{"id":1464,"date":"2017-09-03T16:21:03","date_gmt":"2017-09-03T09:21:03","guid":{"rendered":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/?p=1464"},"modified":"2024-07-09T17:26:07","modified_gmt":"2024-07-09T10:26:07","slug":"roesidijah-club-riouw-p-penjengat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2017\/09\/roesidijah-club-riouw-p-penjengat\/","title":{"rendered":"Roesidijah (Club) Riouw P. Penjengat"},"content":{"rendered":"<p>MENJELANG penghujung abad ke-19, sejumlah anak watan Kerajaan Riau-Lingga yang tercerahkan mulai bangkit dan berdepan-depan dengan kolonialisme. Jaringan komunikasi intelektual dengan Timur Tengah, terutama dengan Mekah, Mesir, dan Pattani, semakin membuka jalan ke arah perubahan dan pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan yang sebelumnya telah dirintis melalui jaringan ulama dan tasawuf.<\/p>\n<p>Golongan yang tercerahkan ini kemudian membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>)<em> Riouw P. Penjengat<\/em> (demikianlah cara penulisan nama perkumpulan itu dalam huruf <em>latin<\/em> atau <em>rumi <\/em>sebagaimana dicantumkan pada amplop surat-surat resmi perkumpulan ini)<\/p>\n<p>Timothy P. Barnard (1994) dan Abu Hassan (1979) berpendapat, nama perkumpulan ini berasal dari penggabungan dua perkataan dalam dua bahasa.\u00a0 \u201c<em>Roesidijah<\/em>\u201c dari kosakata bahasa Arab yang berarti \u201ccendekiawan \u201c dan \u201c <em>Club<\/em>\u201d dari bahasa Belanda yang maknanya \u201cperkumpulan\u201c. Penggunaan kosakata bahasa Arab untuk nama perkumpulan ini erat kaitannya dengan agama Islam dan kebudayaannya bagitu kuat dalam kehidupan di Riau-Lingga pada masa itu. Bahasa Arab menjadi bahasa kedua pentingnya selepas bahasa Melayu karena anggota <em>Club<\/em> ini kebanyakannya adalah dari cendekiawan. Mereka adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa itu, dan sebegaian besar dari mereka\u00a0 adalah penulis dan pengarang (saya mengatakan sebagian besar, adalah tak semua anggota anggota perkumpulan itu menghasilkan karya tulis atau wajib menulis seperti yang selama ini diyakini).<\/p>\n<p>Menurut Abu Hassan Sham (1979), penggunaan bahasa Belanda yang diwakili oleh perkataan <em>Club<\/em> dalam nama perkumpulan ini mencerminkan bahwa anggota perkumpulan ini berhaluan maju dan terbuka. Apalagi Pulau Penyengat, tempan perkumpulan ini bermastautin, letaknya berhampiran sekali dengan Tanjung Pinang, pusat pemerintahan kolonial Belanda di <em>Riouw<\/em>. Penggunaan kosakata Bahasa Belanda ini juga menunjukan bahwa perkumpulan ini sudah progresif dan tidak konservatif.\u00a0 Anggotanya terdiri dari golongan muda yang berpandangan ke depan.<\/p>\n<p>Agak sukar untuk menyebutkan dengan pasti tahun <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>)<em> Riouw P. Penjengat<\/em> ditubuhkan. Tetapi\u00a0 dengan melihat komposisi anggotanya, diperkirakan ia\u00a0 ditubuhkan menjelang akhir abad ke-19, atau sekitar tahun 1890-an.<\/p>\n<p><em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) sudah sepatutnya dicatat sebagai sebuah organisasi modern yang tertua di Indonesia. Mengapa? Jika dilihat dari susunan pengurusnya, perkumpulan ini sudah terstruktur sebagaimana layaknya sebuah organisasi atau sebuah perkumpulan modern. Ketua umumnya adalah seorang yang disebut Presiden <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) yang juga berpangkat <em>Tengku Besar<\/em> dalam struktur pemerintahan kerajaan Riau-Lingga (meskipun demikian, lembaga yang dipimpinnya berada di luar struktur pemerintahan kerajaan). Di bawahnya terdapat <em>timbalan <\/em>(wakil ketua)<em>,<\/em> wakil <em>timbalan<\/em>, sekretaris, dan anggota-anggota. Bahkan perkumpulan ini juga mempunyai perwakilan di kota <em>Makkah al-Musyarafah<\/em>.<\/p>\n<hr \/>\n<figure id=\"attachment_1466\" aria-describedby=\"caption-attachment-1466\" style=\"width: 593px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img data-recalc-dims=\"1\" fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1466\" data-permalink=\"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/2017\/09\/roesidijah-club-riouw-p-penjengat\/raja-ali-kelana\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?fit=926%2C1600&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"926,1600\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Raja Ali Kelana\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"&lt;p&gt;Raja Ali Kelana, Wakil Timbalan Roesidijah Club. &lt;\/p&gt;\n\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?fit=174%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?fit=593%2C1024&amp;ssl=1\" class=\"size-large wp-image-1466\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=593%2C1024&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"593\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=593%2C1024&amp;ssl=1 593w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=87%2C150&amp;ssl=1 87w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=174%2C300&amp;ssl=1 174w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=768%2C1327&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=696%2C1203&amp;ssl=1 696w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?resize=243%2C420&amp;ssl=1 243w, https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Raja-Ali-Kelana.jpg?w=926&amp;ssl=1 926w\" sizes=\"(max-width: 593px) 100vw, 593px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1466\" class=\"wp-caption-text\">Raja Ali Kelana, Wakil Timbalan Roesidijah Club.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Memasuki awal abad ke-20, tokoh-tokoh utama <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) juga menjadi tokoh penggerak dalam perlawanan terhadap dominasi kolonial di Kerajaan Riau-Lingga. Namun uniknya, perlawaan mereka samar-samar namun terasa denyutnya oleh pemerintah kolonial. Mereka bergerak secara halus, secara <em>pasif, <\/em>tanpa sekalipun melakukan komunikasi resmi dengan wakil pemerintah Hindia Belanda di <em>Riouw<\/em> menggunakan nama <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>)\u00a0 Namun demikian, satu hal yang pasti semua keputusan Sultan Kerajaan Riau-Lingga dalam hubungannya dengan wakil pemerimtah Hindia Belanda ketika itu adalah cerminan dari misi dan visi mereka.<\/p>\n<p>Wakil pemerimtah pemerintah Hindia Belanda di Tanjungpinang menyebut anggota-anggota <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>)\u00a0 ini sebagai <em>verzetpartij<\/em> (kelompok perlawanan) atau \u201c<em>kelompok oposisi Bugis<\/em>\u201d dengan tokoh utamanya adalah: Raja Ali Tengku Kelana atau Raja Ali Kelana, Raja Hitam atau Raja Khalid Hitam, Raja Abdul Rahman Kecik, serta Tengku Besar, Tengku Umar, calon Sultan Riau-Lingga. Semuanya adalah tokoh penting <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) yang besar pengaruhnya menjelang berakhirnya kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1913.<\/p>\n<p>Demikianlah, dari sebuah perkumpulan cendekiawan, <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) akhirnya berubah menjadi sebuah perkumpulan \u201cpolitik\u201d yang menentang kolonialisme, yang tampil dengan corak\u00a0 gerakan nasionalisme lokal awal dalam bentuk perlawanan melalui organisasi.<\/p>\n<p>Tampaknya, sejak awal abad ke-20, anggota-anggota <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) telah mulai mengawasi secara kristis langkah-langkah politik yang dibuat oleh Resident <em>Riouw<\/em>, dan membuat berbagai <em>siasah<\/em> yang memang diarahkan untuk memperlihatkan kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga yang pada akhirnya memunculkan kemarahan Resident, wakil pemeritah Hindia Belanda di Tanjungpinang.<\/p>\n<p>Sebelum ditandatanganinya <em>Kontrak Politik<\/em> tahun 1905, umpamanya, kelompok ini mengadakan<em> meeting<\/em> atau rapat membahas rencana Belanda itu di Rumah Raja Ali Kelana di <em>Bukit Bahjah<\/em> Pulau Penyengat pada tanggal 10 Fenbruari 1904. Begitu juga ketika pemerintah Belanda berencana membuat aturan agar \u201c<em>wakil kerajaan memberi\u00a0 hormat dengan sehabis-habis hormat<\/em>\u201d kepada <em>ambtenar<\/em> (pejabat-pejabat Belanda) yang datang mengunjungi wilayah kerajaan Lingga-Riau. Benih-benih perlawanan ini semakin muncul ke permukaan ketika ketika <em>fasal<\/em> tiga ayat satu dalam kontrak politik tanggal 18 Mei 1905 itu menegaskan bahwa kerajaan Riau-Lingga adalah sebagai suatua <em>achazah<\/em> (pinjaman) dari pemerintah Hindia Belanda.<\/p>\n<p>Bahkan sesungguhnya, jika dilihat jauh ke belakang, jauh sebelum Kontrak Politik itu ditandatangani, mereka adalah orang-orang yang berada di balik layar peristiwa bendera tahun 1902: sebuah pembangkangan terhadap hegemoni pemerintah <em>Hindia Belanda<\/em> dengan cara tidak menaikkan bendera Belanda di kapal kerajaan. Peristiwa ini dilaporkan oleh residen A.L. van Hasselt kepada Gubernur Jenderal di Batavia dengan menjelaskan bahwa Sultan Abdul Rahman adalah seorang pembangkang yang dikelilingi oleh anggota-anggota kelompok pelawanan yang berhaluan keras.<\/p>\n<p>Setelah itu, sebuah peristiwa bendera lainnya terjadi kembali pada tanggal 1 Januari 1903 ketika Resident <em>Riouw<\/em> mengunjungi Sultan di Pulau Penyengat, dan menyaksikan bendera putih bertengkuk hitam milik Kerejaan Riau-Lingga berkibar merdeka tanpa didamping bendera mereha putih biru simbol kebesaran Kerajaan Belanda. Peristiwa ini mendapat teguran keras dari Resident <em>Riouw. <\/em>Dalam surat rahasianya kepada Gubernur Jenderal Roseboom di Batavia, Resident Riouw mengatakan: \u201cIa [Sultan Abdul Rahman] bertindak sebagai seorang raja yang merdeka dan menaikkan bendera sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Dua peristiwa bendera adalah salah satu alasan yang memicu Belanda membuat kontrak politik baru pada tanggal 18 Mei 1905, yang di dalam <em>fasal<\/em> tiga belas ayat lima, enam, tujuh, dan delapan kontrak politik itu disebutkan aturan pemasangan bendera Belanda dan bendera Kerajaan Riau-Lingga. Ayat ketujuh kontrak politik tahun 1905 itu, umpamanya, mengatur bahwa tempat bendera Belanda harus lebih tinggi dari bendera Kerajaan Riau-Lingga sebagai berikut:<\/p>\n<p>\u201c<em>Adapun Sri Paduka Tuan Sultan Tetap memakai putih selaku tandanya sendiri di darat dan dilaut tetapi selamanya bersama bendera Holanda, dan tiada boleh lebih besar. Maka jikakalau memakai di darat tiang satu sahadja dikibarkan dibawah bendera belanda dan djikalau didarat tiang dua henda<\/em><em>klah tiang tempat bendera Holanda dibuat lebih tinggi dan dilaut djikalau tiada boleh dikibarkan dibawah bendera Holanda, hendaklah bendera Holanda, dinaikkan ditempat kehormatan di kapal itu<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>Arti penting anggoata-anggota <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) <em>Riouw P. Penjengat <\/em>ini dalam perlawanan Kerajaan Riau-Lingga terhadap pemerintah Hindia Belanda juga dinyatakan dalam surat pemakzulan (<em>abdicatie<\/em>) Sultan Abdulrahman Mu\u2019azamsyah dan Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga pada bulan Februari 1911. Bahkan, ketika pemakzulan itu terjadi, surat itu pemakzulan itu dibacakan oleh wakil pemerintah Hindia Belanda di gedung\u00a0 <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>)<em> Riouw, <\/em>\u00a0sarang <em>verzetpartij <\/em>itu di Pulau Penyengat.<\/p>\n<p>Dalam surat itu, pemerintah Resident Riouw sebagai wakil pemeritah Hindia Belanda menyindir Raja Ali Kelana, Tengku Besar dan anggota <em>Roesidijah <\/em>(<em>Club<\/em>) lainnya<em> \u201csebagai orang berniat bermusuhan dengan Sri Padoeka Gouvernement Hindia Nederland \u201d<\/em>.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Progresif. Konfrontatif. Modern. Terbuka. Berhaluan maju. Berpandangan ke depan.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1465,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[415,32,5],"tags":[189,140,286,301],"class_list":["post-1464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutubkhanah","category-melayu-hari-ini","category-sejarah","tag-aswandi-syahri","tag-penyengat","tag-raja-ali-kelana","tag-rusdiyah-klub"],"jetpack_publicize_connections":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":415,"label":"Kutubkhanah"},{"value":32,"label":"Melayu Hari ini"},{"value":5,"label":"Sejarah Melayu"}],"post_tag":[{"value":189,"label":"aswandi syahri"},{"value":140,"label":"Penyengat"},{"value":286,"label":"raja ali kelana"},{"value":301,"label":"rusdiyah klub"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1_.jpg?fit=967%2C450&ssl=1",967,450,true],"author_info":{"display_name":"Aswandi Syahri","author_link":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/author\/aswandisyahri\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":415,"name":"Kutubkhanah","slug":"kutubkhanah","term_group":0,"term_taxonomy_id":415,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":165,"filter":"raw","cat_ID":415,"category_count":165,"category_description":"","cat_name":"Kutubkhanah","category_nicename":"kutubkhanah","category_parent":0},{"term_id":32,"name":"Melayu Hari ini","slug":"melayu-hari-ini","term_group":0,"term_taxonomy_id":32,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":484,"filter":"raw","cat_ID":32,"category_count":484,"category_description":"","cat_name":"Melayu Hari ini","category_nicename":"melayu-hari-ini","category_parent":0},{"term_id":5,"name":"Sejarah Melayu","slug":"sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5,"taxonomy":"category","description":"","parent":32,"count":197,"filter":"raw","cat_ID":5,"category_count":197,"category_description":"","cat_name":"Sejarah Melayu","category_nicename":"sejarah","category_parent":32}],"tag_info":[{"term_id":189,"name":"aswandi syahri","slug":"aswandi-syahri","term_group":0,"term_taxonomy_id":189,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":28,"filter":"raw"},{"term_id":140,"name":"Penyengat","slug":"penyengat","term_group":0,"term_taxonomy_id":140,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":10,"filter":"raw"},{"term_id":286,"name":"raja ali kelana","slug":"raja-ali-kelana","term_group":0,"term_taxonomy_id":286,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":301,"name":"rusdiyah klub","slug":"rusdiyah-klub","term_group":0,"term_taxonomy_id":301,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1_.jpg?fit=967%2C450&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8nwlA-nC","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1464"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4907,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1464\/revisions\/4907"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jantungmelayu.co\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}