{"id":3017,"date":"2019-07-11T03:05:32","date_gmt":"2019-07-10T20:05:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=3017"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"keberaksaraan-dan-pemajuan-kebudayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/keberaksaraan-dan-pemajuan-kebudayaan\/","title":{"rendered":"Keberaksaraan dan Pemajuan Kebudayaan"},"content":{"rendered":"\n<p>keberaksaraan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari\nupaya pemajuan kebudayaan. Bahkan, keberaksaraan menjadi kekuatan terdepan\ndalam upaya memajukan kebudayaan dan tamadun. Dengan kata lain, maju-mundurnya sesuatu\nkebudayaan dan tamadun, terutama, ditentukan oleh keberaksaraan. Hal itu\ndisebabkan oleh dinamika kebudayaan memerlukan pengembangan pemikiran kritis\ndan penalaran logis (Teeuw, 1994). Kesemuanya hanya dapat dihasilkan dengan\npembacaan buku-buku dan bacaan-bacaan lain sebagai sarana yang mutlak\ndiperlukan. Ketunakan membaca dan menulis menjadi kunci kejayaan dalam hal ini.\n<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kenyataan itu mengharuskan setiap\npemilik kebudayaan meningkatkan kuantitas dan kualitas keberaksaraan masyarakat\nbudayanya secara berterusan. Keberaksaraan mengandalkan masyarakat yang benar-benar\ntunak dalam membaca dan menulis, tanpa berasa enggan apatah lagi malas dalam\nperjuangan itu. Semakin tinggi tingkat keberaksaraan masyarakatnya akan semakin\nmaju pula kebudayaan masyarakat tersebut. Pada gilirannya, nilai-nilai budaya\nmasyarakat yang bersangkutan semakin memperkokoh jati diri masyarakatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai ikutannya, pemilik budaya asli tak\nmudah dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya luar yang negatif di satu pihak. Di\npihak lain, mereka dengan bijak mampu menyaring nilai-nilai positif budaya luar\nuntuk memperkaya dan memajukan budayanya. Di samping itu, mereka secara cerdas\ndan arif sanggup mengembangkan unsur-unsur asli budaya sendiri. Oleh sebab itu,\nkualitas keberaksaraan masyarakat harus terus meningkat sesuai dengan cabaran\nzaman yang terus berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Budaya Melayu telah cukup lama dan\nterus bertembung dengan pelbagai budaya bangsa-bangsa sejagat. Pertembungan itu\nternyata secara kualitatif tak menjejas keberadaan jati diri budaya dan tamadun\nMelayu. Sebaliknya pula, masyarakat budaya itu secara kreatif mampu memperkayakan\nbudaya mereka sehingga berdampak positif terhadap kemajuannya. Hal itu\ndimungkinkan karena kearifan yang terkandung di dalam nilai-nilai budaya Melayu\nitu sendiri dan kecerdasan budaya masyarakatnya. Kenyataan itu menjadi dasar\nyang sangat mustahak bagi upaya pemertahanan dan pemajuan kebudayaan Melayu ke\ndepan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keberaksaraan merupakan kekuatan\nutama setiap budaya. Bahkan, kuantitas dan kualitas keberaksaraan pemilik sah\nsesuatu budaya dan tamadun sangat menentukan kemajuan budaya dan peradaban\ntersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Budaya dan tamadun Melayu mampu\nmencapai puncaknya dan dapat bertahan ratusan tahun sampai setakat ini karena\nkeunggulan kearifan yang dikandunginya. Kearifan yang berkecerdasan itu pun\nbersabit dengan keberaksaraan yang signifikan yang dimiliki oleh bangsa Melayu\nsebagai pewaris dan ahli waris sah budaya dan tamadun Melayu. Oleh sebab itu,\nbangsa Melayu mampu menyaring unsur budaya luar secara kritis dan kreatif.\nBersamaan dengan itu, berkembanglah tradisi intelektual di kalangan bangsa\nMelayu. Tradisi intelektual itulah yang menjadi bukti nyata kecanggihan\nkeberaksaraan bangsa Melayu, terutama pada masa lampau.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Unsur budaya sekaligus alat\npengembangan budaya Melayu yang sangat berpengaruh, baik terhadap bangsa Melayu\nsendiri maupun terhadap masyarakat lain di nusantara, adalah bahasa Melayu.\nBahasa Melayu, bahkan, selain digunakan sebagai bahasa pengantar dalam sistem pendidikan\nkerajaan dan selanjutnya diteruskan oleh sistem pendidikan kolonial, juga\ndijadikan bahasa perjuangan ketika bangsa-bangsa nusantara merebut kembali\nkemerdekaan mereka dari penjajah. Pada akhirnya, bahasa Melayu-lah yang\ndijadikan bahasa nasional di negara-negara modern di nusantara ini setelah\nlepas dari belenggu penjajahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain ragam lisan, bahasa Melayu ragam\ntulis\u2014hasil dari keberaksaraan\u2014yang menjadi rujukan pengembangan dan pembinaan\nbahasa nasional bangsa-bangsa yang kembali merdeka itu. Karena bahasa berada\ndalam sistem budaya, secara tersirat budaya dan tamadun Melayu juga berpengaruh\nluas terhadap masyarakat nusantara, baik unsur maupun, terutama,\nnilai-nilainya. Pasalnya, apa pun budaya dan tamadun yang dikembangkan manusia\nsangat dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan untuk itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tulisan ini mengambil perhatian pada\nkeberaksaraan Arab-Melayu di kalangan orang Melayu. Perkara ini penting artinya\nkarena aksara Arab-Melayu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan\nserta kemajuan budaya dan tamadun Melayu berbilang zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Aksara Arab-Melayu telah berperan penting\ndalam pemajuan budaya dan tamadun Melayu sejak digunakan kali pertama di\nprasasti yang ditemukan di Terengganu, Malaysia (sekarang) bertarikh 1303. Tarikh\nitu dianggap awal sejauh yang dapat dibuktikan sampai kini. Setelah itu, sekurang-kurangnya,\nkalau tak lebih awal lagi, sejak abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-20\nbangsa Melayu telah dididik, sama ada secara formal maupun nonformal, dengan menggunakan\nhuruf Arab-Melayu. Ringkasnya, sekurang-kurangnya 500 tahun kemahiran membaca\ndan menulis bangsa Melayu merupakan keberaksaraan Arab-Melayu. Dengan demikian,\naksara Arab-Melayu telah menjadi warisan dan jati diri budaya dan tamadun Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sejak diperkenalkan dan digunakan\naksara Latin (Rumi) dalam sistem bahasa tulis Melayu pada awal abad ke-20,\naksara Arab-Melayu secara berangsur-angsur mulai ditinggalkan, termasuk di\nkawasan yang berbudaya Melayu. Bersamaan dengan itu,&nbsp; bahan bacaan dalam aksara Arab-Melayu juga\nsemakin hari semakin sulit diperoleh, terutama di Indonesia. Bahkan,\nnaskah-naskah dan karya-karya Melayu yang ada selama ini dialihaksarakan ke\naksara Latin, pun dalam jumlah yang sangat terbatas. Akibatnya, orang Melayu\nyang mahir membaca teks beraksara Arab-Melayu tak dapat lagi mengakses bacaan\nyang beraksara Arab-Melayu. Tak terlalu lama, karena tak lagi terbiasa membaca\ndan menulis dalam aksara Arab-Melayu, orang Melayu\u2014yang padahal budaya dan\ntamadunnya dijulangkan oleh aksara warisan berharga itu\u2014tak mampu lagi membaca,\napatah lagi menulis, teks beraksara Arab-Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keberaksaraan yang menjadi kekuatan\nutama budaya dan tamadun, dalam konteks bangsa Melayu, seyogianya yang terutama\nkeberaksaraan Arab-Melayu. Pasalnya, aksara warisan itu menjadi bagian yang tak\nterpisahkan dari upaya-upaya pemajuan dan kemajuan budaya dan tamadun Melayu\nselama ini. Bangsa Melayu, khasnya generasi muda, seyogianya dapat menggali, memperoleh,\nmengkaji, dan mengembangkan ilmu-pengetahuan, teknologi, seni, &nbsp;dan nilai-nilai terala (mulia) warisan Melayu\ndari karya-karya agung yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Sungguh aneh kiranya\njika orang Melayu tak pernah membaca karya-karya Melayu, terutama yang\nberaksara Arab-Melayu. Jika demikian keadaannya, mereka mendapat pedoman nilai\ndari mana? Jawabnya, mungkin sumber lisan di lingkungan keluarga dan\nmasyarakat. Akan tetapi, pengetahuan dan ilmu yang diperoleh sekadar lisan itu\nsangat tak memadai untuk menghadapi cabaran zaman yang terus berubah dalam semua\nbidang kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bersabit dengan itu, keniraksaraan Arab-Melayu di kalangan bangsa Melayu, terutama di kalangan generasi muda, harus segera diatasi. Caranya, keberaksaraan Arab-Melayu harus direvitalisasi melalui sistem pendidikan. Yang dimaksudkan dengan sistem pendidikan itu meliputi pendidikan formal bagi generasi masa kini dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi dan pendidikan nonformal bagi orang dewasa (Malik, 2015).<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai\nkonsekuensi dari pelaksanaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu itu,\nsekurang-kurangnya harus dipersiapkan secara baik dan memadai hal-hal berikut.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Guru-guru\ndan dosen yang mahir membaca dan menulis Arab-Melayu serta mampu mengajarkannya\nkepada peserta didik, dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan\nperguruan tinggi.<\/li><li>Buku\nPedoman Ejaan Arab-Melayu yang dibakukan sehingga dapat dipedomani oleh guru,\ndosen, peserta didik, dan umum.<\/li><li>Kurikulum\nPendidikan Aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang pendidikan.<\/li><li>Buku\nPedoman Guru Pendidikan Aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang\npendidikan.<\/li><li>Buku\nteks atau buku pelajaran aksara Arab-Melayu setiap tingkat dan jenjang\npendidikan.<\/li><li>Buku\nbacaan atau referensi beraksara Arab-Melayu sebagai pemerkayaan bacaan dan\npemerolehan ilmu-pengetahuan, teknologi, dan seni bagi peserta didik. <\/li><li>Untuk\nmenyokong Pendidikan Aksara Arab-Melayu, ada baiknya pembelajaran mata\npelajaran tertentu seperti Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia, Ilmu\nPengetahuan Sosial, Pendidikan Budaya Melayu (muatan lokal), dan Pendidikan\nBudi Pekerti diintegrasikan dengan Pendidikan Aksara Arab-Melayu. Maksudnya,\nada tugas-tugas tertentu dalam mata pelajaran tersebut menggunakan aksara\nArab-Melayu. Tak mungkin semua tugas mata pelajaran itu menggunakan aksara\nArab-Melayu karena sistem pendidikan kita sekarang menggunakan aksara Latin.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Kegiatan pendidikan, termasuk Pendidikan\nAksara Arab-Melayu, baru akan berhasil dengan baik jika didukung oleh sarana\nyang memadai. Dalam Pendidikan Aksara Arab-Melayu, diperlukan sokongan media\ntertentu. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, buku bacaan dan atau bahan\nrujukan (referensi) yang dapat berupa naskah dan karya klasik Melayu dalam\npelbagai bidang ilmu dan pengetahuan. Untuk itu, karya-karya tersebut perlu\ndicetak dan diterbitkan ulang, sama ada dalam edisi ekaaksara (Arab-Melayu)\nataupun dwiaksara (Arab-Melayu dan Latin). Penerbitan dalam edisi sekolah (edisi\nringkas) yang dikerjakan oleh kalangan profesional juga akan sangat membantu. Di\nsamping itu, buku-buku karya baru yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu patut juga\ndiadakan, khususnya buku-buku bidang budaya Melayu. Jika upaya itu dilakukan,\npeserta didik dan atau pembelajar memperoleh manfaat langsung, baik untuk\npeningkatan keberaksaraan (belajar membaca dan menulis Arab-Melayu) maupun\npemerolehan ilmu-pengetahuan, teknologi, dan seni dari kegiatan pendidikan yang\nmereka geluti.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, sebaiknya diupayakan penerbitan media\nmassa (surat kabar, majalah, dan lain-lain) yang menggunakan aksara\nArab-Melayu. Jika tak mungkin, media massa yang telah ada di kawasan Melayu\nyang menggunakan aksara Latin seyogianya bersedia menyediakan rubrik beraksara\nArab-Melayu\u2014entah sekadar satu halaman sahaja\u2014yang boleh berisi cerita\npendek-pendek, tulisan bersambung yang diambil dari naskah klasik (hikayat,\nsyair, dongeng, dan sebagainya), petatah-petitih, berita sehari-hari dalam\nmasyarakat, dan lain-lain. Yang pasti, rubrik tersebut patut dan sesuai untuk\nbacaan bagi pembaca semua umur. <\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan-bacaan itu sangat diperlukan untuk\nmenyokong pelaksanaan Pendidikan Aksara Arab-Melayu di sekolah dan di lembaga\npendidikan lainnya. Dalam hal ini, para pendidik dapat memberikan tugas kepada\npeserta didik yang dikaitkan dengan materi yang terdapat di dalam rubrik media\nmassa tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kejayaan Pendidikan Aksara\nArab-Melayu sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif dan positif semua pihak.\nDalam hal ini, pemerintah, khususnya pemerintah daerah di kawasan Melayu di\nIndonesia, orang tua (ibu-bapak), masyarakat, tokoh adat dan budaya, dan\npemangku kepentingan lainnya seyogianya bersinergi untuk menjayakan program\npembangunan sumber daya manusia yang mustahak lagi genting ini. Yang pasti,\nkejayaan program pendidikan ini akan menjulangkan kembali budaya dan tamadun\nMelayu sehingga dapat memberikan sumbangan selanjutnya yang lebih berarti bagi\npemajuan kebudayaan nasional dan kemajuan peradaban dunia. <\/p>\n\n\n\n<p>Keberaksaraan dan tradisi intelektual yang\nberkembang di kalangan bangsa Melayu&nbsp;\ndiwadahi oleh aksara Arab-Melayu. Aksara tersebut menjadi bagian yang\ntak terpisahkan dari keunggulan budaya dan tamadun Melayu yang telah terbukti\nselama ratusan tahun. Di mana pun pusat kesultanan Melayu pada masa lampau\nkeberaksaraan Arab-Melayu yang berkelindan dengan tradisi intelektual\nberkembang pesat sehingga hasilnya diwarisi oleh generasi Melayu&nbsp; sampai sekarang. Kenyataan itu menunjukkan\nkesungguhan dalam perjuangan pemajuan kebudayaan Melayu semasa. <\/p>\n\n\n\n<p>Capaian yang membanggakan itu memang patut\ndijadikan tauladan. Dengan demikian, untuk mencapai &nbsp;matlamat pertahanan, pemajuan, dan kemajuan\nlebih lanjut budaya dan tamadun Melayu kedepan ini, keberaksaraan Arab-Melayu\ndi kalangan generasi Melayu masa kini wajib dilaksanakan secara\nbersungguh-sungguh, bukan hanya sekadar ada. Kejayaan Pendidikan Aksara\nArab-Melayu menjadi pertaruhan dalam upaya pemajuan kebudayaan dan tamadun\nMelayu.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>keberaksaraan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pemajuan kebudayaan. Bahkan, keberaksaraan menjadi kekuatan terdepan dalam upaya memajukan kebudayaan dan tamadun. Dengan kata lain, maju-mundurnya sesuatu kebudayaan dan tamadun, terutama, ditentukan oleh keberaksaraan. Hal itu disebabkan oleh dinamika kebudayaan memerlukan pengembangan pemikiran kritis dan penalaran logis (Teeuw, 1994). Kesemuanya hanya dapat dihasilkan dengan pembacaan buku-buku&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":3018,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-3017","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Pictoria-aksara.jpg?fit=1024%2C608&ssl=1",1024,608,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/AM-Pictoria-aksara.jpg?fit=1145%2C680&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-MF","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3017","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3017"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3017\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3019,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3017\/revisions\/3019"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3018"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3017"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3017"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3017"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}