{"id":2987,"date":"2019-06-22T02:59:31","date_gmt":"2019-06-21T19:59:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2987"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"kerja-nin-jangan-berlambatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/06\/kerja-nin-jangan-berlambatan\/","title":{"rendered":"Kerja Nin Jangan Berlambatan"},"content":{"rendered":"\n<p>RAJA\nALI HAJI <em>rahimahullah<\/em> di dalam karya\nsulung beliau <em>Syair Abdul Muluk<\/em>\n(Haji, 1846) menampilkan salah satu tokoh yang sangat arif dan bijaksana. Dia\nadalah Sultan Ban, ayahanda Siti Rafiah. Akan halnya Siti Rafiah, kemudian, dia\nberjodoh dengan Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari. Pada gilirannya, putri\nSultan Ban itulah yang menjadi pahlawan kemerdekaan kerajaan suaminya. Kehebatan\nkarakter tokoh-tokoh yang ditampilkannya, antara lain, yang menyebabkan\nkarya-karya Raja Ali Haji sebagai karya klasik Melayu tetap bertengger di singgasana\nterhormat dalam deretan sastra klasik dunia sampai setakat ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Karya-karya Allahyarham takkan pernah\nlapuk dek hujan, takkan lekang dek panas. Pasalnya, ianya tak hanya menyerlahkan\nkeindahan secara estetis, tetapi lebih-lebih kebaikan secara etis, dan bermanfaat\nbagi kehidupan masyarakat dan atau bangsa yang berperadaban tinggi secara didaktis.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sesiapa pun yang mengidealkan pembangunan\nyang berlandaskan tamadun yang terbilang, seyogianya harus menjadikan\nkarya-karya Raja Ali Haji sebagai salah satu referensi atau rujukan utama,\nkhasnya yang bersumber dari peradaban Melayu-Islam. Di kawasan Melayu,\nkhususnya, walaupun tak harus terbatas setakat itu, tentulah nilai-nilai terala\n(mulia) yang diamanatkan oleh Raja Ali Haji sangat patut diperhatikan dan diterapkan\ndalam pembangunan. Jika tidak, pembangunan apa pun yang dilaksanakan tak perlu\ndibanggakan dan memang akan berlalu begitu saja ditelan peredaran masa.\nPasalnya, tak ada nilai terala yang patut dihormati dan dikenang orang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Suatu hari Sultan Ban memanggil untuk selanjutnya bertitah kepada salah seorang menterinya. Inilah titah perintah sultan bijaksana itu yang terekam pada bait 412 <em>Syair Abdul Muluk<\/em> (Haji, 1846). <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em><span style=\"color: #800000;\">Segera bertitah baginda sultan<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #800000;\">Baiklah kerahkan orang sekalian<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #800000;\">Kerja nin jangan berlambatan<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #800000;\">Siapkan sekali balai penghadapan<\/span><\/em><\/p>\n\n\n<p>Kerajaan Ban hendak melaksanakan pekerjaan\npenting lagi baik. Berhubung dengan itu, Sultan Ban menitahkan para bawahannya\nagar menyegerakan pelaksanaan pekerjaan itu (<em>Kerja nin jangan berlambatan<\/em> \u2018Pekerjaan ini jangan dilambatkan,\nharus sesegera mungkin dilaksanakan\u2019). Pasalnya, Sang Sultan menilai pekerjaan\nitu baik sehingga harus disegerakan. Jika tidak, dikhawatirkan pekerjaan yang\nseyogianya menjadi prioritas itu telantar, bahkan mungkin tak jadi dilaksanakan.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Bukankah sangat banyak kita saksikan\nsekarang pekerjaan pembangunan yang telah dimulai sebagian, tetapi kemudian\nditelantarkan? Bahkan, ada rencana pembangunan besar dan mendesak, tetapi tak\nwujud karena pelbagai alasan. Pekerjaannya tak tuntas karena hati yang\nmengerjakan itu pun memang tak putus lagi tak tulus untuk melaksanakan tanggung\njawab pembangunan. Alhasil, tak dirasakannya keterbengkalaian itu sebagai\nkesalahan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia,\nmelainkan semestinya juga kepada Tuhan. <\/p>\n\n\n\n<p>Tauladan budi pekerti kepemimpinan yang\ndiberikan oleh Sultan Ban ini: pemimpin yang baik lagi terbilang selalu\nmenyegerakan pekerjaan yang baik. Dengan kata lain, tak baik melalaikan\npekerjaan yang baik. Tentu, maksudnya baik bagi kemajuan negeri dan\nkesejahteraan rakyat sekaliannya. Bukan dalam takrif <em>baik<\/em> hanya bagi pemimpin secara pribadi orang-seorang. Memang,\npemimpin kelas utama tak pernah rela menyia-nyiakan masa (waktu)\nkepemimpinannya\u2014yang umumnya singkat\u2014dengan urusan tetek-bengek yang tak\nberguna dan sia-sia.<\/p>\n\n\n\n<p>Watak, sifat, dan perilaku mulia kepemimpinan\nSultan Ban itu mengingatkan kita akan mutiara hikmah yang terhimpun di dalam <em>Gurindam Dua Belas<\/em> (Haji, 1847). Berkenaan\ndengan perkara ini dapat dihubungkan dengan Pasal yang Kelima, bait 2. <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><span style=\"color: #800000;\"><em>Jika hendak mengenal orang yang berbahagia<\/em><\/span><br \/><span style=\"color: #800000;\"><em>Sangat memeliharakan yang sia-sia<\/em><\/span><\/p>\n\n\n<p>Kepemimpinan\nseyogianya bermatlamatkan kebahagiaan. Kepemimpinan yang berjaya akan\nmembahagiakan seluruh rakyat dan tentu saja pemimpin itu sendiri. Hendak\nberbahagia karena tercapainya tujuan kepemimpinan yang sesungguhnya? Menurut\nRaja Ali Haji, untuk itu pemimpin jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia.\nArtinya, pemimpin harus mengutamakan kemajuan negeri dan kesejahteraan\nmasyarakat\/rakyatnya sendiri dalam semua aktivitas pembangunan yang\ndilaksanakannya. Hal itu bermakna, pembangunan jangan hanya sekadar\nmenguntungkan segelintir orang saja, bahkan bukan bangsa sendiri pula. Itulah\npembangunan yang dihasilkan oleh kepemimpinan yang memelihara perbuatan sia-sia.\nYang dibuatnya tak bermanfaat bagi bangsa dan negara, bahkan membuat sengsara. <\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin ada juga pemimpin yang berbahagia\ndengan kebijakan yang sia-sia bagi rakyat dan negara. Dalam hal ini, dia\nmendapatkan keuntungan materi dari kebijakan itu, misalnya. Akan tetapi, &nbsp;kebahagiaan itu sebetulnya semu dan fana belaka.\nSuatu ketika, atau selambat-lambatnya di alam kehidupan yang abadi, dia akan\nmenyesali perbuatannya tadi. Malangnya, ketika penyesalan itu terjadi pada\nakhir dunia, kesemuanya tiada lagi berguna. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNasi telah menjadi bubur, orang kenyang\nkita kebulur.\u201d Pasalnya, kita bangsa pemakan nasi, bukan pemakan bubur. Kebulur\ndi dunia masih mungkin meminta-minta, terutama kepada Allah SWT, tetapi \u201ckebulur\u201d\ndan nestapa di akhirat tiada sesiapa bersedia berkhidmat walau di dunia kita\npejabat. Oleh sebab itu, pemimpin terbilang tak pernah mau terlibat pada\nperbuatan yang sia-sia. Pasalnya, dia tahu bahwa kesemuanya itu akan merenggut\nnikmat bahagia kepemimpinan yang sesungguhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pekerjaan dan atau perbuatan sia-sia\njelaslah tak baik. Oleh sebab itu, jika kesia-siaan itu diterapkan dalam\nkepemimpinan, nalar yang benar tentu sulit menerimanya. Anehnya, tetap saja\nada, bahkan cenderung banyak, kepemimpinan yang dijalankan secara sia-sia.\nJangankan mendatangkan pengaruh positif bagi rakyat dan negeri, sebaliknya\ndampak negatiflah yang diderita. Mengapakah perilaku kontradiktif dengan budi\npekerti kepemimpinan yang luhur itu dapat terjadi?<\/p>\n\n\n\n<p>Jawab dari pertanyaan itu ternyata juga disediakan oleh <em>Gurindam Dua Belas<\/em> (Haji, 1847). Perkara itu terutama tersimpul pada Pasal yang Kesembilan, bait 1, yang sepatutnya bangsa-bangsa beradab patut menaruh belas. <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Tah<span style=\"color: #800000;\">u pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #800000;\">Bukannya manusia ia itulah syaitan<\/span><\/em><\/p>\n\n\n<p>Sesiapa\npun yang mengerjakan pekerjaan yang sia-sia dan atau pekerjaan yang tak baik,\napatah lagi kalau itu pekerjaan kepemimpinan yang berdampak pada orang banyak, ternyata\ndia telah berada di bawah pengaruh syaitan. Oleh sebab itu, hasil-hasil\npekerjaannya memang tak berguna bagi manusia. Akan tetapi, kesemuanya itu tentu\nsangat diperlukan oleh para syaitan di mana pun mereka berada dan dalam wujud\napa pun mereka berupa. <\/p>\n\n\n\n<p>Intinya, hasil pekerjaan syaitan memang\ntak dapat dinikmati oleh manusia. Hal itu disebabkan oleh wujud, keperluan, dan\nmatlamat kedua-dua makhluk itu memang jauh berbeda. Pemimpin yang melakukan\npekerjaan yang tak baik telah mengikhlaskan dirinya untuk diperhambakan dan\ndipersembahkan sepenuhnya kepada syaitan, sama ada dinyatakan dengan perkataan\nataupun tidak. Pasalnya, tindak-tanduk perbuatan kepemimpinannya menyerlahkan\nkenyataan itu secara terang-benderang, sejelas-jelasnya, senyata-nyatanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika yang diadakannya proyek makanan\nsehat, misalnya, makanan itu tak akan pernah mampu menyehatkan manusia karena\nmemang tak cocok bagi manusia. Akan tetapi, proyek makanan itu memang akan\nmenggemukkan para syaitan menjadi segemuk-gemuknya karena itu memang makanan\nmereka, makanan para syaitan dan para pengikut setianya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Ban berprinsip pekerjaan (yang\nmembabit kepemimpinan) yang baik harus disegerakan, jangan ditunda-tunda.\nDengan demikian, menunda-nunda pekerjaan yang baik tergolong perilaku yang\nsia-sia, yang memang disukai oleh para syaitan. Pasalnya, syaitan suka &nbsp;menyegerakan pekerjaan yang buruk, sama ada\nkualitas ataupun nilainya, karena memang itu misi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Adakah sumber yang dapat dirujuk atas\npilihan Sultan Ban untuk menyegerakan pekerjaan yang baik dalam\nkepemimpinannya? Rupanya, memang ada dan petunjuknya langsung datang dari Allah\nSWT. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya\n(sendiri) yang dia menghadapnya. Maka, berlumba-lumbalah (dalam membuat)\nkebaikan, di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian\n(pada hari kiamat). Sesungguhnya, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,\u201d (Q.S.\nAl-Baqarah, 148).<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata, Allah-lah yang memerintahkan\nmanusia, apatah lagi pemimpin, untuk berpacu &nbsp;berbuat kebaikan, di mana sahaja manusia\nbermastautin. Kata <em>berlumba-lumba<\/em>\ntentulah semakna dengan <em>menyegerakan<\/em>.\nBahkan, Allah berjanji untuk mengumpulkan manusia yang menyegerakan berbuat\nkebaikan pada hari kiamat kelak, tentu dikumpulkan dalam perlindungan-Nya\nsebagai balasan baik bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya dan menjauhi\nlarangan-Nya. Bahkan, berkaitan dengan perkara ini ada petunjuk Allah yang\nlebih menegaskan anjuran-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApabila telah ditunaikan shalat, maka\nbertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah\nsebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung,\u201d (Q.S. Al-Jumu\u2019ah, 10).<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia diarahkan oleh Allah untuk\nbertebaran di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Karunia Allah tentulah\nberkaitan dengan pekerjaan yang baik, yang disegerakan. Atas dasar itulah,\npemimpin kelas utama seperti Sultan Ban selalu mengutamakan untuk menyegerakan\npekerjaan yang dinilainya baik dalam kepemimpinannya. Ternyata, pilihan itu\ntepat karena bersumber dari ajaran dan pedoman Sang Maha Penguasa, Allah SWT.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em> anjuran kepada para pemimpin untuk\nmenyegerakan pekerjaan yang baik juga ditegaskan. Berikut ini nukilannya.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSyahdan inilah segala sebab yang\nmengesahkan menjadi raja. Adapun segala syaratnya <em>\u2018allal<\/em> <em>jumlah<\/em>. Bahwa\nhendaklah raja itu Islam\u2026. Lagi <em>pantas<\/em>\n(huruf miring oleh HAM) segera berbangkit pada tiap-tiap pekerjaan yang jadi\nkebijakan\u2026.\u201d (Haji dalam Malik (<em>Ed.<\/em>)\n2013, 41\u201442).<\/p>\n\n\n\n<p>Kutipan di atas menggunakan kata <em>pantas<\/em> yang bermakna \u2018lekas, cepat\u2019. Dengan\ntegas sumber di atas menyebutkan bahwa memiliki kemampuan <em>cepat melaksanakan pekerjaan yang<\/em> <em>baik<\/em> merupakan syarat kepemimpinan. Hal itu bermakna pemimpin yang\ntak mampu menyegerakan pekerjaan yang baik bagi rakyat dan negerinya tergolong\ntak layak menjadi pemimpin. Dengan demikian, setiap pemimpin seyogianya mampu\nmembuat prioritas pembangunan yang dilaksanakan dalam kepemimpinannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kepemimpinan dipersyaratkan memprioritaskan program pembangunan yang baik, watak dan perilaku lengah dan lalai dalam kepemimpinan menjadi indikator kelemahan pemimpin. Pemimpin seperti itu sebetulnya mempermalukan dirinya sendiri, bangsa, dan negaranya. Oleh sebab itu, syair nasihat di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em> (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 36, mengingatkan kita tentang perkara itu.\u00a0 \u00a0<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em><span style=\"color: #993300;\">Yakni jangan lengah dan lalai<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #993300;\">Pekerjaan raja dihelai belai<\/span><\/em><br \/><em><span style=\"color: #993300;\">Lengah dengan nasi dan gulai<\/span><\/em><br \/><span style=\"color: #993300;\"><em>Akhirnya kelak badan tersala<\/em>i<\/span><\/p>\n\n\n<p>Kelengahan dan kelalaian kepemimpinan\ncenderung disebabkan oleh lebih mengutamakan kepentingan pribadi, bukan\norang-orang yang dipimpin. Dalam bait syair di atas disimbolkan dengan <em>nasi dan gulai<\/em>. Pemimpin yang hanya sibuk\ndengan urusan domestik dan kepentingan pribadinya\u2014dengan mengatasnamakan orang\nbanyak\u2014umumnya mengalami kegagalan kepemimpinan (<em>Akhirnya kelak badan tersalai<\/em>). Tak akan pernah ada nilai kebaikan\nyang akan dikenang orang terhadap dirinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah SAW bersabda, \u201cBersegeralah\nkalian melaksanakan amal-amal shalih karena akan muncul pelbagai fitnah yang\nmenyerupai malam yang demikian gelap-gulita. Dalam hal ini, seseorang pada pagi\nhari masih mukmin, tetapi pada petang hari berubah menjadi kafir; menjadi\nmukmin pada petang hari, tetapi pada pagi hari menjadi kafir. Ditukarnya\nagamanya dengan dunia,\u201d (H.R. Muslim dan Ahmad). <\/p>\n\n\n\n<p>Pilihan Sultan Ban sangat tepat dan memang\nmengena. Dalam kepemimpinannya, dia mengutamakan untuk menyegerakan\nprogram-program yang baik bagi masyarakat dan negerinya. Kebijakan itu pun\nmemang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yang mendorong umatnya. Dalam hal ini,\nhendaklah disegerakan pelaksanaan pekerjaan yang baik agar fitnah tak datang\nmenerpa. <\/p>\n\n\n\n<p>Begitulah pemimpin-pemimpin besar dan\nvisioner senantiasa merujuk pemikiran cerdas, bernas,&nbsp; dan berguna demi kemajuan rakyat dan negerinya.\nPasalnya, terhambatnya kemajuan bangsa dan negara menjadikan pemimpin sebagai\nmakhluk yang sama sekali tak berguna. Bukankah sang pemimpin yang menjadi punca\n(baca: penyebab), baik positif maupun negatif, kemajuan bangsa dan negaranya? Hanya\npemimpin gagal yang menukar kinerja dengan bicara. Bersegeralah pada pekerjaan\nyang baik agar kita semua boleh berbahagia.***&nbsp;\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RAJA ALI HAJI rahimahullah di dalam karya sulung beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) menampilkan salah satu tokoh yang sangat arif dan bijaksana. Dia adalah Sultan Ban, ayahanda Siti Rafiah. Akan halnya Siti Rafiah, kemudian, dia berjodoh dengan Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari. Pada gilirannya, putri Sultan Ban itulah yang menjadi pahlawan kemerdekaan kerajaan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2749,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-2987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Mb","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2987"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2987\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2988,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2987\/revisions\/2988"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}