{"id":2712,"date":"2019-03-29T14:50:32","date_gmt":"2019-03-29T07:50:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2712"},"modified":"2024-07-09T17:25:34","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:34","slug":"adinda-jangan-berhati-rawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/03\/adinda-jangan-berhati-rawan\/","title":{"rendered":"Adinda Jangan Berhati Rawan"},"content":{"rendered":"\n<p>MUSUH,\nyakni tentara Kerajaan Hindustan yang menyerbu secara tergempar (mendadak,\ntiba-tiba), telah memasuki wilayah Kerajaan Barbari. Padahal, sebelum ini\nperhubungan antara Kerajaan Barbari dan Kerajaan Hindustan baik-baik saja.\nKecuali, Sultan Hindi memang memendam dendam kesumat kepada Sultan Kerajaan\nBarbari. Pasalnya, mamanda (paman)-nya dipenjara di Negeri Barbari karena\nperbuatannya melawan hukum, yakni menipu orang dalam perniagaannya. Dendam\npemimpin Negeri Hindustan itu, bahkan, tak diketahui oleh Sultan Abdul Muluk, pemimpin\nKerajaan Barbari. Dalam penyerbuan ke Negeri Barbari, pasukan Kerajaan\nHindustan dipimpin langsung oleh rajanya, Sultan Syihabuddin.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena diserang secara tiba-tiba,\nKerajaan Barbari memang tak dapat berbuat banyak, kecuali berupaya\nsedapat-dapatnya untuk bertahan. Mereka, bahkan, tak dapat menghimpun bantuan\ndari kerajaan-kerajaan sahabat dan negeri-negeri di bawah takluknya. Dalam\nkeadaan genting itulah, kepemimpinan Sultan Abdul Muluk, pemimpin Negeri\nBarbari, diuji kualitas dan kapasitasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ternyata, Sultan Abdul Muluk mampu\nmenghadapi situasi itu dengan tenang. Dia segera memimpin rapat mendadak dengan\npara menteri dan orang besar-besar kerajaan untuk menghadapi pasukan penceroboh\ndari Negeri Hindustan. Rapat memutuskan bahwa sultan harus tetap bertahan di\nistana walaupun Sultan Abdul Muluk kurang bersetuju dengan keputusan itu. Dalam\nhal ini, pasukan Kerajaan Barbari dipimpin oleh panglima perang kerajaan, yang\ndi dalam pasukan itu termasuklah Wazir Suka, menteri yang muda usia tetapi\nsemangat dan kenegarawanannya dalam membela bangsa dan negara sungguh luar\nbiasa. Itulah sebabnya, Wazir Suka termasuk pembesar kerajaan yang sangat\nmembanggakan hati Sultan Abdul Muluk.<\/p>\n\n\n\n<p>Para menteri, panglima, dan tentara\nsekaliannya sangat tegar dan perkasa menghadapi serangan pasukan Kerajaan\nHindustan. Pasalnya, mereka disemangati, antara lain, ketenangan Sultan Abdul\nMuluk dalam menghadapi situasi genting itu. Padahal, sasaran utama Raja\nHindustan dalam perang itu, karena dendam dan keinginannya untuk merebut\npermaisuri Kerajaan Barbari, adalah Sultan Abdul Muluk. Dia harus ditangkap\ndalam keadaan hidup ataupun mati.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perang berkecamuk dengan cepat.\nDalam waktu yang tak terlalu lama, terutama karena tak ada persiapan yang\nmemadai untuk menangkal serangan musuh, beberapa menteri, panglima perang, dan\ntentara, bahkan rakyat Kerajaan Barbari yang secara suka rela ikut berperang\nuntuk mempertahankan negeri mereka, tewas dan atau dapat ditawan oleh pasukan\nmusuh. Wazir Suka termasuk pembesar kerajaan yang dapat ditawan oleh pasukan\npenceroboh. Di medan perang itu mayat-mayat bergelimpangan, terutama dari\npasukan Kerajaan Barbari.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah mendapat laporan terkini\ndari medan perang, Sultan Abdul Muluk langsung membuat keputusan. Dia sendirilah\nyang harus turun ke medan perang untuk memimpin pasukan kerajaannya. Tak rela\ndia semakin banyak pasukannya harus tertawan dan atau mati di medan perang.\nMenurutnya, sudah saatnya kepemimpinannya di medan perang sangat diperlukan\nsehingga dia tak harus hanya berdiam diri di istana sebagai pemimpin negeri. Keputusan\nitu diambilnya berdasarkan pikiran yang jernih, perasaan yang tenang, tanpa\nterbawa emosi yang berlebihan, walaupun dia sungguh-sungguh sedih pasukannya\nbanyak yang tertawan dan atau terbunuh oleh pasukan musuh. Kualitas dirinya\nitulah\u2014tenang atau tak gopoh\u2014menghadapi situasi yang genting menunjukkan\nkelasnya sebagai pemimpin terbilang.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selanjutnya, Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em> dalam karya beliau <em>Syair Abdul Muluk<\/em> (1846), bait 656\u2014657,\nmenuturkan bahwa Sultan Abdul Muluk segera menemui permaisurinya, Siti Rahmah,\ndi istana. Dia hendak memberi tahu istri tercintanya itu perihal dirinya harus\nsegera bergabung dan memimpin pasukan negeri mereka berperang melawan musuh\nyang datang tanpa diundang.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p><em>Sultan\nberkata kepada isteri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Durjanya\nmanis amat berseri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ayuhai\nAdinda permaisuri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kakanda\nhendak keluar sendiri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Adinda\njangan berhati rawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kakanda\nhendak keluar berlawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jikalau\nada khilaf kesalahan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Harapkan\nAdinda yang memaafkan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Begitulah sifat dan watak Sultan\nAbdul Muluk. Dia tetap bertenang menghadapi pelbagai persoalan walaupun\nnyawanya dan keluarganya dalam ancaman. Baginya, sebagai pemimpin,&nbsp; ketenangan itu sangat diperlukan agar dia\ndapat membuat keputusan dan kebijakan dengan pikiran yang jernih. Dengan cara\nitulah, tindakan kepemimpinan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, arif,\ndan seksama sehingga hasilnya akan menjadi yang terbaik untuk semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks bait-bait syair di atas, Sultan\nAbdul Muluk mampu menunjukkan sifat dan watak tenangnya kepada istrinya, Siti Rahmah\n(<em>Durjanya manis amat berseri<\/em>).\nTentulah permaisurinya itu sangat khawatir&nbsp;\nakan keselamatan suaminya yang akan pergi berperang (<em>Adinda jangan berhati rawan<\/em>). Akan\ntetapi, ketenangan Abdul Muluk mampu meredam kegundahan hati istrinya. Intinya,\npemimpin terbilang senantiasa mampu mengatasi kegusarannya, dia senantiasa\ntenang menghadapi pelbagai cabaran dan cobaan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pemimpin berkualitas seperti Sultan Abdul\nMuluk menyadari benar tunjuk ajar dan hikmah di dalam <em>Gurindam Dua Belas<\/em>, Pasal yang Ketujuh, bait 8 (Haji 1847). Hal itu\ndisebabkan oleh masalah, cabaran (tantangan), dan cobaan kepemimpinan memang\ntak boleh dihadapi dengan kecemasan yang berlebihan. Kesemuanya itu memerlukan\npemecahan, bukan kecemasan. Tak ada masalah yang dapat dicarikan solusinya\ndengan kecemasan dan kegopohan yang berlebihan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Apabila\nmendengar akan aduan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Membicarakannya\nitu hendaklah cemburuan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Abdul Muluk mendapat laporan (<em>mendengar aduan<\/em>) dari bawahannya bahwa\npasukannya hampir kalah melawan pasukan musuh dari Negeri Hindustan yang datang\nmenyerang. Walaupun keadaannya tergolong genting, dia tak tergopoh-gopoh\nmenghadapinya. Bahkan, dicarinya solusi terbaik untuk mengatasinya (<em>Membicarakannya itu hendaklah cemburuan<\/em>).\nSetelah dianilisis situasinya, dia membuat keputusan yang menurutnya terbaik.\nDia sendirilah yang harus terjun langsung ke medan perang untuk memimpin\npasukannya. Keputusannya itu diambilnya untuk menaikkan moral pasukannya yang\nsedang tertekan oleh pihak musuh. Lebih daripada itu, pemimpin memang harus\nberada pada posisi yang terdepan dalam menghadapi pelbagai persoalan,\ntantangan, dan cobaan. Apatah lagi, ketika nasib bangsa dan negara sedang menghadapi\nancaman. <\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Abdul Muluk yang hebat itu sangat\ntak rela menjadi pemimpin pecundang atau kecundang. Pemimpin kelas rendah\nseperti itu bukan hanya tak mampu mencari solusi setiap permasalahan, malah\ndialah yang menjadi sumber pemicu segala persoalan. Pemimpin kecundang seperti\nitulah yang membuat bangsa dan negaranya tergadai. Akhirnya, rakyat tersiksa\nbagai tersalai. Oleh sebab itu, jika sesebuah negeri menghadapi cobaan dengan\nmendapat pemimpin berkualitas rendah seperti itu, ada baiknya untuk diberikan\nperingatan agar dia berupaya untuk mengelokkan perangai.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya manusia sajakah yang mengidolakan\npemimpin yang berwatak tenang? Jawabnya, ternyata tidak!<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOrang-orang yang beriman dan hati mereka\nmanjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati\nAllah-lah hati menjadi tenteram,\u201d (Q.S. Ar-Ra\u2019d, 28).<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, Allah, sesuai dengan firman-Nya\nyang dinukilkan di atas, memang mengandalkan manusia\u2014apatah lagi\npemimpin\u2014memiliki watak tenang, yang tenteram jiwanya. Untuk itu, Allah\nmenunjukkan caranya, yakni dengan selalu mengingat-Nya melalui penghambaan yang\ntulus kepada-Nya. Tentulah dalam hal ini, bakti kepemimpinan benar-benar\ndidedikasikan dengan semata-mata mengharapkan rida Allah sehingga\ndimudahkan-Nya segala urusan kepemimpinan. Jika niatnya diselewengkan, untuk semata-mata\nmemuaskan syahwat kekuasaan dengan segala ikutan yang menyertainya, itulah yang\nmenjadi punca segala masalah. Akibatnya, tindakan gopoh dan ceroboh pun menjadi\ntak terelakkan.&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetengah daripada sifat kecelaan dan\nmemberi cacat dan cedera kepada raja-raja dan segala orang besar-besar (adalah)\n<em>ajlah<\/em>, yaitu gopoh kepada pekerjaan\nyang harus diperlahankan\u2026. Syahdan gopoh itu sifat kecelaan kepada segala\nmanusia dan jika maujud kepada raja-raja dan kepada orang besar-besar, maka\nterlebih segera pada membinasakan kerajaan\u2026\u201d (Haji dalam Malik (<em>Ed.<\/em>) 2013, 129).<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui karya beliau <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em> yang dikutip di atas, Raja Ali Haji memang telah\nmengingatkan perkara ini. Sifat atau watak <em>ajlah<\/em>\natau gopoh (tak tenang) pemimpin menjadi cela bagi dan akan menjejas (merusaki)\nkepemimpinannya. Bahkan, sifat gopoh atau terburu-buru tanpa pertimbangan yang\nmatang seseorang pemimpin berpotensi menyebabkan negara dan atau pemerintahan\ndi bawah kepemimpinannya tak hanya berpotensi gagal, tetapi hancur-binasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan keyakinan itulah, tentu\nkeyakinan yang bersumber dari petunjuk Allah di atas,&nbsp; Raja Ali Haji berasa perlu menegaskan\namanatnya melalui syair nasihat juga di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, bait 68\u201469 (Haji dalam Malik (Ed.) 2013).\nSyair itu juga menunjukkan gejala perilaku pemimpin yang gopoh atau tak mampu\nbertenang dalam praktik kepemimpinannya. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Ke\nsana ke mari langgar dan rempuh<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Apa\nyang terkena habislah roboh<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Sedikit\nmarah hendak memelupuh<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Inilah\nperbuatan sangat ceroboh<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Anakanda\njauhkan kelakuan ini<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Sebab\nkebencian Tuhan Rahmani<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika\ndibawa ke sana-sini<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Tidaklah\nlaku satu dewani <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah di antara ciri-ciri pemimpin\nyang tak tenang atau gopoh. Dia cenderung melanggar ketentuan dan atau\nperaturan yang berlaku atau dibuatnya peraturan yang menguntungkan dirinya, dia\nsuka menghukum orang yang tak sejalan dengan dirinya dengan pelbagai dalih dan\nalasan yang dibuatnya sendiri, dan dia bertabiat suka marah tanpa jelas duduk\nperkaranya, terutama ketika menghadapi cobaan dan cabaran kepemimpinan. Karena\nwatak dan sifat gopoh itu tak baik dan tak menyiratkan kemuliaan bagi pemimpin,\nRaja Ali Haji mengingatkan agar pemimpin berusaha sekuat-kuatnya untuk menghindarkan\ndiri dari sifat yang tak terpuji itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tentulah amanat Raja Ali Haji tak\nsemata-mata berdasarkan pemikiran beliau sendiri setelah mengamati pelbagai\ngejala kepemimpinan yang menyimpang karena semata-mata memuaskan nafsu\nkepemimpinan. Di atas itu, selain petunjuk Allah yang telah dikemukakan di\natas, beliau nampaknya masih merujuk sabda Rasulullah SAW.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah SAW bersabda kepada Al-Mundzir,\nkepala kabilah Abdul Qais, \u201cSesungguhnya, pada dirimu ada dua sifat yang\ndicintai Allah, yaitu sabar dan tenang (tak tergesa-gesa atau gopoh).\u201d Lalu,\nbeliau bertanya, \u201cWahai Rasulullah, adakah aku berusaha berperilaku seperti itu\natau Allah menjadikanku memiliki kedua watak itu?\u201d Baginda Rasulullah SAW\nmenjawab, \u201cAllah-lah yang menjadikanmu memiliki kedua watak itu.\u201d Al-Mundzir\npun berucap, \u201cSegala puji bagi Allah yang telah menjadikanku berwatak dengan\ndua tabiat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya,\u201d (H.R. Abu Dawud).<\/p>\n\n\n\n<p>Nyatalah sudah duduk perkara sebenarnya\ntentang kepemimpinan. Pemimpin yang bersifat dan atau berwatak tenang senantiasa\ndicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sehingga dia menjelma menjadi pemimpin\nyang negarawan. Bahkan, sifat dan watak mulia itu dianugerahkan oleh Allah\nbukan kepada orang sebarang, melainkan bagi pemimpin pilihan. Tanpa ragu, di\nbawah kepemimpinan yang sejuk dan tenang pemimpin yang dicintai oleh Allah dan\nRasul-Nya, negeri dan rakyatnya akan menuai kejayaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya pula, pemimpin yang gopoh\nsenantiasa menempatkan bangsa dan negara dalam ancaman yang tiada berkesudahan.\nPasalnya, dia dalam makna yang sesungguhnya tak mampu, bahkan memang tak\nberniat, mengimplementasikan kepemimpinannya berdasarkan petunjuk Tuhan.\nPemimpin seperti itu tak akan mampu meyakinkan rakyatnya kendatipun dia\nberupaya menebar pesona, \u201cAdinda jangan berhati rawan!\u201d Pasalnya, hanya\npemimpin berkelas tinggi seperti Abdul Muluk\u2014dengan bakti tulus dan\nwibawanya\u2014yang boleh berjaya membuat rakyatnya terkesan. Pemimpin gopoh,\njusteru, membuat hati rakyat bertambah rawan.*** <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MUSUH, yakni tentara Kerajaan Hindustan yang menyerbu secara tergempar (mendadak, tiba-tiba), telah memasuki wilayah Kerajaan Barbari. Padahal, sebelum ini perhubungan antara Kerajaan Barbari dan Kerajaan Hindustan baik-baik saja. Kecuali, Sultan Hindi memang memendam dendam kesumat kepada Sultan Kerajaan Barbari. Pasalnya, mamanda (paman)-nya dipenjara di Negeri Barbari karena perbuatannya melawan hukum, yakni menipu orang dalam perniagaannya&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2716,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[],"class_list":["post-2712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/AM-Dul-Muluk.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-HK","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2712"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2712\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2714,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2712\/revisions\/2714"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2716"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}