{"id":1956,"date":"2018-04-03T03:28:23","date_gmt":"2018-04-02T20:28:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=1956"},"modified":"2024-07-09T17:25:58","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:58","slug":"bustan-al-katibin-kitab-perkebunan-juru-tulis-karya-raja-ali-haji","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/04\/bustan-al-katibin-kitab-perkebunan-juru-tulis-karya-raja-ali-haji\/","title":{"rendered":"Bustan al-Katibin, Kitab Perkebunan Juru Tulis Karya Raja Ali Haji"},"content":{"rendered":"<p><strong><span class=\"dropcap dropcap2\">D<\/span>ARI <\/strong>147 Pahlawan Nasional Indonesia, Raja Ali Haji adalah satu-satunya sosok yang dianugerahi gelar kehormatan itu karena intelektualitasnya dalam bidang bahasa:Pahlawan Nasional dalam bidang bahasa.<\/p>\n<p>Sopistikasi dan pencapaiannya dalam bidang bahasa telah menempatkannya sebagai Munsyi Alam Melayu yang penting pada kurun ke-19. Melalui kitab <em>Bustan al-Katibin <\/em>yang menjelaskan tata bahasa Melayu dan kamus ekabahasa berjudul <em>Kitab<\/em> <em>Pengetahuan Bahasa<\/em>, Raja Ali Haji telah membuka laluan bagi pengetahuan yang sistematis tentang Bahasa Melayu, yang kemudian berevolusi menjadi Bahasa Indonesia.<\/p>\n<p><em>Kutubkhanah <\/em>minggu ini akan memperkenalkan kitab <em>Bustan al-Katibin<\/em> yang merupakan kitab tata bahasa pertama di Alam Melayu karya Raja Ali Haji: cendekiawan paling <em>prolific <\/em>dari Negeri Riau, Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.<\/p>\n<h3><strong>\u00a0<\/strong><strong>Sebaran Manuskrip<\/strong><\/h3>\n<p>Judul lengkap kitab tata bahasa Melayu karya Raja Ali Haji ini adalah <em>Bustan al-Katibin lis-Subyan-al-Muta\u2019alimin<\/em>. Oleh Raja Ali Haji, judul utama yang menggunakan Bahasa Arab itu disandingkannya dengan judul imbuhan menggunakan bahasa Melayu, yaitu, <em>Perkebunan Juru Tulis Bagi<\/em> <em>Kanak-Kanak Yang Hendak Belajar<\/em> <em>Akan Dia<\/em>.<\/p>\n<p>Menurut Teuku Iskandar (1999:726), dalam manuskrip <em>Bustan al-Katibin<\/em> koleksi H.C. Klinkert (KI. 107) yang kini berada dalam simpanan Perpustakaan Universitas Leiden, terdapat catatan yang menyebutkan bahwa penulisan kitab ini diselesaikan oleh Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad al-Haj ibn Yang Dipertuan Muda Raja Haji fisabilillah di Negeri Riau (Pulau Penyengat) pada pada 19 Zulkaidah 1267 AH, bersaman dengan 15 September 1851 CE. Manuskrip koleksi H.C. Klinkert tersebut ditulis dengan sangat indah menggunakan huruf huruf Arab Melayu atau <em>huruf Melayu, <\/em>menurut istilah Raja Ali Haji.<\/p>\n<p>Ditulis di atas lembaran-lebaran kertas Eropa dengan <em>watermark <\/em>(tanda air) <em>W LEWIS <\/em>dan angka <em>1850, <\/em>yang biasanya menunjuk kepada tarikh pembuatan kertasnya. Dengan merujuk kepada tarikh yang tercantum dalam salinan <em>Bustan al-Katibin <\/em>koleksi H.C. Klinkert, maka manuskrip karya Raja Ali Haji koleksi Perpustakaan Universitas Leiden tersebut lebih tua usianya dari dua salinan <em>Bustan al-Katibin <\/em>koleksi Von de Wall yang kini berada dalam simpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.<\/p>\n<p>T.E. Behren dalam <em>Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantra Jilid 4 <\/em>koleksi <em>Perpustakaan Nasional <\/em>(1998:332) mencatat ada dua manuksrip <em>Bustan al-Katibin <\/em>dengan nomor katalogus W 218 dan W 219 dalam simpanan Perpustakaan Nasional. Dua manuskrip ini berbeda dalam beberapa hal: jumlah halaman dan tarikh penyalinannya.<\/p>\n<p>Behren memerikan manuskrip <em>Bustan al-Katibin <\/em>W 218 selesai disalin pada tahun 1856. Sementara itu, tarikh selesai penyalinan manuskrip <em>Bustan al-Katibin <\/em>W 219 adalah tahun 1850.<\/p>\n<p>Selain tiga manuksrip <em>Bustan al-Katibin <\/em>yang semuanya berada di luar Provinsi Kepulauan Riau, hanya tersisa sebuah manuskrip di tempat asalnya, di Pulau Penyengat, kampung Halaman Raja Ali Haji.<\/p>\n<p>Kolofon manuksrip yang ditulis menggunakan kalam dari batang resam (<em>Gleichenia linearis CLARKE<\/em>) dan tinta hitam dan kini berada dalam simpanan Balai Maklumat Kebudayaan Melayu Riau di Pulau Penyengat itu menyatakan ianya disalin pada Tarikh 1858 CE. Ragam tarikh penyalinan, dan banyaknya salinan yang tersebar menunjukkan menjadi penanda betapa penting arti manuskrip <em>Bustan Al-Katibin <\/em>ini pada zamannya.<\/p>\n<h3><strong>Edisi Litografi<\/strong><\/h3>\n<figure id=\"attachment_1957\" aria-describedby=\"caption-attachment-1957\" style=\"width: 206px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?ssl=1\"><img data-recalc-dims=\"1\" fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1957\" data-permalink=\"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/04\/bustan-al-katibin-kitab-perkebunan-juru-tulis-karya-raja-ali-haji\/bustan-watermark\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?fit=646%2C940&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"646,940\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Bustan-watermark\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"&lt;p&gt;Iluminasi kitab Bustan al-Katibin edisi cetak litografi di Pulau Penyengat tahun&lt;br \/&gt;\n1857. Dok. Aswandi Syahri&lt;\/p&gt;\n\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?fit=206%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?fit=646%2C940&amp;ssl=1\" class=\" td-modal-image wp-image-1957 size-medium\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?resize=206%2C300&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"206\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?resize=206%2C300&amp;ssl=1 206w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?resize=103%2C150&amp;ssl=1 103w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?resize=289%2C420&amp;ssl=1 289w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-watermark.jpg?w=646&amp;ssl=1 646w\" sizes=\"(max-width: 206px) 100vw, 206px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1957\" class=\"wp-caption-text\">Iluminasi kitab Bustan al-Katibin edisi cetak litografi di Pulau Penyengat tahun<br \/> 1857. Dok. Aswandi Syahri<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di sisi lain, mengacu kepada katalog buku-buku Melayu cetakan lama yang disusun oleh Ian Proudfoot, <em>Early<\/em> <em>Malay Printed Books <\/em>(1992: 184-185), dapat diketahui bahwa beberapa hanya tersisa delapan (8) eksemplaar edisi <em>litografi <\/em>(edisi cetak batu) <em>Kitab<\/em> <em>Bustan al-Katibin <\/em>karya Raja Ali Haji yang kini mejadi koleksi beberapa perpustakaan penting di dunia.<\/p>\n<p>Dua eksemplar di antaranya berada dalam simpanan <em>Perpustakaan Nasional<\/em> <em>Republik Indonesia <\/em>(PNRI) di Jakarta. Sisanya tersebar dalam simpanan perpustakaan <em>School of Ariental<\/em> <em>and Africam Studies <\/em>(SOAS) di Inggris; <em>British Library, <\/em>dan Perpustakaan <em>Oriental and India Office Collections<\/em> (BL OIOC) di Inggris; <em>Koninkelijk<\/em> <em>Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde<\/em> (KITLV) yang kini telah diserahkan kepada Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda; <em>National Library of<\/em> <em>Singapore<\/em>; dan perpustakaan <em>Rijkuniversiteit<\/em> <em>te Leiden <\/em>(RUL), Belanda.<\/p>\n<p>Edisi <em>litografi <\/em>ini muncul beberapa kali. Dicap atau dicetak pertama kalinya pada tahun 1857. Cetakan selanjutnya muncul tahun 1870 dan 1892. Edisi <em>litografi <\/em>pertama <em>dicap <\/em>atau dicetak di Pulau Penyngat pada tahun 1857. Sedangkan dua edisinya lainnya <em>dicap<\/em> di Singapura oleh <em>Matbaah Haji<\/em> <em>Muhammad Said al-Jawi <\/em>atau <em>Haji<\/em> <em>Muhammad Said bin Haji Arsyad<\/em>.<\/p>\n<p>Tiga (3) eksemplaar <em>Bustan al- Katibin <\/em>edisi litografi tahun 1857 kini berada di PNRI Jakarta dan perpustakaan SOAS di Inggris. Pada <em>kolofon <\/em>edisi <em>litografi <\/em>pertama ini dinyatakan bahawa kitab itu <em>dicap <\/em>atau dicetak di Pulau Penyengat pada tarikh 20 Syakban 1273 AH bersamaan dengan 15 April 1857 CE, yakni pada masa pemerintahan Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII dan pada masa Raja Ali Haji sedang subur-suburnya berkarya.<\/p>\n<p>Selengkapnya dalam kolofon tersebut dinyatakan sebagai berikut:<\/p>\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\">\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p>\u201c<em>Telah selesailah al fakir al hakir illallah-ta\u2019ala al-ma\u2019traf bi-al-zanbi wa-al-taqsir al-Raja Ali Ghapur bin al Karim daripada mentaba\u2019 akan kitab Bustan al Katibin ini di dalam negeri Riau di Pulau Penyengat pada zaman maulana al-Sulthan Yang Dipertuan Muda Raja Ali ibni almarhum Yang Dipertuan Muda Raja Ja\u2019far kepada dua puluh hari bulan Sya\u2019ban al Mukarram pada hari Arba\u2019a waktu \u2018Asyar jam pukul ampat pada hujrah al Nabi Salallallhu \u2018Alaihi Wassalam sannah 1273<\/em>.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<\/blockquote>\n<h3><em>\u00a0<\/em><strong>Huruf Melayu dan Suratannya<\/strong><\/h3>\n<p>Apa isi <em>Kitab Bustan al-Katibin<\/em>?<\/p>\n<p>Mengenai kandungan isi <em>Bustan al-Katibin<\/em>, Raja Ali Haji menjelaskan dengan ringkas dan padat pada bagian pengantar, sebelum uraian Panjang lebar pada bagian <em>Mukadimah<\/em>, yang ia nyatakan sebagai berikut: \u201c\u2026<em>inilah suatu kitab yang tersimpan bagi orang yang berkehendak atas mengenal segala huruf Melayu dan suratannya <\/em>[cara menuliskannya]<em>. Dan aku atur akan dia atas suatu mukadimah <\/em>Pengantar<em>, dan beberapa pasal, dan satu khatimah <\/em>[penutup]<em>\u2026\u201d<\/em><\/p>\n<p>Bila dijabarkan secara garis besar, isi kitab <em>Bustan al-Katibin <\/em>terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah <em>Mukadimah <\/em>yang menguraikan perihal ilmu<em>, <\/em>kelebihan ilmu, adab menuntut ilmu, dan yang berkenaan dengannya.<\/p>\n<p>Pada bagian ini pula tercatum syair parsi yang disitir Raja Ali Haji, yaitu sebait syair yang penuh makna yang ditulis dengan untaian \u201ckata bersayap\u201d perihal kekuatan pena atau kalam yang selalu dikutip oleh para pejangga masa kini, namun jauh dari terjemahan asli yang dibuat oleh Raja Ali Ali Haji.<\/p>\n<p>Lengkapnya, kalimat asli dalam bahasa Parsi dan terjebahan dalam bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji adalah sebagai berikut:<\/p>\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\">\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p>\u201c<em>Kalam kuyat Kaman Syahi jahannam\/Kalam kisarbad Walad mir<\/em> <em>sanam\/ Akrabad jantaba\/<\/em> <em>Syaddaman<\/em> <em>jadam\/ Walikayakbar badaulat<\/em> <em>rasanam<\/em>\u201d\u2026<\/p>\n<p>\u201d\u2026<em>Berkata kalam aku ini raja<\/em> <em>memerintah akan dunia. Barangsiapa<\/em> <em>mengambil akan aku dengan<\/em> <em>tangannya<\/em> <em>tak dapat tiada aku sampaikan<\/em> <em>juga kepada kerajaan. Dan barangsiapa<\/em> <em>yang celaka<\/em> <em>tiadalah aku kenal<\/em> <em>akan dia. Tetapi sekali-kali jika<\/em> <em>dicapainya juga akan daku niscaya<\/em> <em>aku sampaikan juga pada kerajaan<\/em>.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<\/blockquote>\n<p>Bagian kedua isi kitab ini adalah bagian penjelasan tata bahasa Melayu yang mengadopsi tata bahasa Arab, yang berisikan penjelasan tentang huruf-huruf Melayu yang juga bersumber dari huruf-huruf Arab dan tambahan beberapa huruf yang \u2018diciptakan\u2019 khusus untuk bahasa Melayu, serta penjelasan panjang lebar dan rinci tentang cara menuliskan huruf-huruf tersebut menjadi kalimat-kalimat, menyuratkannya atau menuliskannya. Uraian teras utama pada \u2018bagian kedua\u2019 kitab ini dikemas dalam 31 pasal yang dicantumkan dalam sebuah <em>fahrasat <\/em>atau daftar.<\/p>\n<p>Diawali dengan, <em>Pasal 1 pada menyatakan huruf yang<\/em> <em>tiada baginya makna yaitu awalnya<\/em> <em>alif dan<\/em> <em>akhirnya ya, serta bertambah<\/em> <em>lagi pula hurufnya itu yaitu<\/em> <em>cha, nga, ga, nya, pa<\/em>\u201d. Bagian teras utama ini diakhiri dengan <em>Pasal 31<\/em> yang isinya <em>pada menyatakan<\/em> <em>perkataan yang pincang dan yang<\/em> <em>pandak <\/em>[pendek] <em>pada hal syah<\/em> <em>maksudnya itu, dan menyatakan<\/em> <em>aturan membuat surat perkiriman<\/em> <em>pada barang yang layak dibahasakan<\/em> <em>didalamnya<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>Bagian ketiga kita ini, adalah penutup atau <em>Khatimah <\/em>dari seluruh isi kitab <em>Bustan al-Katibin <\/em>yang terdiri dari tiga pesan Raja Ali Haji kepada siapa saja \u201c\u2026<em>yang masuk belajar di dalam<\/em> <em>kitab<\/em>(nya)\u2026\u201d, kepada siapa saja yang \u201c\u2026<em>mengajarkan kitab ini<\/em>\u2026\u201d, dan kepada siapa saja \u201c\u2026<em>yang menyuruh<\/em> <em>menyalin kitab ini<\/em>\u2026\u201d.<\/p>\n<p>Kepada siapa saja yang mempelajari kitab <em>Bustan al-Katibin <\/em>Raja Ali Haji antara lain berpesan,<\/p>\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\">\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p>\u201c\u2026<em>hendaklah ia<\/em> <em>memilih gurunya yang mengerti baik<\/em><em>&#8211;<\/em><em>baik<\/em> <em>pada bahasa Melayu, yang sudah<\/em> <em>biasa<\/em> <em>mengerjakan pada pekerjaan<\/em> <em>juru tulis, serta ada mengetahui<\/em> <em>daripada ilmu lisan yakni ilmu nahu<\/em> <em>dan dan sharaf dan lainnya adanya\u2026<\/em>\u201d<\/p><\/blockquote>\n<\/blockquote>\n<p>Sebaliknya kepada siapa saja yang mengajarkan isi Bustan al-Katibin, Raja Ali Haji antara lain berpesan,<\/p>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\">\n<blockquote class=\"td_quote_box td_box_center\"><p>\u201c\u2026<em>hendaklah ia mengajarkan muridnya<\/em> <em>itu dengan tertibnya daripa tiaptiap<\/em> <em>pasalnya, jangan<\/em> <em>dipindahkan<\/em> <em>muridnya itu pada pasal yang lainnya<\/em> <em>sehingga selesailah muridnya daripada<\/em> <em>mempahamkan dan mahfazalkan<\/em> <em>pada pasal yang dibacanya itu<\/em>\u2026\u201d<\/p><\/blockquote>\n<\/blockquote>\n<hr \/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melalui kitab Bustan al-Katibin yang menjelaskan tata bahasa Melayu dan kamus ekabahasa berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, Raja Ali Haji telah membuka laluan bagi pengetahuan yang sistematis tentang Bahasa Melayu, yang kemudian berevolusi menjadi Bahasa Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1958,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,10,347],"tags":[],"class_list":["post-1956","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-sastra-melayu","category-tajuk"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":10,"label":"Sastra"},{"value":347,"label":"Tajuk"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-ColofonPictorial-concept.jpg?fit=1024%2C629&ssl=1",1024,629,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":10,"name":"Sastra","slug":"sastra-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":60,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":60,"category_description":"","cat_name":"Sastra","category_nicename":"sastra-melayu","category_parent":0},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":false,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Bustan-ColofonPictorial-concept.jpg?fit=1400%2C860&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-vy","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1956"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4856,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1956\/revisions\/4856"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}