{"id":2701,"date":"2019-03-18T09:48:40","date_gmt":"2019-03-18T02:48:40","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2701"},"modified":"2024-07-09T17:25:34","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:34","slug":"perhimpunan-plakat-riausche-plakkaten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/03\/perhimpunan-plakat-riausche-plakkaten\/","title":{"rendered":"Perhimpunan Plakat &#8211; Riausche Plakkaten"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>19 Dokumen Hasil Kesepakatan Kerajaan Riau-Lingga dan Pemerintah Hindia Belanda (1860-1896)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Pada penghujung abad\nke-19, kesadaran terhadap arti penting arsip sangat terasa di kerajaan\nRiau-Lingga. Dokumen-dokumen penting itu tidak hanya disimpan oleh Raja Khalid\nHitam sebagai pengelola arsip yang juga menjabat sebagai Bentara Kiri kerajaan\nRiau-Lingga, tapi juga dikumpulkan dan dihimpunkan oleh oleh Raja Ali yang berpangkat\n<em>Kelana <\/em>ataucalon Yang Dipertuan Muda.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Publikasi Mathba\u2019ah al-Riauwiyah<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kumpulan bahan arsip\nberupa salinan plakat atau <em>pelekat<\/em> perjanjian dan surat-surat keputusan\nKerajaan Riau-Lingga yang telah dimusyawaratkan oleh kerajaaan Riau-Lingga dan\npemerintah Hindia-Belanda antara tahun 1286 H (1869 M) hingga tahun 1307 H\n(1889 M) ini dihimpunkan dalam sebuah buku yang telah dicantumkan oleh Ian\nProudfoot dalam daftar buku-buku Melayu cetakan lama, <em>Early Malay Printed<\/em> <em>Books <\/em>(1992:\n411) dengan judul <em>Perhimpunan Plakat<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Himpunan salinan arsip\nplakat dan surat-surat keputusan ini untuk pertama kalinya dipubikasikan\nmenggunakan huruh Arab Melayu atau huruf Jawi di Pulau Penyengat oleh <em>Mathba\u2019ah al-Riauwiyah, <\/em>sebuah\npercetakan milik Kerajaan Riau-Lingga, pada tahun 1317 Hijriah besamaan dengan\n1897 Miladiah. <\/p>\n\n\n\n<p>Dua puluh sembilan tahun\nkemudian, seluruh isi <em>Perhimpunan Palakat<\/em>\nini untuk pertama kalinya dirumikan atau dialihaksarakan ke dalam huruf Latin,\ndan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah hukum adat, <em>Adatrechbundels<\/em>, pada bagian \u2018khazanah\u2019 Hukum Adat Melayu (<em>Het Maleische Gebied<\/em>) dengan judul <em>Riouwsche Plakkaten<\/em> (Plakat-Plakat dari\nRiau) oleh penerbit <em>\u2018s-Gavenhage,\nMartinus Nijhoff<\/em>, tahun 1926.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1996,\nalih-akasara <em>Perhimpunan Plakat<\/em>\ncetakan <em>Ma\u2019thba\u2019ah al-Riauwiyah<\/em>\n(1897) diselenggarakan pula oleh Hasan Junus, dan dipublikasikan dalam <em>Artefak Seri Naskah Lama<\/em> terbitan 2\nSeptember 1996 yang dikeluarkan oleh <em>Pusat\nPengkajian Bahasa dan Kebuadayaan Melayu<\/em> Universitas Riau. Namun demikian,\nedisi alih akasara tahun 1996 itu tidak lengkap, karena hanya memuat 15 salinan\n<em>Plakat<\/em> atau dokumen, dari 19 salinan <em>Palakat<\/em> yang terdapat dalam edisi huruf\nArab Melayu cetakan <em>Mathba\u2019ah\nal-Riauwiyah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Dihimpun Raja Ali Kelana<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Perhimpunan Plakat<\/em> diselenggarakan, atau tepatnya\n(sebagaiman tertera pada halaman judul buku ini) <em>dikumpulkan <\/em>dan <em>dihimpunkan<\/em>\noleh Raja Ali Kelana, saudara seayah sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga,\nSultan Abdulramahman Mu\u2019azamsyah (1885-1911): dalam sejarah kerajaan\nRiau-Lingga ia juga dikenal sebagai seorang tokoh cerdik cendekia dan pemimpin\nkelompok perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Kerajaan Riau-Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa Raja Ali Kelana\nmengumpulkan dan menghimpun dokumen-dokumen untuk <em>Perhimpunan Plakat<\/em>, pangkatnya dalam kerajaan Riau-Lingga, seperti\ntertera di belakang nama batang tubuhnya, adalah <em>Kelana, <\/em>yaknicalon\npengganti Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga. Ia menjalankan tugas ayahandanya\nyang ketika itu masih menjadi Yang Dipertuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusuf\n(1858-1899).<\/p>\n\n\n\n<p>Semua salinan <em>Plakat<\/em> atau dokumen yang dikumpulkan dan\ndikumpulkan dan dihimpunkan oleh Raja Ali Kelana tidak hanya penting dalam\nkonteks penyimpanan dan pendokumentasian arsip kerajaan Riau-Lingga pada masa\nitu, tapi juga besar artinya dalam mendukung kerja seorang <em>Kelana<\/em> seperti Raja Ali yang diberi tanggung jawab memeriksa dan\nmengawasi hal-ihwal pemerintahan dan perekonmian daerah takluk kerajaan\nRiau-Lingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam khazanah kepustakaan\nMelayu Riau-Lingga, <em>Perhimpunan Plakat<\/em>\ndapatlah disandingkan dengan sebuah manuskrip berjudul <em>Tsamarat al-Mathub Fi-Anuar-alqulub<\/em> karya Raja Khalid Hitam: sebuah\nkitab yang mengadungi salinan arsip-arsip kerajaan Riau-Lingga yang lebih tua\ndan beragam<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Rujukan Hukum Adat<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gambaran kandungan isi <em>Perhimpunan Plakat<\/em> yang telah dikumpulkan\ndan dihimpunkan oleh Raja Ali Kelana dijelaskan pula dalam sebuah \u2018kolofon\u2019 yang\ndicantumkan di bawah judulnya: \u201c<em>inilah\nsegala perhimpunan plakat peraturan yang telah dimusyawaratkan diantara\nKerajaan Riau-Lingga dengan Gubernemen Hindia-Nederland daripada tahun 1286 <\/em>[1869 M]<em> hingga kepada tahun 1307 <\/em>[1889]\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalamnya dihimpunkan 19\nsalinan dan alih aksara salinan arsip dan dokumen. Selain aturan, titah, dan\npengumuman yang telah ditetapkan oleh Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga,\ndi dalamnya terdapat pula salinan dokumen perjanjian serta peraturan yang telah\ndisepakati antara Kerajaan Riau-Lingga dengan Resident Riouw yang berkedudukan\ndi Tanjungpinang. <\/p>\n\n\n\n<p>Hampir sebagian besar\nsalinan bahan arsip tersebut berkenaan dengan aturan seperti mengolah dan mengushakan\nhutan yang yang erat kaitannya dengan perekonomian, aturan berjual beli\nkomoditi dagang yang penting seperti sagu dan agar-agar, aturan-aturan cukai,\nsewa menyewa tanah, yang erat kaitannya dengan roda perekonomian Riau-Lingga\ndan telah disepakati oleh pemerintah Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, isi\nlengkap <em>Perhimpunan Pakat<\/em> ini tidaklah seperti yang dinyatakan dalam kolofonnya\nyang menyebutkan bahwa salinan dokumen terawal yang dihimpunkan di dalamnya\nadalah berasal dari tahun 1286 H bersamaan dengan tahun 1869 M dan dokumen\nterakhirnya berasal dari tahun 1307 Hijriah yang bersmaan 1889 Miladiah. Karena\nsesungguhnya, kandungan isi <em>Perhimpunan\nPalakat<\/em> ini diwali dengan dokumen tentang izin orang-orang Cina membuka kebun\nlada hitam dan gambir di Pulau <em>Tjemboel<\/em> dan Pulau <em>Boelang<\/em>\nbertarikh 1277 H (1860 M). Isi salinan palakat atau dokumen tersebut\n(sebagaimana edisi alih asara dalam <em>Adatrechtbundels<\/em> tahun 1926) sebagai\nberikut:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Bahwa kita Radja\nMohamad Joeseoef sri padoeka jang dipertoean Moeda didalam keradjaan Lingga dan\nRiau dengan segala daerah taaloeknja sekalian.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Maka Sekarang barang tahoe\nkiranja kamoe sekalian jang kita telah meidzinkan segala tjina yang telah pergi\nkepoelau Tjemboel dan ke Poelau Boelang akan memboeka ladang gambir dan lada\nhitam didalam tanah itoe, maka djanganlah siapa-siapa meboeat haroe biroe\ndiatas orang tjina jang memboeat ladang didalam tanah ini, dan barang siapa\nmemboeat haroe biroe diatas segala orang tjina ini nistjaja kita hoekoem dengan\nsepenoeh-penoeh hoekoeman adanja<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Keseluruhan ini <em>Perhimpunan Palakat<\/em> ini diakhiri dengan sebuah surat pemberitahuan tentang\npetaruran perniagaan sagu di daerah Teluk (<em>Teloek<\/em>)\nyang telah disepakati oleh Yamtuan Muda Riau dan Resident Riouw pada 4 Ramadan\n1313 Hijriah bersamaan dengan 18 Februari 1896 Miladiah. Salinan palakat\nterakhir ini adalah sebegai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Bahwa kita sri padoeka\njang dipertoean Moeda Riau dan Lingga serta daerah taaloeknja sekalian. Memberi\ntahoe: kepada segala mereka jang ada mempoenjai perniagaan sagoe didalam\nsoengai Teloek sesoenggoehnja telah kita idzinkan membawak keloear\nsagoe-sagoenja dengan menoeroet aturan negeri. Sjahdan kemoedian darpada ini,\nbarang siapa jang hendak masoek berniaga didalam soengai jang terseboet itoe\nhendaklah terlebih dahoeloe ia mengambil soerat idzin berniaga daripada\nkeradjaan jang kita tentoekan didalam Lingga seoerang pegawai jang\nmengeloearkan soerat itu dengan tiada bajaran apa, soepaja kemoedian harinja\ndjangan timboel perbatanhan anatara segala jang berniaga dengan raajat raajat\nkita jang ampoenja sagoe adanja<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><em>Perhimpunan Palakat<\/em> adalah salah satu contoh bahan\nsumber primer untuk kajian-kajian aspek hukum dan pemerintahan kerajaan\nRiau-Lingga dalam lingkaran sebuah pemerintahan kolonial. Salinan\ndokumen-dokumen dalam <em>Perhimpunan Palakat<\/em>\nmampu memperlihatkan kedudukan dan legalitas Kerajaan Rau-Lingga dari sisi\nhukum, baik \u2018hukum adat\u2019 maupun \u2018hukum kolonial\u2019. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Kerena itulah, bukan tanpa\nalasan bila <em>Perhimpinan Palakat<\/em>\ndicantumkan dalam <em>Adatrechtbundels<\/em>,\nsebuah jurnal ilmiah hukum adat, yang terkenal dan menjadi rujukan penting &nbsp;para hakim, pakar hukum adat,&nbsp; dan mahasiswa <em>Rechtshoogeschool<\/em> (Sekolah Tinggi Hukum) di\nBatavia pada masa lalu.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>19 Dokumen Hasil Kesepakatan Kerajaan Riau-Lingga dan Pemerintah Hindia Belanda (1860-1896) Pada penghujung abad ke-19, kesadaran terhadap arti penting arsip sangat terasa di kerajaan Riau-Lingga. Dokumen-dokumen penting itu tidak hanya disimpan oleh Raja Khalid Hitam sebagai pengelola arsip yang juga menjabat sebagai Bentara Kiri kerajaan Riau-Lingga, tapi juga dikumpulkan dan dihimpunkan oleh oleh Raja Ali&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5,347],"tags":[],"class_list":["post-2701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Palakat-pertama-dan-kedua-dalam-edisi-alih-akasara-yang-dimuat-dalam-Adatrechtbundels-tahun-1926.jpg?fit=586%2C445&ssl=1",586,445,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Palakat-pertama-dan-kedua-dalam-edisi-alih-akasara-yang-dimuat-dalam-Adatrechtbundels-tahun-1926.jpg?fit=586%2C445&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Hz","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2703,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2701\/revisions\/2703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}