{"id":1903,"date":"2018-03-01T02:56:23","date_gmt":"2018-02-28T19:56:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=1903"},"modified":"2024-07-09T17:25:59","modified_gmt":"2024-07-09T10:25:59","slug":"pantun-dan-nyanyian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2018\/03\/pantun-dan-nyanyian\/","title":{"rendered":"Pantun dan Nyanyian"},"content":{"rendered":"<p><strong>PANTUN<\/strong>\u00a0yang selama ini dikenal di kalangan masyarakat Melayu dan masyarakat nusantara, ternyata bukan saja sebagai sebuah kekayaan komunikasi suku bangsa yang menyusun pantun, yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah karya sastra yang ditulis.<\/p>\n<p>Namun pantun juga merupakan sebuah media hiburan yang kemudian dapat juga kita jumpai di dalam nyanyian Melayu atau lagu-lagu Melayu.<\/p>\n<p>Salah satu yang paling terkenal, di mana pantun disenandungkan menjadi sebuah lagu adalah pada tradisi Dondang Sayang di Melaka Malaysia. Dondang Sayang pada awalnya sebagaimana dijelaskan oleh Dahlan (2014) dalam bukunya Sejarah Melayu merupakan pola komunikasi bangsa Cina yang ada di Melaka, sejarah menjelaskan bahwa bangsa Cina ini berasal dari keturunan Puteri Hang Li Po yang dinikahi oleh Sultan Mansyur Shah.<\/p>\n<p>Puteri Hang Li Po pada masa kurun tahun 1458 membawa 500 rombongan orang Cina. Kemudian dengan adanya orang Cina atau dengan kata lain disebut dengan \u201cChina-Baba\u201d atau \u201cMelayu-Baba\u201d ini, pola komunikasi antara orang Cina dengan Melayu selalu menggunakan Bahasa Melayu, dan mereka melahirkan sebuah kesenian Melayu disebut dengan Dondang Sayang yang hingga saat ini dikenal sebagai sebuah seni pertunjukan di Melaka Malaysia.<\/p>\n<p>Menurut Dollah dan Kob (2015) menjelaskan bahwa Dondang Sayang adalah acara berbalas pantun yang diucapkan dalam bentuk berlagu atau berdendang dengan iringan musik.<\/p>\n<p>Dondang sayang boleh juga dikatakan persembangan lagu dan musik yang didendangkan itu boleh mengikut rentak inang, joget atau lagu Melayu lainnya, kemudian alat musik yang mengiringi Dondang Sayang adalah biola, rebana, gong, dan harmonium (Dollah dan Kob, 2015).<\/p>\n<p>Menurut Pijnapel (Borhan, 2001) menjelaskan bahwa pantun Dondang Sayang merupakan ibu pantun manakala pantun cinta pula merupakan pusat pantun, pantun-pantun yang dilagukan atau didendangkan dengan asyik sesuai dengan fitrah Melayu, maka pantun Dondang Sayang digambarkan dengan pantun berikut oleh Pijnapel (Borhan, 2001):<\/p>\n<p><em>Dondang sayang ibunya lagu<\/em><br \/>\n<em>Lagu terkarang zaman dahulu<\/em><br \/>\n<em>Dondang sayang lagu Melayu\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Bila terkenang bertambah pilu<\/em><\/p>\n<p>Matrusky, Ann dan Beng (2014) menjelaskan bahwa Dondang Sayang bermakna \u201cLagu Cinta\u201d, dalam pertunjukan Dondang Sayang, seorang penyanyi atau biduan menyanyikan sebuah pantun dalam empat baris, kemudian penyanyi atau biduan lainnya menjawab pantun yang telah \u201cdijual\u201d oleh penyanyi tersebut dengan pantun yang terdiri dari empat baris juga.<\/p>\n<p>Alat musik yang biasa mengiringi Dondang Sayang adalah biola, dua rebana dan disaat ini biasanya ditambah dengan harmonium atau akordion, gitar dan tamborin (Matrusky, Ann dan Beng, 2004). Dollah dan Kob (2015) menjelaskan bahwa Dondang Sayang dimainkan harus dengan dua orang pemantun atau pendendang. Pemantun pertama akan mengemukankan pantun yang disebut dengan Menjual Pantun, kemudian pemantun kedua akan Membeli Pantun.<\/p>\n<p>Dalam proses menjual dan membeli pantun, maka pemantun atau pendendang akan diringi lagu Melayu dengan irama joget atau inang. Berikut salah satu contoh pantun yang dicatat dalam penelitian Dollah dan Kob (2015):<\/p>\n<p><em>Ikan sepat dalam pergi 2x\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Lipat kajang berulang mandi 2x\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Kalau bukan tempat menanam\u00a0<\/em><br \/>\n<em>padi\u2026.dondang sayang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Habis baja benih tak jadi<\/em><\/p>\n<p>Jika kita melihat pantun di atas, maka ada baris pantun yang diulang dua kali, hal itu dilakukan karena mengikuti irama lagu yang mengiringi Dondang Sayang. Pantun-pantun yang disajikan dalam petunjukan Dondang Sayang adalah pantun adalah pantun kasih sayang, kiasan, budi, jenaka, serta tentang alam seperti bunga, laut, dan juga buah-buahan (Dollah dan Kob, 2015).<\/p>\n<p>Dondang Sayang khususnya di Melaka Malaysia menurut Dollah dan Kob, 2015) memang tidak penah terlepas dari pengaruh Cina Baba, berdasarkan sejarah yang dijelaskan di atas. Bahasa Melayu yang digunakan juga adalah khas dialeg Cina Baba.<\/p>\n<p>Lirik lagu \u201cDondang Sayang\u201d yang berisikan pantun ini kemudian dijelaskan dengan lengkap oleh Suseno, Amiruddin, Habd (2006) sebagai berikut.<\/p>\n<p><em>Keris sakti tetap ku junjung\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Untuk berjuang membela negeri\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Niat di hati memikat burung\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Burung terbang menghilang diri<\/em><\/p>\n<p><em>Orang Arab pulang ke Arab\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Kasut dipakai berderap-derap\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Burung terbang jangan di harap\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Kalau tak pakai getah seterap<\/em><\/p>\n<p><em>Datuk panglima bermain pedang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Pedangnya panjang sangkut di pinggang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Sampai kemana burung nak terbang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Ku tunggu-tunggu diakan pulang<\/em><\/p>\n<p><em>Berdesak-desak di burung singkap\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Menyambar belibis di sawah padi\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Burung yang liar jangan ditangkap<\/em><br \/>\n<em>Getah kan habis harap di hati<\/em><\/p>\n<p>Lirik lagu Dondang Sayang di atas, dapat kita lihat merupakan bait-bait pantun yang memang secara kualitas pantun, bukan merupakan pantun dengan kategori sempurna.<\/p>\n<p>Namun beberapa rumus dan kaidah pantun di dalam bait-bait pantun yang kemudian menjadi lirik lagu Dondang Sayang tersebut sudah dapat dikategorikan pantun karena memiliki empat baris kalimat, setiap baris terdiri dari empat sampai lima kata, dan setiap suku kata pada setiap baris terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata.<\/p>\n<p>Namun dalam sisi bersajakan ada yang menggunakan persajakan sempurna yang menggunakan persajakan A,B,A,B yaitu pantun bait terakhir dari pantun yang menjadi lirik yang dituliskan oleh Suseno, Amiruddin, Habd (2006) sementara pantun bait pertama hingga ketiga pantun di atas dianggap tidak sempurna dengan persajakan yang sempurna karena menggunakan persajakan A,A,A,A.<\/p>\n<p>Dalam nyanyian Melayu atau Lagu Melayu berjudul Zapin Kasih dan Budi yang dipopulerkan oleh Allahyarham S.M Salim juga merupakan sebuah lagi dimana lirik-liriknya terdiri dari pantun-pantun. Dimana lirik tersebut berbunyi sebagai berikut.<\/p>\n<p><em>Kalau menebang si pohon jati<\/em><br \/>\n<em>Papan di Jawa di belah-belah\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Kalau hidup tidak berbudi\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Umpama pokok tidak berbuah<\/em><\/p>\n<p><em>Bunga selasih si bunga padi\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Tumbuhlah mekar di dalam taman\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Pertama kasih kedua budi<\/em><br \/>\n<em>Yang mana satu nak diturutkan<\/em><\/p>\n<p><em>Tenanglah tenang air di laut\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Hai sampai kolek mudik ke tanjung\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Hati terkenang mulut menyebut\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Budi yang baik saya nak junjung<\/em><\/p>\n<p><em>Bungalah padi bunga kiambang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Buat hiasan di taman bunga\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Buahlah hati kekasih orang\u00a0<\/em><br \/>\n<em>Hamba menumpang gembira saja<\/em><\/p>\n<p>Berdasar lagu Zapin Kasih dan Budi di atas, tampak jelas bahwa pantun-pantun yang digunakan di dalam lirik lagu ini merupakan pantun dengan kaidah yang boleh dinilai terbilang sempurna, meski tidak semua bait pantun terlihat sempurna, namun terdapat pantun dengan kaidah yang sudah memenuhi aturannya. Sebagaimana salah satu bait pantun di dalam lagu ini yang dianggap sempurna yaitu pantun berikut.<\/p>\n<p>Tenanglah tenang air di laut : 3\/2\/2\/3=10<br \/>\nHai sampan kolek mudik ke tanjung : 3\/2\/2\/3=10<br \/>\nHati terkenang mulut menyebut : 2\/3\/2\/3=10<br \/>\nBudi yang baik saya nak junjung : 2\/3\/2\/3=10<\/p>\n<p>Pantun ini sudah dapat dinilai sempurna karena telah memenuhi beberapa kaidah pantun yaitu terdiri dari empat sampai lima kata pada tiap barisnya, kemudian pada setiap baris pantun terdiri dari paling banyak 10 kata.<\/p>\n<p>Dari sisi persajakan pantun ini menggunakan persajakan sempurna yaitu A,B,A,B. Selanjutnya perhatikan kata \u201ctenang\u201d sama persajakannya dengan kata \u201cterkenang\u201d, kata \u201claut\u201d sama persajakannya dengan kata \u201cmenyebut\u201d, kata \u201ckolek\u201d sama persajakannya dengan \u201cbaik\u201d.<\/p>\n<p>Persajakan ini tidak hanya sama di kata akhir, namun juga pada pada persajakan tengah pantun. Kemudian pada kata \u201cLaut\u201d dan kata \u201cMenyebut\u201d kemudian pada kata \u201ctanjung\u201d dan kata \u201cjunjung\u201d. Persajakan ini sebagaimana pendapat Suseno (2006) adalah persajakan dengan jenis persajakan penuh dan dianggap persajakan yang paling baik di dalam sebuah pantun.<\/p>\n<p>Dari kesemua itu artinya adalah bahwa pantun, juga dapat digunakan di dalam sebuah nyanyian Melayu yang kemudian menjadi media hiburan lebih luas. Dengan syarat bahwa, pantun yang dijadikan lirik lagu haruslah tetap pada kaidah penyusunan pantunnya, sehingga pantun tidak kehilangan filosofisnya.<\/p>\n<p>Lagu yang sama pun seperti Dondang Sayang serta lagu Zapin Kasih dan Budi, masih dapat diganti liriknya dengan pantun yang berbeda. Dengan syarat pantun yang disusun menjadi lirik harus tetap sesuai kaidah dan rumus pantunnya serta tentunya pantun yang disusun sesuai pada ketukan irama atau nada lagu tersebut.<\/p>\n<p>Di Provinsi Kepulauan Riau, berdasarkan penelusuran penulis, terdapat juga lagu yang dimainkan dengan pantun-pantun, bukan saja pantun dengan lirik asli namun juga diubah suai namun tetap pada kaidah pantun dan sesuai nada dan irama lagu.<\/p>\n<p>Hal ini disebut dengan Dendang Pantun yaitu sebuah tradisi berbalas pantun diucapkan dalam sebuah lagu dengan irama Melayu. Adapun lagu yang digunakan dalam Dendang Pantun adalah Pak Ngah Balik, Ala Emak Kawinkan Aku, dan lagu Pucuk Pisang.<\/p>\n<p>Di Gorontalo sendiri seni pertunjukkan berbalas pantun seperti, berdasarkan penelusuran penulis ini disebut dengan\u00a0<em>Paiyo Hungi Ilo Poli,<\/em>\u00a0dimana terdapat berbalas pantun dengan bahasa Gorontalo kemudian didendangkan dengan lagu atau irama khas Gorontalo. Selamat mencoba menyanyikan pantun di dalam sebuah lagu.<strong>***<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PANTUN\u00a0yang selama ini dikenal di kalangan masyarakat Melayu dan masyarakat nusantara, ternyata bukan saja sebagai sebuah kekayaan komunikasi suku bangsa yang menyusun pantun, yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah karya sastra yang ditulis. Namun pantun juga merupakan sebuah media hiburan yang kemudian dapat juga kita jumpai di dalam nyanyian Melayu atau lagu-lagu Melayu. Salah satu yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":1905,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[10,347],"tags":[210,369,45],"class_list":["post-1903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sastra-melayu","category-tajuk","tag-jembia","tag-nyanyian","tag-pantun"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":10,"label":"Sastra"},{"value":347,"label":"Tajuk"}],"post_tag":[{"value":210,"label":"jembia"},{"value":369,"label":"Nyanyian"},{"value":45,"label":"pantun"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/Pantun-dan-Nyanyian.jpg?fit=600%2C1021&ssl=1",600,1021,true],"author_info":{"display_name":"Rendra Setyadiharja","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/rendra-setyadiharja\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":10,"name":"Sastra","slug":"sastra-melayu","term_group":0,"term_taxonomy_id":10,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":60,"filter":"raw","cat_ID":10,"category_count":60,"category_description":"","cat_name":"Sastra","category_nicename":"sastra-melayu","category_parent":0},{"term_id":347,"name":"Tajuk","slug":"tajuk","term_group":0,"term_taxonomy_id":347,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":287,"filter":"raw","cat_ID":347,"category_count":287,"category_description":"","cat_name":"Tajuk","category_nicename":"tajuk","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":210,"name":"jembia","slug":"jembia","term_group":0,"term_taxonomy_id":210,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":20,"filter":"raw"},{"term_id":369,"name":"Nyanyian","slug":"nyanyian","term_group":0,"term_taxonomy_id":369,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":45,"name":"pantun","slug":"pantun","term_group":0,"term_taxonomy_id":45,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":7,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/Pantun-dan-Nyanyian.jpg?fit=600%2C1021&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-uH","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1903"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1903\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4864,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1903\/revisions\/4864"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}