{"id":2709,"date":"2019-03-22T01:36:36","date_gmt":"2019-03-21T18:36:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2709"},"modified":"2024-07-09T17:25:34","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:34","slug":"nafsu-jahat-hendaklah-dilawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/03\/nafsu-jahat-hendaklah-dilawan\/","title":{"rendered":"Nafsu Jahat Hendaklah Dilawan"},"content":{"rendered":"\n<p>LAKSEMANA\nMegat Seri Rama baru saja menghadap Sultan Mahmud Syah II sekembalinya dari\nmenunaikan baktinya di lautan, Agustus 1699. Beliau disambut di istana Sultan\nJohor-Riau di Kota Tinggi dengan upacara kebesaran. Pasalnya, laksemana yang\ngagah-perkasa itu telah berhasil mengalahkan perompak lanun, yang beberapa\nbulan terakhir mengganas di perairan Kesultanan Johor-Riau, terutama di kawasan\nKepulauan Riau. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena perbuatan para lanun itu,\nkapal-kapal niaga dari pelbagai negeri tak berani memasuki wilayah Kesultanan\nJohor-Riau. Akibatnya, perniagaan kerajaan sangat terganggu dan merosot tajam.\nBahkan, nelayan tempatan pun tak berani melaut. Wajarlah keberhasilan Megat\nSeri Rama mengalahkan lanun itu disambut dengan suka-cita oleh sultan, orang\nbesar-besar kerajaan, dan rakyat sekalian. Laksemana dan pasukannya disambut\nlayaknya menyambut para pahlawan yang kembali dari medan perang karena mereka\nmemang memerangi para lanun.&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika melaksanakan tugasnya di lautan,\nLaksemana Megat Seri Rama\u2014dikenal juga dengan panggilan Laksemana Bentan,\nsesuai dengan nama tempat asalnya\u2014meninggalkan istrinya, Dang Anum (Wan Anum).\nDalam hal ini, Dang Anum dititipkan oleh suaminya di&nbsp; bawah penjagaan sahabatnya, Tun Aman dan\nkakaknya Tun Khatijah. Kala ditinggalkan itu, istrinya sedang hamil tua,\nmengandung anak pertama mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika itu pusat Kesultanan Johor-Riau\natau Johor-Pahang-Riau-Lingga belum berapa lama dipindahkan ke Kota Tinggi,\nJohor Lama (wilayah Kerajaan Johor, Malaysia,&nbsp;\nsekarang). Oleh sebab itu, sultan dan para pembesar kerajaan\nbermastautin (bertempat tinggal) di Kota Tinggi, termasuk Laksemana Megat Seri\nRama dan Dang Anum, istrinya. Sebelum itu, sejak 1678 kerajaan berpusat di Hulu\nRiau, Sungai Carang (wilayah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sekarang)\nsetelah dipindahkan dari Batu Sawar, Johor Lama. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemindahan pusat kesultanan itu karena\nBatu Sawar di Johor Lama porak-poranda diserang oleh Kerajaan Jambi pada 1673\nsetelah lebih kurang 145 tahun Kesultanan Johor-Riau berdiri. Dengan demikian,\npemindahan pusat kesultanan ke Hulu Riau pada 1678 bertepatan dengan 150 tahun\nberdirinya Kesultanan Johor-Riau. Hulu Riau di Sungai Carang mulai dibangun\nsebagai pusat Kesultanan Johor-Riau atau Riau-Johor atau\nRiau-Lingga-Johor-Pahang pada 1673 oleh Laksemana Tun Abdul Jamil berdasarkan\ntitah Sultan Abdul Jalil Syah III. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada 1679, setahun setelah pusat\npemerintahan di Hulu Riau, Tanjungpinang, Sultan Ibrahim Syah\u2014raja yang\nberkuasa kala itu\u2014memerintahkan Laksemana Tun Abdul Jamil menyerang Jambi untuk\nmenghentikan permusuhan kerajaan itu. Laksemana hebat itu melaksanakan titah\nsultan, Kerajaan Jambi dapat dikalahkan dan mengaku takluk di bawah Kesultanan\nRiau-Lingga-Johor-Pahang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kembali kepada Laksemana Megat Seri Rama.\nSetelah acara penyambutan di istana, beliau pun kembali ke rumah untuk menemui\nistrinya tercinta dan tentu anak sulung mereka. Setelah ditinggalkan lebih dari\ndua bulan, seharusnya anaknya memang telah lahir. Dalam perjalanan menuju ke\nrumahnya hati Laksemana berbunga-bunga. Akan tetapi, apakah yang dijumpainya di\nrumahnya? Istrinya tak ada di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>Betapa hancurnya hati Laksemana Bentan\nsetelah mengetahui dari jirannya bahwa istrinya telah meninggal dunia. Hatinya\nyang hancur itu menjadi semakin hancur sehancur-hancurnya setelah diberi tahu\nbahwa istri dan anak sulungnya yang masih di dalam kandungan meninggal karena\ndibunuh oleh Sultan Mahmud Syah II. Dosa besar apakah yang dilakukan istrinya\nsehingga sultan tega membunuhnya dengan cara membelah perutnya? Apatah lagi,\nbeliau sendiri bersama pasukannya sedang menyabung nyawa untuk menumpas para\nlanun yang mengacaukan keamanan dan perekonomian negara. Tidakkah kesemuanya\nitu menjadi pertimbangan sultan sebelum menjatuhkan sanksi hukuman mati kepada\nistrinya? Dendam Laksemana Megat Seri Rama kepada Sultan Mahmud dengan cepat\nmencapai kemuncaknya. \u201cRaja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah.\nTunggulah pembalasan dari anak Bentan ini wahai raja yang tak berperi\nkemanusiaan!\u201d&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Semasa hamil, istri laksemana terkenal\nKesultanan Johor-Riau itu mengidam hendak makan nangka, yang dipercayai sebagai\nbawaan kehamilannya. Malangnya, kala itu nangka sangat langka, tak berbuah.\nTibalah suatu hari, penghulu kebun lewat di depan rumah Dang Anum membawa\nnangka masak untuk dipersembahkan kepada sultan. Melihat itu, Dang Anum semakin\nkecur dan tanpa segan meminta nangka itu barang seulas sahaja. Karena kasihan\nkepada istri laksemana, penghulu kebun memberikan seulas nangka milik raja itu\nkepada Dang Anum dengan pesan agar dirahasiakan. Pasalnya, kalau diketahui oleh\nsultan, pastilah baginda murka bangat karena pantang raja makan sisa orang\nlain. <\/p>\n\n\n\n<p>Malang memang tak berbau. Walau telah\ndirahasiakan, Sultan Mahmud ternyata mengetahui juga bahwa nangkanya telah\ndicicipi oleh orang lain terlebih dahulu. Murka Baginda semakin meninggi ketika\nTun Bija Ali, saingan Megat Seri Rama untuk memperebutkan Dang Anum dan jabatan\ndi pemerintahan, menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendamnya.\nDihasutnya Sultan Mahmud bahwa Dang Anum bersama suaminya telah berencana jahat\nhendak mendurhaka kepada Baginda. Tun Bija Ali memang berupaya untuk membunuh\nDang Anum agar rahasia kejinya hendak memperkosa istri Megat Seri Rama itu pada\nsuatu malam ketika suaminya sedang bertugas di lautan tak terbongkar. Perbuatan\nbejat Tun Bija Ali itu dapat dielakkan oleh Dang Anum. Dia dapat melepaskan\ndiri dari lelaki hidung belang yang telah beristri empat itu dengan melarikan\ndiri dari rumahnya yang telah dimasuki pesaing suaminya pada malam buta.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari itu Jumat, Agustus 1699. Azan pertama\nmemanggil orang untuk melaksanakan shalat Jumat baru saja berkumandang. Sultan\nMahmud telah sampai di halaman masjid dengan dijulang (ditandu) oleh para\nhulubalang. Tiba-tiba secepat kilat Laksemana Megat Seri Rama menghadang di\nhadapan Baginda seraya dengan tangkas menikamkan kerisnya ke rusuk kiri Sultan\nyang sedang dijulang, tanpa didahului sepatah kata pun. Sultan Johor-Riau itu\nmerintih kesakitan dan segera akan jatuh dari julangannya. Orang-orang melihat\nkejadian itu hanya terkejut dan terpana, termasuk para hulubalang pemikul\ntandu. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika akan jatuh, Sultan Mahmud masih\nsempat mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Dilemparkannya keris itu ke\nMegat Seri Rama dan mengenai jari kaki Laksemana. Menjelang nazaknya, Baginda\nbersumpah, \u201cTujuh keturunan Laksemana Megat Seri Rama jika menjejakkan kaki di\nKota Tinggi akan muntah darah!\u201d Setelah bersumpah itu, Baginda pun mangkat.\nSetelah kembali ke <em>rahmatullah<\/em>,\nBaginda biasa dipanggil dengan gelar Marhum Mangkat Dijulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pada itu, Laksemana pun mencabut\nkeris yang menancap di jari kakinya. Begitu tercabut, beliau pun muntah darah\ndan meninggal dunia seketika itu juga di tangga masjid. Kesultanan Johor-Riau\nberduka-cita. Rakyat berkabung karena kehilangan pemimpin mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Mahmud Syah II dimakamkan di\nKampung Makam. Laksemana Megat Seri Rama pula dimakamkan di Kampung Kelantan,\ndi samping makam istrinya, Dang Anum. Kesemua makam itu berada di Kota Tinggi\ndi Sungai Johor, Kerajaan Negeri Johor Darul Ta\u2019zim, Malaysia, sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemangkatan Sultan Mahmud Syah II hendak\ndimanfaatkan oleh seseorang yang menginginkan kerajaannya. Raja Ahmad Engku\nHaji Tua dan Raja Ali Haji <em>rahimahullah <\/em>menuturkan\nperkara itu di dalam <em>Tuhfat al-Nafis<\/em>.&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSyahadan adapun Raja Kecik setelah\nmustaid kelengkapannya, maka ia pun menyuruh ke Kuala Johor, dan ke Singapura,\nakan seorang menterinya yang pandai memujuk dan menipu-nipu memasukkan kepada\nhati rakyat dengan perkataan mengatakan ini sebenar-benarnya anak Marhum\nMangkat Dijulang. Sekarang ini adalah ia hendak ke Johor, hendak mengambil\npesakanya menjadi raja. Maka barangsiapa rakyat yang tiada mau mengikut, nanti\nditimpa daulat Marhum Mangkat Dijulang, tiada selamat sampai ke anak cucunya.\nSyahadan barangsiapa yang menyertai anak Marhum Mangkat Dijulang itu,\nmendapatlah kurnia daripada Raja Kecik dan Raja Kecik sudah sedia dengan\nbeberapa kayu kain yang baik akan persalinan jenang batin itu, apalagi raja\nnegara,\u201d (Ahmad &amp; Haji dalam Matheson (<em>Ed.<\/em>)\n1982, 56\u201457).<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata, dia adalah orang yang menyebut\ndirinya Raja Kecik, yang mengaku anak Marhum Mangkat Dijulang bersama istrinya\nCik Pong. Padahal, Sultan Mahmud Syah II tak beristrikan manusia biasa. Baginda\ndisebutkan beristrikan orang bunian dan memang tak tertarik kepada perempuan\ndari jenis manusia. Ketaklaziman Sultan Mahmud itu disebutkan oleh sumber lokal\ndan asing. Dengan demikian, orang yang mengaku sebagai anak Marhum Mangkat\nDijulang itu, sesuai dengan <em>Tuhfat al-Nafis<\/em>,\ntelah melakukan kebohongan atau tak berlaku jujur. Untuk mencapai matlamat itu,\npelbagai upaya dilakukannya, termasuk mengintimidasi rakyat, padahal cara yang\nditempuhnya itu salah. Kualitas jujur sangat mustahak dimiliki oleh setiap\npemimpin.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p><em>Kepada\ndirinya ia aniaya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Orang\nitu jangan engkau percaya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Orang yang tak jujur, sesuai dengan <em>Gurindam Dua Belas<\/em> (Haji 1847), Pasal\nyang Kedelapan, bait 2, di atas tergolong manusia yang aniaya terhadap dirinya.\nPasalnya, sifat dan perilaku tak jujur akan merusaki diri sendiri. Oleh sebab\nitu, orang yang tak jujur tak boleh dijadikan pemimpin. Kepada dirinya saja dia\naniaya, apatah lagi kepada orang lain, orang-orang yang dipimpinnya jika dia\ntelanjur mendapatkan jabatan kepemimpinan dengan pelbagai cara yang\ndiupayakannya sesuai dengan karenah dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHai, orang-orang yang beriman! Janganlah\nkamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati\namanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui(nya),\u201d (Q.S.\nAl-Anfaal, 27).<\/p>\n\n\n\n<p>Perilaku tak jujur, jika dilakukan oleh\npemimpin, merupakan perbuatan mengkhianati amanah yang dipercayakan oleh Allah\nkepadanya. Hal itu juga bermakna orang yang tak jujur tak memenuhi standar\nAllah untuk menjadi pemimpin.<\/p>\n\n\n\n<p>Berhubung dengan sifat, sikap, dan\nperilaku jujur yang seyogianya dimiliki oleh pemimpin, Raja Ali Haji bertutur\ndi dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>. Dalam\nhal ini, beliau menekankan mustahaknya orang yang amanah dan benar lidahnya\n(tak berbohong, jujur) jika hendak menjadi pemimpin yang baik, yang diridai\noleh Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBermula menjadikan wazir-wazir (menteri,\nHAM) atau kepala-kepala negeri, maka seyogianya hendaklah dipilih akan orang \u2026\nyang amanah dan <em>benar lidahnya<\/em> (huruf\nmiring oleh saya, HAM) \u2026,\u201d (Haji dalam Malik (<em>Ed.<\/em>) 2013, 46).<\/p>\n\n\n\n<p>Ajaran itu dilanjutkan beliau dengan syair\nnasihat di dalam <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>,\nbait 72 (Haji dalam Malik (<em>Ed.<\/em>)\n2013). Nasihat itu seyogianya memang harus diikuti oleh para pemimpin jika\nhendak berjaya dalam kepemimpinannya.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Inilah\nnasihat ayahanda tuan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kepada\nanakanda muda bangsawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Nafsu\nyang jahat hendaklah lawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Supaya\nanakanda jangan tertawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak jujur tergolong nafsu jahat yang\ntak berfaedah. Sesiapa pun yang tertipu oleh nafsu jahat, dalam arti dia tak\nberlaku jujur dalam kepemimpinannya, cepat atau lambat, kepemimpinannya akan\nmenuai padah atau musibah. Kalau tak di dunia, di akhirat nanti\npertanggungjawabannya tak dapat dibantah.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Atas pemahaman itulah, dalam\nperjuangannya untuk merebut kembali negerinya yang terjajah, Duri (nama samaran\nsebagai laki-laki dari Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk) menempatkan\nstandar kejujuran sebagai kualitas utama kepemimpinan. Dalam pengembaraannya\ndia tiba di Negeri Berham. Di tempat itu dia menyamar sebagai hulubalang. <\/p>\n\n\n\n<p>Di Negeri Berham dia mendapat orang tua\nangkat yang sangat menyayanginya. Dia juga di negeri itu menemukan gejala\nrakyatnya terpecah atas dua golongan. Pertama, golongan yang berpihak kepada\nBahsan, yang paling banyak pengikutnya. Kedua, golongan yang berpihak kepada\nJamaluddin, yang semakin berkurang pengikutnya (lih. <em>Syair Abdul Muluk<\/em>, Haji 1846, bait 967\u2014968).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Jikalau\nanakku hendak berjalan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendak\nmencari sahabat dan taulan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Pergilah\nke sebelah kaum Bahsan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Senanglah\nTuan mencari kehidupan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Duri\ntersenyum mendengarkan madah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Sambil\nberkata terlalu petah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hamba\ntak mau kepada yang salah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jamaluddin\nitu asalnya khalifah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Orang tua angkatnya menyarankan Duri\nuntuk berteman dengan kelompok Bahsan agar memperoleh kesenangan hidup. Akan\ntetapi, Duri (Siti Rafiah) menolak anjuran itu karena dia tahu duduk perkara\nsebenarnya. Bahsan itu paman Sultan Jamaluddin. Bahsan merebut tahta dari\nkeponakannya sendiri dengan pelbagai cara, termasuk rasuah, menyogok rakyat,\nuntuk memenuhi ambisinya menjadi Raja Negeri Berham. Karena mengetahui latar\nitu, Duri lebih memihak dan membantu Sultan Jamaluddin, pemimpin sah Negeri\nBerham. Pasalnya, Jamaluddin jujur, sedangkan Bahsan &nbsp;penipu yang tak berbudi pekerti.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah SAW bersabda, \u201cJauhilah dusta\nkarena dusta akan membawamu kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka.\nBiasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan\nkebajikan membawamu ke surga,\u201d (H.R. Bukhari dan Muslim).<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya kejujuran yang akan mendatangkan\nberkah kepemimpinan. Sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan malapetaka yang\ntiada berkesudahan. Oleh sebab itu, nafsu jahat ketakjujuran hendaklah dilawan.\nMarilah berpihak pada kejujuran. Pasalnya, pedoman dan perintah itu memang\nberasal dari Tuhan.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LAKSEMANA Megat Seri Rama baru saja menghadap Sultan Mahmud Syah II sekembalinya dari menunaikan baktinya di lautan, Agustus 1699. Beliau disambut di istana Sultan Johor-Riau di Kota Tinggi dengan upacara kebesaran. Pasalnya, laksemana yang gagah-perkasa itu telah berhasil mengalahkan perompak lanun, yang beberapa bulan terakhir mengganas di perairan Kesultanan Johor-Riau, terutama di kawasan Kepulauan Riau&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2711,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[374,332],"class_list":["post-2709","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk","tag-jemala","tag-sejarah-melayu"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}],"post_tag":[{"value":374,"label":"Jemala"},{"value":332,"label":"Sejarah Melayu"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/AM-Kota-tinggi.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":374,"name":"Jemala","slug":"jemala","term_group":0,"term_taxonomy_id":374,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":32,"filter":"raw"},{"term_id":332,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":332,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":4,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/AM-Kota-tinggi.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-HH","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2709","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2709"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2709\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2710,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2709\/revisions\/2710"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2711"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}