{"id":2903,"date":"2019-04-22T10:05:26","date_gmt":"2019-04-22T03:05:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2903"},"modified":"2024-07-09T17:25:26","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:26","slug":"kolofon-dalam-manuskrip-melayu-riau-lingga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/04\/kolofon-dalam-manuskrip-melayu-riau-lingga\/","title":{"rendered":"Kolofon Dalam Manuskrip Melayu Riau-Lingga"},"content":{"rendered":"\n<p>Selain\nkandungan isinya yang menjadi teras utamasebuah manuskrip Melayu, ada bagian\nyang disebut <em>kolofon,<\/em> yang juga sangat penting artinya karena\nmengandungi catatan dan informasi dan \u201cjatidiri\u201d sebuah &nbsp;Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah yang dimaksud dengan <em>kolofon<\/em> dalam manuskrip Melayu, dan apa saja yang terkandung di dalamnya? Menurut Hendri Chambert-Loir (2011), kebanyakan kamus dan ensiklopedia mendefinisikan kolofon sebagai \u201cperenggan akhir\u201d atau \u201cbatas akhir\u201d dalam sebuah manuskrip, naskah tulisan tangan yang memberikan keterangan terperinci tentang asal-usul manuskrip ersebut, serta tarikh dan tempat penulisannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, tambah Chabert-Loir,\u00a0 filolog pakar manuskrip seperti J. Lemaire (1989) mendefinisikan kolofon sebagai ungkapan akhir dalam sebuah manuskrip, dimana penyalin\u00a0 dan sudah barang tentu penulisnya, menyebutkan tempat penyalinan dan penulisan, tarikh penulisan, serta menuliskan namanya sebagai penyalin dan penulis, atau bahkan nama pemesan sebuah manuskrip. <\/p>\n\n\n\n<p>Format informasi dalam sebuah kolofon ringkas dan padat. Untaian iformasi yang ringkas dan padat ini adalah bagian dari tradisi tulis dunia. Namun demikian, kolofon dalam penulisan manuskrip tidak lah tersebar luas dalam tradisi tulis di belahan dunia Islam dan tradisi tulis Eropa yang kemudian berevolusi menjadi tradisi pencetakan dan penulisan buku yang modern. <\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi penulisan manuskrip di Kepulauan Riau-Lingga yang sangat dipengaruhi oleh tradisi tulis Arab dan Indo-Parsi, adalah tradisi penulisanmanuskrip Melayu yang menggunakan <em>kolofon<\/em> sebagai untaian kalimat yang mengandungi sejumlah informasi dan sekaligus berfungsi sebagai \u2018perenggan akhir\u2019\u00a0 atau \u2018batas akhir\u2019 sebuah manuskrip. Kolofon-kolofon dalam taradisi penulisan manuskrip Riau-Lingga ditulis menggunakan Bahasa Melayu, namun adakalanya disandingkan pula dengan Bahasa Arab.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua fungsi utama sebuah kolofon sebagaimana disimpulkan oleh Chambert-Loir (2011:101), juga terkandung dalam kolofon-kolofon yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip Melayu Riau-Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Jikamanuskrip Melayu Riau-Lingga tersebut berupa sebuah manuskrip karya seseorang, maka didalam kolofonnya dimuat salah satu atau seluruh informasi yang berkenaan dengan: nama pengarang; hari,bulan, tahun memulai atau selesai penulisannya yang ditulis menggunakan tarikh Masehi, Islam (tarikh hijriah), atau kedua-keduanya. Dituliskan juga\u00a0 tempat penulisannya, dan bahkan ada pula yang mencatatkan waktu atau jam ketika sebuah manuskrip selesai ditulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila manuskritersebut merupakan manuskrip hasil salinan atas sebuah manuskrip, maka didalam kolofonnya akan terkandung salah satu atau seluruh informasi sebagai berikut: nama penyalinnya; tempat dan tarikh manuskrip itu disalin, judul dan pemilik manuskrip yang menjadi rujukan penyalinan; nama orang yang memerintahkan penyalinan, dan bahkan nama orang yang memesan hasil salinannya<\/p>\n\n\n\n<p>Fungsi dan kedudukan kolofon dalam sebuah manuskrip Melayu sangat penting karena ianya juga berkait rapat dengan jati diri pengarangnya dan\u00a0 kepengrangan dalam sebuah tradisi tulis. Selain itu, informasi tentang tarikh penulisan sebuah manuskrip, tarikh penyalinan, dan tempat penyalinan juga sangat penting, karena semuanya berkelindan dengan konteks (semangat) zaman dan ruang spasial dimana sebuah manuskrip dihasilkan. Dengan kata lain, kandungan informasi dalam kolofon sebuah manuskrip Melayu, memberikan sejumlah variabel yang bergunakan untuk memahami konteks kultural dan historis dibalik penciptaan sebuah manuskrip Melayu sebagai bagian dari pencapaian sebuah peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai bagian dari tradisi penulisan manuskrip dalam peradaban Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Deroche dan kawan-kawan (dalam Chambert-Loir, 2011),maka kolofon dalam manuskrip-manuskrip Melayu Riau-Lingga tidak mesti terletak pada akhir sebuah teks manuskrip, karena adakalanya kolofon itu berada di awal sebuah manuskrip.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecendrunga ini bisanya terdapat pada manuskrip-manuskrip Riau-Lingga yang berasal dari awal kurun ke-20, seperti dalam manuskrip kitab <em>Pelaran Pahasa Melayu Pembuka Lidah Teladan Umpaman Yang Mudah<\/em>(1911) karya Raja Haji Abdullah Abu Muhammad Adnan, yang ditemukan di Daik Lingga. ***<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti apa kandungan isi sebuah kolofon dalam manuskrip-manuskrip Melayu Riau-Lingga? Berikut ini adalah beberapa contoh <em>kolofon<\/em>yang dialih-aksarakan dari <em>kolofon<\/em> beberapa judul manuskrip Riau-Lingga dalam tulisan <em>jaw<\/em>i (Huruf Arab -Melayu) yang ada dalam simpanan sejumlah perpustakaan di Inggris, Belanda, dan Malaysia:<\/p>\n\n\n\n<p>1. Kolofon manukrip<em> Peraturan Adat Raja-Raja Riau Lingga<\/em> (Kanun Sultan Sulaiman) koleksi <em>Pusat Manuskrip Perpustakaan Negara Malaysia<\/em>, di Kuala Lumpur: <em>Wasallauhu\u2019ala saidina Muhammad Wa\u2019ala alihi Wa-ashabihi Ajma\u2019in Alhamdulillahirabbil\u2019alamin telah selesai daripada menyalin seluruh(&#8230;) di dalam Negeri Lingga di Kampung Mentuk 21 haribulan Rabbi\u2019ulakhir kepada hari Sabtu jam pukul 5<\/em>. Pada bagian sudut kiri dan kanan bawah terdapat stempel bertuliskan Muhammad Yasin bin Abdulrahman. Pada bagian akhir <em>kolofon<\/em>terdapat penjelasan sebagai berikut<em>: kepada tahun 1286 Hijrat Salallahu\u2019alaihiwassallam<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>2.Kolofon manuskrip<em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em>, koleks<em>i Perpustakaan Universotas Leiden, <\/em>Belanda: <em>Tersalin di dalam Negeri Riau kepada dua hari Bulan September tahun Wilanda Sanah 1819. Tersalin daripada surat salinnya di dalam negeri Melaka kepada Sembilan hari bulan September tahun Wilanda sanah 1819. Tamat al-kalam bi-khairu-al-salam. Amin. Tam<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Kolofon manukrip <em>Syair Sultan Bintan<\/em>, koleksi <em>Biritisch Library<\/em>, London: <em>Kepada hijrat Nabi Salallah-\u2018alaihi-wassalam seribu dua ratus dua puluh anam tahun kepada tahun dal, dan kepada ampat hari bulan Safar dan harinya Khamis waktunya jam pukul satu. Yang ampunya Tuan Raffles adanya. Yang menyuratnya Muhamad Latif ibni Qadr Muhyi-al-din adanya. 1226 sannah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Kolofon manuskrip <em>Tuhfat al-Nafis, <\/em>sebuah manuskrip pendek koleksi warisan Perpustakaan KITLV, leiden, \u00a0yang kini berada dalam simpanan <em>Perpustakaan Universitas Leiden, <\/em>Belanda: <em>Maka khatamlah siarah ini atas tangan mualifnya pada tujuh belas haribulan Rajab al-mubarak, pada hari Ahad jam pukul sepuluh, pada hari Hijrat sanat 1283 adanya tam. Tersalin di dalam Negeri Riau Pulau Penyengat pada delapan haribulan Syakban al-mukaram, hari Kamis jam pukul sebelas sanat 1313 oleh orang fakir, yaitu Ali bin al-marhum Raja Haji Muhammad Riau. Amin suma amin tam<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>5.Kolofon manuskrip <em>Mukhtasar Tawarikh al-Wustha<\/em>, koleksi P<em>erpustakaan Universitas Leiden,<\/em> Belanda:<em>Disalin. Termaktub di dalam Negeri Riau Pulau Penyengat kepada 19 haribulan Syakban yaum al-Arba\u2019a jam 9 sanat 1270<\/em> .<\/p>\n\n\n\n<p>6.Kolofon manuskrip <em>Undang-Undang Perlayaran<\/em>, koleksi <em>Perpustakaan Universiatas Leiden,<\/em> Belanda: <em>Tamat al-kalam bilkhair. Wa-al-salam kepada kepada malam Isnin di dalam Negeri Riau atas kota Tanjung Pinang. Tam.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>7.Kolofon\nmanuskrip Syair Tan Tik Cu (versi lain <em>Syair Kapitan Tiksing)<\/em>koleksi\nPerpustakaan Universitas Leiden, Belanda: <em>Sanah\n1877 kepada ampat belas haribulan Zulkaidah kepada hari Jumat jam pukul 9 malam\ntamat al-kalam adanya. Yang punya Encik Abdullah di dalam Pulau Penyengat\nadanya<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>8.\nKolofon manuskrip mushaf al-Quran Riau-Lingga koleksi Mesjid Sultan Riau Pulau\nPenyengat: <em>Wa\nk\u0101na al-far\u0101gh min tahs\u012bli h\u0101z\u0101 al-mushaf al-kar\u012bm nah\u0101ra al-Jum\u2019at min\nRamadh\u0101n f\u012b waqti al-\u2018asri madat khamsa wa \u2018isyr\u016bna yauman min syahri Ramadh\u0101n\nal-mub\u0101rak f\u012b Bandar Kedah qaryah Padang Sirjana fi zam\u0101ni Maul\u0101n\u0101 Paduka Sri\nas-Sult\u0101n al-A\u2019zam wa al-Kh\u0101qan wa al-A\u2019dal al-Afkham Muhammad Jiwa Zain\nal-\u2018\u0100dil\u012bn Mu\u2019azzam Syah sanat 1166 alf wa mi\u2019at wa sitt wa sitt\u016bn min\nal-hijrat an-nabawiyyah \u2018al\u0101 s\u0101hibih\u0101 afdal as-sal\u0101ti wa azka at-tasl\u012bm\nbi-khatt al-faq\u012br al-khaq\u012br ad-da\u2019\u012bf al-mu\u2019tarif bi az-zanbi wa at-taqs\u012br\nar-r\u0101j\u012b il\u0101 \u2018afwi rabbihi al-kar\u012bm Al\u012b bin Abdull\u0101h bin Abdurrahm\u0101n al-J\u0101w\u012b\nal-B\u016bqis\u012b al-W\u0101j\u016bw\u012b asy-Sy\u0101fi\u2019\u012b mazhaban at-Tempe baladan wa maulidan wa\nwatanan wa an-Naqsyabandi &#8230; &#8230; lill\u0101hi Maul\u0101n\u0101 as-Sult\u0101n \u2018Al\u0101\u2019udd\u012bn bin\nal-marh\u016bm upu ghafara All\u0101hu lahum wa li-w\u0101lidaihim wa li-jam\u012b\u2019il-muslim\u012bn\nwal-muslim\u0101t wal-mu\u2019min\u012bn <\/em>[<em>wa al-mu\u2019min\u012bn<\/em>]<em>\nwal-mu\u2019min\u0101t al-ahy\u0101\u2019i minhum wal-amw\u0101t.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Oleh Ali\nAkbar dari Bayt al-Qur\u2019an Museum Istiqlal, Jakarta, isi kolofon dwi-bahasa\n(Arab dan Melayu) dalam mushaf al-Quran koleksi Masjid Sultan Riau Pulau\nPenyengat ini &nbsp;diterjemahkan sebagai\nberikut: \u201c<em>Selesai menyalin mushaf yang mulia\nini siang Jumat, Ramadhan, pada waktu asar, 25 bulan Ramadhan yang penuh berkah\ndi Bandar Kedah Negeri Padang Sirjana pada zaman Maulana Paduka Sri Sultan Yang\nAgung, Pemimpin Yang Adil Yang Besar Muhammad Jiwa Zain al-\u2018Adilin Mu\u2019azzam\nSyah tahun 1166 seribu seratus enam puluh enam Hijrah Nabi pemilik salawat yang\nutama dan salam yang suci, dengan tulisan yang fakir yang hina yang lemah yang\nmengakui dosanya dan kekurangannya yang mengharapkan ampunan Tuhannya Yang\nMulia, Ali bin Abdullah bin Abdurrahman al-Jawi al-Buqisi al-Wajuwi, Syafi\u2019i\nmazhabnya, Tempe daerahnya dan kelahirannya serta negerinya, Naqsyabandi &#8230;\n&#8230; Maulana Sultan \u2018Ala\u2019uddin bin al-marhum Upu. semoga Allah mengampuni mereka\ndan orang tua mereka serta semua kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan\nmukminat yang masih hidup dan yang telah wafat<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>9.Kolofon manuskrip<em>Kitab Tsamarat al-Mathlub fi-Anuar al-Qulub, <\/em>karya Raja Khalid Hitan, yang berada dalam simpananPerpustakaan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia: <em>Telah khatam kitab Tsamarat al-Matlub ini atas tangan al-fakir al-hakir ilallah ta\u2019ala Khalid ibni almarhum Raja Hasan al-haji fi sanah 1314 bulan Zulhijah 28 hari Sabtu di dalam Negeri Riau Pulau Penyengat adanya<\/em>.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain kandungan isinya yang menjadi teras utamasebuah manuskrip Melayu, ada bagian yang disebut kolofon, yang juga sangat penting artinya karena mengandungi catatan dan informasi dan \u201cjatidiri\u201d sebuah &nbsp;Melayu. Apakah yang dimaksud dengan kolofon dalam manuskrip Melayu, dan apa saja yang terkandung di dalamnya? Menurut Hendri Chambert-Loir (2011), kebanyakan kamus dan ensiklopedia mendefinisikan kolofon sebagai \u201cperenggan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2904,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[],"class_list":["post-2903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/1_-2.jpg?fit=550%2C865&ssl=1",550,865,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/1_-2.jpg?fit=550%2C865&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-KP","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2903"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2903\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2905,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2903\/revisions\/2905"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}