{"id":2221,"date":"2018-07-15T21:42:07","date_gmt":"2018-07-15T14:42:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=2221"},"modified":"2024-07-09T17:25:53","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:53","slug":"tusiran-suseno-jejak-perjalanan-matahari-laut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/07\/tusiran-suseno-jejak-perjalanan-matahari-laut\/","title":{"rendered":"Tusiran Suseno: Jejak Perjalanan Matahari Laut"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>ADA<\/strong> kalanya sesuatu pertemuan cenderung tak terduga, bahkan ada pula yang terkesan aneh. Kesan itu pernah saya alami. Sebagai sesama penggiat kebudayaan, saya dan Tusiran Suseno kali pertama bersemuka bukan pada peristiwa budaya, melainkan pada peristiwa politik. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kala itu awal 2006 ketika saya mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Karimun periode 2006\u20142011. Karena mengetahui saya mencalonkan diri, Tusiran Suseno, Bhinneka Surya Syam, dan Teja Alhabd menemui saya untuk memberikan semangat. Agaknya, karena sama-sama bergiat dalam bidang kebudayaan, para sahabat itu tertarik akan visi saya menjadikan nilai-nilai budaya, khasnya budaya Melayu, sebagai acuan utama pembangunan daerah, khasnya Kabupaten Karimun. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadilah kami berjumpa di Batam, tempat saya bermastautin kala itu. Dari perbincangan kami di dalam pertemuan itu, saya semakin yakin bahwa Tusiran Suseno memang memiliki komitmen yang kuat dalam pengembangan kebudayaan Melayu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataan itu membuat kami semakin akrab, lebih-lebih lagi setelah saya berpindah ke Tanjungpinang karena kami agak sering bersua, dan tentu, berbincang-bincang, khususnya tentang kebudayaan Melayu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau pertemuan bersemuka baru terjadi pada awal 2006, saya telah sangat akrab dengan tulisan-tulisan Tusiran Suseno. Semasa masih bermastautin di Pekanbaru (1981\u20142004) lagi saya telah membaca beberapa karya beliau. Begitu pun sebaliknya, beliau pun biasa membaca karya-karya saya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu terbukti dari karya beliau bersama Amiruddin dan Teja Alhabd, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Butang Emas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2006), yang menggunakan dua karya saya sebagai referensi: (1) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sastra Lisan Mantra Daerah Riau<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan (2) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kepulauan Riau sebagai Cagar Budaya Melayu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pendek kata, pertemuan karya menjadikan kami bertambah akrab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tusiran Suseno adalah tauladan yang paling representatif dalam ketunakan berkarya, khasnya karya budaya. Hampir kesemua <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">genre<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sastra ditekuni dan ditulisnya. Tak banyak penulis Indonesia yang dapat berbuat begitu, apatah lagi beliau menyepadukan karya-karya tradisional dan modern dengan sangat mesra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bang Tusiran, begitu sapaan akrab saya sehari-hari kepada beliau, terkenal sebagai penulis naskah sandiwara radio yang sangat produktif dan handal. Pekerjaan itu terutama dilakoninya semasa bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungpinang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dedikasinya dalam bidang ini diakui dengan diperolehnya sejumlah penghargaan. Karyanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Setegar Karang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dinobatkan sebagai Juara II Swara Kencana (1989). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ombak Gelombang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> meraih Juara I Swara Kencana (1991), yang juga terpilih mewakili Indonesia untuk meraih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Trophy Morits Hight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jepang. Dua karya naskah sandiwara radionya yang lain, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pelangi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1995) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Karam di Laut Hati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1998), masing-masing juga berhasil mendapat Juara II. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang perpuisian pula, beliau menerbitkan antologi bersama penyair lain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Karya Cipta Sastrawan Kepulauan Riau (<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">1994). Pada 2006 terbit pula <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rampai Budaya Melayu untuk Kepulauan Riau<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, juga bersama para penyair lain. Karyanya yang lain juga bersama penyair lain terbit pada 2008, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Bersama 2<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Beliau juga menjadi penyusun buku puisi ciptaan para pejabat Tanjungpinang, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menatap Bayang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, 2002.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tusiran Suseno juga dikenal sebagai novelis. Sejumlah novelnya telah diterbitkan yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Matahari di Bawah Laut<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1998), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah Perjalanan: Menapak Tak Berjejak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1999), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsawan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2003), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siti Payung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2004), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2008), yang berhasil meraih Juara II Sayembara Penulisan Novel, Dewan Kesenian Jakarta, 2006. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecintaannya kepada budaya Melayu membuat beliau juga menyusun cerita rakyat dan aneka ragam khazanah budaya Melayu. Di antara karyanya dalam bidang ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pulau Paku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (bersama Amiruddin, 2005), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Putri Pandan Berduri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2007), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Butang Emas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2007).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bang Tusiran juga dikenal sebagai Raja Pantun. Kecintaannya terhadap puisi tradisional Melayu itu membuatnya menulis beberapa karya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mari Berpantun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diterbitkannya pada 2003 dan beliau termasuk penulis naskah pantun untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Opera Pantun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dipertunjukkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 29 April 2008. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, beliau telah pun menerbitkan karya pantun terakhirnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sepuluh Ribu Pantun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya memang belum membaca dan memperoleh karya terakhir beliau itu. Akan tetapi, saya mengetahuinya karena karya itu termasuk di antara cenderamata yang diberikan oleh Walikota Tanjungpinang kala itu, Hj. Suryatati A. Manan, kepada rombongan Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena), Malaysia, ketika para tamu itu berkunjung ke Tanjungpinang pada 2010.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya-karyanya itu menunjukkan betapa akrab dan cintanya Tusiran Suseno terhadap budaya Melayu. Di dalam karyanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, beliau mendedahkan betapa kehalusan budi orang Melayu, yang dipertentangkannya dengan kelompok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lanun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu perompak yang ganas, kasar, dan tak bertimbang rasa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau ada di dalam sistem sosial masyarakat Melayu, para lanun tak mendapat tempat yang baik di dalam kebudayaan Melayu karena perilaku mereka yang cenderung biadab itu. Melayu sangat mengutamakan ketaatan pada peraturan, keelokan perangai, dan kehalusan budi bahasa. Itulah sebabnya, tokoh-tokoh lanun di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kesemuanya tewas, termasuk mereka yang akan bertaubat sekali pun. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agak ekstrem memang, tetapi itulah pilihan nilai yang diambil oleh seorang Tusiran Suseno. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agaknya, beliau hendak mengatakan, \u201cTangan yang mencencang, bahu yang memikul. Tak boleh ada pengkhianatan pada sesuatu yang dimuliakan. Sudah tahu jalannya salah, mengapakah jalan itu yang diikuti?\u201d Tak ada kata \u201campun\u201d untuk sebuah pengkhianatan kultural, apa pun alasannya. Karena apa? Pasalnya, begitu ditoleransi, ianya akan membawa musibah besar di belakang hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya-karya Tusiran Suseno merupakan bukti bahwa betapa mesranya dia dengan budaya tanah kelahirannnya, budaya Melayu Kepulauan Riau. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti karya itu juga menjelaskan betapa fasihnya dia membaca untuk kemudian begitu petahnya dia bercakap tentang budaya masyarakatnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, bukti karya itu pun jelas menyerlahkan betapa cintanya dia terhadap budaya tempatan di tanah kelahirannya. Kecintaanlah sesungguhnya yang menyemangati seseorang anak manusia untuk berbuat kebajikan. Tusiran Suseno\u2014penyair, novelis, dan budayawan kelahiran Tanjungpinang, 30 Juni 1957\u2014itu, tak diragukan lagi, adalah penafsir kehidupan yang handal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesemua karya Tusiran Suseno sangat menarik untuk dibicarakan. Walaupun begitu, saya sangat tertarik terhadap novelnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena apa? Dengan latar sejarah dan keadaan sosial-budaya masyarakat tempatan, Kepulauan Riau, dia telah berhasil mengangkat masalah utama yang dialami manusia sejagat raya ini: pertarungan abadi antara si putih kebaikan dan si hitam kejahatan. Akan tetapi, karena pelbagai kepentingan pragmatis, sering dijumpai tak ada pembatas yang tegas lagi di antara keduanya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan judul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saja telah menonjolkan kemenarikan itu. Judul itu dapat dipastikan telah memelawa (mengundang) orang untuk membaca isi novelnya sampai selesai. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasal apa? Inilah penyebabnya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara denotatif berarti \u2018permata yang berasal dari kulit kerang mutiara\u2019 yang adanya memang di dalam laut. Dalam kenyataan sehari-hari, mutiara tak pernah karam sebab <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah \u2018tumbang di laut atau sungai (tentang alat transportasi air: perahu, kapal, dan sebagainya\u2019). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, seharusnya yang karam itu adalah kapal atau perahu, bukan mutiara. Mutiara hanya berkemungkinan untuk tenggelam, bukan karam, dalam keadaan ianya telah diangkat dari dasar laut ke permukaan, kemudian terjatuh lagi sehingga tenggelam kembali ke dasar laut. Itu berarti bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyiratkan lambang \u2018sesuatu yang sangat berharga (mutiara), tetapi kemudian hilang, sirna, dan atau musnah (karam)\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah yang sangat berharga itu? Apa lagi kalau bukan \u2018kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran\u2019. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mutiara Karam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sejatinya berkisah tentang pertarungan abadi \u2018kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran\u2019 di satu pihak bertempur dengan \u2018kesalahan, keburukan, keonaran, dan atau pengkhianatan\u2019 di pihak lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Novel ini menggunakan latar sejarah zaman Kesultanan Riau-Lingga dengan keadaan sosial-budaya masyarakatnya kala itu. Pertikaian kian meruncing ketika terjadi perseteruan pihak kerajaan dan orang-orangnya yang melambangkan \u2018kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran\u2019 berlawan dengan pihak lanun (perompak, penjahat di laut yang merampas muatan kapal yang berlalu lalang di laut dan sering juga membunuh lawannya yang dirompak itu) yang jelas melambangkan \u2018kesalahan, keburukan, keonaran, dan atau pengkhianatan\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malangnya, ada gunting dalam lipatan di sisi \u2018kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran\u2019 itu. Hal ini dilambangkan dengan pengkhiatan yang dilakukan oleh pihak kerajaan terhadap Tengkuk dan Kaman, yang padahal adalah dua orang panglima kerajaan yang setia. Karena kecewa terhadap penguasa, Tengkuk dan Kaman berpaling tadah masuk ke kelompok lanun. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, Tengkuk dan Kaman memilih jalan Hang Jebat: melawan kejahatan dengan menggunakan kejahatan yang lain. Mereka berbeda dengan Hang Tuah: melawan kejahatan atau kezaliman dengan tetap menggunakan kebenaran dan kebajikan, tak berganjak dari tapak suci kebenaran sehingga kejahatan dan pengkhiatan menjadi lumpuh, yang pada gilirannya tamadun manusia dapat diselamatkan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga berbeda dengan Megat Seri Rama yang melawan kejahatan dan kezaliman dengan membinasakan kebiadaban itu dengan cara yang amat keras walaupun dia harus menjadi korban, demi kebenaran dan keadilan sejati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekian lama berada di lingkungan lanun, akhirnya Kaman menyadari dan menyesali kesalahannya. Dia merindui kampung halamannya dan berusaha menebus kesalahannya dengan melawan pihak lanun. Akan tetapi, dia tewas di tangan kawan sesama pelarian dari kerajaan, Tengkuk, yang telah benar-benar menjadi bagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lanun sejati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Peristiwa itu membuktikan betapa sulitnya untuk kembali ke jalan yang benar ketika manusia telah terjatuh ke jurang kejahatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sahar, anak Kaman, yang menjadi lanun karena mengikuti bapaknya, juga sangat merindui kampung halamannya dan berharap dapat kembali ke tanah kelahirannya. Dalam pertempuran antara lanun dan pihak kerajaan, Sahar, bahkan, berpihak kepada kerajaan dan membunuh para lanun. Peristiwa itu juga merupakan simbol upaya manusia untuk kembali ke pangkal jalan (kebaikan) setelah sesat di ujung jalan (kejahatan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sahar pun jatuh hati kepada Suri, anak perempuan Encik Bakak, orang Lingga (kerajaan), yang tewas diserang lanun. Suri kemudian ditawan di sarang lanun. Ternyata, cinta Sahar tak bertepuk sebelah tangan. Suri pun mencintai Sahar sepenuh hati. Cinta Sahar kepada Suri melambangkan kecintaan anak manusia kepada kebaikan dan tak ada kebenaran sejati yang menolak kebaikan sejati (cinta Suri terhadap Sahar). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malangnya, Sahar pun akhirnya tewas juga walaupun telah berusaha kembali ke jalan yang benar. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kejahatan yang dibungkus dengan kebaikan palsu yang tak menghendaki kebenaran sejati tampil ke permukaan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Itulah simbol dari tragedi tewasnya Sahar dan tak sampainya kasih pemuda itu terhadap kekasih hatinya, Suri. Sebuah tragedi kemanusiaan, yang juga tragedi kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, kesemua kawanan lanun itu pun tewaslah, baik lanun sejati (Markong, Marasan, dan lain-lain) maupun lanun yang tercipta karena pengkhianatan (Tengkuk, Kaman, dan Sahar) dalam serangan yang dipimpin oleh Datok Kaya Mepar dari pihak kerajaan. Dengan demikian, tumpaslah sudah kesemua jenis kejahatan dan pengkhiatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimanakah halnya dengan Suri? Namanya saja sangat menarik. Artinya \u2018tauladan\u2019. Dia sejatinya anak perawan yang suci yang tertawan di sarang penyamun. Perawan inilah lambang kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran sejati. Cintanya kepada Sahar pun melambangkan nilai itu. Sayang, cintanya tak sampai ke tujuan, atau lebih tepat digagalkan. Bahkan, <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suri pun tewas, sama halnya dengan kekasihnya, Sahar. Maka, kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran sejati pun lenyaplah sudah. Bersamaan dengan itu, punah jugalah ketauladanan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada lagi tokoh yang dapat ditauladani di dalam kehidupan ini<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tauladan sejati telah dimusnahkan. Ianya dikalahkan oleh \u201ckebenaran\u201d dalam bentuk lain alias kebaikan palsu atau kesucian pura-pura!<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebenaran yang lain? Tentara penguasa yang dipimpin oleh Datok Kaya Mepar berhasil mengalahkan para lanun. Tak seorang lanun pun tersisa, termasuk lanun yang telah bertaubat dan ingin kembali ke jalan yang benar. Artinya, kebenaran dan kebaikan telah mengalahkan kesalahan dan kejahatan dalam perebutan tahta di singgasana nurani manusia. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malangnya, ianya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah kebenaran dan kebaikan sejati.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pasalnya, kebenaran itu sedari awal lagi telah ternoda atau tercemar oleh pengkhiatan terhadap Tengkuk, Kaman, dan Sahar oleh penguasa, bahkan lebih-lebih, terhadap Suri yang suci sehingga sang tauladan itu pun ikut menjadi korbannya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggallah kini \u201ckebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran\u201d menurut versi penguasa, kebenaran yang didefinisikan demi kekuasaan. Oleh sebab itu, Sahar dan Suri pun harus tewas sebab jika hidup dan berbahagia, mereka akan menjadi ancaman bagi penguasa. Mutiara berdelau itu telah karam, tenggelam, dan terbenam jauh ke dasar lumpur terdalam sebuah pengkhiatan dan keonaran terhadap tamadun manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah tafsiran kehidupan dan kemanusiaan yang sungguh luar biasa yang telah dibuat oleh seorang Tusiran Suseno. Andaikan para juri Sayembara Novel, Dewan Kesenian Jakarta, 2006 memahami keadaan sosial-budaya Melayu, novel ini tak mungkin meraih Juara II. Tempat terhormatnya seyogianya Juara I. Malangnya, mungkin tak seorang pun di antara dewan jurinya yang memahami budaya Melayu. Tak tertutup kemungkinan ada juga pengkhianatan yang dibungkus rapi dengan \u201ckebenaran\u201d sehingga terjadilah pengkhianatan terselubung di sini. Dan, juri rupanya adalah juga sejenis penguasa bertopeng dalam wujud yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siang 31 Maret 2011 kami bertolak dari Bandung menuju Bandara Sukarno-Hatta untuk pulang ke Tanjungpinang. Dari pagi semalam sampai ke malam hari kami sibuk mengikuti acara budaya di Fakultas Sastra, Universitas Pajajaran (Unpad) bersama Walikota Tanjungpinang kala itu atas undangan Fakultas Sastra, Universitas Pajajaran. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghilangkan letih dan jenuh selama perjalanan, kami bercerita tentang pelbagai hal, terutama yang lucu-lucu. Dalam hal ini, Bang Tusiran termasuk yang paling banyak menampilkan cerita pendek-pendek yang membuat kami semua ketawa. Tak ada rasa letih atau mengantuk dalam perjalanan dengan bus selama empat jam itu. Begitulah hebatnya cerita-cerita yang dikisahkannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara cerita yang dinukilkan oleh Bang Tusiran adalah kata-kata bahasa Melayu yang yang berakhir dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013il<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kesemua kata yang dijadikannya contoh ternyata lucu-lucu belaka. Karena menarik, saya usulkan kepada beliau kala itu supaya cerita tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013il<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu dibukukan, jangan hanya jadi cerita lisan saja sehingga nanti terbang tak berkesan dibawa angin. Mendengar usul itu beliau tertarik, \u201cJudulnya apa?\u201d tanyanya. \u201c<\/span><b><i>Perkara \u2013il<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> supaya teserlah nuansa Melayunya\u201d jawab saya spontan. Menurut Bhinneka Surya Syam (Tokmok, almarhum), buku itu memang ditulisnya dan telah sampai pada abjad N.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tusiran Suseno, sastrawan dan budayawan produktif, kelahiran Tanjungpinang itu, memang tak pernah hendak berhenti berkarya. Hal-ilwal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013il<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pun menjadi renungan dan perhatiannya. Memang, dari cerita tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013il<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kala itu beliau tak menyebut perihal Izrail, entah mengapa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, Sang Khalik yang menciptakannya telah menetapkan bahwa cukup sudahlah bakti dan pengabdian suci seorang Tusiran Suseno untuk manusia dan dunia. Oleh sebab itu, malaikat Izrail diperintah oleh Allah untuk memanggil pulang Sang Penghalau \u201cLanun\u201d itu dan dibawa kembali ke haribaan-Nya dengan tenang demi menemukan kebenaran-Nya yang sejati. \u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rabu, 13 Juli 2011 sekira pukul 21.00 WIB, Tusiran Suseno menerima panggilan itu dengan ikhlas seraya mengucapkan kalimah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLa ilaha illa-Llah Muhammad ar-Rasulullah,\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tanpa ragu sedikit jua, sesuai dengan iman dan keyakinannya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau telah beristirahat dengan tenang di pangkuan Allah seraya tersenyum memandang dan menikmati kebenaran yang sesungguhnya, yang selama hidup di dunia yang fana ini diperjuangkannya. Saya yakin, sepahit apa pun perjuangan itu, azam dan cita-cita Tusiran Suseno pasti ada yang melanjutkannya. Patah tumbuh hilang berganti, bergadai nyawa berbuat bakti, mutu terala insan sejati.***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">dimuat juga di versi cetak\u201cJembia,\u201d <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tanjungpinang Pos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Ahad, 15 Juli 2018, hlm. 13<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ADA kalanya sesuatu pertemuan cenderung tak terduga, bahkan ada pula yang terkesan aneh. Kesan itu pernah saya alami. Sebagai sesama penggiat kebudayaan, saya dan Tusiran Suseno kali pertama bersemuka bukan pada peristiwa budaya, melainkan pada peristiwa politik. Kala itu awal 2006 ketika saya mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Karimun periode 2006\u20142011. Karena mengetahui saya mencalonkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":2224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[32,10,347],"tags":[179,374,394],"class_list":["post-2221","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-melayu-hari-ini","category-sastra-melayu","category-tajuk","tag-abdul-malik","tag-jemala","tag-tusiran-suseno"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":10,"label":"Sastra"},{"value":347,"label":"Tajuk"}],"post_tag":[{"value":179,"label":"abdul malik"},{"value":374,"label":"Jemala"},{"value":394,"label":"TUsiran Suseno"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/AM-Tusiran.jpg?fit=1024%2C715&ssl=1",1024,715,true],"author_info":{"display_name":"Abdul Malik","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/datukmalik\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":10,"name":"Sastra","slug":"sastra-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":60,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":60,"category_description":"","cat_name":"Sastra","category_nicename":"sastra-melayu","category_parent":0},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":179,"name":"abdul malik","slug":"abdul-malik","term_group":0,"term_taxonomy_id":179,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":17,"filter":"raw"},{"term_id":374,"name":"Jemala","slug":"jemala","term_group":0,"term_taxonomy_id":374,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":32,"filter":"raw"},{"term_id":394,"name":"TUsiran Suseno","slug":"tusiran-suseno","term_group":0,"term_taxonomy_id":394,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/AM-Tusiran.jpg?fit=1145%2C800&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-zP","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2221"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2221\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4821,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2221\/revisions\/4821"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}