{"id":2996,"date":"2019-07-01T09:09:56","date_gmt":"2019-07-01T02:09:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2996"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"manuskrip-tuhfat-al-nafis-versi-pendek-kenang-kenangan-raja-ali-kelana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/07\/manuskrip-tuhfat-al-nafis-versi-pendek-kenang-kenangan-raja-ali-kelana\/","title":{"rendered":"Manuskrip Tuhfat al-Nafis Versi Pendek (Kenang-Kenangan Raja Ali Kelana)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>HINGGA<\/strong> kini\ntelah dapat dikenal pasti lima manuskrip <em>Tuhfat\nal-Nafis, <\/em>sebuah kitab sejarah\nMelayu karya Raja Ali Haji dan ayahandanya Raja Ahmad Engku Haji Tua\nyang dibagi oleh pakar manuskrip Melayu, Virginia Matheson, dalam dua versi.\nEmpat di antaranya adalah manuskrip versi panjang dan satu manuskrip versi\npendek.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kenang-Kenangan\nRaja Ali Kelana<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Satu-satunya salinan manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek yang diketahui keberadaannya adalah warisan koleksi perpustakaan <em>Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde<\/em> (KITLV) yang telah dipindahkan ke dalam simpanan<em> Asian Library <\/em>di <em>Universiteit Leiden<\/em> sejak perpustakaan KITLV ditutup oleh pemerintah Kerajaan Belanda beberapa tahun yang lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam salah satu katalog lama milik perpustakaan KITLV yang disusun oleh Dr. Ph. S. van Ronkel, manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek ini diberi judul <em>Sadjarah Radja-Radja Riouw, <\/em>dengan nomor katalogus: HS. 630. Sedangkan judul <em>Tuhfat al-Nafis <\/em>yang menjadi penanda manuskrip dalam katalog, untuk pertama kalinya dicantumkan dalam katalog manuskrip Melayu paling mutakhir yang disusun oleh Teuku iskandar (1999): Teuku Iskandar juga mencatum nomor katalogus sebagai manuskrip dengan kode Or. 66.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum menjadi warisan koleksi KITLV, salinan manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek ini adalah kepunyaan mantan <em>Resident Riouw<\/em>, Arend Ludolf van Hasselt (1893-1896), yang diperolehnya sebagai hadiah persahabatan tulus-ikhlasnya dengan Raja Ali Kelana, calon Yang Dipertuan Muda Riau, dari Pulau Penyengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, ketika menyelesaikan tugasnya sebagai <em>Resident Riouw<\/em> di Tanjungpinang pada tahun 1896, van Hasselt sesungguhnya tidak hanya mendapat hadiah beberapa manuskrip syair karya penyair Mohd Cassi Cassim (<em>lihat Kutubkhanah edisi 31 Maret 2018<\/em>), tapi juga mendapat salinan manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> yang sangat berharga ini dari Raja Ali Kelana. Manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek ini adalah \u2018simbol\u2019 persabatan antara van Hasselt dan Raja Ali Kelana yang mngabaikan bata-batas dalam \u201chubungan kolonialisme\u201d, tersebab minat mereka yang sama dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka pernah melakukan \u2018perjalananan inspeksi\u2019 yang juga merupakan \u2018perjalanan ilmiah\u2019 bersama ke kawsan Pulau Tujuh pada Februari 1896. Sebagai hasilnya, Raja Ali Kelana menghasilkan laporan yang diterbitkan dengan judul <em>Pohon Perhimpunan<\/em> pada 1898, dan van Hasselt menerbitkan buku berjudul <em>De Poelau Toedjoeh In Het Zuidelijk Gedeelte der Chineesche Zee<\/em> pada tahun yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan bahwa salinan manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> ini khusus disalin sebagai sebagai hadiah sempena beraakhirnya masa jabatan van Hasselt sebagai <em>Resident Riouw<\/em> pada April 1896, dicatat sendiri oleh van Hasselt menggunakan bahasa Belanda pada halaman awal manuskrip ini: \u201c\u2026<em>een de geschiedenis van het vorstenhuis beschrijft werd mij door Radja Ali Kelana, die zich steeds een trouw en oprecht vriend betoonde, als aandenken aangeboden bij mijn aftreden als Resident van Riouw en Onderhoorigheden<\/em>\u2026\u201d\u00a0 [\u201c\u2026sebuah kitab sejarah keturunan keluarga diraja (Riau) yang dituliskan (disalinkan) untuk saya (atas perintah) Raja Ali Kelana, seorang sahabat yang selalu memperlihatkan ketulusan dan kesetiaan, sebagai kenang-kenangan yang dipersembahkan sempena pengunduran diri (akhir masa jabatan) saya sebagai <em>Resident Riouw<\/em> dan Daerah Takluknya sekalian\u2026\u201d]<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Arsip\nYang Dipertuan Muda Riau<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salinan\nmanuskrip <em>Tuhfat a-Nafis<\/em> versi pendek\nini ditulis pada sebuah buku tulis folio bergaris biru setebal 181 halaman,\ndengan dimensi 33 x 21 cm. Tulisannya kemas dan menggunakan tinta hitam.\nKertasnya adalah lembaran kertas Eropa yang modern dengan cap air: gambar tapal\nkuda besar yang melingkupi dua kuda menarik sebuah kereta yang membawa seorang\nperempuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\ncatatannya pada halaman depan manuskrip ini, van Hasselt juga mengatakan bahwa manuskrip\n<em>Tuhfat al-Nafis<\/em> ini merupakan \u201c\u2026<em>sebuah salinan yang sah dari manuskrip\nserupa yang tersimpan dalam arsip Yang Dipertuan Muda Riau.<\/em>..\u201d di Pulau\nPenyengat. \u201c<em>Dit handschrift, een getrouwe\ncopie van een dergelijk dat berust in het archief van den Jangdipertoewan moeda\nRiouw<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun\nmanuskrip yang menjadi acuan salinan <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> versi pendek yang dihadiahkan oleh Raja Ali Kelana kepada van Hasselt,\nselesai (<em>khatam<\/em>) ditulis pada 17\nRajab 1283 H bersamaan dengan 25 November 1866 M.<\/p>\n\n\n\n<p>Lengkapnya,\npada kolofon yang terdapat pada bagian akhir manuskrip ini dinyatakan sebagai\nberikut: \u201c<em>Maka khatamlah siarah ini atas\ntangan mualifnya pada tujuh belas hari bulan Rajab al-Mubarak, pada hari Ahad\njam pukul sepuluh, pada Hijrat sanat 1283 adanya tamat<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai\nsebuah salinan manuskrip, <em>kolofon<\/em> manuskrip\n<em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek ini\nmenyebutkan bahwa ianya telah selesai disalin di Negeri Riau Pulau Penyengat\npada 8 Syakban 1313 H, yang bersamaan dengan 23 Januari 1896 M oleh Ali bin\nRaja Muhammad Riau.<\/p>\n\n\n\n<p>Selengkapnya\ndalam <em>kolofon<\/em> itu tercatat sebagai\nberikut: \u201c<em>Tersalin di dalam Negeri Riau\nPulau Penyengat pada delapan hari bulan Syakban al-Mukarram, hari Khamis jam\npukul sebelas sanat 1313 oleh seorang fakir Ali bin al-Marhum Raja Haji\nMuhammad Riau. Amin tamat amin tamat<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tuhfat\nal-Navis Versi Pendek<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi panjang dan pendek telah diperikan dan\ndiperbandingkan dengan sangat detil oleh filolog Virginia Matheson dari Monash\nUniversity Australia dalam disertasinya yang berjudul \u201c<em>Tuhfat al-Nafis: A 19<sup>th<\/sup> Century Malay History Critical\nExamination<\/em>\u201d pada 1973.<\/p>\n\n\n\n<p>Edisi\ncetak disertasi yang berisikan suntingan filologis atas beberapa manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi panjang dan pendek\nitu, telah pula diterjemahkan dan diterbitkan oleh <em>Dewan Bahasa dan Pustaka<\/em> Malaysia pada 1991, dan kemudian oleh Yayasan\nKaryawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka di Kuala Lumpur pada 1998.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan\nedisi cetak dalam bentuk alih aksara manuskrip versi <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> pendek, telah pula diselenggarakan secara khusus\noleh Virginia Matheson dan diterbitkan dalam dua edisi (edisi biasa dan edisi\nkulit tebal) oleh <em>Penerbit Fajar Bakti\nSDN. BHD<\/em> di Kuala Lumpur pada tahun 1982 dan 1997.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti\ntelah dibuktikan melalui melalui kajian filologis oleh Virginia Matheson, manuskrip\nkitab <em>Tuhfat al-Nafis <\/em>pada awalnya disusun\noleh Raja Haji Ahmad Engku Haji Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah dan\nkemudian disempurnkan oleh anaknya, yang bernama Raja Ali Haji. Menurut\nMatheson, manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em>\nversi pendek yang dipersembahkan sebagai kenang-kenangan oleh Raja Ali Kelana\nkepada mantan <em>Resident Riouw,<\/em> Arend\nLudolf van Hasselt, ini adalah satu-satunya salinan manuskrip awal kitab <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> yang disusun Raja Ahmad.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara\nsubstansial, kandungan isi manuskrip <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> versi pendek dan versi panjangnya sama. Hanya saja, menurut\nMatheson, bila diperbandingkan secara filologis dengan manuskrip <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> versi panjangnya, maka akan terlihat perbedaan antara lain sebagai\nberikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama,\npada manuskrip versi pendek tidak terdapat selawat (<em>doxology<\/em>) dan salam (<em>exordium<\/em>)\npada bagian awal manuskrip dan penulisannya dimulakan tanpa mukadimah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua,\nterdapat beberapa kekurangan dari segi frasa \u201c<em>formulaic<\/em>\u201d, yaitu frasa yang biasa dipakai untuk keadaan tertentu.\nSebagai ilustasi, bila pada manuskrip versi panjang terdapat frasa \u201c<em>maka lalu beramuk-amukan, bunyi senapang\npemurasnya pun seperti bunyi bertih, tiadalah berputusan lagi kelam kabutlah\nasap senapang pemurasnya sebelah menyebelah<\/em>.\u201d Sebalinya dalam manuskrip versi\npendek, bagiannya yang sama frasanya sangat sederhana dan pendek, ditulis\nbagaia berikut: \u201c<em>maka lalu\nberamik-amukkan bunyi senapang pemuras tiada berputusan<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nMatheson, gaya bahasa manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> versi pendek lebih\ntepat, ringkas, dan kurang perkataan-perkataan Arab seperti sangat banyak\ndipergunakan dalam manuskrip Tuhfat al-Nafis versi panjang hasil penyempurnaan\noleh Raja Ali Haji. <\/p>\n\n\n\n<p>Selaan\nitu, substansi narasi manuskrip <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em> versi pendek ini lebih mudah dipahami oleh orang awam dan pembaca\nmasa kini. Apalagi teks edisi cetak ruminya yang diselenggarakan oleh Virginia\nMatheson (1982 dan 1997) telah dipilah-pilah menjadi 45 judul cerita atau\nnarasi yang juga dicantumkan sebagai daftar isi edisi cetak manuskrip Tuhfat\nal-Nafis versi pendek. Penggunaan daftar isi atau <em>fahrasat <\/em>dan\npemilah-milah judul cerita atau kisah dalam edisi rumi manuskrip <em>Tuhfat\nal-Nafi<\/em>s versi pendekoleh Mathesonini, mirip dengan manuskrip\nversi panjang yang dikenali sebegai <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> dari Terengganu yang\njuga mempunyai <em>fahrasat<\/em> (daftar isi)\ndi dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keseluruhan\nnarasi manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis <\/em>versi pendek ini diawali dengan sebuah\nyang diberi judul \u201c<em>Kemangkatan Sultan\nMahmud<\/em>\u201d (Ri\u2019ayatsyah) di Lingga dan diakhiri dengan narasi yang diberi\njudul \u201c<em>Kemangkatan Sultan Mahmud<\/em>\u201d\n(Muzafarsyah) di Pahang.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HINGGA kini telah dapat dikenal pasti lima manuskrip Tuhfat al-Nafis, sebuah kitab sejarah Melayu karya Raja Ali Haji dan ayahandanya Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dibagi oleh pakar manuskrip Melayu, Virginia Matheson, dalam dua versi. Empat di antaranya adalah manuskrip versi panjang dan satu manuskrip versi pendek. Kenang-Kenangan Raja Ali Kelana Satu-satunya salinan manuskrip&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2997,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[],"class_list":["post-2996","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/1_.jpg?fit=680%2C1024&ssl=1",680,1024,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/1_.jpg?fit=900%2C1356&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Mk","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2996","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2996"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2996\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2998,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2996\/revisions\/2998"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2997"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2996"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2996"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2996"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}