{"id":2559,"date":"2018-12-25T00:34:00","date_gmt":"2018-12-24T17:34:00","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2559"},"modified":"2024-07-09T17:25:40","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:40","slug":"kepatutan-gelar-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/12\/kepatutan-gelar-adat\/","title":{"rendered":"Kepatutan Gelar Adat"},"content":{"rendered":"\n<p>DUA\nperkara yang selalu menarik perhatian publik tentang gelar adat. Pertama,\napakah indikator yang digunakan lembaga pemberi gelar sehingga seseorang dianugerahi\ngelar adat tersebut? Kedua, sesuai dengan makna yang tersirat di dalam gelar\nitu, patutkah seseorang\u2014sesiapa pun dia\u2014dianugerahi gelar adat itu? <\/p>\n\n\n\n<p>Bersabit dengan kedua perkara itu,\nsenantiasa terjadi perbincangan luas di kalangan masyarakat\u2014kalau tak mau\ndisebut perdebatan <em>pro<\/em> dan <em>kontra<\/em>\u2014ketika gelar adat&nbsp; dianugerahkan kepada seseorang. Oleh sebab\nitu, kebijaksanaan dan kearifan lembaga pemberi gelar sangat dituntut ketika\nhendak menetapkan anugerah gelar adat, sama ada si penerimanya ataupun nama\ngelarnya. Kendatipun, lembaga pemberi gelar (lembaga adat, misalnya) memiliki\notoritas untuk melakukannya sesuai dengan amanah yang diberikan oleh masyarakat\nadat kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bersamaan dengan itu, ada dua hal yang\nperlu dicatat pula berkenaan dengan penganugerahan gelar adat. Pertama, tradisi\nyang telah berlangsung lama itu masih bertahan sampai setakat ini. Kenyataan\nitu memang patut disyukuri. Kedua, kearifan itu masih mendapat apresiasi yang\ncukup luas di kalangan masyarakat adat. Ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat\nmasih menghargai dan membanggakan nilai-nilai terala tamadun bangsanya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam budaya dan tamadun kita\npenganugerahan gelar memang telah lama dikenal. Hal yang sama juga terjadi\ndalam budaya bangsa-bangsa lain sedunia. Pada zaman kerajaan tradisional\nnusantara dahulu penganugerahan gelar kenegaraan diberikan oleh sultan atau\nraja kepada orang yang dinilai patut dan layak. Dasar penilaian adalah bakti\natau jasa seseorang, biasanya yang luar biasa, atau gelar itu memang harus\ndisematkan kepada si penerima karena jabatannya di pemerintahan, termasuk\nsultan, yang mewajibkannya menggunakan gelar tertentu. <\/p>\n\n\n\n<p>Penganugerahan gelar, lazimnya,\ndilaksanakan pada hari keputeraan (hari ulang tahun) sultan atau raja. Si\npenerima dianugerahi gelar adat karena bakti atau jasanya yang cemerlang.\nKepada sultan atau raja dan orang besar-besar kerajaan, gelar dianugerahkan\nketika yang bersangkutan ditabalkan dalam jabatannya. Penganugerahan gelar\nkehormatan dan kemuliaan itu dilangsungkan dalam upacara kenegaraan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi penganugerahan gelar pada\nperingkat kenegaraan masih berlanjut sampai sekarang di negara kita walaupun Indonesia\ntelah membentuk sebuah negara modern, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).\nDi negara kita setiap tahun ada penganugerahan gelar kepahlawanan, tanda jasa,\ndan tanda kehormatan Republik Indonesia yang diberikan kepada seseorang yang\ndinilai telah berbakti dan berjasa luar biasa terhadap bangsa dan negara.\nPenganugerahan itu biasanya langsung diberikan oleh presiden atas nama negara.\nUntuk gelar Pahlawan Nasional, gelar baru diberikan jika orang yang berjasa\nluar biasa itu telah wafat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada peringkat daerah penganugerahan gelar\nseperti itu (gelar kenegaraan) tak pernah dijumpai lagi. Mungkin karena tak ada\npayung hukum yang mendasarinya sehingga pemerintah provinsi dan kabupaten\/kota\ntak dapat melakukannya. Berbeda halnya dengan Malaysia, misalnya, yang kerajaan\nnegeri (setingkat provinsi) masih memberikan anugerah gelar setiap tahun karena\ndi sana setiap kerajaan negeri memiliki Sultan atau Yang Dipertua Negeri (bagi\nkerajaan negeri yang tak memiliki sultan seperti Kerajaan Melaka). Pada\nperingat negara gelar diberikan oleh Yang Dipertuan Agung. Dengan demikian,\npenyelenggaraan pemerintahannya masih meneruskan tradisi seperti kerajaan-kerajaan\n\u201ctradisional\u201d kita pada masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada zaman kerajaan tradisional gelar yang\ndiberikan tak disebut gelar adat, tetapi gelar kenegaraan atau kerajaan. Pasalnya,\nhukum adat memang telah menyatu di dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kala\nkerajaan-kerajaan tak ada lagi di negara kita\u2014dalam arti tak melaksanakan\nfungsi pemerintahan\u2014barulah muncul istilah gelar adat di peringkat daerah\nkarena penganugerahannya tak lagi dilakukan oleh sultan, tetapi oleh lembaga adat\nsuatu daerah (bukan pemerintah) meneruskan kebiasaan, kelaziman, dan kepatutan\nyang berlaku pada zaman kerajaan tradisional dahulu. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangannya memang kesultanan\nnusantara juga menganugerahkan gelar kepada seseorang atau sekelompok orang\nsebagai wujud dari penerusan nilai-nilai budaya yang dikembangkan kerajaan\nyang&nbsp; dijunjung tinggi. Akan tetapi,\ngelar tersebut bukanlah gelar resmi pemerintah (pusat atau daerah) sehingga\njuga hanya disebut gelar adat. Jadi, semiotik budayanya adalah simbolisasi\npengekalan roh tradisi, bahkan tamadun, yang suatu masa dahulu\u2014ketika\nkerajaan-kerajaan melaksanakan fungsi kenegaraan dan pemerintahan\u2014sangat\nsemarak dilaksanakan.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi penganugerahan gelar adat itu\nditeruskan, walau kita tak lagi hidup di alam kerajaan tradisional, karena\nkebiasaan itu dinilai baik. Kearifan yang dianggap bijak, dalam semua budaya di\ndunia ini, pasti akan bertahan. Di sebalik penganugerahan gelar adat itu pasti\nada nilai kebajikan sebab di situ teserlah kebijaksanaan mengapresiasi bakti\natau jasa yang telah dilakukan seseorang terhadap masyarakat, bangsa, dan atau\nnegara. Kalau dihubungkan dengan tamadun Melayu, tradisi itu\nmengindikasikan\u2014merupakan indeks dalam semiotik budaya\u2014keberadaan Melayu itu\nsendiri. Begitu pulalah halnya dengan adat-istiadat masyarakat di seluruh\nnusantara ini.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Raja Ali Haji <em>rahimahullah<\/em> di dalam karya beliau <em>Tsamarat al-Muhimmah<\/em>, \u201cSyahdan maka hendaklah membalas raja dan\norang besar-besar kepada orang yang berbuat kebajikan alakadar layaknya \u2026. Dan,\njikalau [orangnya] sudah mati, umpamanya, hendaklah jasa ditempatkan kepada\nahlil baitnya yang tinggal. Adapun balasan [maksudnya <em>penghargaan<\/em>] raja itu mana-mana kadar layaknya, <em>intaha<\/em>,\u201d (Haji, 1858).<\/p>\n\n\n\n<p>Hikmah yang dapat dipetik dari tulisan\nRaja Ali Haji itu adalah bahwa bakti dan jasa adalah penunjuk (indeks)\nsekaligus gambaran (ikon) kebajikan seseorang atau sekelompok orang.\nBalasannya, mempersembahkan gelar kehormatan kepada orang yang telah menunaikan\nkebajikan yang luar biasa itu merupakan lambang (simbol) perbuatan terpuji\n\u2018menghargai atau mengapresiasi jasa seseorang atau sekelompok orang\u2019. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika penganugerahan itu dilakukan oleh\nsuatu pemerintah atau lembaga yang menjadi simbol masyarakat seperti Lembaga\nAdat Melayu di dalam masyarakat Melayu, hal itu mengindikasikan bahwa lembaga\ndan masyarakat itu tergolong \u2018yang mengenang dan tahu membalas budi orang\u2019,\nterlepas dari orang yang berjasa itu hirau atau tidak akan jasanya dikenang\norang. [Bukankah orang yang ikhlas berbakti tak pernah mengingat dan menghitung\nberapa banyak dan betapa hebat jasa yang pernah dibuatnya?]. Itulah simbol\nmasyarakat dan pemerintah yang menjadikan \u2018kehalusan dan ketinggian budi\u2019\nsebagai amalan hidupnya sehari-hari. Bahkan, jika sebaliknya yang terjadi,\nitulah simbol kezaliman, sebuah \u2018kecelaan\u2019 menurut Raja Ali Haji.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata <em>penganugerahan<\/em>\nberasal dari kata dasar <em>anugerah<\/em>\ndalam konteks ini pun melambangkan \u2018ketinggian dan kehalusan budi\u2019 itu. Memang,\narti denotatifnya sama dengan \u2018pemberian\u2019, tetapi konotasinya lebih daripada\nsekadar \u2018pemberian biasa\u2019. Di dalam diksi <em>penganugerahan<\/em>\ntersemat makna \u2018ketakziman tingkat tinggi\u2019 atau dapat juga disimpulkan dengan\n\u2018kemuliaan\u2019. Bukankah bakti dan jasa yang luar biasa bagi bangsa dan negara itu\nsuatu kemuliaan? Sama halnya juga, tidakkah membalas jasa dan budi orang adalah\nperbuatan yang terpuji lagi mulia? <\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, siapakah yang patut dianugerahi\ngelar adat itu? Indikatornya hanyalah dan semata-mata bakti dan jasa terbilang\nyang pernah dibuat. Bukan, berbangsa atau tidak orangnya atau tinggi-rendah\npangkatnya yang dijadikan ukuran. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada peringkat daerah, misalnya, tentulah\nbakti bagi kemajuan daerah dan masyarakat daerah itu. Begitulah selanjutnya\nberjenjang ke atas dan atau bertangga ke bawah. Tuan X, umpamanya, adalah motivator\nsekaligus pengembang perikanan budidaya di suatu daerah. Kala tak banyak orang tertarik\nuntuk berbudidaya perikanan sehingga daerah itu hanya bergantung kepada ikan\ntangkap yang tergantung musim atau pasokan ikan dari daerah lain, Tuan X yang\nsebelumnya juga nelayan tangkap, justeru, memacu dirinya untuk meningkatkan\nkuantitas dan kualitas produksinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Dia pun terus berupaya memotivasi\nteman-temannya sesama nelayan tangkap untuk berminat dan memacu peningkatan\nproduksi ikan dengan mengembangkan budidaya perikanan. Padahal, kalau tetap\nsebagai nelayan tangkap yang tergantung pada musim, alat tangkap, dan kapal\nyang layak, tetapi tak mungkin dimiliki oleh nelayan tradisional karena\nharganya mahal, mereka akan turun peringkat dari nelayan pemilik menjadi hanya\nsekadar buruh nelayan, yang nasibnya ditentukan oleh majikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena kegigihannya, dengan inayah Allah, Tuan\nX berhasil meningkatkan penghasilannya, membuat lebih banyak temannya menekuni usaha\nperikanan budidaya yang juga berjaya, dan akhirnya daerah itu tak lagi tergantung\npada ikan dari daerah lain untuk mencukupi keperluan ikan masyarakat\nsehari-hari, bahkan ada pula yang diekspor ke luar negeri. Tuan X menjadi pelopor\npeningkatan kuantitas dan kualitas ikan di daerah itu. Dan, dia juga motivator\nbagi perubahan pola pikir masyarakatnya dalam bisnis perikanan. <\/p>\n\n\n\n<p>Boleh jadi juga motivasi dan kerja keras\nitu ditunjukkan oleh seorang Kepala Dinas Perikanan, seorang Tuan X yang lain dengan\ntugas yang lain tetapi masih dalam bidang perikanan, atau bahkan sarjana kelautan\n(khususnya ilmu perikanan), dan seterusnya dan sebagainya. Akan tetapi, &nbsp;lahan garapannya sama \u2018peningkatan produksi\nikan\u2019 dan yang lebih mustahak mengubah pola pikir masyarakat nelayan dari\nbergantung kepada perikanan tangkap, yang semakin jauh dari jangkauan tangkapan\nkarena pelbagai kendala, menjadi perikanan budidaya yang menjanjikan masa depan.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Pendek kata, Tuan X tak pernah puas sekadar\nmenuangkan pikiran dan atau gagasan kemajuan perikanan di makalah-makalah\nseminar bertaraf nasional dan atau internasional dan tulisan-tulisan jenis lain\nwalaupun mendapat tepuk tangan yang bergemuruh dari hadirin. Malangnya, ketika\ndiminta menunjukkan bukti keberhasilan, dia hanya dapat merujuk kepada daerah, negara\nlain, bahkan yang pernah diterapkan oleh orang lain. Tuan X tak pernah bangga\nhanya mengandalkan teori di atas kertas. Akan tetapi, dia baru berpuas hati\nketika kemampuan teoretis itu dapat diterapkannya untuk memajukan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks contoh panjang-lebar di\natas, Tuan X atau para Tuan X-yang-Lain itu sangat patut dan layak memperoleh\nanugerah gelar adat. Mereka adalah ikon pekerja keras dan simbol dari warga\nyang senantiasa berupaya untuk memajukan negeri dengan kemampuan dan\nkesanggupan yang dimilikinya, suatu kualitas budi yang tak semua orang\nmemilikinya. Prestasi masyarakat dan penyelenggara negara semacam itulah yang\nharus dipantau oleh otoritas adat untuk pada waktu yang telah ditetapkan saban\ntahun diberikan anugerah gelar adat.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang juga mustahak adalah gelar adat yang\ndianugerahkan itu haruslah sepadan dengan bakti dan jasa yang dibuat dan atau\namanah yang dipikulkan kepada si penerimanya. Tengku Mahmud, sebagai contoh,\nbegitu ditabalkan menjadi Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761)\ndianugerahi gelar Sultan Mahmud Riayat Syah. Amanatnya, sebagai sultan Baginda\nwajib menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Penyandangan gelar <em>ri\u2019ayat<\/em> dari <em>ra\u2019a<\/em> (bahasa Arab) mewajibkan Baginda \u2018memelihara negara dan rakyat\nsekaliannya dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya\u2019. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena gelar kultural itu juga pernah\ndisandangkan kepada Sultan Alauddin Riayat Syah (Sultan I Johor-Riau) yang\nmengemban amanat mengusir penjajah, Baginda pun mendapat mandat yang sama.\nAlhasil, Sultan Mahmud Riayat Syah berjaya dengan gemilang menunaikan \u2018titah\nkultural\u2019 itu sehingga Baginda menjadi ikon sekaligus simbol kepemimpinan yang\npatut ditauladani. <\/p>\n\n\n\n<p>Penganugerahan gelar adat memang harus\nmenjadi indeks, ikon, sekaligus simbol sakral sesebuah tamadun yang ranggi lagi\nterala. Ianya memang patut dianugerahkan kepada sesiapa pun yang pernah berbuat\njasa yang sangat luar biasa bagi kemanusiaan. Akan tetapi, kalau disalahniatkan\ndan disalahalamatkan, ianya akan menjadi senjata makan tuan karena dapat mengundang\nmalapetaka, <em>intaha<\/em>.*** <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DUA perkara yang selalu menarik perhatian publik tentang gelar adat. Pertama, apakah indikator yang digunakan lembaga pemberi gelar sehingga seseorang dianugerahi gelar adat tersebut? Kedua, sesuai dengan makna yang tersirat di dalam gelar itu, patutkah seseorang\u2014sesiapa pun dia\u2014dianugerahi gelar adat itu? Bersabit dengan kedua perkara itu, senantiasa terjadi perbincangan luas di kalangan masyarakat\u2014kalau tak mau&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2560,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4,347],"tags":[374],"class_list":["post-2559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-minda","category-tajuk","tag-jemala"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":4,"label":"Minda"},{"value":347,"label":"Tajuk"}],"post_tag":[{"value":374,"label":"Jemala"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/AM-gelar-adat.jpg?fit=1024%2C662&ssl=1",1024,662,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":4,"name":"Minda","slug":"minda","term_group":0,"term_taxonomy_id":4,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":4,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Minda","category_nicename":"minda","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":374,"name":"Jemala","slug":"jemala","term_group":0,"term_taxonomy_id":374,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":32,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/AM-gelar-adat.jpg?fit=1500%2C969&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-Fh","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2559"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2559\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2561,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2559\/revisions\/2561"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}