{"id":2845,"date":"2019-04-08T03:23:35","date_gmt":"2019-04-07T20:23:35","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2845"},"modified":"2024-07-09T17:25:33","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:33","slug":"mendulang-timah-menjulang-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/04\/mendulang-timah-menjulang-negeri\/","title":{"rendered":"Mendulang Timah Menjulang Negeri"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap\">Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1528\u20141824) merupakan kelanjutan Kesultanan Melayu Melaka. Berhubung dengan itu, kemajuan yang signifikan dalam bidang ekonomi dan perdagangan harus diperjuangkan untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih semasa Kesultanan Melaka. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini, kemakmuran rakyat, kejayaan kerajaan, dan marwah bangsa mesti dijaga agar dapat bersaing secara sehat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Untuk mencapai matlamat besar itu, Selat dan Kota Melaka harus dikuasai kembali. Oleh sebab itu, antara Kesultanan Melayu itu dan Kompeni Belanda tak pernah terjadi kesepakatan kerja sama yang sesungguhnya, kecuali hanya di atas kertas, dan itu pun tak pernah bertahan lama. \u201cBukankah ini negeri Beta? Tak eloklah Beta mesti mengikuti perintah Tuan!\u201d \u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Sesuai dengan\nmatlamat itu, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang memang harus menggunakan\nstrategi yang tepat agar tetap berperan dalam bidang ekonomi dan perdagangan di\nSelat Melaka, termasuk harus mampu bersaing dengan Belanda. Strategi\nperdagangan dan perlawanan itu sangat meresahkan Belanda yang berkedudukan di\nMelaka sehingga penjajah itu sangat bernafsu hendak melenyapkan Sultan Mahmud\nRiayat Syah (Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang, 1761\u20141812) dan Raja\nHaji (Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, 1777\u20141884) agar kawasan\nkerajaan besar Melayu itu dapat dikuasai mereka. Akan tetapi, Belanda tak berhasil\nmewujudkan ambisinya karena terus saja mendapat perlawanan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pembangunan ekonomi\ndan perdagangan terus dilaksanakan di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Setelah\nRaja Haji Fisabilillah gugur sebagai syuhada di Teluk Ketapang pada 18 Juni\n1784, Belanda mengira selesai jugalah riwayat perlawanan Sultan Mahmud Riayat\nSyah dan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Ternyata, hal yang sebaliknyalah\nyang terjadi. Kesultanan Melayu itu semakin kukuh. Perlawanan terhadap Belanda\nterus berkobar, terutama di kawasan Riau-Lingga dan Selat Melaka, bahkan sampai\nke Laut Jawa. Menurut Taufik Abdullah (1988), dominasi Belanda sewaktu-waktu\ndilawan. Sultan Mahmud Riayat Syah\u2014bersama-sama dengan para \u201cperompak lanun\u201d\u2014berhasil\nmenghancurkan benteng Belanda di Tanjungpinang (1787). <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sultan\nMahmud Riayat Syah&nbsp; berusaha membangun\nkembali jaringan perdagangan yang telah terbentuk. Salah satunya perdagangan\nberas dari Jawa. Dalam pada itu, perkebunan gambir tetap dijalankan oleh\norang-orang Tionghoa. <\/p>\n\n\n\n<p>Lucas Partanda Koestoro dalam bukunya <em>Dapur\nGambir&nbsp; <\/em><em>d<\/em><em>i Kebun Lama Cina, Jejak Kegiatan Perekonomian Masa Lalu Sebagai Potensi\nSumber Daya Arkeologi Pulau Lingga<\/em><em> <\/em>(tanpa tahun)menjelaskan ini. Jauh dari&nbsp; keramaian kota\npesisir, kelompok masyarakat Cina itu disediakan lahan di tengah&nbsp; hutan. Mereka mendirikan tempat tinggal di\nsekitar kebun dan dapur gambir. Rumah panggung, di Kebun Cina Lama ditandai\noleh umpak batu yang menjadi dasar tiang-tiang rumah, memungkinkan mereka untuk\nbertempat tinggal dengan nyaman. Kayu dan bambu serta atap ilalang\/daun nipah\ndiperoleh di lingkungan sekitarnya. Air untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan\nuntuk pembuatan gambir dengan mudah diperoleh karena ada sungai yang mengalir\nsepanjang tahun dengan kualitas air yang baik di dekat tempat tinggal dan dapur\ngambir. Dalam pada itu, pelbagai jenis wadah yang diperlukan dapat dipenuhi\ndengan mendatangkan pelbagai produk keramik dan tembikar dari pelbagai tempat,\nterutama dari Cina. Bahan makanan utama juga diperoleh melalui jalur\nperdagangan, yang merupakan salah satu bentuk kontak sosial, yang berlangsung\nsecara rutin di pesisir pantai. Beras, sagu, dan ikan diperoleh dengan mudah\ndari para pedagang yang menjajakannya di pusat-pusat keramaian.<\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Mahmud Riayat\nSyah telah paham benar perjalanan sejarah kerajaannya, yang merupakan penerusan\nKerajaan Bintan dan Melaka. Senantiasa terjadi pasang-surut, turun-naik, dan jatuh-bangun\ndi kerajaannya karena konflik, baik karena pertikaian dari kalangan dalam\nkerajaan sendiri maupun karena berhadapan dengan Portugis dan Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Sultan Melayu\nyang cerdas dan patriotik itu, posisi wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang\nyang&nbsp; strategis, terutama dalam jalur\nperdagangan dunia, merupakan potensi sekaligus modal besar untuk kembali\nmenjayakan kerajaan. Oleh sebab itu, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang mesti berperan\nutama dalam lalu-lintas pelayaran dan perdagangan di &nbsp;Selat Melaka. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Tanu\nSuherly (1988), kedudukan geografis Kesultanan Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang\nterletak pada pelayaran antara Selat Melaka dan Laut Cina Selatan serta antara\nSelat Melaka dan Laut Jawa. Kedudukan tersebut memiliki nilai strategis dalam\njalur perniagaan, tetapi juga memiliki kerawanan dalam bidang keamanan. Oleh sebab\nitu, keberhasilan pemimpin kerajaan itu (dalam hal ini Yang Dipertuan Besar\nSultan Mahmud Riayat Syah yang dibantu oleh Yang Dipertuan Muda III Daing\nKamboja, yang dilanjutkan oleh Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji, lalu Yang\nDipertuan Muda V Raja Ali, sampai kepada Yang Dipertuan Muda VI Raja Jaafar)\nmembangun negerinya merupakan kejayaan besar. Pasalnya, begitu besarnya ancaman\ndari Kompeni Belanda yang terus berusaha ingin menguasai wilayah nusantara.\nDan, nyatalah pada waktu kerajaan itu berdiri (sebagai kelanjutan Kesultanan\nMelaka), jalur pelayaran Melaka\u2014Jakarta (Batavia) sudah berada di bawah kontrol\nKompeni Belanda. Mereka hendak memonopoli perdagangan dan mengukuhkan kedudukannya\ndi Jakarta pada 1619 dan memberi nama Jakarta sebagai Batavia. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di\ndalam <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> disebutkan pula\noleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSyahdan (kata sahib al-hikayat)\napabila kompeni Holanda mendengar khabar\/orang-orang Cina itu (telah\ndifikirkannya), maka tiadalah diusirnya segala orang Melayu (yang lari-lari)\nitu, dan Piter Jakub pun baliklah ke Melaka ditinggalkannya satu fetus serta\nsatu kapal (perang serta beberapa jaga-jaga) bersama-sama. ((Maka))\ndiperbuatnyalah loji di Tanjungpinang itu (itu) dan Cina-Cina itu pun disuruhnyalah\nmengerjakan, kebun-kebun gambir (orang) Melayu yang tinggal(tinggal) itu dan\nperahu-perahu Jawa pun disuruhnyalah datang berniaga membawa beras ke dalam\nRiau berpalu-palu dengan gambir-gambir). Akan tetapi, berapa-berapa kesusahan\natas segala orang yang berniaga karena perompak seperti anak hayam\numpamanya\/daripada kebanyakan. Maka tiada berhenti Kompeni Holanda payar\nmemayar keruhlah lautan itu. Syahadan adapun Kompeni Inggris juga membawakan,\nubat bedil dan meriam dan senapang berjual beli didalam negeri Melayu berpalu dengan\ndagangan negeri(negeri) Melayu,\ndemikianlah halnya sehari-hari ((adanya)),\u201d (Ahmad &amp; Haji dalam Matheson Hooker (<em>Ed.<\/em>) 1991, 428).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selain\nkomoditas beras dan gambir, perdagangan timah, apiun, obat bedil, peluru, dan\nmeriam senapang kembali mewarnai perekonomian Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.\nKenyataan itu juga disebutkan di dalam <em>Tuhfat\nal-Nafis<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAdalah kata\nriwayat orang tua-tua ada konon satu orang putih kapitan kapal sahabat Yang\nDipertuan Muda itu, memang\/memang\/pada masa di Linggi Yang Dipertuan Muda\nberniaga-niaga timah-timah dengan dia, jadi bersahabatlah tolong-menolong\ndengan Yang Dipertuan Muda itu pada pekerjaan berniaga-niaga itu. Maka apabila\nYang Dipertuan Muda sudah pulang ke Riau semula, maka datanglah ia mendapatkan\nYang Dipertuan itu ke Riau padahal kapalnya itu ada membawa apiun beribu-ribu\npeti. Maka tatkala ia berlayar ke China, maka ditinggalkankannya setengah\nkepadaYang Dipertuan Muda minta jualkan di dalam Riau. Nanti apabila ia balik\ndari negeri China, jika habis laku diambil wangnya, dan adalah pula keuntungan\nYang Dipertuan Muda di dalam itu. Syahadan maka apiun itulah diserahkan oleh\nYang Dipetuan Muda kepada segala perahu-perahu Bugis dan perahu-perahu dagang\nmana-mana orang yang sahabat handai Yang Dipertuan Muda itu. Maka habislah\napiun itu konon, maka cukuplah akan pembayar hutang marhum,\u201d (Ahmad &amp; Haji\ndalam Matheson Hooker (<em>Ed.<\/em>) 1991, 316).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah\nmenang dalam Perang Riau II melawan Kompeni Belanda pada 13 Mei 1787, pusat\nkesultanan dipindahkan ke Daik-Lingga sejak 24 Juli 1787. Duli Yang Mahamulia\nSeri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah pun membuka\npertambangan timah di Singkep. Selain dikerjakan oleh orang Melayu dan Bugis, Seri\nPaduka Baginda juga mendatangkan orang-orang dari Bangka untuk penambangan\ntimah tersebut. Dengan demikian, perekonomian berhasil dibangun kembali.\nBahkan, penduduk Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kembali ramai karena didatangi\norang-orang dari pelbagai kawasan di nusantara. <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> kembali mengisahkan hal itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAlkisah maka\ntersebut(lah) perkataan Baginda Sultan Mahmud di dalam Negeri Pahang. Maka\napabila dinantikan bicara Yang Dipertuan Terengganu perbaikan-perbaikan dia\ndengan Kompeni Holanda, (maka) tiada juga juga datang suruhnya atau\nkhabar(nya), maka Baginda (Sultan Mahmud) pun berangkatlah balik ke Negeri\nLingga. Maka apabila sampai ke (negeri) Lingga tetaplah ia di dalam Lingga\nserta orang-orang Melayu dan peranakan Bugis sehari-hari jua memikirkan\npencarian (segala) orang-orangnya (sama ada sebelah suku-suku Melayu atau\nsebelah Bugis). Maka dengan takdir Allah Taala maka terbuka ((tanah)) Singkep,\nmaka Baginda (Sultan Mahmud) pun menyuruhlah orang-orang Melayu dan peranakan\nBugis mengerjakan timah-timah di situ serta (diaturkannya) masing-masing (dan\nmasing-masing) bahagian (dan) datanglah kapal-kapal Inggris ke situ\nmeninggalkan beberapa wang cengkeramnya timah pulang pergi. Maka dapatlah\nsedikit-sedikit rezeki dan kehidupan orang-orangnya. Dan perahu-perahu dari\n(negeri) timur (timur) pun datang (juga) membawa beras ke Lingga (dan\nberas-beras dari dari rantau-rantau pun datang juga), dan wangkang-wangkang\n(dari) China pun datang juga. Maka di dalam hal itu perompak-perompak pun\nbanyak juga karena baginda (Sultan Mahmud) belum (tetap lagi) berdamai dengan Kompeni\nHolanda, dan Kompeni Inggris pun selalu juga membawakan ubat bedil dan peluru\ndan meriam senapang\/dan\/berpalu dengan (dagangan) timah-timah dan lainnya. Maka\nbesarlah perompak pada seketika itu. Adalah kepalanya\/perompakitu\/Panglima\nRaman namanya, hingga merompak ia ke tanah Bangka (hingga) lalu(lah) ke Jawa.\nMaka banyaklah orang Bangka dan (orang) Jawa ditawannya dibawanya ke Lingga\ndijadikannya isi negeri Lingga. Lama-lama sukalah orang-orang Bangka itu diam\ndi Lingga membuat kebun dan dusun tiadalah ia mau balik ke Bangka lagi.\nTerkadang datang sanak-sanak saudaranya dari Bangka dengan suka hatinya (tiadalah\ndengan rompak) memperhambakan dirinya di bawah perintah baginda Sultan Mahmud.\n(Maka) jadilah ramai (di dalam) negeri Lingga,\u201d ( Ahmad &amp; Haji dalam Matheson\nHooker (<em>Ed.<\/em>) 1991, 447).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Belanda\nsangat bernafsu hendak menguasai usaha perdagangan timah. Akan tetapi, &nbsp;mereka tak dapat menaklukkan Sultan Mahmud\nRiayat Syah. Dan, memang nyatalah bahwa Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud tak\nsudi melakukan perhubungan dagang dengan Belanda. Bahkan, Baginda Sultan yang\nvisioner itu menetapkan penambangan timah dilakukan sendiri oleh Kesultanan\nLingga-Riau-Johor-Pahang. Penjualannya dilakukan kepada Inggris, bukan kepada\nKompeni Belanda. Timah di Pulau Singkep yang berhasil dirintis oleh Baginda Sultan\nMahmud Riayat Syah ini dalam perkembangannya dikenal sebagai salah satu tambang\ntimah terbesar di Indonesia, selain Bangka di Bangka-Belitung. <\/p>\n\n\n\n<p>Penambangan timah\ndi wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor Pahang semakin memberikan hasil yang\njelas pada masa Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah. Menurut Sutedjo\nSujitno (2007:18), Ir. Hovec yang melakukan penelitian timah di Kepulauan Riau\npada 1963 berpendapat, \u201cPenggalian timah untuk pertama kali dilakukan oleh\norang-orang pribumi di Pulau Singkep telah terjadi sejak dahulu kala, dan <em>adalah lebih tua umurnya daripada di Bangka\u2026.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan\npendapat tersebut, penambangan timah di Singkep telah dilakukan sebelum 1709.\nTimah sudah dihasilkan dari Pulau Singkep atau setidak-tidaknya dari kawasan\nKepulauan Riau (Kesultanan Riau-Johor-Lingga-Pahang) semasa Sultan Mahmud\nRiayat Syah. Pada 1787 Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan\nke Pulau Lingga dan mengutip pajak penjualan timah. Pada 1792 keluarga Abang\nTawi, bangsawan Mentok (Bangka) yang pindah ke Singkep, diterima oleh Sultan\nLingga dan diberi hak untuk menambang timah di pulau itu. Pada 1812 Seri Paduka\nBaginda Sultan mulai mengusahakan timah di Sungai Buluh, yang dilengkapi dengan\nkincir air&nbsp; untuk memompa kolong. Tak\nkurang dari 70 orang Tionghoa bekerja di tambang Sungai Buluh itu dan\nselanjutnya Seri Paduka Baginda Sultan mewajibkan para penambang untuk menjual\nhasil timah kepadanya yang akan dibayar dengan harga tetap.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang\nmenjadi pusat perdagangan atau pelabuhan transito antara Timur dan Barat. Hal\nini disebabkan oleh sangat strategisnya letak Kepulauan Riau dalam jalur\nperdagangan itu, juga sebagai akibat dari berkembangnya arus perdagangan ke Kepulauan\nRiau pada masa itu. Pedagang-pedagang India, Sri Langka, Arab, dan negara-negara\nBarat: Belanda, Inggris, Perancis, dan Portugis telah bertarung\nmemperebutkan&nbsp; Riau-Lingga. Inggris\nberusaha mendekati Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (Yang Dipertuan Besar Sultan\nMahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda Raja Haji) agar dapat secara\nbersama-sama menghadapi Belanda. Akan tetapi, Seri Paduka Sultan Mahmud tak mau\nbekerja sama dengan cara seperti itu. Dalam hal ini, yang disetujui hanya sebatas\nkerja sama dalam perdagangan saja, terutama perdagangan timah. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut A.B.\nLapian (1988, 198-199), keramaian dan\nkemakmuran Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menunjukkan kenyataan ini. Pada\nwaktu itu (pertengahan abad ke-18) pusat pelayaran dan perdagangan di kawasan\nperairan Selat Melaka telah berpindah ke Riau-Lingga, meneruskan kejayaan Johor\nsebagai pusat pelayaran dan perdagangan di kawasan ini pada abad ke-17. Keadaan\nitu terjadi setelah berakhirnya kemelut sepeninggal Sultan Mahmud Syah II,\nSultan Johor ke-8, atau Sultan Mahmud Mangkat Dijulang pada akhir Juli atau\nAgustus 1699.<\/p>\n\n\n\n<p>Seri Paduka\nBaginda Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah lagi-lagi menampilkan\nkinerja yang unggul sebagai pemimpin Melayu. Baginda berjaya memakmurkan negeri\ndan membahagiakan rakyatnya dengan kesejahteraan. Kesemuanya itu dapat dicapai berkat\nkepiawaian dalam kebijakan pembangunan di bidang ekonomi dan perdagangan.\nPadahal, untuk mewujudkan matlamat besar dan mulia itu, Baginda senantiasa\ndalam intaian pihak musuh, yakni Belanda yang sangat bernafsu untuk melenyapkan\nnyawa pemimpin ulung itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi,\nkarena niat Baginda tulus dalam membangun bangsa dan negaranya, Sultan Melayu\nyang piawai itu senatiasa mendapat inayah Allah. Hal itu bermakna dalam keadaan\nsulit Baginda tetap mampu membangun bangsa dan negara. Nyatalah memang, Sultan\nMahmud Riayat Syah sejatinya pemimpin Melayu terbesar sepanjang masa, yang\nsangat sulit dicari penggantinya.*** <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1528\u20141824) merupakan kelanjutan Kesultanan Melayu Melaka. Berhubung dengan itu, kemajuan yang signifikan dalam bidang ekonomi dan perdagangan harus diperjuangkan untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih semasa Kesultanan Melaka. Dalam hal ini, kemakmuran rakyat, kejayaan kerajaan, dan marwah bangsa mesti dijaga agar dapat bersaing secara sehat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Untuk mencapai matlamat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2846,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-2845","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-new-singkeo.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/AM-new-singkeo.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-JT","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2845","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2845"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2845\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2847,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2845\/revisions\/2847"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2846"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}