{"id":2898,"date":"2019-04-22T09:58:24","date_gmt":"2019-04-22T02:58:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2898"},"modified":"2024-07-09T17:25:26","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:26","slug":"__trashed","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/04\/__trashed\/","title":{"rendered":"Aisyah Sulaiman Juga Kartini"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\"><strong>Oleh : Nureza Dwi Anggraeni<br><\/strong>Dosen Universitas Riau Kepulauan<\/p>\n\n\n\n<p>Perempuan-perempuan golongan tertentu aktif dalam reformasi moral dan adat internal pada awal abad kesembilan belas. Inilah yang dilakukan Kartini dan Aisyah Sulaiman. Mereka adalah jelmaan perempuan yang menentang <em>prerogatives sexual<\/em> pria bangsawan. Perempuan melawan kembali hak prerogatif laki-laki melalui gerakan kesederhanaan dari akhir abad kesembilan belas. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski hidup sezaman, nama Aisyah Sulaiman\nkurang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Kartini. Nama Kartini\ntak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di negara-negara besar lainnya\nkarena kepiawaian dalam menuangkan gagasan dalam tulisan. Yang pada masanya,\ntak banyak perempuan Indonesia bisa melakukan baca-tulis. <\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena ini menarik untuk dibahas dalam\nmomentum Kartini yang dinobatkan menjadi simbol emansipasi perempuan Indonesia.\nUntuk masyarakat Melayu Riau Lingga, Aisyah Sulaiman juga sosok perempuan yang\nbisa disandingkan sejajar dengan tokoh besar Kartini.<\/p>\n\n\n\n<p>Aisyah Sulaiman juga memperjuangkan hal yang sama. Ia \u00a0telah memperjuangkan harkat, martabat, dan muruah kaum perempuan melalui karya-karyanya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dengan demikian, Aisyah Sulaiman menjadikan dirinya beserta karyanya sebagai pejuang emansipasi bagi kaum perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan dengan pengalaman pengarang. Aisyah Sulaiman dan Kartini yang hidup di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 membuat mereka tumbuh sebagai pengarang di zaman peralihan. Fase kepenulisan Aisyah Sulaiman dan Kartini dalam perspektif Gino kritik termasuk dalam fase feminist (Showalter, 1979). Kategori fase feminist cocok untuk mereka karena pemikiran dalam karya-karyanya bersifat radikal di zamannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Kartini memilih surat sebagai medium mengungkap kangagasan, Aisyah Sulaiman memilih sastra sebagai cara untuk mengekspresikan diri dengan tema feminis. Fase feminist dalam tulisan Aisyah Sulaiman dan Kartini memprotes standar dan nilai laki-laki di lingkungannya. Karya-karya mereka juga menganjurkan hak-hak dan nilai untuk perempuan berotonomi. Pengalaman sebagai perempuan diceritakan melalui teks karena dianggap sebagai media yang tepat untuk menyampaikan pendapat terkait perlakuan masyarakat patriarkat terhadap perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sastra, cerminan feminisme terjadi ketika tokoh cerita perempuan mengalami pergerakan untuk berubah dan berjuang guna pembebasan diri dari ketertindasan laki-laki. Gagasan inilah yang ditemukan dalam Syair Khadamuddin karya Aisyah Sulaiman.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang menarik dari Syair Khadamuddin\nbukan hanya karena isi yang mendeskripsikan perempuan, tetapi terlihat\nadanya beberapa kemiripan antara syair dengan pengalaman hidup Aisyah Sulaiman.\nPerempuan yang tidak suka menonjolkan diri secara langsung dan tidak akan menulis\ntentang dirinya sehingga menjadi omongan masyarakat. Hal tersebut ditemui dalam\nSyair Khaddamudin. Dalam menceritakan sebagian kisah hidupnya, Aisyah Sulaiman\nmenulis Syair Khadamuddin dengan memosisikan diri melalui watak simbolik yaitu\nSabariah. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam&nbsp;\nproses kreatif Aisyah Sulaiman ketika menulis Syair Khadamuddin,&nbsp; Aisyah Sulaiman dan keluarganya pindah ke\nSingapura karena tak ingin hidup dalam kondisi dijajah. Pada 11 Maret tahun\n1914 suami Aisyah Sulaiman, Khalid Hitam meninggal dunia. Sehingga, Syair\nKhadamuddin ditulis setelah kematian suaminya. Pada tahap ini Aisyah Sulaiman\nmengumpulkan informasi untuk penulisan Syair Khadamuddin berdasarkan pengalaman\nkehidupan yang\ndimiliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Syair Khadamuddin merupakan syair yang\nditulis setelah Aisyah Sulaiman pindah ke Singapura dan diterbitkan pada tahun\n1926. Kepenulisan Aisyah Sulaiman menceritakan kondisi sosial dan budaya pada\nmasanya. Selain Syair Khadamuddin, Aisyah Sulaiman menghasilkan Hikayat Syamsul\nAnuar yang ditulis dan diterbitkan lebih dulu pada tahun 1890 di Pulau\nPenyengat dengan tema yang sama, yakni menyuarakan semangat emansipasi\nperempuan yang belum banyak dipikirkan kaum perempuan pada masa itu. Kedua\nkaryanya menceritakan kisah hidup Aisyah Sulaiman, namun disamarkan dengan\ntokoh-tokoh fiktif. Penyamaran dilakukan dengan tujuan agar pengarang dapat\nleluasa menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan terkait usaha Aisyah Sulaiman.<\/p>\n\n\n\n<p>Syair Khadamuddin disajikan dalam bentuk syair otobiografi. Syair ini diawali dengan kisah tentang penulisnya. Diceritakan bahwa Aisyah Sulaiman yang ditokohkan oleh Sabariah terpaksa meninggalkan kampung halaman Pulau Penyengat menuju Singapura bersama suaminya. Sebagian perjalanan hidup Aisyah Sulaiman dikisahkan seperti penjodohan dengan saudara sepupu, kemudian harus berduka menjadi janda karena ditinggal mati suaminya sehingga harus menjaga diri dari stigma sosial \u201cjanda\u201d. Kisah ini memberikan gambaran tentang perempuan yang bermartabat melalui cerita yang terkandung dalam syair.<\/p>\n\n\n\n<p>Syair Khadamuddin berkaitan dengan kisah\nKerajaan Melayu Riau Lingga hingga berlanjut dengan kisah sedih seorang istri\nyang mengalami perjuangan batin karena sikap dan pandangan hidup terhadap\nkesetiaan tunggal pada suami, kerinduan terhadap tanah air yang ditinggalkan,\ndan pandangan tentang kehidupan berkeluarga dan berbangsa. Aisyah Sulaiman\nmemanifestasikan gagasan-gagasan pribadinya melalui Syair Khadamuddin.<\/p>\n\n\n\n<p>Esensi karya sastra yang dibuat tidak hanya\nsekadar bersifat hiburan, akan tetapi sarat dengan contoh teladan, pesan dan\nnasehat yang berguna di kehidupan. Penciptaan karya sastra bertujuan untuk\nmengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kepercayaan mereka. Artinya,\nkarya sastra yang dihasilkan mencerminkan segala perkembangan pemikiran dan\nnilai hidup yang dipentingkan oleh masyarakat pada masa tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses perwujudan karya sastra diawali\ndengan konsep penciptaan. Untuk mencapai suatu penciptaankarya sastra, aktivitaskerjapolapikir\nyang diterima oleh panca indra akan menimbulkan suatu interpretasi baru.\nBerkarya merupakan upaya melahirkan kembali ide gagasan yang didukung oleh\nunsur konsep, rupa, dan peranan. Untuk mencapai suatu tujuan berkarya, gagasan\natau ide pikiran dan berbagai pengaruh lingkungan dapat mendorong terjadinya\nproses penciptaan. Gagasan yang didapatkan dari data-data informasi disusun\nkembali guna mencapai gagasan yang baru, maupun dari fenomena yang terjadi di\nlingkungan pengarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengarang menerima rangsangan dari\nlingkungan sekitar sebagai proses penciptaan karya sastra. Rangsangan tersebut\ndiolah sesuai dengan pemikiran hingga diperoleh suatu pemahaman yang disebut\ndengan ide. Perlunya wacana pengetahuan yang dimiliki oleh pengarang agar mampu\nmengkritisi fenomena yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena penciptaan karya oleh perempuan\nhingga kini belum dipandang sebagai karya yang utuh dan otonom. Karya-karya\nyang dibuat oleh perempuan bahkan dianggap seperti perusakan tubuh perempuan.\nBentuk ekspresi diri untuk perempuan, dianggap sebagai suatu kreasi\npelanggaran. Dalam hal ini kreativitas dapat terhambat saat karya tidak\nditerima dengan baik. Kreativitas mengacu pada kapasitas manusia tunggal yang\nkompleks untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi baru, dan mengekspresikan diri\ndalam cara yang unik. <\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat hari ini adalah momentum pejuang emansipasi, maka untuk perempuan-perempuan masa kini yang sedang diuji, mari kita ikuti jejak Aisyah Sulaiman dan Kartini yang mengikuti kata hati. Kenapa? Karena untuk hidup sesuai dengan kata hati sangat membutuhkan nyali. Meski yang lain berlomba-lomba membungkam, membisukan, menenggelamkan, bahkan lari. Selamat hari Kartini.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Nureza Dwi AnggraeniDosen Universitas Riau Kepulauan Perempuan-perempuan golongan tertentu aktif dalam reformasi moral dan adat internal pada awal abad kesembilan belas. Inilah yang dilakukan Kartini dan Aisyah Sulaiman. Mereka adalah jelmaan perempuan yang menentang prerogatives sexual pria bangsawan. Perempuan melawan kembali hak prerogatif laki-laki melalui gerakan kesederhanaan dari akhir abad kesembilan belas. Meski&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2900,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[32],"tags":[],"class_list":["post-2898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Aisyah-Sulaiman.png?fit=685%2C557&ssl=1",685,557,true],"author_info":{"display_name":"Redaksi jantungmelayu","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/redaksi\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Aisyah-Sulaiman.png?fit=685%2C557&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-KK","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2898"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2901,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2898\/revisions\/2901"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}