui,\u201d (Q.S. Al-Anbiyaa\u2019:7).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Firman\nAllah di atas sangat tegas memerintahkan manusia untuk bertanya dan sudah\nbarang tentu juga belajar kepada orang yang berilmu. Berdasarkan petunjuk Allah\nitulah, GDB memberikan ciri orang yang berilmu, yakni gemar bertanya dan\nbelajar.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; GDB\nPasal yang Kelima diteruskan,<em>\u201cJika hendak\nmengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.\u201d<\/em> GDB bait 5\nini mengandungi amanat bahwa dunia bukanlah tempat terakhir bagi makhluk Allah.\nManusia dan segala makhluk ciptaan Tuhan sedang berjalan atau berlayar menuju kampung\nabadi yang menjadi matlamat sesungguhnya, sedangkan dunia hanyalah pulau persinggahan\nsementara sahaja.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam\nperjalanan menuju alam yang kekal itu manusia seyogianya memiliki bekal. Bekal\nitu harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya di dunia ini untuk kehidupan yang\nabadi kelak. Itulah gunanya dunia ini, terutama bagi manusia: sebagai tempat\nmengambil bekal. Untuk itu, diperlukan kecerdasan dengan menggunakan akal.\nTentulah tak sebarang kecerdasan dapat digunakan, tetapi kecerdasan religius\n(ketuhanan) yang mampu memancarkan cahaya keyakinan yang bertimbal keimanan\nbahwa memang ada kehidupan abadi setelah alam dunia yang serbafana ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Manusia yang\nberusaha mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya itulah yang nyata-nyata\nmemanfaatkan dengan baik akal yang dianugerahkan kepadanya. Bekal yang\ndimaksudkan tentulah amal shalih sesuai dengan tuntunan agama. Menggunakan akal\nsecara benar dan baik taklah memadai hanya dengan melaksanakan kebajikan,\ntetapi juga harus menunaikan kewajiban dengan penuh ketaatan yang hanya\nmengharapkan ridha Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Masih adakah\nrujukannya di dalam firman Allah tentang amanat GDB Pasal yang Kelima, bait 5,\nitu? Marilah kita renungkan nukilan berikut ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan, carilah\npada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,\ndan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat\nbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan\njanganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tak\nmenyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,\u201d (Q.S. Al-Qashash:77).<\/p>\n\n\n\n<p>Anjuran Allah,\nmelalui firman-Nya yang dikutip di atas, adalah supaya manusia mengejar\nkenikmatan akhirat. Akan tetapi, manusia pun tak perlu menyia-nyiakan\nkenikmatan dunia. Dengan demikian, beruntunglah orang-orang yang mampu\nmemanfaatkan dunia sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk memperoleh\nkenikmatan akhirat yang serbaabadi. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di\nmanakah kita mengetahui bahwa seseorang berperilaku baik? Atau, bagaimanakah\ncaranya kita mengetahui seseorang berkelakuan baik? GDB Pasal yang Kelima, bait\n6, menunjukkan caranya, <em>\u201cJika hendak\nmengenal orang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di\nsitulah rupanya tempatnya. Baik-buruk perilaku, tabiat, atau perangai manusia\ndapat diketahui ketika dia bergaul di dalam masyarakat (bercampur dengan orang\nramai). Orang yang baik perangai senantiasa bersikap santun, menghindari\nperbuatan tercela, dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat di\nlingkungan masyarakat tempat dia berada. Alangkah ruginya diri jika hidup tak\nberbudi sehingga banyak orang yang membenci. Jadi, jika hendak dibilangkan\nnama, memiliki jati diri, baikkanlah perangai sehingga disukai oleh orang\nramai.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cApabila\nkamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah\npenghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan\nitu (dengan yang serupa). Sesungguhnya, Allah memperhitungankan segala\nsesuatu,\u201d (Q.S. An-Nisa\u2019:86).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melalui\nfirman-Nya yang dipetik di atas, Allah menuntun manusia dalam bergaul dengan\nsesamanya. Orang yang mampu menghormati dan atau menghargai orang lain dalam\npergaulan hidupnya tergolong manusia yang baik perangai menurut GDB. Dengan\ndemikian, GDB Pasal yang Kelima, bait terakhir itu pun memiliki dasar yang kuat\ndan pasti dalam ajaran Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alhasil,\nelok budi-pekerti yang dipadu dengan halus budi-bahasa seyogianya menjadi\nkualitas idaman setiap insan makhluk Tuhan. \u201cSesungguhnya, orang-orang pilihan\ndi antara kamu adalah orang yang paling baik budi-pekertinya,\u201d demikian amanat\nRasulullah SAW.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sesungguhnya,\nitulah <em>seri gunung<\/em> bahasa Melayu.\nOleh sebab itu, ianya dikagumi masyarakat dunia sejak dahulu. <\/p>\n\n\n\n<p>Hendak\nmenjulangkan kembali kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa dunia? Kesemuanya terpulanglah kepada kita sebagai\npemilik sah bahasa Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand\nSelatan, Filipina, Kamboja, dan di mana pun bangsa besar ini berada di serata\ndunia). Dalam hal ini, \u201dkita bersungguh-sungguh hendak mencapai matlamat itu\natau sekadar bercakap sahaja?\u201d Demikian kalimat penutup saya\u2014yang sengaja saya\n\u201dgantung\u201d dengan pertanyaan\u2014dalam acara yang dikemas sangat menarik oleh TV\nSinar, Malaysia. Tahniah dan terima kasih Majlis Profesor Negara, Malaysia!***&nbsp; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 9 Juli 2019, saya diundang untuk menjadi panelis dalam Program (Acara) Wacana Sinar Ilmuwan tajaan bersama Majlis Profesor Negara dan Sinar Harian, Malaysia. Acara yang dikemas dalam bentuk talk show itu dilaksanakan di Dewan Karangkraf, Off Persiaran Selangor, Seksyen 15, Shah Alam, Selangor Malaysia. Selain saya dari Indonesia, juga diundang Tan Sri Prof. Dr&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":3027,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[32,4,347],"tags":[],"class_list":["post-3025","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-melayu-hari-ini","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-seri-gunung.jpg?fit=1024%2C608&ssl=1",1024,608,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-seri-gunung.jpg?fit=1145%2C680&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-MN","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3025","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3025"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3025\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3028,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3025\/revisions\/3028"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3025"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3025"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3025"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}