{"id":1997,"date":"2018-04-22T10:00:22","date_gmt":"2018-04-22T03:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=1997"},"modified":"2024-07-09T17:25:57","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:57","slug":"ceritera-asal-keturunan-raja-raja-melayu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/04\/ceritera-asal-keturunan-raja-raja-melayu\/","title":{"rendered":"Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu"},"content":{"rendered":"<p>oleh: Aswandi Syahri<\/p>\n<p><span class=\"dropcap dropcap2\">S<\/span>alinan manuskrip Riau-Lingga yang berjudul <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, <em>Leidsche Universiteits-Bibliotheek<\/em>,\u00a0 di Negeri Belanda, dan menjadi bagian dari sebuah kitab yang berisikan beberapa salinan manuskrip.<\/p>\n<p>Dalam katalogus paling mutakhir perpustakaan itu yang disusun oleh Teuku Iskadar (1999) dan E.P. Wieringa (1997), nomor katalog manuskrip tersebut adalah Cod. Or. 3199. Sedangkan dalam katalog lama yang disusun oleh H.H. Juynboll, <em>Catalogus van De Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteits-Bibliotheek<\/em> (1899), nomor katalog-nya adalah CCLXIV (Cod. 3199 (2)).<\/p>\n<p>Awalnya, kitab kumpulan salinan manuskrip tersebut adalah koleksi, H.N. van Der Tuuk, seorang <em>linguist<\/em> terbaik yang penah dimiliki Universtas Leiden. Sebuah label kecil menggunakan bahasa Latin yang ditempelkan pada bagian dalam kover belakang manusrip ini menandainya dengan keterangan sebagai berikut: \u201cwarisan orang yang paling terpelajar H. Neubronner van Der Tuuk untuk Universitas Leiden pada tahun 1894\u201d\u00a0 (<em>Ex Legato viri Doctissimi H. Neubronner van Der Tuuk 1894<\/em>)<em>.<\/em><\/p>\n<p>Pada bagian daftar isinya yang ditulis sendiri oleh van Der Tuuk (halaman 1 <em>recto<\/em> naskah Cod. Or. 3199 ini), tercantum\u00a0 judul delapan salinan manuskrip yang ada di dalam kitab kumpulan salinan manuskrip itu. Salinan manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> adalah manuskrip terakhir dalam urutannya. Secara berturut-turut judul-judul delaman salinan manuskrip tersebut adalah sebagai berikut: (1) <em>Hukum Qanun<\/em>, (2) <em>Hukum Pelayaran Melaka<\/em>, (3) <em>Undang-Undang Negeri dan Pelayan<\/em>, (4) <em>Salasilah Turunan Sulthan Sumeneb<\/em>, (5) <em>Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan\u00a0 Muda Negeri Riau<\/em>, (6) <em>Surat Cap-Cap dan Kepala Surat-Surat Raja Melayu<\/em>, dan (7) <em>Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan<\/em>.<\/p>\n<h3><strong>Disalin di Melaka<\/strong><\/h3>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>\u00a0Dalam kumpulan salinan manuskrip ini, <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em>\u00a0 ditulis pada halaman 105<em>verso<\/em> hingga halaman 108<em>recto<\/em>. Kecuali halaman 108<em>recto<\/em>, setiap halamannya terdiri dari 19 baris tulisan yang kemas dan masih jelas terbaca. Penulisannya menggunakan tinta hitam, dengan sedikit tinta merah untuk menuliskan perkataan <em>sanah<\/em> atau <em>sanat<\/em> (bahasa Arab untuk tahun), yang diletakkan tepat di bawah seluruh angka tahun yang ada dalam cerita ini.<\/p>\n<p>Pada halaman terakhir (108<em>recto<\/em>) naskah ini, terdapat dua <em>kolofon<\/em> (keterangan pada akhir naskah). Kolofon pertama menyebutkan bahwa manuskrip <em>Ceritera Asa<\/em><em>l<\/em><em> Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini mula-mula disalin di Riau (Tanjungpinang atau Pulau Penyengat?) pada 2 September 1819. Selanjutnya <em>kolofon<\/em> kedua menyebutkan naskah salinan itu disalin kembali di Melaka pada 9 September 1819. Penyalinnya tidak dikenal (<em>anonymous<\/em>).<\/p>\n<figure id=\"attachment_2006\" aria-describedby=\"caption-attachment-2006\" style=\"width: 646px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?ssl=1\"><img data-recalc-dims=\"1\" fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2006\" data-permalink=\"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/04\/ceritera-asal-keturunan-raja-raja-melayu\/aswandi-22-april-colofon\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?fit=646%2C940&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"646,940\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Aswandi-22-april-Colofon\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?fit=206%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?fit=646%2C940&amp;ssl=1\" class=\"wp-image-2006 size-full\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?resize=646%2C940&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"646\" height=\"940\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?w=646&amp;ssl=1 646w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?resize=103%2C150&amp;ssl=1 103w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?resize=206%2C300&amp;ssl=1 206w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Aswandi-22-april-Colofon.jpg?resize=289%2C420&amp;ssl=1 289w\" sizes=\"(max-width: 646px) 100vw, 646px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2006\" class=\"wp-caption-text\">2.Kolofon yang tercantum pada halaman 108recto naskah Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. (foto: aswandi syahri)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Selengkapnya, isi kedua <em>kolofon<\/em> manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> adalah sebagai berikut: Pertama, \u201c<em>Tersalin di dalam negeri Riau kepada dua hari bulan Sepetember tahun Wilanda Sanah 1819,<\/em>\u201d dan<em> kedua, <\/em>\u201c<em>Tersalin daripada surat salinan, di dalam negeri Melaka kepada Sembilan hari bulan September tahun Wilanda sanah 1819<\/em>.\u201d<\/p>\n<h3><strong>Fakta Lain Sejarah Riau-Lingga<\/strong><\/h3>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Sebagaimana dicatat oleh Juynboll (1899: 251), dari segi judulnya, manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini mirip dengan manuskrip <em>Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan<\/em> yang terdapat dalam kitab kumpula manuskrip koleksi Perpustakaan Universitas Leiden yang diberi nomor katalogus Cod. Or. 3199.<\/p>\n<p>Namun demikian, dalam kenyataanya subyek dan kandungan isi kedua manuskrip ini berbeda. Jika dibaca dengan cermat maka jelas terlihat bahwa manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> bukan lah kelanjutan manuskrip <em>Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan<\/em> seperti dicatat oleh Wieringa (1997).<\/p>\n<p>Manuskrip <em>Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan<\/em> sesungguhnya berisikan kisah dan asal-usul \u00a0raja-raja Melayu, yang bermula dari Sri Tribuana sehingga lah kepada Sultan Abdulrahman Syah yang memerintah di Lingga hingga tahun 1248 H bersamaan \u00a0dengan tahun 1832 M.<\/p>\n<p>Sebaliknya, manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> berisikan sejarah Sultan Sulaiman yang menjadi Yang Dipertuan Besar Kerajaan Johor di Negeri Riau sehingga lah pada masa ketika Daeng Kemboja menjadi Yang Dipetuan Muda Riau, dan Raja Haji menjadi Kelananya pada tahun 1166 H yang bersamaan dengan tahun 1752 M.<\/p>\n<p>Adalah juga keliru bila mengatakan bahwa kandungan isi manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini kurang lebih sama (<em>more or less similar<\/em>) dengan manuskrip <em>Aturan Setia Bugis Bugis dan Melayu<\/em>, seperti disinyalir oleh Teuku Iskandar dalam katalognya (1997).<\/p>\n<p>Mungkin, lebih tepat bila dikatakan bahwa manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini lebih mirip atau <em>varian<\/em> lain dari <em>Hikayar Negeri Johor<\/em> (Cod.Or. 141 (2) yang dicantumkan Wieringa (1998: 98) dalam katalognya. Mengapa?<\/p>\n<p>Sama seperti manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em>, manuskrip <em>Hikayat Negeri Johor<\/em> adalah juga sebuah catatan sejarah yang disusun berdasarkan urutan waktu atau kronik yang disebut oleh Leonard Andaya (1987) sebagai \u201ckeringkasan sejarah Kerajaan Johor yang baru di Riau\u201d, yang disusun berdasarkan urutan waktu kejadian peristiwanya.<\/p>\n<p>Kandungan isi manuskrip <em>Ceritera Asa Keturunan Raja-Raja Melayu <\/em>ini diawali dengan teks sebagai berikut: \u201c<em>Hijrat al-Nabi Shali-Allah \u2018alaihi wassalam sanah 1173<\/em> [bersamaan 1759 M]<em> kepada hari Jumat, adalah kepada masa itu Raja Sulaiman ditabalkan oleh Kelana Jaya Putra dan Daing Menampok. Maka gelar Sultan Sulaiman Badr-al-\u2018amsyah diatas tahta Kerajaan negeri Johor dan Pahang\u2026<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Meskipun dibuka dengan teks yang \u2018meragukan\u2019 dan harus diteliti lebih jauh karena berbeda dalam menuliskan tarikh penabalan Sultan Sulaiman yang\u00a0 telah umum diketahui terjadi pada tarikk 1734 H bersamaan dengan 1721 H (lihat: Ismail Husin, <em>Hiskayat Negeri Johor<\/em> yang dilapirkan dalam R.O. <em>Winstedt, History Johore 1365-1895<\/em>, MBRAS, 1979: 195), manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> ini menampilkan fakta-fakta sejarah yang selama ini tak begitu jelas diungkapkan.<\/p>\n<p>Manuskrip <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> dengan jelas mencatat bahwa pada fase-fase awal berdirinya, \u2018kerajaan Johor yang baru\u2019 di Riau bukan semata-mata hasil \u2018pakatan politik\u2019\u00a0 Daeng Kemboja adik beradik dan Sutan Sulaiman dengan saudara-saudaranya semata.<\/p>\n<p>Sumpah setia <em>Marhum Sungai Baru<\/em> atau <em>Persetian Melayu dan Bugis<\/em> yang terkenal dan berulang-ulangkali dikrarkan itu, bukan hanya dilakukan\u00a0 oleh Yang Dipetuan Muda dan Yang Dipertuan Besar saja, tapi juga melibatkan Raja Tua yang (dalam manuskrip ini ditulis: <em>Raja<\/em> <em>Tuha<\/em>), Datuk Bendahara, dan Engku Raja Indra Bungsu, dan \u00a0segala penggawa Bugis serta Melayu.<\/p>\n<p>Sumpah setia itu berulangkali diperbaharui. Tidak hanya ketika terjadi perselisan antara Sultan dan Yamtuan Muda atau ketika penabalan salah satu diantara keduanya, tapi juga diperbaharui semula ketika seorang Raja Tua yang baru ditabalkan menggantikan raja Raja Tua yang lama: seperti dalam kasus penabalan Tun \u2018Abdulah menggatikan Raja Tua yang pertama pada 10 Zulhijah 1147 H bersamaan dengan 31 Mei 1734.<\/p>\n<p>\u201c<em>Maka diteguhi pula perjanjian itu dihadapan Duli Yang Dipertuan Besar, dan Duli Yang Dipertuan Muda, dan Engku Raja Indra Bungsu, dengan segala Penggawa dan orang tuha-tuha sumpah setia yang tiada berubah-ubah. Dan barangsiapa mungkir daripada sumpah setia yang tersurat di atas kertas ini maka diramai-ramai anak Bugis dan anak Melayu. Dikutuki Allah sampai kepada anak ucunya. Tiada beroleh baik sampailah kepada anak cucunya<\/em>\u2026\u201d<\/p>\n<p>Dalam manuskrip ini juga dinyatakan bahwa seorang Raja Indra Bungsu pada ketika itu juga pernah memegang perintah atas rakyat dan teluk rantau tokong pulau, serta dapat menjadi Datuk Bendahara atas permohonan Yang Dipertuan Muda beserta segala Penggawa Bugis dan Melayu kepada Sulta Yang Dipertuan Besar: seperti\u00a0 dalam kasus yang terjadi pada tahun 1161 H bersamaan dengan tahun 1784 M.<\/p>\n<p>Fakta-fakta dalam sejarah awal penubuhan \u2018Kerajaan Johor yang baru\u2019 di Negeri Riau memang masih banyak yang belum tersibak, atau mungkin \u2018dihilangkan\u2019 dan \u2018disembunyi\u2019 sebagai bagai bagian dari \u2018politik historiogarfi sistana\u2019 demi \u2018peneguhan legitimasi historis\u2019 penguasa tertentu pada suatu periode tertentu pula.<\/p>\n<p>Bahkan Raja Ali Haji, yang menurut Virginia Matheson (1971) menggunakan naskah <em>Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu<\/em> sebagai salah satu bahan sumbernya ketika melanjutkan kerja menyelasaikan dan mengemas semula <em>Tuhfat al-Nafis<\/em> yang telah dimulai oleh ayahnya, juga samar-samar dalam menyebutkan fakta-fakta sejarah yang penting pada fase-fase awal \u201ckerajaan Johor yang baru\u201d di Negeri Riau.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Aswandi Syahri Salinan manuskrip Riau-Lingga yang berjudul Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Leidsche Universiteits-Bibliotheek,\u00a0 di Negeri Belanda, dan menjadi bagian dari sebuah kitab yang berisikan beberapa salinan manuskrip. Dalam katalogus paling mutakhir perpustakaan itu yang disusun oleh Teuku Iskadar (1999) dan E.P. Wieringa (1997), nomor katalog manuskrip tersebut&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2004,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,5,347],"tags":[],"class_list":["post-1997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-sejarah","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Pictorial-concept-aswandi-22-april.jpg?fit=1024%2C629&ssl=1",1024,629,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Pictorial-concept-aswandi-22-april.jpg?fit=1400%2C860&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-wd","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1997"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4849,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997\/revisions\/4849"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2004"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}