{"id":2980,"date":"2019-06-17T09:33:00","date_gmt":"2019-06-17T02:33:00","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2980"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"situasi-politik-dan-pemerintahan-kerajaan-riau-lingga-1903-1908","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/06\/situasi-politik-dan-pemerintahan-kerajaan-riau-lingga-1903-1908\/","title":{"rendered":"Situasi Politik dan Pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga )1903-1908)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sedutan M.v.0 &#8211; Willem Albert de Kanter<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>BULAN Agustus tahun 1903, Willem\nAlbert de Kanter tiba di Tanjungpinang sebagai Resident Riouw menggantikan V.L.\nde Lannoy. Lima Tahun kemudian (1908), ia mengakhiri tugasnya sebagai Resident\nRiouw atas permintaan sediri.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama sekitar lima tahun menjadi\nResident Riouw di Tanjungpinang, W.A. de Kanter berhadapan dengan situasi p\nolitik y ang \u201c panas\u201d d an perlawanan-perlawanan dari elit Kerajaan Lingga-Riau\ndan daerah takluknya yang ketika itu berstatus sebagai sebuah daerah\nzelfbestuur (daerah pemerintahan otomi) dalam dibawah administrasi pemerintahan\nHindia Belanda melalui Residentie van R iouw yang berkedudukan di\nTanjungpinang.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun W.A. de Kanter berhasil\nmewujudkan kontrak politik baru tahun p ada 1 905 y ang i sinya merubah\nstruktur lama dalam pemerintahan d an p olitik Ke rajaan Riau-Lingga, namun\nbagaiman apun, \u2018luka lama\u2019 dalam hubungan politik pemerintah Belanda dengan Kerajaan\nRiau-Lingga \u2018berdarah kembali\u2019 &nbsp;tersebab\nperlawanan pasif (lydelyk verzet) dan \u2018gerakan-gerakan politik\u2019 anggota\nMohakamah (Mahkamah) Kesultanan LinggaRiau yang dipimpin oleh Raja Muhammad\nThahir dan Raja Ali Kelana. <\/p>\n\n\n\n<p>Situasi tersebut dipaparkan oleh\nW.A. de Kanter dalam Memorie van Overgave van het Bestuur Aftredenden Resident\nvan Riouwen Onderhoorigheden (Memori Akhir Masa Jabatan sebagai Resident Riau d\nan Da erah Takluknya) p ada tahun 1908.<\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Luka lama\u2019 yang \u2018berdarah kembali\u2019\nitu dijelaskannya pada bagian berjudul Staatkundige Toestand (Situasi Politik d\nan Pemerintahan) dibawah sub-judul Lingga-Riouw en Onderhoorigheden (Kerajaan\nKerejaan RiauLingga dan Daerah Takluknya)<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, mari kita simak\nsedutan beberapa bagian penting (halaman 1 hingga 4) dari Memorie van Overgave\n(M.v.O) yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedutan M.v.O ini diterjemahkan\ndari arsip M.v.O Resident Riouw, Willem Albert de Kanter, yang kini telah\ndialih mededia dalam format digital dan menjadi bagian dari kumpulan bahan\narsip tentang Kepulauan Riau yang saya peroleh dari simpanan Nationaal Archief\nKerajaan Belanda di Den Haag pada tahun 2010. Adapaun tambaha n keterangan d\nalam k urung p ada terjemahan dibawah ini, adalah dari saya. *** <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDengan kedatangan saya [sebagai\nResident Riouw pada tahun 1903], kondisi politik di Kerajaan Riau-Lingga dan\ndaerah takluknya masih memprihatinkan. Pemerintahan h anya d i a tas k ertas\nberada di tangan Sultan [Abudlrahman M u\u2019azamsyah], [ begitu] juga jabatan Yang\nDipertuan Muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun [ dalam kenyatannya]\nsebenarnya [semua itu] berada di tangan Mohakamah ( rijksgrooten), yang m\nenurut a dat l ama m enangani semua urusan hukum dan pemerintahan, s ebelum m\nenyerahkan pengambilan keputusan kepada Sultan [Abdulrahman Mu\u2019azamsyah].<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi keputusan [Sultan] ini\nbiasanya tidak berbeda dengan pengesahan keputusan yang telah diambil oleh\nMohakamah, dan [hanya] membatasi diri pada pembubuhan tandatangan di atas\nberkas [dokumen\/surat] y ang d isodorkan kepadanya, yang sebelumnya dibuat oleh\nMohakamah. <\/p>\n\n\n\n<p>Sultan [Abdulrahman Mu\u2019azamsyah]\nmeskipun memiliki pandangan yang baik, tidak berani menghadapi Mohakamah ini,\nseperti terbukti dengan adanya usaha untuk menghambat pemerintah kita [Belanda]\nmelalui bentuk perlawanan p asif ( lydelyk verzet ), sehingga mereka menemukan\nsarana yang tepat ketika membahas persoalan itu bersama pemerintah, melakukan\nsurat-menyurat yang rumit, yang memakan banyak waktu dan memberi kesempatan\nkepada [anggota] Mohakamah untuk memperpanjang semua persoalan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya segera mengakhirinya dengan\nsecepat mungkin dan langsung hanya membicarakan perkara itu, membahas, dan\nmenyelesaikannya bersama Sultan. Saya lihat dia bersedia karena dia menduga\nbahwa kewenangan Mohakamah harus dibatasi. Dengan ini saya berhasil dan juga sampai\nsekarang terus bertahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak pembuatan kontrak politik\nbaru pada tahun 1905, posisi Sultan [Abdulrahman Mu\u2019azamsyah] dalam hal ini\nsangat kuat karena dalam kontrak itu hanya dia diakui sebagai penguasa satu-satunya\noleh pemerintah [Belanda].<\/p>\n\n\n\n<p>Tentang Mohakamah [Mahkamah] atau\nlembaga pemerintahan, sekarang ini hanya sedikit terdengar. Hanya saja, sebagai\nlembaga peradilan, Mohakamah masih mempertahankan lingkup kerja yang lama.\nTetapi juga di bidang ini, Mohakamah harus berpaling pada ketentuan tentang\nperadilan yang dimuat dalam kontrak politik baru [tahun 1905].<\/p>\n\n\n\n<p>Para anggota mohakamah masih sama\nseperti mereka yang menjalankan perlawanan pasif ( lydelyk oppositie) dahulu,\nyaitu, Raja Mohamad Thahir, Raja Ali [Kelana] saudara tiri Sultan, Raja Abdullah,\nRaja Hitam, dan Raja Zainal.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka kini juga masih belum bisa\ndipercaya, meskipun sekarang ini tampaknya dalam kondisi tenang. Mereka tidak\nsuka melihat, kecuali bila kontrak politik baru [tahun 1905] tidak berjalan,\ndan jabatan Yang D ipertuan M uda k embali dipulihkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika mereka bisa mencapai\ntujuannya d engan m eminta b antuan kekuatan asing, jelas mereka tidak akan\nberpangku tangan. Persoalannya, sikap dan tindakan mereka perlu diawasi secara\ncermat, terutama di masa kritis. Perlu ditambahkan, sehubungan dengan mereka,\nbahwa kepasraha n mereka sangat disalahgunakan. Menurut apa yang saya ketahui,\nsekarang ini mereka kembali menegaskan harapannya atas p ergantian kepala pemerintah\nwilayah, dan menduga bisa melihat kesempatan kembali terbuka untuk tampil lagi\ndengan pandangan lama mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain Pulau Bintan, Galang, dan\nRempang dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya yang langsung diperintah dari\n[Pulau] Penyengat, Kerajaan Riau-Lingga dibagi dalam distrik-distrik berikut\nini yang berada di bawah seorang wakil Sultan, yang menyandang pangkat Amir<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, wilayah Keamiran\n(Amirschap) ini dibagi dalam empat daerah berdasarkan Keputusan Pemerintah\n[Belanda] Nomor 14 tanggal 19 April tahun lalu, termasuk tiga wilayah yang\ndiperintah oleh[seorang] posthouder [antara lain di Pulau Tujuh dan Anambas],\ndan satu wilayah yang langsung [dikendalikan] oleh Resident [Riouw di\nTanjungpinang].<\/p>\n\n\n\n<p>Para Amir ini diangkat oleh\nSultan dan sampai sekarang dipilih dari kalangan kerabat dan anggota keluarga\ndiraja. Dalam perkara kecil, mereka menjalankan fungsi peradilan. Dalam urusan\npemerintahan, biasanya mereka bertindak melalui kesepakatan dengan kepala\nafdeeling [ sebagai bagian dari administrasi pemerinatahan Belanda dan sebagai\nwakil dan perpanjangan tangan Resident Riouw di Tanjungpinang] yang tidak\npernah ada keluhan tentang kerjasama mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu pengecualian di sini adalah\nTengku Umar, Amir Batam, [yang sekaligus] ipar Sultan [Abdulrahman\nMu\u2019azamsyah], dan Raja Abdullah, Amir Gaung, yang telah bergabung dengan partai\noposisi ( party van oppositie) [di bawah pimpinan Raja Muhammad Thahir dan Raja\nAli Kelana], yang dibicarakan di atas\u201d.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sedutan M.v.0 &#8211; Willem Albert de Kanter BULAN Agustus tahun 1903, Willem Albert de Kanter tiba di Tanjungpinang sebagai Resident Riouw menggantikan V.L. de Lannoy. Lima Tahun kemudian (1908), ia mengakhiri tugasnya sebagai Resident Riouw atas permintaan sediri. Selama sekitar lima tahun menjadi Resident Riouw di Tanjungpinang, W.A. de Kanter berhadapan dengan situasi p olitik&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2981,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[],"class_list":["post-2980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/Stempel-dan-ttd-sultan-riau-lingga.jpg?fit=602%2C396&ssl=1",602,396,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/Stempel-dan-ttd-sultan-riau-lingga.jpg?fit=602%2C396&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-M4","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2980"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2980\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2982,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2980\/revisions\/2982"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}