{"id":2959,"date":"2019-05-23T03:36:43","date_gmt":"2019-05-22T20:36:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2959"},"modified":"2024-07-09T17:25:24","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:24","slug":"hati-itu-kerajaan-di-dalam-tubuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/05\/hati-itu-kerajaan-di-dalam-tubuh\/","title":{"rendered":"Hati itu Kerajaan di Dalam Tubuh"},"content":{"rendered":"\n<p>DARI perkataan yang diucapkan seseorang anak manusia, dapat dinilai\nperangai atau perilakunya. Perkataan dan perbuatan (perilaku)-nya itu pada\ngilirannya paling jelas menyerlahkan hati budinya. Kehalusan bahasa (perkataan)\nakan mengesankan keadaban, sedangkan kekasarannya mencerminkan kebiadaban.\nNyaris tak ada kebaikan dan keburukan diri yang dapat disembunyikan dari tutur\nkata. Jangankan Allah Yang Maha Mengetahui, manusia pun dapat mengesan segala\nrahasia kejahatan di sebalik tutur kata, begitu pun cahaya kejujuran,\nkebenaran, dan kebaikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Budi yang halus lagi mulia mempersyaratkan terpeliharanya diri, baik\nzahiriah maupun&nbsp; batiniah. Oleh sebab\nitu, manusia yang memiliki kehalusan budi akan merawat dan memelihara\njasmaninya agar tetap sehat walafiat seperti halnya dia menjaga rohaninya\nsupaya tak terjangkiti penyakit yang dapat merendahkan marwah dirinya sebagai\nmakhluk yang paling mulia diciptakan Allah. Dengan demikian, harmonisasi antara\nkesehatan jasmani dan rohani menjadi penanda kehalusan budi manusia. Dengan\nperkataan lain, di dalam diri manusia yang sesungguhnya seyogianya terhimpun <em>seri pantai<\/em> sebagai \u2018kebaikan zahiriah\u2019\ndan <em>seri gunung<\/em> sebagai \u2018keelokan\nrohaniah\u2019 yang berpadu mesra. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em>, melalui karya beliau, mengamanatkan manusia supaya pandai, bijak, dan arif dalam memelihara anggota tubuh yang umumnya kelihatan indah dipandang mata. Maksudnya, anggota tubuh, dari mata sampai ke kaki, harus dijaga dan dirawat agar terhindar dari perbuatan yang salah (menyimpang dari kebenaran) dan jelek (tak sesuai dengan kaidah keelokan). <\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Apabila terpelihara mata<\/em><br \/><em>Sedikitlah bercita-cita<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Apabila terpelihara kuping<\/em><br \/><em>Khabar yang jahat tidaklah damping<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Apabila terpelihara lidah<\/em><br \/><em>Nescaya dapat daripadanya faedah<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan<\/em><br \/><em>Daripada segala berat dan ringan<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Apabila perut terlalu penuh<\/em><br \/><em>Keluarlah fi\u2019il yang tiada senonoh<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Anggota tengah hendaklah ingat<\/em><br \/><em>Di situlah banyak orang hilang semangat<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Hendaklah peliharakan kaki<\/em><br \/><em>Daripada berjalan membawa rugi<\/em><\/p>\n\n\n<p>Pasal yang Ketiga, <em>Gurindam Dua\nBelas,<\/em> yang dinukilkan di atas menegaskan bahwa amat mustahak manusia memelihara\nunsur jasmaniahnya. Pasalnya, jika anggota tubuh itu tak dijaga dengan baik,\nmanusia boleh terbabit kepada perbuatan yang keji. Dengan perkataan lain, unsur\nzahiriah itu berpotensi menjerumuskan manusia kepada perbuatan yang salah dan\njelek jika tak dikawal dengan benar. Pemeliharaan unsur jasmaniah itu sama\npentingnya dengan pemeliharaan unsur rohaniah. Jika zahiriah terpelihara,\nbersama dengan aspek batiniah\/rohaniah, nescaya manusia akan mencapai taraf orang\nyang memiliki kehalusan budi, makhluk yang sungguh-sungguh mulia sebagai\nfitrahnya diciptakan oleh Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDan,\njanganlah kamu mengikuti apa yang kamu tak mempunyai pengetahuan tentangnya.\nSesungguhnya, pendengaran, penglihatan,\ndan hati; kesemuanya itu akan\ndiminta pertanggungjawabannya,\u201d (Q.S.\nAl-Isra\u2019:36).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bait-bait <em>Gurindam Dua Belas<\/em> di atas sejalan\ndengan petunjuk dan peringatan Allah. Jelaslah bahwa apa-apa yang terhimpun di\ndalam <em>Gurindam Dua Belas<\/em> itu sesuai\nbenar dengan pedoman ajaran Islam. Dengan mengikuti pedoman itulah, manusia\nakan memiliki kehalusan budi dan menjelma menjadi makhluk yang mulia di sisi\nAllah. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah SAW pun ada\nbersabda tentang budi pekerti yang berkaitan dengan pemeliharaan aspek\njasmaniah manusia. Dalam hal ini, penjagaan jasmaniah menjadi bagian dari budi\npekerti dan atau akhlak, yang pada gilirannya memungkinkan manusia memasuki\nsurga Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya\ntentang apakah sebahagian besar amalan yang akan memasukkan umat manusia ke\nsurga. Rasulullah SAW menjawab, \u201cBertakwa kepada Allah dan baiknya akhlak (budi\npekerti).\u201d Baginda Nabi ditanya pula tentang apakah sebahagian besar amalan\numat manusia yang dapat memasukkan mereka ke neraka. Baginda Nabi menjawab,\n\u201cKarena mulut dan kemaluan,\u201d (H.R. Tirmidzi).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bersumberkan sabda Nabi\nMuhammad SAW di atas, nyata sekali bahwa anggota tubuh manusia\u2014di dalam hadits\ntersebut dicontohkan mulut dan kemaluan\u2014harus dijaga dengan benar. Jika tidak,\nitulah salah satu penyebab yang memungkinkan manusia masuk neraka di akhirat\nkelak. Manusia yang pandai menjaga anggota tubuhnya sehingga terhindar dari\nberbuat salah dan jelek tergolong makhluk Allah yang memiliki kualitas\nkehalusan budi. Pasalnya, dia telah menaati perintah Allah dan ajaran Rasulullah\nSAW. Tubuhnya telah terang-benderang disinari oleh cahaya seri pantai dan seri\ngunung. <em>Subhanallah!<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Selain dari aspek jasmaniah, <em>Gurindam Dua Belas <\/em>juga mengingatkan manusia agar menjaga hati (qalbu) dengan segala sifat-sifat dan atau perangai bawaannya. Hati dapat membawa manusia kepada kebahagiaan sejati, tetapi jangan lupa, ianya juga boleh melencongkan atau membelokkan manusia ke lembah kenistaan yang tercela. Pasal yang Keempat, <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, memerikan perihal hati itu.<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Hati itu kerajaan di dalam tubuh<\/em><br \/><em>Jikalau zalim segala anggota pun roboh<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Apabila dengki sudah bertanah<\/em><br \/><em>Datanglah daripadanya beberapa anak panah<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Mengumpat dan memuji hendaklah fikir<\/em><br \/><em>Di situlah banyak orang tergelincir<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Pekerjaan marah jangan dibela<\/em><br \/><em>Nanti hilang akal di kepala<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Jika sedikit pun berbuat bohong<\/em><br \/><em>Bolehlah diumpamakan mulutnya pekung<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Tanda orang yang amat celaka<\/em><br \/><em>Aib dirinya tiada ia sangka<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Bakhil jangan diberi singgah<\/em><br \/><em>Itulah perompak yang amat gagah<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Barang siapa yang sudah besar<\/em><br \/><em>Janganlah kelakuannya membuat kasar<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Barang siapa perkataan kotor<\/em><br \/><em>Mulutnya itu umpama ketor<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Di manakah salah diri<\/em><br \/><em>Jika tidak orang lain berperi<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Pekerjaan takabur jangan direpih<\/em><br \/><em>Sebelum mati didapat juga sepih<\/em><\/p>\n\n\n<p>Bait-bait <em>Gurindam Dua Belas<\/em> di\natas mengingatkan manusia bahwa jika hati tak dirawat dengan baik, ianya boleh\nmendatangkan pelbagai penyakit rohaniah. Di antara penyakit-penyakit itu\nmeliputi dengki, mengumpat, marah, bohong, bakhil (kikir, lokek, loba), kasar,\nperkataan kotor, dan takabur. Akibatnya, manusia yang menderita penyakit rohaniah\nitu akan mengalami kerendahan budi, turun derajatnya dari makhluk yang mulia\nmenjadi sehina-hinanya dan sedina-dinanya. Pantainya gelap disertai gunungnya\ngulita. Akibatnya, ketika di laut dia mendatangkan malapetaka dan tatkala di\ndarat dia pun berbuat angkara murka.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Syair nasihat dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em> (Haji dalam Malik (<em>Ed<\/em>.), 2013) juga memuat informasi tentang beberapa penyakit hati. Di antaranya terhimpun dalam bait-bait hikmah berikut ini.<\/p>\n\n\n<p style=\"padding-left: 80px;\"><em>Jika anakanda menjadi besar<\/em><br \/><em>Tutur dan kata janganlah kasar<\/em><br \/><em>Jangan seperti orang yang sasar<\/em><br \/><em>Banyaklah orang menaruh gusar<\/em><br \/><em>\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026\u2026<\/em><br \/><em>Pada berhukum jangan pemarah<\/em><br \/><em>Jangan perkataan keruh dan kerah<\/em><br \/><em>Khususan pula bicara darah<\/em><br \/><em>Janganlah zalim barang sezarah<\/em> <\/p>\n\n\n<p>Gambaran\ntentang penyakit rohaniah yang bersumber dari hati yang tak terawat dalam\nbait-bait syair di atas membuat manusia kehilangan perikemanusiaannya. Penyakit\nzalim, misalnya, jangan sampai berkembang subur walau hanya sezarah (sebesar\natom) pun karena akan buruk padahnya bagi penderitanya (orang yang berperangai\nzalim itu). Begitulah dahsyatnya penyakit hati kalau telah menyerang manusia.\nOleh sebab itu, supaya terpelihara kehalusan budi, manusia memang wajib menjaga\nhatinya dengan sebaik-baiknya seperti yang dianjurkan oleh syair di atas.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah\nSWT memang memberi peringatan kepada manusia supaya menjaga hati. Di antara\nfirman-Nya terekam di dalam ayat ini. <strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201cDi\nantara manusia ada yang mengatakan, &#8220;Kami beriman kepada Allah dan hari\nkemudian,&#8221; padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.\nMereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya\nmenipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tak sadar. Di dalam hati mereka\nada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih\nkarena mereka berdusta,\u201d (Q.S. Al-Baqarah:8\u201410). <\/p>\n\n\n\n<p>Ayat-ayat\ndi atas menegaskan bahwa hati manusia berpotensi tertular wabah penyakit jika tak\ndipelihara sesuai dengan petunjuk Allah. Penyakit rohaniah yang ditularkan oleh\nhati yang tak terawat secara baik menyebabkan manusia mendustakan kebenaran\nyang sesungguhnya nyata. Merekalah orang-orang yang mengalami kerendahan budi,\ntercabut sisi kemuliaan dari dirinya. <em>Astaghfirullah!<\/em>\n<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya\npula, manusia yang mampu merawat hatinya dengan baik bermakna qalbunya telah\ndisinari oleh kecemerlangan seri pantai dan seri gunung akidah dan akhlak.\nCahaya itulah yang paling setia menyertai dirinya di akhirat yang abadi kelak.\nSinar Ilahi itu pulalah yang menuntunnya memasuki surga Allah dengan segak. <em>Insya Allah! <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Berawal\ndari mata, terus turun hingga ke kaki, sampai menusuk ke jantung-hati, manusia &nbsp;seyogianya menjaganya sekuat dapat. Pasalnya,\npersebatian kebaikan jasmaniah dan keelokan rohaniah memudahkan jalan bagi\nmanusia menuju akhirat. Jika tidak, sia-sialah segala-galanya, termasuk\nkehebatan dan kemuliaan dunia yang pernah didapat. Bukankah tipu-daya sememangnya\ndunia yang empunya sifat? <\/p>\n\n\n\n<p>Pandai-pandailah\nmenjaga diri dan merawat martabat karena kehidupan dunia hanyalah sesaat. Akan tetapi,\nanekaragam godaannya (harta, pangkat, jabatan, kebanggaan, dan sejenisnya) boleh\nmembawa sesat. Sesat itulah yang membangun lebuhraya buntu menuju kebahagiaan\nsurga, &nbsp;termasuk bagi mereka yang selama\nhidupnya di dunia tak percaya akan adanya alam akhirat. Selamat menunaikan\nibadah-ibadah Ramadhan dengan benar, baik, dan cermat. Semoga terhapus segala dosa\nyang pernah diperbuat!***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DARI perkataan yang diucapkan seseorang anak manusia, dapat dinilai perangai atau perilakunya. Perkataan dan perbuatan (perilaku)-nya itu pada gilirannya paling jelas menyerlahkan hati budinya. Kehalusan bahasa (perkataan) akan mengesankan keadaban, sedangkan kekasarannya mencerminkan kebiadaban. Nyaris tak ada kebaikan dan keburukan diri yang dapat disembunyikan dari tutur kata. Jangankan Allah Yang Maha Mengetahui, manusia pun dapat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2960,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,347],"tags":[],"class_list":["post-2959","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":1,"label":"Kabar"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/AM-Hati.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":1,"name":"Kabar","slug":"kabar","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":110,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":110,"category_description":"","cat_name":"Kabar","category_nicename":"kabar","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/AM-Hati.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-LJ","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2959","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2959"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2959\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2961,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2959\/revisions\/2961"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2960"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}