{"id":2583,"date":"2019-01-14T03:39:07","date_gmt":"2019-01-13T20:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2583"},"modified":"2024-07-09T17:25:38","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:38","slug":"jasa-pemimpin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2019\/01\/jasa-pemimpin\/","title":{"rendered":"Jasa Pemimpin"},"content":{"rendered":"\n<p>SESIAPA pun yang berbuat jasa\nbermakna dia telah melakukan perbuatan yang baik dan terpuji. Jasanya &nbsp;&nbsp;disebut baik karena bermanfaat bagi sesiapa\npun yang melakukannya dan apa atau sesiapa pun yang menjadi sasarannya: entah\nperorangan, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan makhluk apa pun,\nselain manusia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap\">Sesiapa pun\nyang menolong seseorang yang sedang mengalami kesulitan hidup yang dideritanya\nselama ini, misalnya, berarti dia telah berjasa kepada sesama manusia. Orang\nyang mengawasi habitat hewan dari perbuatan tak bertanggung jawab para pemburu\nyang tak bertanggung jawab berarti telah berjasa kepada hewan yang memang harus\ndilindungi.&nbsp; Begitu pula menanam kembali\npohon-pohon bakau di pantai karena hutan bakaunya telah dijarah oleh\norang-orang yang serakah, yang semata-mata mengambil keuntungan material dari\npraktik amoral itu, terhitung berjasa kepada lingkungan alam sekitar yang\nberkelindan dengan bakti memperbaiki kualitas kehidupan. Memang banyak\nperbuatan mulia yang boleh dikategorikan berbuat jasa. Selebihnya, manusia\ntinggal memilih: hendak berbuat ataupun tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>Idealnya, di\nantara cita-cita tertinggi manusia adalah berbuat jasa, berjasa kepada sesiapa\npun dan atau apa pun. Jasa yang baik baru dapat dilakukan jika seseorang\nmemiliki perangai yang baik dan terpuji pula. Itulah yang harus diperjuangkan\noleh setiap pribadi dalam kehidupan ini untuk memartabatkan jati dirinya.\nPasalnya, pada akhirnya kita akan kembali ke pangkuan Ilahi. Kala saat itu\ntiba, hanya jasa jualah yang dikenang orang, yakni budi yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nyatalah\nsudah bahwa setiap manusia memang patut berusaha sekuat dapat untuk berbuat\njasa, bukan sebaliknya malah berbuat onar, menghancur binasa. Lebih daripada\nitu, tuntutan berjasa sangat ditekankan kepada para pemimpin. Seseorang\npemimpin baru dapat disebut berjasa apabila dia mampu, misalnya, membuat\norang-orang yang dipimpinnya menjadi sejahtera dan bahagia dari sebelumnya\nhidup dalam serba kekurangan dan menderita. Jika tidak, seorang pemimpin dapat\ndianggap gagal, bahkan hanya dianggap sebagai raksasa penindas belaka. <\/p>\n\n\n\n<p>Jasa tak semata-mata\ndapat diukur dari banyaknya medali atau pingat yang disematkan, apatah lagi\nkalau tanda-tanda zahiriah seperti itu diperoleh dengan cara-cara yang tak\nbenar, \u201cdibeli\u201d umpamanya. Itulah kualitas akhlak dan muamalah yang mesti\nditunjukkan oleh para pemimpin dalam perilaku kepemimpinannya. Perkara itulah\nyang dituangkan oleh Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em>\ndalam karya agung beliau <em>Gurindam Dua\nBelas<\/em> (GDB), Pasal yang Kesebelas.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pasal\nyang Kesebelas GDB dimulai dengan bait yang menggesa untuk memperhatikan nasib\nbangsa. Pasalnya, memang itulah hakikat sejati manusia hidup berbangsa dan\nbernegara. Tentulah tanggung jawab itu, terutama terpikul pada para pemimpin,\nwalau rakyat juga tak boleh mengelak dari tugas mulia itu, apa pun jatah yang\ndiperolehnya dalam kehidupan berbangsa. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendaklah berjasa <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kepada yang sebangsa <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Bait 1 ini\ntegas-tegas menyarankan pemimpin untuk berbuat jasa kepada bangsanya. Oleh\nsebab itu, berjasa kepada bangsa bagi pemimpin merupakan tugas dan tanggung\njawabnya, bukan sesuatu yang luar biasa. Rakyat secara suka rela menanam pohon\nbakau untuk menyelamatkan lingkungan pantai dan kehidupan ini, misalnya,\nmerupakan perilaku yang luar biasa. Sebaliknya pula, pemimpin yang membuat\nkebijakan penghijauan kembali pantai memang&nbsp;\nmenjadi tugas dan tanggung jawabnya. Akan tetapi, pemimpin yang\nmelakukan kebijakan yang entah cepat atau lambat dapat menyebabkan robohnya\npantai tergolong perilaku berkhianat kepada bangsa dan tanah airnya. Pendek\nkata, hanya pemimpin yang mampu berbuat jasa kepada bangsanyalah yang boleh\ndibilangkan nama, yang jati dirinya dengan sendirinya pasti menjelma.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah\nrujukan yang digunakan oleh GDB untuk menyampaikan amanat itu? Ternyata, memang\nada pedoman syariat Islam yang digunakan berkaitan dengan amanat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Rasulullah SAW bersabda, \u201cPemimpin sesuatu kaum adalah pengabdi (pelayan) bagi mereka (kaum yang dipimpinnya),\u201d (H.R. Abu Na\u2019im).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Demikianlah\nhadits Baginda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa setiap pemimpin merupakan\npelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dengan demikian, setiap pemimpin\ndapat digolongkan sebagai orang yang berjasa jika dia mampu melaksanakan tugas\ndan tanggung jawab melayani orang-orang yang dipimpinnya dengan sebaik-baiknya.\nJika tanggung jawab itu dapat dilaksanakan dengan baik, barulah seseorang\npemimpin dapat dibilangkan namanya, yang pada gilirannya jati dirinya pun akan\nterjulang selama-lamanya. Dan, berbahagialah sesuatu kaum atau bangsa yang\nmendapatkan pemimpin yang tulus memperjuangkan kualitas hidup mereka sesuai\ndengan pedoman yang diberikan oleh Allah dan Baginda Rasulullah.&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selain\nsyarat harus mampu berbuat jasa, GDB Pasal yang Kesebelas, bait 2, menuntut\npemimpin agar tak melakukan perbuatan tercela.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendak jadi kepala <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Buang perangai yang cela <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sesiapa pun\nyang hendak menjadi pemimpin (kepala) harus memiliki perilaku yang baik.\nPemimpin tak boleh memiliki perangai tercela. Oleh sebab itu, kita harus\nberhati-hati memilih pemimpin. Karena apa? Jika memilih pemimpin yang\nperilakunya buruk, kita pun akan menerima padahnya, akibat&nbsp; yang buruk karena salah memilih. Padah dari\nkesalahan itu menyebabkan kualitas kehidupan kita kian memburuk, bukan\nbertambah baik. Seyogianya, pemimpin diadakan untuk menciptakan kualitas\nkehidupan yang kian baik dari masa ke masa, bukan sebaliknya menjadi semakin\nsusah dan menyusahkan. Rakyat pula yang harus lintang-pukang mengurusi perangai\ndan tindakannya, bukan dia yang seyogianya mengurusi rakyatnya agar sejahtera\ndan bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah\nSAW bersabda, \u201cAkan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di\natas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila\ntelah turun dari mimbar, mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka\nlebih busuk daripada bangkai,\u201d (H.R. Thabrani).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hadits\ndi atas merupakan salah satu rujukan GDB Pasal yang Kesebelas, bait 2. Petunjuk\ndari Baginda Rasul itu memperingatkan kita tentang perilaku pemimpin yang jahat\nwalaupun durjanya mungkin saja menampilkan kesejukan, tetapi palsu. Dampaknya\ntak hanya terkena kepada si pemimpin, tetapi juga orang-orang yang dipimpinnya\njika kita salah dalam memilih pemimpin. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sesiapa\npun yang bercita-cita hendak jadi pemimpin harus mampu menempa dirinya untuk\nberperilaku baik. Bibit-bibit perangai tercela\u2014untuk memperkaya diri, keluarga,\nkroni, dan sebagainya, apatah lagi menghancurkan bangsa dan negara misalnya\u2014harus\ndibasmi sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, kepemimpinannya pasti menuai\nmasalah yang takkan pernah dapat diatasi. Kepemimpinan yang dilandasi niat dan\nperangai tercela takkan pernah mampu menyelesaikan masalah, malah mendatangkan\nmasalah baru, bahkan musibah, sehingga kualitas kehidupan menjadi semakin\nmemburuk. Berperilaku baik, dengan demikian, merupakan tanggung jawab pemimpin\nyang jika dapat diwujudkannya, dia boleh dibilangkan nama. Jati dirinya pun\nakan terjulang adanya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pemimpin\npun harus memiliki kualitas terpercaya. Berhubung dengan itu, GDB Pasal yang\nKesebelas, bait 3, menegaskannya dengan tegas bangat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendaklah memegang amanat<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Buanglah khianat <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Hanya orang\nyang amanahlah yang boleh menjadi pemimpin sejati. Dia meletakkan dasar\nkepemimpinannya untuk berbakti kepada rakyat, bangsa, dan negaranya. Dalam\nkeadaan dilematis, ketika harus memilih antara kepentingan pribadi, keluarga,\natau kelompoknya di satu pihak, dan kepentingan bangsa serta negaranya di pihak\nlain; pemimpin yang amanah dengan teguh mengutamakan kepentingan bangsa dan\nnegaranya. Untuk itu, dia menjadikan dirinya, bahkan nyawanya, sebagai tagan\nperjuangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cHai,\norang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul\n(Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan\nkepadamu, sedangkan kamu mengetahuinya,\u201d (Q.S. Al-Anfaal:27).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan\nfirman Allah yang dinukilkan di atas, dapatlah dikatakan bahwa haram bagi\npemimpin jika berkhianat terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sebagai\npemimpin, dia diharapkan dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik, yang\nsejahtera dan bahagia, bagi rakyat dan bangsanya. Pemimpin yang berkhianat melupakan\ntanggung jawab itu sehingga dia lebih asyik memikirkan dan mengupayakan\nkesejahteraan pribadi, orang-orang terdekat, kelompok, bahkan bangsa lain yang\nsedia menjamin keberlangsungan syahwat kekuasaannya. Akibatnya, tanggung\njawabnya terhadap rakyat dan bangsanya tercecer. Pelbagai cara dan helah\ndilakukannya untuk menutupi pengkhianatannya. Akan tetapi, karena lubang\npengkhianatan itu semakin lama semakin besar juga menganga, amat sulit untuk\nditutupinya. Rakyat jadi hidup dalam prahara, dalam ketakpastian pada semua\naspek kehidupan. Alhasil, pemimpin yang berperangai seperti itu tak pernah\ndapat dibilangkan nama. Pasalnya, hanya pemimpin yang amanahlah yang namanya\nakan terbilang dan jati dirinya akan terjulang.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendak marah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dahulukan hujah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Demikian\nanjuran GDB Pasal yang Kesebelas, bait 4. Pemimpin seyogianya meredam sifat\nburuknya yang suka marah. Tak pernah ada masalah kepemimpinan yang dapat\ndiselesaikan dengan marah. Bukankah sifat marah itu perilaku syaitan? Itulah\nsebabnya, kualitas kepemimpinan yang diutamakan adalah mampu bersabar dalam\nmenghadapi pelbagai cabaran, masalah, dan cobaan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Daripada\nmarah lebih baik hujahlah yang diutamakan. Pemimpin yang baik akan berusaha\nmenyelesaikan masalah dengan mencari akar permasalahan melalui penemuan alasan\ndan penyebab timbulnya masalah. Kesemuanya diselesaikan dengan kepala dingin, akal\nsehat, pikiran bernas, dan ikhtiar cerdas. Pada diri seseorang pemimpin yang berkarakter\nhebat itu, tak ada masalah yang tak dapat diatasi asal dapat ditemukan punca\n(akar) persoalannya. Dengan kepiawaiannya sebagai pemimpin sejati, dia akan\nmampu menyelesaikan pelbagai masalah dengan cara yang elegan, bukan dengan\nmenimbulkan masalah baru. Pemimpin seperti itulah yang boleh dibilangkan nama,\nyang jati dirinya takkan pernah tercela.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berhubung\ndengan perkara di atas, Rasulullah SAW memberikan pedoman dalam salah satu\nhadits Baginda. Seyogianya amanat Baginda Rasulullah itu diperhatikan oleh para\npemimpin. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari Abu\nHurairah r.a. beliau berkata bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW,\n\u201cBerilah saya wasiat.\u201d Rasulullah SAW bersabda, \u201cJanganlah marah!\u201d Dia bertanya\nberulang-ulang dan tetap dijawab, \u201cJanganlah marah!\u201d (H.R. Bukhari).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pemimpin\nsejati mestilah berwibawa, bermarwah. Karena kepemimpinannya yang baik, semua\norang menaruh hormat kepadanya, bukan orang takut kepadanya karena kekuasaan\nyang dimilikinya sehingga dapat digunakannya untuk alat intimidasi. Cahaya\nkepemimpinan yang dipancarkannya membuat orang tak kuasa untuk menentangnya\nsebab memang tak ada yang harus ditentang pada kinerja kepemimpinan yang\ncemerlang. Jika banyak kritik yang ditujukan kepada kepemimpinan, memang\nkepemimpinan itu menimbulkan banyak masalah. Jika tak ada angin, pepohonan tak\nakan bergoyang. Kalau tak diterjang tsunami, laut dan pantai tak akan\nbergoncang.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rahasianya\napa? GDB Pasal yang Kesebelas, bait 5, memberi tuntunan kelakuan. Seyogianya\namanat ini tak diabaikan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendak dimalui<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jangan melalui<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Rupanya mudah\nsaja. Seorang pemimpin akan dihormati orang dalam arti sesungguhnya (<em>dimalui<\/em>) kalau dia tak melanggar\nketentuan yang patut dan wajib diikuti oleh seorang pemimpin (<em>tak melalui<\/em>). Dengan kata lain, hanya\npemimpin yang taat terhadap peraturan dan konsisten menerapkan etika\nkepemimpinanlah yang akan meraih kehormatan kepemimpinan yang tertinggi. Itulah\npemimpin yang didambakan setiap orang. Dialah pemimpin yang boleh dibilangkan\nnama, yang jati dirinya terpelihara dengan sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201cDan,\norang-orang yang tak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu\ndengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tak berfaedah,\nmereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya,\u201d (Q.S. Al-Furqaan:72).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; GDB\nPasal yang Kesebelas ditutup dengan bait 6. Bait terakhir yang menyimpulkan\ntujuan mulia berbangsa dan bernegara, yang seyogianya diwujudkan oleh para\npemimpin dengan konsistensi dan konsekuensi perjuangan kepemimpinan terbilang.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Hendak ramai<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Murahkan perangai<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pemimpin yang\nbaik akan memiliki banyak pengikut (ramai). Pada gilirannya, negeri yang\ndipimpinnya juga akan banyak dikunjungi dan dimastautini orang. Alangkah\nmalangnya pemimpin jika tak ada atau tak banyak orang yang bersedia menjadi\npengikutnya. Atau, mungkin banyak orang seolah-olah menjadi pengikutnya,\npadahal mereka hanya mengharapkan keuntungan pragmatis sesaat dari \u201critual penghambaan\ndiri\u201d yang semu, yakni keuntungan materi, pangkat, dan jabatan, misalnya.\nKeadaan akan bertambah buruk jika banyak orang yang membenci dan menghujatnya\nsetiap hari, sama ada di depan ataupun di belakang dirinya, secara halus\nataupun kasar.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kiranya,\nhanya pemimpin yang berperilaku baik (murah perangai)-lah yang diikuti oleh\nbanyak orang. Kesemua sifat dan perilaku manusia dan pemimpin terpuji\ndimilikinya: sopan, ramah, lembut, hormat, sabar, dan sebagainya kepada setiap\norang tanpa pandang bulu yang dipadu dengan kualitas iman dan takwanya sebagai\npetunjuk akan ketinggian akhlaknya. Dialah pemimpin yang senantiasa diharapkan\nkehadirannya oleh banyak orang pada setiap periode dan waktu kehidupan. Dialah\npemimpin yang banyak harapan oleh banyak orang tertumpu. Dialah pemimpin yang\nAllah pun pasti memberinya restu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bait\nterakhir GDB Pasal yang Kesebelas itu pun memiliki rujukan yang pasti dalam\nsyariat Islam. Dalam hal ini, di antara pedomannya adalah hadits Rasulullah SAW.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Abu\nHurairah r.a. meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, \u201cKemuliaan seorang mukmin\nterletak pada penghayatan agamanya. Harga dirinya terletak pada kecerdasan akal\npikirannya. Dan, kehormatannya terletak pada kebaikan akhlaknya,\u201d (H.R. Hakim).<\/p>\n\n\n\n<p>Pemimpin yang\nsenantiasa memperoleh hidayah dan inayah Allah menghalakan matlamat &nbsp;kepemimpinannya hanya pada tiga perkara utama:\nberjaya di dunia, berguna di akhirat,&nbsp;\ndan beroleh rida dari Allah SWT. Dialah pemimpin yang akan membawa\norang-orang yang dipimpinnya ke jalan kehidupan yang ditauladankan oleh Baginda\nRasulullah SAW. Dia pulalah pemimpin yang boleh dibilangkan nama. Jati diri dan\nkepemimpinannya teruji lagi terpuji sehingga tak ada sesuatu apa pun yang mampu\nmenghambat keterjulangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang dan\nakan mencari pemimpin terbilang dan berkelas? Bahkan, mungkin ada yang\nbercita-cita untuk menjadi pemimpin yang cerdas dan cergas. Ada baiknya dibaca\ndan dipahami benar amanat <em>Gurindam Dua\nBelas<\/em>, Pasal yang Kesebelas. Semoga kita senantiasa dianugerahi Allah\ndengan pemimpin yang ikhlas. Alhasil, bangsa dan negara kita akan terpelihara\ndan maju tiada tertindas. Kebahagiaan hidup benar-benar dinikmati, tak\nsemata-mata konsep di atas kertas. Ingatlah, jangan sampai anak-cucu kita kelak\nmeneteskan air mata ketika menatap sebuah atlas.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SESIAPA pun yang berbuat jasa bermakna dia telah melakukan perbuatan yang baik dan terpuji. Jasanya &nbsp;&nbsp;disebut baik karena bermanfaat bagi sesiapa pun yang melakukannya dan apa atau sesiapa pun yang menjadi sasarannya: entah perorangan, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan makhluk apa pun, selain manusia. Sesiapa pun yang menolong seseorang yang sedang mengalami kesulitan hidup yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2584,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[374],"class_list":["post-2583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk","tag-jemala"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}],"post_tag":[{"value":374,"label":"Jemala"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/AM-13-jan.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":374,"name":"Jemala","slug":"jemala","term_group":0,"term_taxonomy_id":374,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":32,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/AM-13-jan.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-FF","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2583"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2585,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2583\/revisions\/2585"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}