{"id":2726,"date":"2019-04-01T09:43:59","date_gmt":"2019-04-01T02:43:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2726"},"modified":"2024-07-09T17:25:33","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:33","slug":"tiga-syair-karya-mohamad-cassim-pengarang-tanjungpinang-abad-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/04\/tiga-syair-karya-mohamad-cassim-pengarang-tanjungpinang-abad-19\/","title":{"rendered":"Tiga Syair Karya Mohamad Cassim (Pengarang Tanjungpinang Abad 19)"},"content":{"rendered":"\n<p>Ketika pulang ke Negeri Belanda pada\ntahun 1896, mantan Resident Riouw, A.L. van Hasselt, membawa serta beberapa manuskrip\nMelayu sebagai hadiah. Diantaranya adalah sebuah manuskrip yang berisikan tiga\nbuah syair Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dari\nTanjungpinang ke Belanda<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sepintas lalu, manuskrip syair koleksi warisan perpustakaan <em>Koninkelijk Instituut voor de Taal- Land- en Volkenkunde<\/em> (KITLV) dengan nomor katalogus Or. 106 yang kini berada dalam simpanan Perpustakaan Universitas Leiden inipernah disinggung dalam ruang kutubkhanah yang mempekenalkan <em>Syair Alif Ba Ta<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam katalog lama KITLV yang disusun oleh Dr. Ph. S. Van Ronkel, <em>Catalogus der Maleische Handschriften van Het Koninkelijk Instituut voor de Taal- Land- en Volkenkunde<\/em> (BKI, volume 60, 1908: 227), manuskrip ini hanya diberi diberi judul \u201c<em>Sjairs<\/em>\u201d.Namun demikian, dalam katalog mutakhirnya yang disusun oleh filolog Prof. Dr. Teuku Iskandar, <em>Catalogue of Malay, Minangkabau and Sout Sumatran Manuscripts in Netherlands<\/em> (1999:775), judul itu tidak dipergunakan lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut van Ronkel manuskrip ini adalah hadiah, tanda mata, atau sumbangan (<em>geschenk<\/em>) dari A.L. van Hasselt kepada Perpustakaan KITLV di Leiden. Sementara itu Teuku Iskandar mencatat manuskrip ini diserahkan kepada KITLV oleh A.L. van Hasselt pada tarikh 18 Juli 1903.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum kekal sebagai koleksi warisan Perpustakaan KITLVLeiden, manuskrip syair ini menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke Negeri Belanda. Proses penulisannya dilakukan \u00a0di Tanjungpinang\u00a0 oleh seorang pengarang syair bernama Mohamad Cassimpada tahun 1896. Selain manuskrip Or. 106 ini, tidak ada bahan informasi lain yang yang dapat menejalskan jati diri Mohammas Cassim sebagai pengarangnya. Namanya nyaris terlupakan dalam sejarah tradisi penulisan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada abad ke-19. Padahal ia hidup sezaman dengan Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Raja Muhammad Thahir dari Pulau penyengat yang juga menulis dan meninggalkan karya yang ditulis menggunakansyair Melayu sebegai wahana kereatifitasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sama seperti pengarang-pengarang sezaman dari Pulau Penyengat, Mohammad Cassim juga masih memnggunakan tulisan jawi atau huruf Arab Melayu sebagai media kreatifitasnya. Dalam manuskrip Or, 106 karya Mohammad Cassim ini terdapat tiga buah syair dengan judul sebegai berikut:<em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em>, Syair Firasat Perempuan, dan <em>Sair Slamat Sri Padoeka Toean Besar Berangkat Berlajar.<\/em> Berikut ini adalah sekilas-lintas ulsan tentang ketiga syair itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Syair Ta\u2019bir Mimpi <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam manuskrip Or. 106 koleksi warisan Perpustakan KITLV Leiden, <em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em> ditulis pada 19 halaman pertama dari 69 halaman yang terdapat dalam manuskripberisikan tiga buah judul \u00a0syair, dan setiap halamannya terdiri dari 11 bait syair.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti lazimnya sebuah syair Melayu, Mohamad Cassim memulai untaian syair ini dengan \u2018salam pembuka\u2019 sembari menyebutkan nama Allah. Lalu menjelaskan bahwa syair karangannya bukan syair <em>cumbu-cumbuan<\/em> (kisah percintaan) dan bahan sumber syairnya berasal dari kitab karangan ulama.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu ia menjelaskan maksud dan tujuannya mengarang <em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em> untuk membantu agar orang mudah menafsir sebuah mimpi, sebagaimana dinukilkannya dalam sebuah bait sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n<p> <em>Ta\u2019bir mimpi diperbuat syair<br> Dikarang dengan sehabis taksir<br> Duduk termenung mencari fikir<br> Supaya senang orang menaksi<\/em>r<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Mohamad Cassim, mimpi itu bermaca ragam. Tidak jarang pula yang <em>pelik<\/em>, <em>merapik<\/em>, dan <em>ghaib,<\/em> sehingga membuat <em>hairan<\/em> orang yang bermimpi. Seperti pendapat para ulama,\u00a0 setiap mimpi mengandung makna \u2018tersirat\u2019. Oleh karena itu diperlukan penuntun untuk menafsirkannya. Dan tentang hal ini, Mohamad Cassim menegaskannya dalam sebuah bait sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n<p><em>Perkara mimpi terlalu halus<br>\u2018Alamatnya banyak jahat dan bagus<br>Orang yang fasik tiada lulus<br>Gila dan mabuk tiada harus<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Melalui <em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em> ini, Mohamad Cassim bermaksud menjelaskan beragam tafsir terhadap berbagai mimpi yang <em>ghaib, pelik<\/em>, dan <em>merapik <\/em>dalam dalam setiap tidur seorang anak manusia. Dalam bait-bait selajutnya ia memberikan berbagai ragam tafsir mimpi, dimulai dari tafsir atau <em>\u2018alamat<\/em> yang <em>bagus<\/em> hingga yang <em>jahat<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bait-bait tafsir \u2018alamat mimpi dalam sayair ini dimulai dengan bab pertama yang menjelas tafsir atau <em>ta\u2019bir <\/em>yang paling indah ketika seseorang muslim maupun kafir bermimpi tentang Allah dan Rasul-Nya:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika bermimpi melihat Allah <br>\u2018Alamat kebesaran dikurniakan Allah<br>Sebarang maksudnya tentu sampailah<br>Sekalian pekerjaan member faedah.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika bermimpi berjumpa Rasul<br>\u2018Alama orang itu teralu betul<br>Tidak dia menanggung masygul<br>Segala pintaknya semuanya maqbul<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika orang kafir yang memimpikan<br>\u2018Alamat dia beroleh kebajikan<br>Masuk Islam tentu dikehandakkan<br>Kedalam surga kelak disejahterakan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kesudahan <em>Syair Ta\u2019bir Mimp<\/em>i ini ditutup dengan nama serta tangan Mohamad Cassim sebagai pengarangnya, dan tariknya penulisannya di <em>Riouw<\/em> (Tanjungpinang) pada 20 Februari 1896 yang bersamaan dengan 6 Ramadhan 1313 Hijriah.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah bait-bait penutup <em>Syair Ta\u2019bir Mim<\/em>pi \u00a0itu, terdapat catatan singkat dalam tulisan <em>rumi<\/em> dan <em>jawi<\/em> yang menyatakan judul syair selanjutnya: <em>Disebelah ini Syair Firasat Perempuan\u00a0 dan Ra\u2019si Orang Berlaki-Istri<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Syair Firasat\nPerempuan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong> <\/strong>Bagian yang berisikan <em>Syaiar Firasat Perempuan<\/em> ini\u00a0 dutulis pada halaman 20 hingga 37 dalam manuskrip Or. 106 koleksi warisan KITLV Leiden. Sama seperti <em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em>, pada setiap halamannya terdapat 11 bait syair.Seperti tertera pada tiga baris catatan diakhir <em>Syair Ta\u2019bir Mimpi<\/em>, <em>Syair Firasat Perempuan<\/em>ini sesungguhnya terdiri dari \u2018dua bagian\u2019 syair saling berkaitan yang digabung menjadi satu. Yakni<em>Syair Firasat Perempuan<\/em>dan sebuah karya \u2018<em>horoscope Melayu<\/em>\u2019 berjudul<em>Ra\u2019si Orang Berlaki Istri<\/em> yang digubah dalam bentuk syair.<\/p>\n\n\n\n<p>Kandungan isi syair ini adalah pedoman bagi sekalian kaum laki-laki yang <em>ghani <\/em>ketika hendak memilih dan <em>menilik <\/em>perempuan yang baik untuk dijadikan istri sebegaimana dikulikannya dalam bait-bait sebegai berikut: <\/p>\n\n\n\n<p><em>Arrahim itu yang amat mengasihani<br>Kepada sekalian hambanya yang ghani<br>Jikalau hendak mencari bini<br>Lihatlah tuan didalam fatwa ini.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Perempuan nin ada jahat dan baik<br>Hendaklah pandai kita menilik<br>Kalau tak patut dijadikan milik<br>Jangan berhajat hendak sebilik<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Bagian awal <em>Syair Firasat Perempuan<\/em> (halaman 20-29), berisikan pedoman untuk melihat <em>firasat<\/em> atau tanda-tanda fisik, bentuk anggota tubuh tertentu, warna kulit, bentuk muka, dan lain sebagainya yang menjadi penanda baik tidaknya seorang perempuan dipilih menjadi istri. Penanda-penanda tersebut dibagi dalam beberap <em>laksana<\/em> (ibarat).Sebagai ilustrasi, penanda perempuan yang baik, serta mendatangkan pahala dan reski bila dipilih menjadi istri adalah sebegai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama laksana yang baiknya<br>Ada pusaran di ubun-ubunnya<br>Bertimbilan dua yang baiknya<br>Lebih laksana konon namanya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Itulah baik diambil istri<br>Janganlah takut belanja diberi<br>Demikian itu sukar dicari<br>Pandai sangat meliharakan diri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jikamukanya bulat tubuhnya nipis<br>Tanda mulia laksananya majelis<br>Hantar belanjanya jangan dirapis<br>Boleh dibawak ditengah majlis<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Bagian kedua\u2019 dari syair ini (halaman 30-37) berisikan sebuh \u2018s<em>yair horocope Melayu\u2019 <\/em>berjudul <em>Ra\u2019si Orang Berlaki Istri<\/em> yang digubah dalam bentuk syair. Syair ini mirip seperti <em>Shaer Raksi<\/em> karya Raja Haji Ahmad dari Pulau Penyengat yang diterbitkan oleh percetekan milik Haji Muhammad Amin di Singapura pada 1915. Menurut Hans Overbeck (1923), syair-syair seperti ini antara lain merujuk kepada karya-karya Shaikh Jalalud-din.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>Syair Ra\u2019si Orang Berlaki Istri<\/em>\u00a0 ini, perhitungan baik-buruk dan nasib perjodohan seorang calon suami-istri ditentukan berdasarkan hasil penjumlahan nilai huruf pada kedua nama calon suami-istri yag kemudian dikurangi dengan angka 9. Setiap angka hasil pengurangan itu mengandungi makna ramalan tententu, seperti contoh berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika ampat dengan ampat<br>Ra\u2019sinya itu kurang mufakat<br>Umpama genggaman tiada rapat<br>Sebarang pencarian tiada didapat.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika ampat dengan lima<br>Ra\u2019sinya itu boleh diterima <br>Bolehlah senang duduk bersama<br>Senantiasa bercengkrama.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Syair Untuk A.L.\nVan Hasselt<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalama manuskrip Or. 106, syair paling pedek tertera pada 39 hingga 41 dan hanya\u00a0 terdiri dari 36 bait syair saja. Penulisan syair ini ditujukan khusus kepada A.L. van Hasselt, salah seorang Resident Belanda di <em>Riouw<\/em> (Tanjungpinang) yang terkenal karena melakukan perlayaran inspeksi ke Pulau Tujuh bersama Raja Ali Kelana:sepulang dari perlayaran bersejarah itu, keduanya membuat laporan perjalanan menurut versi masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>Raja Ali Kelana kemudian mempublikasikan laporan perjalanannya dengan judul<em>Pohon Perhimpunan<\/em> (1898), dan pada tahun yang sama A.L. van Hasselt menerbitkan pula laporannya dalam bahasa Belanda dengan judul <em>De Poelau Toedjoeh In Het Zuidelijk Gedeelte der Chineesche Zee<\/em> (Pulau Tujuh di Bagian Laut Cina Selatan).<\/p>\n\n\n\n<p>Resident A.L. van Hasselt terkenal sebagai seorang pejabat kolonialyang sangat sangat dekat dengan masyarakat di tempat ia bertugas\u00a0 dan punya minat yang besar terhadap sejarah dan kebudayan mereka. Termasuk ketika menjabat sebagai <em>Resident Riouw<\/em> di Tanjungpinang atara tahun 1893 hingga tahun 1896.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika ia akan berangkat berlayar dari Tanjungpinang untuk pulang ke Negeri Belanda bersma anak dan istrinya pada 1896, Mohammad Cassim menuliskan syair elu-eluan tentang peristiwa itu\u00a0 dan sekaligus dipersembahkannya sebagai hadiah kepada A.L. van Hasselt.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh Mohamad Caasim, Syair elua-eluan itu diberinya judul, <em>Sair Slamat Sri Padoeka Toean Besar Berangkat Berlajar <\/em>\u00a0. Selasai ditulis di <em>Riouw <\/em>(Tanjungpinang) pada 30 Maret 1996.Didalamnya antara lain dilukiskan dan diungkapkan suasana perpisahan dan ucapan semoga selamat sampai di tujuan, serta kilas balik masa-masa pemerintahan di wilayah <em>Residetie van Riouw<\/em> selama A.L. van Hasselt menjadi Resident.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam syair ini, Mohamad Cassim mengungkapkan resa hatinya sempena berlayarnya \u00a0A.L. van Hasselt ke Belanda membawa anak istri <em>serupa pindah<\/em>. Dalam bait-bait syairnya, anatara lain ia menukilkan sebagai berkut: <\/p>\n\n\n\n<p><em>Hatinya hamba menaruh gundah<br>Tuan besar berangkat serupa pindah<br>Pulang ke Eropah negeri yang indah<br>Datang kemari tiadakan mudah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Berangkat membawak anak dan istri<br>Berlayar pulang ke negeri sendiri<br>Ke tanah Eropah negeri yang bahri<br>Tempat bersukaan setiap hari<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ketika berita\ntentang wafattnya mantan Resident Riouw, A.L. van Hasselt, muncul di <em>Leeuwarder Courant<\/em> yang terbit di\nBelanda pada 23 Maret 1904 kita mendapatkan tambahan&nbsp; penjelasan bahwa A.Al. van Hasselt berangkat ke\nEropah ketika itu karena cuti sakit. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian\ntampaknya ia tidak pernah kembali ke Tanjungpiang sebagai <em>Resident Riouw<\/em>,\nkarena ditunjuk sebagai guru besar sejarah dan antropologi Hindia Belanda di\nsalah perguruan tinggi di kota Delf pada 1898.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika pulang ke Negeri Belanda pada tahun 1896, mantan Resident Riouw, A.L. van Hasselt, membawa serta beberapa manuskrip Melayu sebagai hadiah. Diantaranya adalah sebuah manuskrip yang berisikan tiga buah syair Melayu. Dari Tanjungpinang ke Belanda Sepintas lalu, manuskrip syair koleksi warisan perpustakaan Koninkelijk Instituut voor de Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) dengan nomor katalogus Or&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2727,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32],"tags":[],"class_list":["post-2726","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Halaman-Pertama.jpg?fit=699%2C445&ssl=1",699,445,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Halaman-Pertama.jpg?fit=699%2C445&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-HY","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2726","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2726"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2726\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2728,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2726\/revisions\/2728"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2726"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2726"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2726"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}